Gems (2)

Kita sangat mungkin berbeda pendapat dengan orang lain. Kalau itu terjadi, jangan jadi orang yang langsung memberi cap pada orang itu, “kamu kafir, munafik, kamu ga percaya sunnah, ga percaya quran”. Tapi dengarkan apa yang mereka katakan, lalu balas dengan argumen. Jelaskan kenapa menurutmu pemahaman mereka gak masuk akal berdasarkan bukti ini, bukti itu. Tidak perlu marah2 karena siapa yang marah2? “People who don’t have something intelligent to say”. Agama ini mengajarkan kita untuk open minded, untuk berpikir, karena itu berdialoglah.

“People are gonna have crazy ideas. That’s fine. You can think it’s crazy, but you should intelligently articulate why you think what they’re saying is crazy”

*masih dari Al Kahf in-depth: 1.2 Introduction – Methodology of Studying the Quran @ Bayyinah TV

Gems (1)

“Kalau Quran itu untuk semua orang di dunia, kenapa sih Quran diturunkan dalam Bahasa Arab? Kalau Allah Maha Kuasa, kenapa gak menurunkan nabi yang bisa multibahasa, dan bicara ke tiap bangsa sesuai bahasanya?”

Pertama, ini tentang kerendahan hati. Kita ini consumer society, seringkali menempatkan diri sebagai pelanggan (yang mana pelanggan adalah raja), banyak maunya, semua dimodif sesuai request kita. Tapi emangnya kita customernya Allah? Minta Allah nurunin Quran dalam berbagai bahasa. Sedangkan Allah adalah Tuhan dan kita hamba. He is Master and we are slaves. Sama bos aja kita ga berani macem2, dan nurut kalo diperintah. Nah sama Allah malah menuntut macem2. Jadi pertama sikap kita harus diperbaiki.

Ini baru satu bagian aja dari sekian psychological prerequisites untuk belajar Quran. Adab sebelum ilmu.

~dari ujung ceramah Al Kahf in-depth: 1.1 Introduction – How to Approach the Quran @ Bayyinah TV oleh ustadz Nouman

[Buku] Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran

“Ngafal Qur’an? Hah, ngapain?!”

Dulu saya mikir gitu loh. Ngerasa gak ada urusan sama sekali dengan Al Qur’an. Apalagi ngafalin! Ngapain juga, i have so many more interesting things in life. Ngek! Sombong bener ye.. Tapi itu dulu. Sekarang semuanya berubah sejak negara api menyerang sejak saya ikutan tahsin 😀

Ternyata kalau kita mulai melangkah untuk mendekati Quran, Allah akan bukakan pintu2 kebaikan lainnya. Awalnya cuma belajar tahsin/tajwid, lama2  mau menghafal, mentadabburi, mengajarkan, dan tentu saja mengamalkan..insya Allah.

Dalam perjalanannya, tentu banyak naik turunnya. Karena itu penting bgt untuk selalu tersambung dengan sumber2 inspirasi quran, baik itu halaqah tahsin/tahfizh, video2 ceramah, buku, dll, biar selalu dpt suntikan semangat 😀

Nah ini ada satu buku yg baguuus bgt:

“Quran tidak akan mau diduakan, ia sendirilah yang akan menyeleksi siapa yang berhak bersanding dengannya”. -Ratna Puspa Indah

Itulah satu kalimat yang diucapkan oleh mahasiswa yang punya kesibukan luar biasa tapi masih menyempatkan waktu untuk mempelajari surat cinta dari Rabb nya dan memantaskan diri bersanding dengan Al. Qur’an

Kalimat itu ada di salah satu bagian dari buku Mahasiswa Mahasiswa Pencinta Al. Qur’an (MMPQ). MMPQ berisi cerita-cerita dari santri IQF (Indonesia Quran Foundation) yang merupakan mahasiswa/i dari Universitas Indonesia dan kampus lain di Jakarta. Mereka berbagi kisah tentang bagaimana mereka “menemukan” Quran dan kemudian berjuang untuk terus membersamainya.

Yuk beli buku MMPQ ini.. Temukan banyak inspirasi di dalamnya 🙂

mmpq

Judul Buku: Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran (MMPQ)
Penulis: Tim Penulis IQF
Penerbit: Lembah Kapuk
Spesifikasi: 212 halaman, 13x19cm, ada pembatas buku
Harga: Rp 60.000 (belum termasuk ongkir)

Dengan membeli buku ini, kamu sudah ikut berdonasi untuk RPPI lho! Lihat info tentang RPPI (Rumah Peradaban Pelajar Indonesia) di sini: www.rumahpelajar.com. Kalau mau berdonasi lebih? Boleh banget! 🙂

Kalau berminat hubungi saya ya.. tapi karena saya gak nyaman membagi no HP di sini, ada sih no HP yang satu lagi tapi HPnya yang ga ada, jadi kalau mau boleh email aja ke heninggar at gmail dot com atau twitter @heninggar 🙂

Dahulukan Quran, Dahulukan Allah

Kemarin saya menghadiri multaqo (pertemuan) santri tahsin tahfizh Gemma Bogor di Masjid As Salam Bantarjati. Ada taujih dari ustadz Arham bin Ahmad Yasin al hafizh yang luar biasa masya Allah ngena banget plak plak plak! Tapi senang dapat nasehat2 yang berharga banget. Nah ini dia saya share untuk pembaca sekalian yang budiman 🙂

  • Tingkat kesohiban dengan quran bermacam2.. ada yg sekedar tau, ada yg akrab bener
  • Bacaan quran kita harusnya sempurna/benar dan ringan tanpa susah payah (tanpa takalluf/berlebihan), jadi membaca dengan benar itu udah refleks/otomatis
  • Kenapa harus udah refleks? Karena kita masih punya kewajiban lain terhadap quran. Jadi jangan sampai tilawah masih mikirin bacaan bener/ga terus. Bacaan harus udah refleks bagus, sehingga kita bisa tadabbur sambil baca
  • Caranya gimana: berlatih terus dengan mulut kita
  • Tidak berlebihan (takalluf) itu ada 2:
    • Takalluf mahmud (terpuji): dalam belajar itu wajar kalau bersusah payah
    • Takalluf madzmum (tercela): kesulitan terus, ga ada perbaikan
  • Jangan berpuas diri, karena masih ada sangat banyak peluang berinteraksi dengan quran
  • Hati2 ghurur (tertipu), bahkan seorang qari bisa tertipu ketika dia baca quran, yg dia nikmati adalah suaranya, bukan qurannya
  • Maka hendaknya seseorang mengecek hatinya, apakah dia menikmati quran karena maknanya, apa karena suara/naghamnya
  • Fokus yg dikehendaki dalam tilawah adalah tadabbur (di samping bacaan yg benar). Memperbaiki bacaan juga muaranya tadabbur
  • Tadabbur juga perlu belajar lagi ilmu alatnya
  • Tidak perlu dibandingkan bagusan mana bacaan bagus dengan paham artinya.. Harusnya untuk kita targetnya adalah keduanya
  • Atau pertanyaan lain yg umum pas bulan ramadhan: mending ngejar target khatam tapi bacaan buru2, apa baca dikit tapi sambil memahami maknanya -> pertanyaan ini muncul krn blm mau memberikan waktu lebih utk quran T_T
  • Kalau jawabannya, kita targetkan keduanya (baca banyak & tadabbur).. muncul pertanyaan lagi: tapi nanti lama waktunya? Jawab: Ya iyalah, itu konsekuensinya
  • Sama dengan pertanyaan, gimana nih menghafal quran tapi hafalan lama jadi lupa? Jawabannya ya..nambah hafalan baru PLUS ngulang hafalan lama
  • Allah memerintahkan kita meminta surga firdaus (yg paling tinggi). Begitu juga dalam interaksi dengan quran, targetnya harus tinggi. Harus punya ‘uluwwul himmah (obsesi yg tinggi). Konsekuensinya apaa? Mujahadahnya jg hrs lebih. Berusaha lebih. Tidak ada mujahadah tanpa pengorbanan
  • Interaksi yg lain dengan quran: mengamalkan, menghafalkan
  • Kalau mau menghafal tapi bacaan belum baik gimana? Ya perbaiki bacaan lalu menghafal
  • Masalahnya adalah kita ga mau memberi waktu lebih untuk quran. Jadi masih pakai waktu sisa. Padahal kalau kita memberikan waktu untuk quran, Allah akan memberikan lebih untuk kita
  • Kalau kita menjadikan kegundahan/kegalauan kita dlm akhirat, maka Allah akan mencukupi/menyelesaikan seluruh kegundahannya yg lain
  • Tapi harus yakin untuk memberikan waktu untuk quran
  • Begitu juga kalau untuk pengajian, mau berangkat tapi ada halangan2 misalnya mertua datang, anak sakit, dll.. Kalau kita yakin dan mau memprioritaskan pengajian, maka halangan2 itu Allah yg akan bereskan
  • Jagan bangga kalau kita sibuk dengan pekerjaan dunia sampai lupa akhirat
  • Begitu juga dalam menuntut ilmu, kalau seharian belajar mulu ga ada quran. Yang satu belajar mulu, tapi pas ujian, yang dipelajari ga ada yg keluar. Yang satu prioritasin quran, sambil tetap belajar juga, eh pas ujian yang dipelajari keluar. Itu berkah
  • Ilustrasi dalam berdagang.. Ada pemilik toko A dan toko B. Yang A buka toko terus karena takut kehilangan pelanggan, waktu shalat pun tetap buka..tapi seharian ga ada yg beli. Yang B tetap belajar quran, ngaji, pas waktu shalat tutup. Pas toko buka, yang beli 50 org. Itu berkah.

Pagi ini saya mencoba mendahulukan quran.. mengulang hafalan 1 surat dan menghafal 1 ayat, kemarin malamnya jg saya cicil tilawah setengah juz. Terus pas berangkat ngantor rasanya kelebihan energi banget, sampe lari2 pas naik turun jembatan penyebrangan..hehe. Tapi enak deh rasanyaa.. mood positif banget 😀

Kalau kamu gimana? coba juga yuk 🙂

Laa tusyrik billah!

Salah satu nasehat Luqman pada anaknya adalah agar tidak menyetukukan Allah. Laa tusyrik billah!

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS Luqman: 13)

Menurut Ibnu Taimiyah, ada 5 bentuk penghambaan kita pada Allah:

  1. MenyembahNya (worship/pray)
  2. MematuhiNya (obey)
  3. MempercayaiNya (trust)
  4. MencintaiNya (love)
  5. Ketentuan dalam hubungan antara kita dan Allah ditentukan olehNya, bukan kita

Kita bisa saja melakukan kesyirikan pada Allah dalam 5 hal di atas.. Tapi saya paling ingat yang penjelasan no 4 dan 5.

Salah satu yang paling jleb yang saya ingat:
“kamu bisa aja sedang berada di depan ka’bah, sedang bersujud pada Allah, tapi terhitung melakukan kesyirikan, karena hati kamu tidak ada di situ, pikiranmu melayang ke tempat lain. Ini syirik dalam kecintaan”. *jleb

Karena tanda kita cinta adalah kita sering memikirkannya, kita ingin berada di sana/di dekat yang kita cintai.. Kesyirikan dalam kecintaan adalah ketika cinta kita pada sesuatu yang lain, membuat kita melakukan sesuatu yang dibenci Allah. Ketika cinta pada keluarga/teman/dll itu tidak didasari pada kecintaan pada Allah.

Yang keren adalah.. ketika kita bisa mengendalikan cinta itu.. Ketika kita bisa tidak berlebihan dalam mencintai dunia.. Ketika cinta kita berlabuh pada hal2 yang lebih besar di ujung sana (di akhirat), maka Allah akan membuka dunia ini untuk kita. Mengalirkan rezeki dari arah yang tidak disangka2.

Kemudian tentang yang poin ke-5.. hubungan kita dengan Allah bukanlah sesuka kita, melainkan Allah yang menentukan. Perumpamaannya begini.. kita baru diterima bekerja di sebuah tempat, kemudian si bos ngasih kita daftar pekerjaan yang harus dilakukan sehari2. Di daftar itu tertulis saya harus melakukan A, B, C, D, E. Di akhir hari, si bos nanya:
– Gimana pekerjaan kamu?
+ Oh..saya senang..saya sudah mengerjakan F, G, H, I, J dengan sangat baik.
– Loh loh.. kan disuruhnya ngerjain A-E? Kenapa ngerjain F-J?
+ Iya sih..tapi saya lebih suka mengerjakan F-J.

Kalau begitu terus kan tinggal tunggu waktu dipecat tuh si pegawainya.

Nah begitu juga sebenarnya hubungan kita dengan Allah.. bukan kita yang menentukan, misalnya:
– Ah saya mah shalat cukup sehari sekali
– Menurut saya, beriman itu cukup dalam hati, yang penting percaya
– Bagi saya, jadi muslim itu yang penting baik sama orang lain dan ga ngerugiin
– Saya akan lebih bersyukur dan menghayati kalau melakukan perjalanan ke Hawaii, bukan ke Mekah
– dan seterusnya

Penghambaan kita pada Allah sudah ditentukan olehNya, dan posisi kita adalah hamba, jadi dalam posisi menerima, bukan bernegosiasi dengan perintah Allah.

~catatan dari Quran for Young Adults Bayyinah TV, day 3 session 2