#30HariQJ[2] An-Nisa 86: Membalas Penghormatan

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).
Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” QS An-Nisa: 86

Penghormatan yang dimaksud di sini adalah salam, yaitu ucapan “assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh”. Bagaimana menjawab salam atau penghormatan itu?

(Apabila kamu diberi salam dengan suatu salam penghormatan) misalnya bila dikatakan kepadamu, “Assalamu’alaikum!” (maka balaslah) kepada orang yang memberi salam itu (dengan salam yang lebih baik daripadanya) yaitu dengan mengatakan, “Alaikumus salaam warahmatullaahi wabarakaatuh.” (atau balaslah dengan yang serupa) yakni dengan mengucapkan seperti apa yang diucapkannya. Artinya salah satu di antaranya menjadi wajib sedangkan yang pertama lebih utama. (Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu) artinya membuat perhitungan dan akan membalasnya di antaranya ialah terhadap membalas salam. Dalam pada itu menurut sunah, tidak wajib membalas salam kepada orang kafir, ahli bidah dan orang fasik. Begitu pula kepada orang Islam sendiri yakni orang yang sedang buang air, yang sedang berada dalam kamar mandi dan orang yang sedang makan. Hukumnya menjadi makruh kecuali pada yang terakhir. Dan kepada orang kafir jawablah, “Wa`alaikum.” Artinya: juga atasmu. (Tafsir Jalalain)

Allah memperhitungkan segala sesuatu, termasuk ucapan dan balasan salam yang kadang diremehkan. Oleh saya sih terutama, saya belum termasuk orang yang suka menyebar salam. Kadang kalau ketemu orang cuma hai atau halo doang. Padahal ada yang lebih utama ya, mengucapkan salam.

Sebenarnya apa sih esensi dari salam ini? Pas banget nemu Fi Zhilalil Quran di google 😛

  1. Salam adalah ciri khusus yang menjadi tradisi masyarakat muslim
  2. Salam adalah usaha yang terus menerus untuk menguatkan hubungan kasih sayang dan kedekatan antar muslim. Memulai salam hukumnya sunah, dan menjawabnya hukumnya wajib. Salam juga penting pengaruhnya dalam membersihkan hati, memperkenalkan orang-orang yang belum kenal, dan mempererat hubungan orang-orang yang menjalin hubungan.
  3. Menunjukkan kelapangan jiwa di tengah-tengah ayat perang sebelumnya dan sesudahnya. Barangkali maksudnya untuk menunjukkan prinsip Islam yang asasi, salam ‘keselamatan dan kedamaian’. Ia tidak melaksanakan perang melainkan untuk menetapkan kedamaian dan keselamatan di bumi. (sumber: FZQ)

Menurut saya, salam juga menjadi simbol awalan atau bagian terkecil dari kebaikan yang harus seorang muslim tebarkan. Jadi salam adalah awal, berikutnya jika mampu, kita bisa menyebarkan kebaikan lain seperti bantuan tenaga, ilmu yang bermanfaat, harta, hadiah, dsb untuk orang lain. Dan jika mendapatkan kebaikan seperti itu dari orang lain, jangan lupa untuk membalasnya dengan yang serupa atau lebih baik.

Referensi:
https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-4-an-nisa/ayat-86
https://bahaudinonline.blogspot.com/2014/04/definisi-menghargai-orang-lain-tahiyyah.html
– Fi Zhilalil Quran (FZQ)

[Buku] Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran

“Ngafal Qur’an? Hah, ngapain?!”

Dulu saya mikir gitu loh. Ngerasa gak ada urusan sama sekali dengan Al Qur’an. Apalagi ngafalin! Ngapain juga, i have so many more interesting things in life. Ngek! Sombong bener ye.. Tapi itu dulu. Sekarang semuanya berubah sejak negara api menyerang sejak saya ikutan tahsin 😀

Ternyata kalau kita mulai melangkah untuk mendekati Quran, Allah akan bukakan pintu2 kebaikan lainnya. Awalnya cuma belajar tahsin/tajwid, lama2  mau menghafal, mentadabburi, mengajarkan, dan tentu saja mengamalkan..insya Allah.

Dalam perjalanannya, tentu banyak naik turunnya. Karena itu penting bgt untuk selalu tersambung dengan sumber2 inspirasi quran, baik itu halaqah tahsin/tahfizh, video2 ceramah, buku, dll, biar selalu dpt suntikan semangat 😀

Nah ini ada satu buku yg baguuus bgt:

“Quran tidak akan mau diduakan, ia sendirilah yang akan menyeleksi siapa yang berhak bersanding dengannya”. -Ratna Puspa Indah

Itulah satu kalimat yang diucapkan oleh mahasiswa yang punya kesibukan luar biasa tapi masih menyempatkan waktu untuk mempelajari surat cinta dari Rabb nya dan memantaskan diri bersanding dengan Al. Qur’an

Kalimat itu ada di salah satu bagian dari buku Mahasiswa Mahasiswa Pencinta Al. Qur’an (MMPQ). MMPQ berisi cerita-cerita dari santri IQF (Indonesia Quran Foundation) yang merupakan mahasiswa/i dari Universitas Indonesia dan kampus lain di Jakarta. Mereka berbagi kisah tentang bagaimana mereka “menemukan” Quran dan kemudian berjuang untuk terus membersamainya.

Yuk beli buku MMPQ ini.. Temukan banyak inspirasi di dalamnya 🙂

mmpq

Judul Buku: Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran (MMPQ)
Penulis: Tim Penulis IQF
Penerbit: Lembah Kapuk
Spesifikasi: 212 halaman, 13x19cm, ada pembatas buku
Harga: Rp 60.000 (belum termasuk ongkir)

Dengan membeli buku ini, kamu sudah ikut berdonasi untuk RPPI lho! Lihat info tentang RPPI (Rumah Peradaban Pelajar Indonesia) di sini: www.rumahpelajar.com. Kalau mau berdonasi lebih? Boleh banget! 🙂

Kalau berminat hubungi saya ya.. tapi karena saya gak nyaman membagi no HP di sini, ada sih no HP yang satu lagi tapi HPnya yang ga ada, jadi kalau mau boleh email aja ke heninggar at gmail dot com atau twitter @heninggar 🙂

Tadabbur Quran #8: How Allah Helps The Youth

Karena ini hari Jumat dan sunnahnya baca QS Al Kahfi, saya jadi inget ceramah ustadz Nouman tentang para pemuda Kahfi. Ini satu fragmen kecil aja dari kisah Ashabul Kahfi, yaitu tentang tidurnya mereka. Insya Allah udah pada tau kan ya cerita tentang pemuda Kahfi yang mempertahankan iman mereka di saat penguasa saat itu gak beriman dan gak suka mereka beriman. Akhirnya mereka pergi dan bersembunyi di sebuah gua. Di sana mereka tertidur selama 309 tahun. Yang amazing adalah.. meskipun mereka tidur, mereka tetap dilindungi oleh Allah. Lihat bagaimana Allah menolong mereka, mengatur alam semesta supaya mereka tetap terlindungi dalam gua.

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (QS Al Kahfi: 17)

Saat matahari naik, cahayanya harusnya masuk ke dalam gua tempat para pemuda itu tidur. Namun Allah membelokkan (tazaawaro) cahaya itu supaya tidak mengenai mereka (dengan demikian mereka tetap aman tersembunyi dalam gua). Ketika matahari mulai tenggelam, Allah lagi2 menolong mereka dengan membelokkan cahaya ke sebelah kiri. Taqridhu berasal dari qorodha yang artinya menolong/memberi bantuan. Matahari menolong mereka dengan cara membelokkan cahayanya dengan izin Allah. Padahal mereka berada di tempat yang luas dalam gua itu, jadi harusnya cahaya matahari masuk dan membuat mereka sangat mungkin terekspos.. tapi Allah membelokkan cahaya matahari untuk menolong mereka.

Dzalika min ayatillah.. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah memberi petunjuk bahkan pada saat tidurnya mereka. Di ayat 18 disebutkan “Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri”. Allah memberi petunjuk bahkan dalam tidurnya, harus berbalik ke mana badannya, seberapa banyak berbaliknya, dst. Sampai segitunya Allah memberi petunjuk pada orang yang benar2 beriman padaNya.

“When young people turn to Allah, the world submits to them. The laws of nature submits to them because they submitted to Allah”.

Tadabbur Quran #4: Memberi Pinjaman pada Allah

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Barang siapa yang meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS Al Baqarah: 245)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia menceritakan, ketika turun ayat tersebut, Abu Dahdah Al-Anshari bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Allah mengharapkan pinjaman dari kita?”. “Ya wahai Abu Dahdah”, jawab Rasulullah. Kemudian Abu Dahdah berujar, “Perlihatkan tanganmu kepadaku ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah mengulurkan tangannya dan Abu Dahdah berkata, “Sesungguhnya aku akan meminjamkan kepada Rabbku kebunku.” Ibnu Mas’ud menceritakan, “Di dalam kebun itu terdapat enam ratus pohon kurma dan di sana tinggal pula ibu Abu Dahdah dan keluarganya.” Ibnu Mas’ud melanjutkan kemudian Abu Dahdah  datang dan memanggilnya, “Hai Ummu Dahdah”. “Labbaik”, jawabannya. Dia berujar, “Keluarlah, karena aku telah meminjamkannya kepada Rabbku.”

Pinjaman yang baik berarti infak di jalan Allah. Ada juga yang bilang, pemberian nafkah pada keluarga. Ada juga yang berpendapat, yaitu tasbih dan taqdis (penyucian). (sumber: Tafsir Ibnu Katsir)

“Pinjaman yang baik” ini tidak hanya ada di ayat ini, tapi ada di beberapa ayat lagi dalam Quran, salah satunya di QS Al Hadid. Ustadz Nouman menjelaskan kenapa digunakan kata pinjaman, mungkin salah satunya adalah Allah tahu bahwa manusia sangat pelit. Bayangkan kalau misalnya ibu kita yang sudah tua, datang kemudian bilang mau pinjam uang. Kata ustadz Nouman, kalau ibu saya sampai bilang kayak gitu, berarti saya pelit banget, sampai dikira untuk ibu sendiri gak mau ngasih, jadi beliau harus pinjam.

Padahal semua yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita, tapi titipan dari Allah. Jadi, luar biasa banget kalau ada pemilik yang bilang pada orang yang sudah diberi olehnya, saya pinjam ya. Betapa sangaaat sopan sekali dan menjaga hati orang yang diberinya.

Kita diminta meminjamkan sesuatu yang awalnya bukan milik kita, udah gitu kita dapat hadiah dari peminjaman itu. Allah memberikan ganti yang berlipat ganda untuk peminjaman itu. Sesuai yang disebutkan di QS Al Baqarah: 261.

spring-tree-vector-382157

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.”

Selanjutnya firman Allah, “Allah menahan dan melapangkan (rezki)” artinya berinfaklah dan janganlah kalian pedulikan, karena Allah Maha memberi rezeki (sumber: Tafsir Ibnu Katsir). Jadi kalau banyak berinfak, bukan berarti harta berkurang. Karena setelah itu, Allah dengan mudah bisa melapangkan rezeki orang yang sudah berinfak. Orang yang pelit berinfak pun belum tentu hartanya terus bertahan, karena Allah dengan mudah bisa menyempitkan rezekinya.

Apalagi sekarang di bulan Ramadhan, balasan infak pastinya lebih berlipat ganda lagi.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Diibaratkan demikian karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat. Dalam hadits juga angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari. (sumber: muslim.or.id)

Berinfak di jalan Allah, atau memberi pada orang yang membutuhkan, mungkin terlihat menguntungkan pihak yang diberi. Yang terlihat adalah pihak yang diberi itu dibantu. Tapi sebenarnya pihak yang memberi juga dibantu, yaitu dibantu untuk mengikis kekikiran dalam dirinya. Dibantu untuk latihan meletakkan harta di tangan dan bukan di hati. Dibantu untuk merasakan kebahagian. Karena uang itu bisa membeli kebahagiaan, asalkan dikeluarkan di tempat yang tepat, yaitu untuk berinfak di jalan Allah atau untuk membantu orang lain 😀

Tadabbur Quran #3: Jalut dan Thalut

Dulu kalau baca terjemah Quran, nggak ngeh kalau ini ternyata masih lanjutan cerita Bani Israil. Ingatnya cuma ada raja namanya Thalut, bawa pasukan lewat sungai, bilang jangan minum kecuali sedikit, terus banyak pasukan yang melanggar perintahnya. Ternyata ini masih sambungan kisah Bani Israil. Dimulai dari QS Al-Baqarah: 246.

Belum dapat sumber yang mumpuni sih, baru dapat dari Republika Online: Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3.

Di situ dikatakan bahwa setelah Nabi Musa meninggal, Bani Israil mengalami masa-masa suram. Jadi mereka “dijajah”, diperlakukan sewenang-wenang sama suatu kaum yang dipimpin oleh Jalut.  Terus mereka minta pada nabinya agar mengangkat seorang raja yang dapat memimpin mereka berperang melawan Jalut. Kemudian diangkatlah Thalut menjadi raja mereka. Thalut ini orang biasa, bukan keturunan kerajaan, karena keturunan kerajaan berada pada kekuasaan keturunan Yahudza, dan Thalut bukan keturunannya.

Setelah permintaannya dipenuhi, apa yang Bani Israil katakan?

“Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak”.

Protes! Ampun yak.. Padahal permintaannya udah diturutin. Terus nabi mereka berkata,

“‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.’ Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.”

Bani Israil kenapa bawa-bawa kekayaan ya.. Menurut mereka pemimpin harus kaya supaya bisa mengendalikan pemerintahan, sedangkan Thalut orang biasa aja. Tapi di ayat itu juga kita belajar, bahwa kriteria pemimpin itu bukan yang kaya, tapi yang punya ilmu dan kuat fisiknya. Punya ilmu, wawasan, dan gagasan, dan punya fisik yang kuat untuk mewujudkan itu semua.

Tanda bahwa Thalut akan menjadi raja, adalah kembalinya Tabut pada Bani Israil. Banyak sumber menyebutkan Tabut ini adalah peti tempat menyimpan Taurat, yang sebelumnya diambil sama musuhnya Bani Israil. Ternyata benar itu terbukti, Tabut kembali pada mereka. Akhirnya mereka percaya dan siap dipimpin oleh Thalut untuk melawan Jalut.

Di perjalanan untuk melawan Jalut, mereka melewati sungai. Terus terjadilah peristiwa itu. Thalut bilang sungai itu adalah ujian dari Allah. Siapa yang meminumnya bukan bagian dari tentara Thalut, kecuali yang seciduk dari tangannya. Kemudian banyak yang melanggarnya sampai akhirnya mereka bilang tidak sanggup lagi melawan Jalut dan tentaranya. Kemudian ada yang berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Kalau kata Republika sih yang melanjutkan perjalanan melawan Jalut itu hanya 300an orang (awalnya berjumlah 80.000).  Lalu akhirnya mereka mendapat kemenangan dengan izin Allah, dan Jalut pun dibunuh oleh Daud yang saat itu bagian dari pasukan Thalut. Nantinya Daud menjadi pemimpin Bani Israil dan diangkat sebagai nabi oleh Allah.

Tentang perang melawan pasukan Jalut ini, jadi ingat Perang Badar ya, tentang pasukan kecil menang atas pasukan yang besar. Karena ternyata yang menentukan kemenangan adalah Allah. Tapi meskipun jumlahnya sedikit, kualitas pasukan ini luar biasa.. Pasukan Thalut dan Pasukan Badar terdiri dari orang-orang yang lulus melewati ujian. Dalam kondisi sumberdaya yang minim, kalau tetap percaya sama Allah, insya Allah akan turun bantuan dariNya.

Yak, jadi makin pengen denger cerita lengkap Bani Israil 😀

sumber bacaan: Republika Online, Tafsir Ibnu Katsir, tafsir.web.id