#30HariQJ[3] Asy-Syura 39-40: Keberanian dan Memaafkan

وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“..dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.” QS Asy-Syura: 39
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” QS Asy-Syura: 40

Ciri yang disebutkan di ayat ke-39 ini adalah sambungan dari yang di ayat 36, yaitu mereka yang mendapatkan kenikmatan di sisi Allah yang lebih baik dan kekal. Ciri-cirinya adalah:

  1. Beriman dan bertawakal pada Allah (ayat 36)
  2. Menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan apabila marah segera memberi maaf (ayat 37)
  3. Mematuhi seruan Allah dan melaksanakan shalat, sedangkan mereka memutuskan urusan mereka dan syura (musyawarah), dan menginfakkan sebagian rezekinya (ayat 38)
  4. Jika diperlakukan zhalim, mereka membela diri (ayat 39)

Ternyata Islam mengajarkan kita untuk jadi orang yang kuat dan berani membela diri apabila dizhalimi. Saya ingat ada 3 macam sikap/cara berinteraksi dengan orang lain:

  1. Submisif: menerima dan menyerah, bahkan jika dirinya dirugikan, takut speak up untuk membela dirinya
  2. Agresif: kebalikan submisif, mengutamakan dan membela dirinya tapi dengan cara yang keras sehingg
  3. Asertif: pertengahan keduanya, bisa membela diri dan memperjuangan kepentingannya tapi dengan cara yang baik

Membela diri di sini berarti masuknya ke sikap asertif ya seharusnya.. jadi tidak membiarkan diri dizhalimi, tapi tetap dengan cara yang baik. Contoh yang sangat simpel banget menurut saya adalah ketika ada orang merokok di dalam angkot, yang jelas-jelas ruang publik dan dilarang merokok. Apakah kita akan membiarkan diri kita terpaksa menghisap asap rokok beracun, atau bisa dengan sopan meminta untuk mematikan rokok. Jadi ingat kisah si bapak ini deh 🙂

Ayat selanjutnya mungkin merupakan sambungan dari aksi membela diri ketika dizhalimi, yaitu jika yang menimpa diri berupa kejahatan orang lain dan ada hukumannya, maka diberlakukan hukumannya tanpa ditambahi balasan lain. Karena membalas kejahatan harus dengan yang serupa, berbeda dengan membalas kebaikan yang balasannya sebaiknya melebihi yang diterima.

Setelah itu, jika bisa memaafkan itu lebih baik. Disebutkan juga tentang pahala bagi yang memaafkan dan tetap berbuat baik. Jadi teringat kisah Abu Bakar yang ingin menghentikan bantuan pada orang yang selama ini ditolongnya, karena orang itulah yang ternyata menyebarkan fitnah tentang Aisyah (tapi kemudian diingatkan Allah dengan QS An-Nur: 22).

Memaafkan orang yang udah menjahati apalagi tetap berbuat baik sama dia pasti syusyah.. Tapi kalau kata Tere Liye, memaafkan itu bukan karena orang itu berhak dapat maaf, tapi karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati. Sedangkan balasan untuk orang itu -jika keadilan ga bisa ditegakkan di dunia- pasti akan dibalas juga di akhirat.

Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya, bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati. (Tere Liye, dalam novel Rindu)

Referensi:
http://jakafilyamma.blogspot.com/2013/04/perilaku-agresif-submisif-dan-asertif.html
http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-asy-syura-ayat-40-43.html
http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-asy-syura-ayat-36-39.html

#30HariQJ[2] An-Nisa 86: Membalas Penghormatan

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).
Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” QS An-Nisa: 86

Penghormatan yang dimaksud di sini adalah salam, yaitu ucapan “assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh”. Bagaimana menjawab salam atau penghormatan itu?

(Apabila kamu diberi salam dengan suatu salam penghormatan) misalnya bila dikatakan kepadamu, “Assalamu’alaikum!” (maka balaslah) kepada orang yang memberi salam itu (dengan salam yang lebih baik daripadanya) yaitu dengan mengatakan, “Alaikumus salaam warahmatullaahi wabarakaatuh.” (atau balaslah dengan yang serupa) yakni dengan mengucapkan seperti apa yang diucapkannya. Artinya salah satu di antaranya menjadi wajib sedangkan yang pertama lebih utama. (Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu) artinya membuat perhitungan dan akan membalasnya di antaranya ialah terhadap membalas salam. Dalam pada itu menurut sunah, tidak wajib membalas salam kepada orang kafir, ahli bidah dan orang fasik. Begitu pula kepada orang Islam sendiri yakni orang yang sedang buang air, yang sedang berada dalam kamar mandi dan orang yang sedang makan. Hukumnya menjadi makruh kecuali pada yang terakhir. Dan kepada orang kafir jawablah, “Wa`alaikum.” Artinya: juga atasmu. (Tafsir Jalalain)

Allah memperhitungkan segala sesuatu, termasuk ucapan dan balasan salam yang kadang diremehkan. Oleh saya sih terutama, saya belum termasuk orang yang suka menyebar salam. Kadang kalau ketemu orang cuma hai atau halo doang. Padahal ada yang lebih utama ya, mengucapkan salam.

Sebenarnya apa sih esensi dari salam ini? Pas banget nemu Fi Zhilalil Quran di google 😛

  1. Salam adalah ciri khusus yang menjadi tradisi masyarakat muslim
  2. Salam adalah usaha yang terus menerus untuk menguatkan hubungan kasih sayang dan kedekatan antar muslim. Memulai salam hukumnya sunah, dan menjawabnya hukumnya wajib. Salam juga penting pengaruhnya dalam membersihkan hati, memperkenalkan orang-orang yang belum kenal, dan mempererat hubungan orang-orang yang menjalin hubungan.
  3. Menunjukkan kelapangan jiwa di tengah-tengah ayat perang sebelumnya dan sesudahnya. Barangkali maksudnya untuk menunjukkan prinsip Islam yang asasi, salam ‘keselamatan dan kedamaian’. Ia tidak melaksanakan perang melainkan untuk menetapkan kedamaian dan keselamatan di bumi. (sumber: FZQ)

Menurut saya, salam juga menjadi simbol awalan atau bagian terkecil dari kebaikan yang harus seorang muslim tebarkan. Jadi salam adalah awal, berikutnya jika mampu, kita bisa menyebarkan kebaikan lain seperti bantuan tenaga, ilmu yang bermanfaat, harta, hadiah, dsb untuk orang lain. Dan jika mendapatkan kebaikan seperti itu dari orang lain, jangan lupa untuk membalasnya dengan yang serupa atau lebih baik.

Referensi:
https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-4-an-nisa/ayat-86
https://bahaudinonline.blogspot.com/2014/04/definisi-menghargai-orang-lain-tahiyyah.html
– Fi Zhilalil Quran (FZQ)

#30HariQJ[1] An-Nisa 32: Tentang Iri Hati

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS An-Nisa: 32

Dalam tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah pertanyaan Ummu Salamah: “Wahai Rasulullah, kaum pria dapat ikut berperang, sedangkan kami (kaum wanita) tidak dapat ikut berperang, dan bagi kami hanya separo warisan (yang diterima lelaki)”. Maka Allah menurunkan ayat ini: “Dan janganlah kamu iri hati…”.

Padahal kalau dilihat dari pertanyaannya, sepertinya “iri hati” ini dalam urusan pahala dan akhirat, bukan dunia. Iri sama orang yang bisa jihad kenapa? Karena dia bisa dapat pahala dan jadi syuhada. Kalau pertanyaan pertama udah seperti ini, bisa jadi pertanyaan kedua tentang waris juga motivasinya adalah harta itu untuk amal juga. Wallahu a’lam.

Tapi tetap aja Allah bilang, jangan iri.. untuk laki-laki dan perempuan masing-masing ada bagian usahanya sendiri-sendiri. Perempuan ga diwajibkan turun ke medan jihad, tapi laki-laki juga ga bisa dapat pahala mengandung, melahirkan, dan menyusui seperti perempuan. Dan banyak lagi perbedaan ladang amal lainnya antara laki-laki dan perempuan, tapi keduanya pasti mendapat balasan dari apa yang mereka usahakan.

Kalau iri hati dalam urusan pembagian pahala aja ga boleh, lalu gimana dong dengan iri hati dalam urusan dunia? Kita (eh saya deh) kan seringnya iri dalam urusan dunia ya.. Eh si A udah punya itu, aku belum.. Eh si B hidupnya enak banget, aku ngga. Padahal pembagian nikmat dunia itu adalah ketetapan Allah juga. Ada pelajaran yang saya dapat dari ayat ini, ditambah dari pengalaman juga, bahwa:

Kalau menginginkan sesuatu, ga usah iri sama orang lain, ga usah baper, minta aja sama Allah.

“…dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya”.

Kemudian, gimana mengatasi iri hatinya? Salah satu obatnya yang menurut saya manjur adalah:

Dzikrul maut.

Bayangin kalau kita mati besok atau sebentar lagi.. rasa iri hati dan baper kita itu ga berguna sama sekali di dalam kubur, ga berguna sama sekali ketika kita menghadap Allah lalu dihisab. Malah ngeri, pas mati masih membawa penyakit hati, pas ketemu Allah masih menyimpan rasa tidak puas dengan pemberian-Nya. Kalau kita mati, hal-hal yang kita inginkan pun ga berguna lagi. Hal-hal yang bikin kita iri ga ada artinya lagi.

Ayat ini mengajarkan saya bahwa ketika ingin sesuatu, atau bahkan iri (dalam hal yang baik ya), jangan berhenti di perasaan iri itu lalu mempertanyakan keadilan Allah. Ubah perasaan itu menjadi aksi/usaha dan doa, dan terus bersangka baik pada Allah. Berusaha untuk ridha dengan ketetapan-Nya, karena ridha atau contentment itu adalah a paradise on earth! 🙂

Referensi: http://www.ibnukatsironline.com/2015/05/tafsir-surat-nisa-ayat-32.html

#30HariQJ

Haii para tukang kepo blog akuh XD *hahaha

Mohon maaf udah lamaaa banget ga posting. Di Ramadhan ini saya nemu challenge yang menarik nih.. 30 Hari Quran Journaling atau disingkat #30HariQJ. Infonya bisa dibaca di akun instagram INI.

View this post on Instagram

#30hariQJ personal Challenge. . . Kamu ingin lebih dekat dengan Al-Qur'an di bulan Ramadhan? Yuk ikutan #30hariQJ! InshaAllah kita akan bersama-sama belajar satu ayat Al-Qur'an tiap harinya melalui Qur'an Journaling (QJ) . . Apa itu QJ, bagaimana cara membuatnya? Tenang aja, di dalam grup sudah ada panduan yang inshaAllah akan membantumu membuat QJmu sendiri. . . Bagaimana cara ikutan challenge ini? Ikuti petunjuk pada slide kedua. . Program ini akan dimulai pada 6 Mei dan berakhir tgl 4 Juni 2019, HANYA di grup FB QJ indonesia. Di dalam grup tersedia unit yang berisi satu ayat untuk direfleksikan setiap harinya. Tapi jangan khawatir, jika kamu tidak sempat membuat QJ di satu hari, kamu tetap bisa membuatnya di hari yang lain. Kamu juga boleh mengunggah QJ mu dimedia sosial lain, jangan lupa tag @thequranjournal.id dengan hastag #30HARIQJ. . Kabar baiknya, inshaAllah akan ada 3 paket hadiah untuk 3 journalers terpilih. Isi paketnya: Buku panduan belajar Bhs Arab Qur'an, Buku Study Plan utk pembelajaran Al-Qur'an (baru saja disusun), juga erasable highlighter. . . Bagaimana penilaian utk journalers terpilih? Tidak ada penilaian khusus :). Fokus saja pada refleksi pribadimu mengenai ayat yang sedang kamu pelajari. . . Jangan mau sendirian ikutan challenge ini, yuk ajak saudara dan kawanmu untuk ikut serta! Sampai ketemu di grup QJ indonesia 🙂 . . #quranjournaling #belajarquran #ramadhanproduktif #ramadanmubarak #quranreflection #journaling #ramadan1440H #ramadankareem

A post shared by Personal Qur'an Journal (@thequranjournal.id) on

 

Di samping target tilawah harian, mau juga lah saya untuk bisa tadabbur 1 ayat per hari. Setelah bergabung di grup facebook Quran Journaling itu, ada petunjuknya kok harus ngapain aja. Terus dia juga ngasih referensi tafsir atau video tentang ayat yang sedang dibahas. Hasil refleksi kita pribadi nanti bisa di-share di grup itu juga (grupnya khusus akhwat ya). Nah kebanyakan mereka menulis catatan di buku, kemudian difoto. Tapi karena saya lebih leluasa ngetik, jadi saya ketik aja catatan saya dan dipost di blog ini. Jadi insya Allah postingan berikutnya akan ada catatan #30HariQJ saya. Semoga saya bisa full belajar 30 ayat yang ditentukan. Tapi saya ga ngoyo harus ngejar target per hari. Ini aja di hari kedua baru selesai yang hari pertama..haha. Gpp deh ya yang penting belajar Quran! 🙂

Gems (2)

Kita sangat mungkin berbeda pendapat dengan orang lain. Kalau itu terjadi, jangan jadi orang yang langsung memberi cap pada orang itu, “kamu kafir, munafik, kamu ga percaya sunnah, ga percaya quran”. Tapi dengarkan apa yang mereka katakan, lalu balas dengan argumen. Jelaskan kenapa menurutmu pemahaman mereka gak masuk akal berdasarkan bukti ini, bukti itu. Tidak perlu marah2 karena siapa yang marah2? “People who don’t have something intelligent to say”. Agama ini mengajarkan kita untuk open minded, untuk berpikir, karena itu berdialoglah.

“People are gonna have crazy ideas. That’s fine. You can think it’s crazy, but you should intelligently articulate why you think what they’re saying is crazy”

*masih dari Al Kahf in-depth: 1.2 Introduction – Methodology of Studying the Quran @ Bayyinah TV