Pengantar Tazkiyatun Nafs – Ustadz Adi Hidayat

Nouman Ali Khan Indonesia

Penjelasan Ustadz Adi Hidayat ini mantaaap euy. Sebenarnya ini isinya pengantar tazkiyatun nafs, tentang apa hakikat tazkiyatun nafs. Silakan simak videonya di sini:

View original post 620 more words

Advertisements

Social Media: Just Take It or Leave It

enel uga..

socmed memang tempat berekspresi, tapi tentunya tetap sesuai dengan norma agama, hukum, dan kesopanan kan ya 🙂

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

Mau posting hasil karya, takut dibilang show off keahlian..

Mau posting foto liburan, takut dibilang pamer kendaraan dan gaya hidup..

Mau posting nasehat, takut dibilang sok suci, sok paling bener…

Mau posting tips and trik berbisnis, takut dibilang sok pinter, sok sukses…

Mau posting foto makanan, takut dibilang nggak empati sama yang lagi laper..

View original post 814 more words

…Di tengah jalan, kita akan dihadapkan pada hal-hal yang semenggelisahkan itu. Karena rumusnya adalah, perasaan tidak selalu sama dengan kenyataan. Dan Tuhan itu menghadirkan kenyataan-kenyataan untuk membuat kita mengerti bahwa menjalani hidup itu tidak sama dengan angan-angan. Kita belajar berkali-kali tentang yang terbaik itu selalu Allah yang Maha Mengetahui. Hanya saja, ilmu kita tentang itu […]

Tanggal Ini, Setahun yang Lalu

10 November 2015.

Siang itu setelah Dzuhur saya berkunjung ke ruangan salah satu dosen saya. Kemarin sorenya, bu dosen ini mengirim pesan pada saya, bilang beliau mau minta tolong dan minta saya datang ke ruangannya. Saya pikir ini tentang kerjaan kantor, atau urusan kemahasiswaan (karena saat masih mahasiswa saya banyak berinteraksi dengan beliau di bidang ini), atau tentang hal lain yang berhubungan dengan pekerjaan. Ternyata, sama sekali bukan.

Siang itu sambil makan siang kami mengobrol ringan.. awalnya beliau menanyakan kabar keluarga almarhumah temannya, yang kebetulan anaknya adalah teman saya. Jadi saya pikir beliau mau minta tolong menunjukkan alamat rumah temannya itu jika sekali-kali nanti mau berkunjung ke Bogor. Dan sudah.. saya kira hanya itu yang ingin disampaikannya, sampai kemudian.. beliau menyinggung hal lain.

🙂

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya.. di tanggal ini, setahun yang lalu.. Allah menjawab sebuah doa saya dengan jawaban “YA”. Setelah bertahun-tahun sebelumnya Allah menjawab dengan “nanti” atau “tidak sekarang”, namun tetap memberikan ganti yang lebih baik untuk saya saat itu. Setelah sekian ikhtiar dan harap-harap cemas yang mendebarkan..wkwk.. Setelah sekian kegagalan dan patah hati yang pahit awalnya tapi ternyata bikin saya tambah kuat *what doesn’t kill you only make you stronger.

Tanggal ini, setahun yang lalu, Allah membukakan jalan yang tak terduga untuk saya bertemu dengan jodoh terbaik yang telah disiapkanNya.

Kita sungguh selalu kurang canggih untuk menerka skenario yang telah Allah siapkan. Pun pikiran-pikiran seperti “ah, rasanya gak mungkin”, “ga ada harapan”, “susah deh kayaknya” rasanya tidak pantas kalau mengingat kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa melakukan segalanya. Maka hari ini, jika hidup terasa begitu sulit, begitu berat, begitu sesak; ingatlah akan keajaiban-keajaiban pertolonganNya, yang sudah terlulur untuk berjuta-juta hambaNya. Terus berusaha untuk percaya sepenuhnya kepadaNya:

Allah, The One who will never fail you.

 

~harusnya dipost kemarin XD

Saat Memberi Saat Tidak

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

Children holding heartsymbol

Pagi ini ketika berselancar di linimasa Facebook, saya menemukan sebuah tulisan yang sangat menggugah karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim berikut ini:

“Seorang ibu memasuki minimarket bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Saya tidak memperhatikan dengan baik. Yang satu, kira-kira kelas 4 SD. Satu lagi mungkin TK atau SD kelas 1. Begitu masuk, ibu tersebut segera mengucapkan dua kata, “Nggak… Nggak….” sebagai isyarat larangan beli bagi kedua anaknya yang langsung berbelok ke tempat es krim.

Anaknya yang kecil segera menunjukkan reaksi spontan, hanya sepersekian detik (barangkali tidak sampai satu detik) dari kata “nggak” yang terakhir diucapkan ibunya, dengan menangis keras; melengking, memaksa….

Tak perlu waktu lama bagi anak itu untuk menangis. Ibunya segera memberi reward untuk tindakan anak mempermalukan orangtua. Ia mempersilakan anaknya mengambil es krim. Hampir saja tangisan kedua pecah ketika memilihkan es krim yang lebih murah dibanding pilihan anak. Tetapi tangisan itu segera berubah menjadi perayaan kemenangan yang…

View original post 1,522 more words