Stalking Berujung Iri Hati

Tadi pagi baca postingan ini.. Lucu ih XD Begitu jujur dan ya.. benar kalau menurut saya. Sebagai orang yang sering berada di depan komputer, terkadang saya menggunakan komputer dan koneksi internetnya untuk melihat2 profil orang2 di socmed, baik itu teman sendiri atau orang terkenal. Dan ya, tak jarang kegiatan itu malah berujung iri dan atau rendah diri karena membandingkan diri dengan orang tersebut yang begitu waah, begitu keren, sedangkan aku mah apa atuh. Duh, penyakit banget ya stalking yang berujung begitu.. wkwk. Di tulisan tadi, menurut si penulis obatnya adalah stalking Aa Gym…hahaha. Maksudnya tentu saja menyimak tausiyah2 Aa Gym yang menenangkan hati.

Kemudian jadi inget artikel yang sangat bagus ini.. Benar juga ya.. bahwa yang banyak orang share di socmed adalah masa2 jayanya. Momen2 di mana mereka berhasil. Gak banyak yang posting tentang hari yang biasa2 aja. Atau gak semua orang mau posting tentang kegagalan2 yang dialami sebelum akhirnya sukses. Dan yang kita lihat ya itu, hanya masa2 jayanya orang. Padahal di balik itu, dia juga pasti pernah mengalami masa2 bosan, masa2 stagnan, masa2 galau, masa2 gagal, dan masa2 lainnya yang mungkin gak menarik untuk dishare di socmed. Membandingkan kehidupan kita (full-view, dari semua sisinya) dengan kehidupan orang (yang hanya kita lihat keberhasilan2nya) akhirnya membuat kita merasa gak banget dibandingin dia.

Gimana cara mengatasinya? Kalau merasa kegiatan stalking itu akhirnya berujung iri dan rendah diri, ya distop aja. Get a life, do something real. Something small but real, other than just clicking facebook. Sesungguhnya, becandaan sama adik, bantuin ibu di rumah, ataupun bersedekah walau kecil itu jauh lebih baik daripada stalking di socmed…wkwk. Sebaliknya ketika berada di pihak yang mau posting di socmed, sebelum posting baiknya kita periksa niat, untuk apakah saya posting ini. Selengkapnya silakan baca tulisan dari Omar Usman ini, sungguh sangat recommended: Jealousy, Attention, and the Social Media Highlight Reel.

 

Advertisements

Ramadhan oh Ramadhan

Huaaaa… gw ketinggalan banyak banget postingan tadabbur T_T insya Allah dikit2 dicicil deh ya..

Ada beberapa hal yang pengen dishare, terutama terkait Ramadhan.. Yang pertama, kita (gw sih ya terutama) semangat Ramadhannya kalau kondisi lagi baik. Lagi sehat, bugar, kondisi prima deh. Nah wajar lah kalau dalam kondisi itu kita bersemangat mengisi Ramadhan dengan amal2 terbaik. Tapi bagaimana kalau dikasih kondisi yang lain sama Allah? Misalnya, dikasih sakit. Apakah tetap sepenuh hati beribadah? Karena ternyata menyembah Allah itu bukan pas lagi enak doang, tapi pas lagi gak enak juga. Lagi sakit, ibadah memang gak optimal, tapi yang penting di hati dulu deh, apakah tetap menyembah Allah? Atau malah ngegerundel. Apakah tetap menyembah Allah dalam segala kondisi, semampunya. Kalau dikasih sakit dikit udah loyo, malu lah ya sama yang sakit parah tapi tetap kuat ibadahnya. Apalagi kalau ingat para sahabat dulu yang berperang di bulan Ramadhan. Pastinya bukan kondisi ideal kan, berjaga2 dalam perang, mungkin merasa cemas berkepanjangan, harus siap siaga, dst. Tapi pasti mereka tetap beribadah dengan optimal.

Yang kedua.. khususnya buat perempuan sih ini, yang ngalamin masa haid. Ini juga termasuk kondisi yang gak ideal sih kalau menurut saya. Ya namanya Ramadhan pengen maksimal ibadahnya, tapi saat haid yang bisa dilakukan terbatas. Yang jelas harus tetap bersyukur karena berarti sehat dan normal. Dan meninggalkan puasa dan shalat saat haid juga merupakan bentuk ketaatan pada Allah, karena memang gak boleh puasa dan shalat. Tapi harus sabar2 dah kalau jumlah harinya lebih banyak dari biasanya. Fasraaah aja dah sama Allah. Bukan berarti Allah gak pengen kita dapat keutamaan Ramadhan. Tapi mungkin Allah ingin kita belajar untuk bisa optimal beribadah dalam kondisi apapun, termasuk haid. Kan banyak ibadah hati dan lisan yang bisa dilakukan, misal dzikir, tawakkal, itu juga kan ibadah ya..

Ketiga.. betapa shalat itu instrumen yang canggih banget untuk membangun kedisiplinan. Ternyata saya terbiasa menjadwal diri saya dibantu oleh waktu shalat. Misalnya, waktu shalat Maghrib, sebelum waktu ini saya udah harus ini dan ini, dan sesudahnya harus ngapain. Kalau lagi leyeh2 ga jelas, shalat juga jadi pemutus ketidakjelasan itu dan jadi kayak pengingat, woy elu punya hal lebih penting yang harus dikerjain. Nah kalau lagi haid, jadwal itu hancur berantakan, dan jadinya suka seenaknya aja nabrak2 waktu..haha. Kece banget emang ternyata shalat, bisa bantu hidup jadi lebih teratur dan disiplin.

Dan.. sekarang udah mau tengah Ramadhan aja ya.. ya Allah, semoga masih bisa mengisi Ramadhan dengan baik T_T

Tukang Kerupuk

Kaleng kerupuk di kantor saya sudah beberapa hari ini kosong. Biasanya nggak pernah begitu, selalu ada isinya. Tukang kerupuk biasanya datang seminggu sekali untuk mengambil uang hasil penjualan kerupuknya, lalu mengisi kaleng dengan kerupuk baru. Tapi kali ini tidak.. sebab katanya dia lagi pulang kampung.

Dosen maupun karyawan di ruangan mencari kerupuk saat makan siang, tapi kalengnya kosong. Bertanya-tanya kenapa kok kosong, ke mana tukang kerupuknya? Bahkan bos saya, direktur di tempat kerja saya, saat makan siang juga mencari kerupuk dan saat menyadari kalengnya kosong, bertanya ke mana si abang tukang kerupuk? Subhanallah, tukang kerupuk dicari pak direktur! ^^

Mungkin kelihatannya remeh, tapi bahkan tukang kerupuk punya peran dalam kehidupan banyak orang, hihi.. . Buktinya ketiadaannya disadari dan dicari-cari. Tukang kerupuk telah memberi manfaat untuk orang lain, kehadirannya punya arti, meskipun “sekedar” melengkapi hidangan makan siang orang-orang. Kenapa pakai tanda kutip di “sekedar”, karena bisa jadi pekerjaan yang terlihat remeh itu jadi besar di mata Allah karena niatnya yang ikhlas. Jadi… apapun pekerjaan kita, semoga bisa terus memberi manfaat untuk orang lain, dengan jalan apapun, sekecil apapun^^

Dia Baru Menikah di Usia 45 Tahun

*sebuah catatan tentang kapan nikah, jodoh, anak, rezeki. CMIIW ;)*

Kemarin lusa saya menghadiri akad nikah dan walimatul ‘urs salah satu guru tahsin saya. Acaranya diselenggarakan dengan sederhana di masjid tempat kami biasa belajar. Sebenarnya saya kurang tahu pasti usia beliau sekarang berapa. Yang jelas di atas 40 tahun. Yah, kita sebut saja 45 tahun ya.. Usia yang tak lagi muda untuk menikah bukan? Dan itu adalah pernikahannya yang pertama. Sebuah momen yang mungkin telah dirindukannya selama puluhan tahun. Saya membayangkan beliau yang bertahun-tahun dalam penantian, bertahun-tahun dalam keinginan yang belum tersampaikan, bertahun-tahun menghadapi pertanyaan, “kapan nikah?”. Tapi beliau menjalaninya dengan baik-baik saja dan tetap produktif dalam kebaikan.

Terkadang saya sendiri berpikir tentang kenapa saya belum menikah: “Duh mungkin gw messed up banget ya”, “Ah iya sih gw masih payah banget, kacau banget”, “Gw masih kurang ini itu”, dan sebagainya (introspeksi diri tentu perlu ya!). Tapi apakah harus jadi orang yang baik sempurna untuk bisa menikah? Kalau iya, kenapa ada pencuri, penjahat, perampok, gampang-gampang aja ketemu jodohnya? Lalu bagaimana dengan orang yang baru menikah di usia 40/50an? Atau orang-orang yang belum bertemu jodohnya sampai mereka meninggal dunia? Masa iya mereka messed up sepanjang hidupnya? Apa kita mau bilang, oh mungkin kurang ibadahnya, kurang berdoa, kurang usaha, kurang cantik/ganteng, kurang kaya, belum siap, belum dewasa, belum pantas, dan sebagainya. Tapi setelah segala usaha dilakukannya, apalagi yang bisa kita bilang selain: memang itulah waktu yang ditetapkan Allah untuknya.

Saya teringat tulisan Bang Tere Liye yang berjudul “Keran Rezeki”. Intinya, rezeki yang didapatkan manusia itu tidak ditentukan oleh kegantengan/kecantikannya, kepintarannya, kegigihannya, melainkan ditentukan oleh Allah. Terserah Allah aja bagaimana mengucurkan rezekinya. Begitu pula dengan jodoh bagi yang ingin menikah, atau anak bagi yang ingin memiliki anak. Seorang teman saya yang sudah menikah bilang, “Saya sama suami udah nikah pengen punya anak belum dapat juga, sementara anak SMP yang berzina (na’udzubillahi min dzalik), sekali berhubungan langsung hamil”.

Begitulah, terserah bagaimana Allah memberikannya. Tapi yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah bukanlah “apakah kita dapat rezeki (termasuk jodoh/anak) atau tidak”, tapi “bagaimana cara mendapatkannya dan digunakan/diperlakukan seperti apa”. Teman saya yang lain sudah delapan tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Saat ini mereka sedang berusaha, bolak-balik kontrol ke dokter, cek laboratorium, suntik hormon, dsb. Saat ini dia berpikirnya, terserah Allah aja mau dikasih apa nggak, yang dilakukannya hanyalah menyempurnakan ikhtiar. Subhanallah.

Sebagai manusia tugas kita adalah berusaha, sedangkan hasilnya Allah yang menentukan. Ketika berhasil, mungkin saat itulah keinginan kita dan takdir Allah bertemu. Keberhasilan kita bukan hanya berasal dari usaha kita, melainkan dengan izin Allah juga.

Every single success you experience is a combination of two things: your effort and Allah’s help
-Nouman Ali Khan

Jadi ketika sudah berusaha, sudah berdoa, tapi yang kita inginkan belum juga terwujud, apakah itu sesuatu yang buruk? Apakah Allah benci pada kita? Tidak, selama kita selalu berusaha mematuhi Allah dan menjauhi laranganNya. Tercapai atau tidaknya keinginan bukanlah ukuran kemuliaan kita. Dikasih nggak dikasih itu hak prerogatif Allah.  Allah menilai usaha kita, apakah kita bersabar dan berbaik sangka, apakah kita tetap percaya dan terus berdoa meski hasilnya belum nampak di depan mata. Sementara di mata manusia, seringkali yang dinilai adalah dapat atau tidaknya 🙂 Maka penting bagi kita untuk menjadikan Allah sebagai tujuan, dan keinginan kita sebagai sarana, bukan sebaliknya. Apakah keinginan kita terwujud atau tidak, yang penting selalu dapat Allah.

Untuk teman-teman yang belum menikah -termasuk saya, huehehehe- mari kita isi hidup dengan amal sebaik-baiknya. Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang paling baik amalnya (bukan siapa yang udah nikah, siapa yang duluan nikah..wkwkwk). Kata Yasmin Mogahed, mungkin dari kecil kita terbiasa dicekokin cerita macem Cinderella atau Snow White. Ketika bertemu pangeran tampan, sempurna sudah hidupnya, bahagia selamanya. Seperti cerita putri tidur yang baru bangun waktu pangeran datang, jangan berpikir kita baru benar-benar hidup setelah nanti bertemu jodoh. Lalu hidup sebelum nikah ngapain? Koma?

Dalam pernikahan memang banyak kebaikan dan kebahagiaan. Kita turut berbahagia dan bersyukur jika ada saudara-saudara kita yang mendapatkannya. Namun bagi yang belum mengalaminya, kita pun bisa mendapatkan kebahagiaan dan kebaikan!

Allah telah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya (At-Tin:4). Allah telah memuliakan manusia (Al-Isro:70). Kita berharga, dan kita bisa bahagia kalau fokus hidup kita adalah untuk Allah.

Terus mendekat pada Allah, terus memperbaiki diri, dengan niat karena Allah. Terus beramal, belajar, berkarya, berkontribusi, produktif dalam kebaikan dan amal shalih, menabung untuk kehidupan abadi di akhirat kelak.

Belajar Quran, belajar Islam, menghafal Quran, belajar ilmu yang bermanfaat, ngajarin anak-anak kecil ngaji, bikin proyek sosial, semangat menyebarkan kebaikan sekecil apapun.

Kita bisa bahagia kalau fokus kita bukan hanya pada diri sendiri. Biarlah cerita hidup kita berjalan sesuai yang dikehendakiNya. Allah yang telah menciptakan kita, yang selama ini menjaga kita, tahu yang terbaik untuk kita dan selalu memberikan yang terbaik pada kita. Semoga kelak kita pun bisa kembali padaNya dalam kondisi sebaik-baiknya 🙂

“Asking me when I’m getting married is like asking me when Qiyamah is:
I don’t know.
Perhaps the time is near.”

No one knows when they will get married. It is Qadr of Allah. Also we need to remember marriage is not synonymous to happiness or fulfilment.
Peace and Happiness can only be attained through taqwa and Quran.
Marriage is just another phase of life. Some are tested with it and some blessed.

-The Ideal Muslimah

Menikah itu bukan soal siapa cepat.
Tapi Allah sudah pilihkan waktu yang tepat.

Memantaskan diri itu bukan ditujukan untuk si dia.
Tapi fokus memperbaiki diri di hadapan Allah.

Kalau kita jatuh cinta, kejar cinta Sang Pemilik hatinya: Allah.
Agar yang mengejar kita, dia yang mencintai Sang Maha Cinta.

-Assalamualaikum Sally – Jodoh Pasti Bertamu

yang tak terlihat mata

Mungkin memang sudah tabiat manusia suka membanding2kan. Membandingkan pencapaian hidup, apa yang sudah didapat, apa yang sudah dipunya, adakah saya sesukses dia, adakah saya berhasil sepertinya, dan lain sebagainya. Namun yang bisa kita bandingkan kan hanya yang terlihat. Padahal,  yang namanya rezeki/kesuksesan, tidak selalu bisa terlihat mata, seperti… Makin tenang hidupnya, nikmat beribadah, bersih hati, mudah beramal shalih, semangat belajar agama, dan lain sebagainya.

Ternyata Allah selalu memberi.. meskipun tidak selalu sama seperti yang kita minta. Namun rezekinya gak  pernah berhenti mengalir.

Di khutbah Idul Adha tadi diingatkan khatib tentang ujian keikhlasan. Orang berkurban, ada ujian keikhlasan. Apakah dia ikhlas atau terkotori niatnya. Namun, bagi yang tidak bisa berkurban pun ada ujian keikhlasan. Apakah ia ikhlas (atau mungkin maksudnya ridho), setelah sekian tahun bisa berkurban, kemudian karena kondisi ekonomi tidak memungkinkan, tahun ini tidak bisa berkurban.

Begitu pun tentang pencapaian hidup.. Kalau belum bisa sesukses manusia lain, mungkin perlu ikhlas/ridho juga; mungkin belum saatnya. Toh di samping itu Allah tetap memberi rezeki, yang meskipun tidak terlihat mata, tapi nyata dan ada. Lebih baik bersyukur agar ditambah nikmatnya 🙂