Ilmu Komputer dan Islam

tulisan lama, for the sake of updating blog :9

Dulu, di awal kuliah di Fakultas Ilmu Komputer UI, saya sering bertanya-tanya. Bagian mana dari ilmu yang saya pelajari ini, yang bisa membuat saya mengingat Allah? Jika dibandingkan dengan ilmu lain, saya agak-agak sulit melihat secara langsung. Bandingkan saja dengan Biologi atau Kedokteran misalnya. Ketika mereka mempelajari tentang tahapan perkembangan janin dalam rahim, mereka bisa langsung teringat ayat-ayat di surat Al-Mu’minun atau Az-Zumar yang menjelaskan tahapan tersebut. Seketika mereka pun merasakan kebesaran dan kebenaran Allah. Begitu juga dengan anak astronomi, yang mempelajari benda-benda langit dengan orbit-orbitnya. Seketika mereka pun tersadarkan bahwa Maha Besar Allah yang menciptakan semua ini, menciptakan keteraturan dalam lintasan bintang-bintang: “Demi langit yang memiliki jalan-jalan” (Adz-Dzaariyat:7). Lalu, bagaimana dengan ilmu komputer? Apa yang dapat membuat saya menjadi ingat dan semakin dekat padaNya?

Setelah menyelami samudera ilmu komputer sekian lamanya, perlahan saya menemukannya. Waktu pertama belajar programming, saya sungguh kelimpungan. Begitu sulit membuat program yang bisa melakukan tugas tertentu. Bayangkan saja, anggaplah komputer itu bodoh, dan kitalah yang harus mendefinisikan semuanya: program tersebut harus membaca apa, inputnya disimpan dalam bentuk/tipe data apa, bagaimana mengolahnya, outputnya seperti apa, dan sebagainya. Di awal itu sulit sekali membuat program yang sekedar bisa mengkonversi suhu celcius ke fahrenheit dan sebaliknya. Sementara kita mungkin hanya perlu rumus dan sedikit corat-coret. Membuat program itu perlu didefinisikan setelah ini dia harus melakukan apa, jika begini maka langkah selanjutnya apa, berapa kali langkah ini dilakukan, dan sebagainya. Lalu, ketika saya shalat maghrib, dengan mudahnya saya bisa berhenti saat raka’at mencapai tiga. Saya tau kapan harus membaca tahiyat, tau kapan harus salam. Jika direnungkan, ternyata ciptaan Allah bernama manusia itu luar biasa sekali. Dengan akal pikirannya, begitu mudahnya manusia melakukan segala macam hal.

Suatu hari saya mendapat kesempatan mengikuti kuliah umum profesor-profesor Jepang. Bidang keahlian mereka adalah Robotika. Dalam kuliah tersebut sang profesor mempresentasikan hasil riset robotikanya. Yang paling menarik menurut saya adalah riset mengenai Robotics Tactile Sensors. Profesor tersebut meneliti dan mengembangkan sensor sentuhan pada robot. Melalui video, beliau memperlihatkan hasil karyanya. Bayangkan, perlu riset bertahun-tahun untuk membuat “tangan” robot yang bisa membuka tutup botol! Permukaan “tangan” robot dibuat dengan tekstur tertentu yang membuatnya bisa “merasakan” tekstur benda yang dipegangnya. Sensor robot tersebut mengapit kedua tepi tutup botol, kemudian memutarnya untuk melonggarkan tutupannya. Sekali lagi, sungguh luar biasa akal pikiran manusia yang bisa mempelajari cara membuka tutup botol dan bahkan hal yang lebih rumit dari itu dalam waktu yang sangat singkat! Subhanallah..

Pelajaran-pelajaran dalam Ilmu Komputer, selain bisa mengingatkan kita akan kebesaran Allah, ternyata juga sangat banyak aplikasinya yang memudahkan tugas manusia sebagai khalifah di bumi ini. Misalnya Komputasi Grid, yang menurut Prof Heru Suhartanto (Dosen Fasilkom UI) bertujuan melakukan penghitungan berskala besar secara cepat dan efisien. Salah satu aplikasinya adalah untuk menghitung konsentrasi polutan. Kita mengetahui dampak buruk polusi, tetapi mengapa kita tidak menghentikannya? Mungkin jawabannya karena kita berpikir polusinya hanya sedikit. Jika kita buka QS Al-Baqarah: 11-12 kita akan temukan ayat ini, “(11) Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan”. (12) Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” Dengan Komputasi Grid, kita dapat menghitung berapa tingkat kerusakan yang terjadi sehingga kerusakan yang parah dapat dihindari. Komputasi Grid juga bisa digunakan untuk mencegah bencana yang lebih besar seperti memperkirakan terjadinya gempa karena gerakan lempeng bumi. Bila lempeng bumi di utara bergeser sedikit saja, bisa jadi akan menghasilkan gempa luar biasa di selatan, di kemudian hari (butterfly effect). Jika dicari, akan sangat banyak aplikasi ilmu komputer yang bisa membantu tugas manusia, di antaranya termasuk dalam bidang Bioinformatics, Perolehan Informasi, Pemrosesan Bahasa Natural, Pengolahan Citra, Sistem Cerdas, E-Commerce, E-Learning, E-Governance, dan lain sebagainya.

Teknologi ibarat pedang bermata dua. Ia bisa membawa manfaat, bisa juga merugikan. Di kuliah Komputer dan Masyarakat, sering sekali didiskusikan masalah-masalah yang terjadi sehubungan dengan IT, seperti pornografi, pencurian data kartu kredit, kemudahan mencari informasi lewat search engine, dan lain sebagainya. Sering pula didebatkan apa akar masalahnya? Dan apa solusinya? Sering sekali diungkapkan bahwa sudah ada peraturan, sudah ada etika di dunia maya. Tapi ternyata masih juga ada pelanggaran. Jadi manakah yang lebih penting? Peraturan atau pengguna yang bertanggung jawab? Betapa manusia kerepotan untuk menentukan mana yang baik, mana yang benar. Meskipun ada etika dan peraturan, tetap saja ada orang aneh yang menganggap bahwa cracking software itu etis, misalnya. Jika ingin menjadi pengguna yang bertanggung jawab pun bertanya lagi, tanggung jawab terhadap apa dan peraturan yang mana? Semua serba relatif karena yang menurut seseorang salah, bisa jadi menurut orang lain benar. Dalam situasi seperti ini saya bersyukur menjadi orang Islam yang memiliki aturan menyeluruh. Bagaimana akhlaq islam juga dapat diterapkan dalam dunia maya, dan dengan berpegang pada aturan Islam tersebut, segala macam bentuk keanehan laku manusia di dunia maya dapat ditekan.

Sangat luas sebenarnya hubungan Ilmu Komputer dengan Islam, dan akan sangat panjang jika dibahas semua. Pada intinya, dengan Ilmu Komputer kita tetap bisa mentadaburi kebesaran Allah, sekaligus mengembangkan ilmunya untuk kemaslahatan umat manusia, dan dengan Islam kita dipastikan memiliki pedoman untuk menggunakan aplikasi Ilmu Komputer itu secara bertanggung jawab.

(terima kasih untuk Agung Firmansyah atas masukkanya)

antara jilbab dan hotpants

Suatu malam di sebuah rest area tol Cipularang, Entah kilometer berapa. Mengantri di sebuah toilet perempuan. Datang seorang remaja putri berkaos dan berhotpants. Mau gak mau beberapa pasang mata melirik juga ke arahnya. Bisa saya bayangkan, seperti di postingan ini, ketika ada remaja putri lainnya, mungkin ada yang bergumam dalam hatinya, “ih keren ya.. gw pengen deh pake baju kayak gitu”. Namun di hati yang lain, mungkin juga ada yang berkata, “astaghfirullah.. minim banget celananya. gak bisa lebih sopan apa ya pakaiannya”. –dan mungkin pada yang lainnya akan ada perdebatan, relativitas sopan tak sopan, boleh tak boleh, baik tak baik, benar tak benar. haha.. makan tuh kebenaran relatif.

Sekarang ceritanya kamu udah punya anak perempuan. Ketika dia beranjak remaja, mana yang kamu inginkan keluar dari lisannya? “ibu/ayah, aku pengen pake hotpants” atau “aku ingin berjilbab rapi”. Kondisi di rumahnyalah yang akan menentukan. Didikan ayah ibunya yang akan punya peranan. dari pengamatan sih yaa.. anak yang ibu dan saudari2nya berjilbab, akan punya kecenderungan lebih besar juga untuk mau berjilbab dengan keinginan sendiri. Bahkan bukan cuma anak, ART pun bisa pengen ikutan berjilbab juga. Sebaliknya kalau ibu dan saudari2nya terbiasa berpakaian terbuka, ya gak heran jika si anak nantinya punya preferensi berpakaian yang sama. Intinya, gimana contoh terdekatnya ya.. gimana teladannya. Dan menjadi orang tua adalah tugas teramat berat yang gak pernah diajarkan pendidikan formal. Gak ada salahnya belajar dari sekarang 🙂

“Whatever you want your children to be tomorrow, be that person today.” (Abdul Nasir Jangda)

pelarangan cadar di perancis

Burqa-Hijab-Niqab

Burqa-Hijab-Niqab

Setelah pelarangan penggunaan simbol keagamaan di sekolah negeri pada tahun 2004, belakangan ini di Perancis mulai diberlakukan pelarangan memakai burqa/niqab/cadar bagi muslimah di tempat2 umum (tepatnya 11 april 2011). Kalau ketahuan pakai cadar, maka akan didenda €150 atau disuruh ikut pelajaran kewarganegaraan perancis. Hmm.. hal ini membuat saya jadi sebal sama Perancis. Kenapa negara yang katanya menjunjung tinggi hak asasi manusia itu bisa melarang orang lain untuk menjalankan kepercayaannya? Saya masih inget pas pelajaran sma dulu, ceunah mah semboyannya liberte, egalite, fraternite (kebebasan, persamaan, persaudaraan). hah..mana? mana? udah gak dipake ya tu semboyan?

Ngomong2, ini adalah alasan pemerintah sana melarang pemakaian cadar di muka umum:

Pemerintah Prancis telah memberlakukan larangan mengenakan cadar di tempat umum karena dituding meruntuhkan kriteria dasar yang harus dipenuhi dalam masyarakat bersama. Prancis yang dipimpin Presiden Nicolas Sarkozy menganggap cadar menempatkan perempuan ke posisi terendah yang tidak sesuai dengan prinsip persamaan di negeri mode itu. (Republika)

Eh padahal The French Council of State sudah memperingatkan mengenai pelarangan cadar ini:

The French Council of State has warned that the ban could be incompatible with international human rights laws and the country’s own constitution. The council advises on laws, but the government is not required to follow its recommendations. (CNN)

jadi peraturan gak sesuai konstitusi ternyata bukan di indonesia doang ya booo! -_-

Kalo menurut saya sih sebabnya adalah karena mereka yang nggak ngerti mengenai pemakaian cadar itu sendiri, menganggap bahwa perempuan yang pake cadar itu direndahkan. Padahal sebenarnya mereka dimuliakan karena wajah/tubuhnya terlindungi dari mata2 jelalatan, dan gak sembarang orang yang bisa melihatnya. Dia merdeka karena bisa menentukan, siapa yang berhak melihat wajah/tubuhnya dan siapa yang tidak. Dan perempuan2 itu pake cadar pastinya karena kesadaran mereka sendiri, karena pilihan, karena keyakinan. Justru gak sesuai sama prinsip persamaan Perancis kalau mereka dipaksa melepas cadarnya: kenapa mereka gak dikasih hak yang sama untuk mengekspresikan keyakinannya?

The French government’s argument for this law: these religious coverings are demeaning to women and cause them to be hidden. However, what seems far more demeaning is this intensified threat to French women’s right to choose what they wear. Yes, images of women unveiling their burqas in Afghanistan after the fall of the Taliban are still fresh in the minds of westerners, but this is not the case in France. These women are not being oppressed or forced to wear the garb; rather, it is a religious and cultural choice. While the government may feel such a choice hides the women, this new law could easily force them into actual hiding if they cannot express their religiousness in public. (hercampus.com)

Yap, meskipun Pemerintah Perancis menganggap bahwa penggunaan cadar itu merendahkan perempuan dan menyebabkan mereka tersembunyi dari publik, sesungguhnya pelarangan itu sendiri bisa jadi justru merupakan bentuk merendahkan perempuan bercadar, karena tidak bisa bebas memilih apa yang ingin mereka pakai. Pelarangan ini juga membuat mereka “tersembunyi” karena gak bisa mengekspresikan keyakinannya di depan publik.

France already denies citizenship to women who wear burqas or to Muslims who strictly adhere to the call of prayer on the grounds of “insufficient assimilation.”

The attack on the burqa can easily be viewed as an attack on the Muslim religion as a whole and potentially cause the otherwise peaceful and well-assimilated Muslim population to be not so peaceful. Wouldn’t that just prevent assimilation even further? (hercampus.com)

Insufficient assimilation, secara harfiah berarti kurangnya pembauran, mungkin maksudnya adalah penggunaan cadar mengindikasikan pemakainya kurang berhasil membaur dan menyatu dengan masyarakat Perancis. Tapi dengan pelarangan begini, bukannya malah menghambat pembauran terjadi?

Seperti Erdogan, saya pun mengecam larangan penggunaan cadar di tempat umum ini! *lah, siapa gue*

“Hari ini di Prancis tidak ada penghormatan terhadap kebebasan beragama bagi individu,” (Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Turki)

sumber bacaan:

France begins ban on niqab and burqa

Kesalahan yang jadi biasa

Pernah suatu waktu group “Solidaritas Jabodetabek Untuk KRL Yang Lebih Baik” di Facebook membuat status yang bikin gw keketawaan. Kira2 begini intinya:

Kalau announcer di stasiun ngumumin kereta batal berangkat tuh harusnya dia sambil nangis2 penuh penyesalan, trus jalan ke peron untuk minta maaf sama semua penumpang, sambil nyalamin mereka satu2.

Waktu baca status itu gw ketawa aja. Tapi sekarang pas gw inget lagi status itu, ditambah dengan pengalaman buruk hampir setiap hari bersama KRL Jabodetabek, gw jadi mikir lagi. Panteslah kalo announcer itu harusnya nangis2 dan minta maaf. Bahwa kereta batal berangkat karena mogok, atau telat kelewatan itu kan sebenernya sebuah kesalahan. Iya dong, kereta gak bisa berangkat sesuai jadwal yang udah ditetapkan. Terus dampaknya heboh pula: penumpang numpuk. Kalau dipaksain naik kereta berikutnya, yang bisa jadi baru ada 30 menit berikutnya, penuhnya minta ampun, desek2an nggak manusiawi, bahkan atap keretanya aja penuh. Tapi, di dunia KRL Commuter, hal itu seolah udah jadi barang biasa aja. Telat? Biasa. Mogok? Biasa. Batal berangkat? Biasa.

Kesalahan. Tapi jadi biasa. Begitu juga mungkin ya, di kehidupan sehari2. Terbiasa ngaret, ngomongin kejelekan orang, ngelakuin hal2 yang ga guna, dsb. Karena terus2an dilakuin, jadi terbiasa deh. Padahal salah. Tapi bisa jadi, hal yang disebut salah buat tiap orang itu beda2. Yang satu nganggep ngomongin kejelekan orang biasa aja deh, ga salah; yang lain nganggep itu salah. Kuncinya sih menurut gw satu: ilmu. Hehehe…

Ngomong2 ilmu, jadi inget notesnya A’Nunu yang ini deh..

Sulitnya Mendidik Anak?

Warning: this is just my another sotoy writing  😛

Alkisah, saat gw dalam perjalanan pulang naek kereta ke Bogor, gw ngeliat kejadian “berantem” anak dan bapaknya. Bukan berantem sih.. Cuma, anaknya yang kira2 kelas 6 SD ngerajuk karena majalah yang baru dibelinya rusak apa kena air gitu, terus dia nyalahin bapaknya. “Gara2 papah sih… tuh kan rusak.. Tadi sih gak beli dua!”. Ngomongnya juga keras dan dengan nada marah gitu, bahkan ngebentak. Bapaknya nanggepin dengan sabar, malu juga kali diliatin orang2, pas itu keretanya lumayan kosong, “ini bisa dibersihin nih.. udah gapapa”. Si anak gak puas, dan masih ngamuk2, “gak mau! Gara2 papah sih nih.. aku bilang juga beli dua! Pokoknya gak mau! Beli lagi!”. Terus aja dia bilang gitu, sambil mukul2 lengan bapaknya. Ujung2nya nangis tuh anak. Ngeliat sikap anak yang sampe segitunya sama orangtuanya, heran juga gw, diapain dia di rumahnya? Mungkin dia terlalu dimanja sampe2 ngerasa berhak ngedapetin apa aja, dan berani ngebentak2 orangtuanya.

Lalu di lain kesempatan, gw juga pernah liat ibu2 yang gak sabaran ngadepin anaknya. Gak tau deh anaknya dibentak doang apa dicubit atau apa, akhirnya si anak yang kira2 umurnya 6 taun itu nangis tanpa suara, pedih banget kayanya. Mukanya nelangsa banget. Di lain waktu, gw juga suka gak sabaran ngadepin adik gw yang baru berusia tiga setengah taun. Misalnya, kalo abis dimandiin terus mau dipakein baju, dia gak bisa diem terus susah banget mau dipakein bajunya, padahal gw mo buru2 ngerjain tugas lagi. Atau kalo dia pecicilan, numpahin ini lah, ngeberantakin itu lah, cerewet lah, minta ini itu, dsb. Untuk sabar ngadepin itu aja udah susah, apalagi mendidik dan memasukkan nilai yang baik ya…

pic.jpg

Kalo menurut gw, kemampuan seseorang dalam mendidik anak berbanding lurus dengan tingkat kecerdasannya. Maaf ya, tapi yang sering gw liat, orang2 dengan tingkat pendidikan rendah biasanya agak kurang peduli dengan pendidikan dan perkembangan anak. Mereka bahkan ringan tangan dan seenaknya berkata kasar ke anaknya, padahal semua perlakuan yang didapat anak akan membekas dan berperan membentuk dirinya di kemudian hari.
Namun, gak cuma tingkat pendidikan atau kecerdasan intelektual aja yang menentukan, tapi juga kecerdasan emosional dan spiritual. Seorang doktor sekalipun belum tentu bisa sabar ngadepin anaknya dan merespon si anak dengan tindakan terbaik yang mendidik. Perlu lebih dari kecerdasan intelektual. Perlu kesabaran, pengendalian emosi, hati yang bersih, dan terlebih lagi kesadaran bahwa anak itu titipan Allah yang harus diperlakukan dan dididik dengan nilai2 yang baik. Orang2 yang bisa menyadari ini, meskipun dia gak lulus SD, mungkin aja bisa lebih baik dalam mendidik anak.

Ada cerita dari Pak Arif Munandar waktu ngisi training sekolah Mapres. Anak perempuannya yang masih SD, namanya Fatimah, dulu kalo diajak makan dan ditanya mau makan di mana sama Pak Arif, seringnya jawab “Terserah”. Lalu Pak Arif menerapkan aturan, kalo Fatimah bilang terserah lagi, maka uang jajannya akan dikurangi 5000. Akhirnya kalo diajak makan dan ditanya mau makan di mana, Fatimah akan menyebutkan suatu tempat. Ini dilakukan biar si anak punya kemauan dan bisa memutuskan, gak main ikut2an aja. Lalu ada aturan lagi, yaitu kalo Fatimah bilang “mungkin”, maka uang jajannya dikurangi 10.000. Ini dilakukan biar dia punya keyakinan, percaya diri, dan nggak jadi anak yang peragu. Selanjutnya ketika Pak Arif tanya “Fatimah bisa gak nilai rapotnya naik?” (gw lupa, apakah itu atau “Fatimah bisa gak ranking sekian?”, intinya mencapai prestasi tertentu di sekolahnya). Fatimah tadinya jawab, “Yaah, susah..”. Pak Arif lagi2 mengeluarkan jurusnya, “Kalo bilang susah, uang jajan dikurangi 20.000”. Akhirnya Fatimah pun gak bilang susah lagi dan menjawab “i’ll do my best“. Hoho.. itulah salah satu cara mendidik anak ala Pak Arif. Cukup inspiratif, dan ngasih pelajaran juga, bahwa mendidik anak bukan cuma ngajarin ngomong, jalan, pake baju, shalat, atau baca, tapi juga ngajarin konsep diri dan nilai2 kehidupan sejak dini.