[MOU-5] Horeee… Semester Baru!!

Wajah Sule cerah sekali, secerah pagi itu. Dia melangkahkan kaki memasuki gerbang Smansa sambil bersenandung….

You go to school everyday, but you don’t study hard
And chatting when the class going on
Always cheating on the test by asking the answer
Or make many hidden small notes

What you gonna be…Oh what you gonna be? [Go to School, SNADA]

Sule jadi teringat masa lalunya: ngobrol di kelas, nyontek pas ujian, bikin contekan di kertas kecil. Ah, sekarang nggak lagi! Sule udah bertekad gak mau jadi pelajar kayak gitu. Apalagi sekarang dia udah kelas XII. Harus lebih serius belajar dan mikirin masa depan! Cieee…

Memasuki kelas barunya,  XII IPA 7, Sule mengucap salam. Wah, ternyata di sana udah ada Khalid dan Mahar. Asik banget ternyata mereka bertiga sekelas. Ada Muti juga di kelas itu. Gak lama kemudian terdengar suara dari arah pintu kelas.
“Haloo semua! Assalamu’alaikum… selamat yah, kalian semua sekelas sama guee… hehehe…”
“Wa’alaikumsalam”, jawab teman-teman sekelas.
“Ya ampun, sekelas sama Saskiii… bisa keriting nih gue kayak lo Har”, kata Sule  frustasi. Terakhir kali ketemu Saski, rambut Sule sukses nempel-nempel karena dilem sama Saski.

“Mutiiiii…. “, Saski menyapa Muti duluan sambil berpelukan kemudian menyapa yang lainnya. “Eh, ada Sule, ada Mahar, ada Khalid juga.”, . “Eh, ada murid baru ya? Kenalin, gue Saski. Lengkapnya sih Zaskiya. Adya Mecca. Hehe.. bukan deng… Zaskiya Sholihah”.
“Nama sih boleh Zaskiya Sholihah, tapi kelakuan, beuuh… ”, sahut Sule..
Bletak! Tempat pensil Saski sukses mendarat di lengan Sule. Saski udah siap-siap mau ngelempar tempat minum, tapi keburu dilarang Khalid. Mereka bertiga terus kenalan sama murid baru itu. Namanya Ryan, pindahan dari Kalimantan. Sule akhirnya duduk sama Ryan. Di bangku depannya ada Khalid dan Mahar. Di depannya lagi Saski dan Muti. Bel masuk sudah berbunyi, murid-murid yang lain kembali duduk manis di bangku masing-masing.

————- ⌘ ———–

Jam istirahat di kantin ….

“Rif, masuk kelas mana?” tanya  Mahar.
“Gue? XII IPA 3. Kalo kau?” jawab Arief singkat.
“XII IPA 7, sama Khalid dan Sule. Eh ke Bunda yuk! Makan nasi gokil…” kata Mahar, Arief ngangguk. Khalid ikutan.
“Kira-kira apa ya tujuan sekolah ngacak kelas?”, tanya Mahar penasaran.
“Tak tau juga lah, tapi, coba liat sisi positifnya…” jawab Arief pake gaya Mario Teguh. “Kalau diacak, kita bisa banyak teman, dan silaturahmi kita juga meluas .. betul tidak?”
“Hmmmm…” Mahar serius mikir.
“Bener juga Rif. Tapi kalo gue sih enjoy enjoy aja… Yang perlu kita perhatikan adalah, meskipun kita beda temen, beda situasi kelas, dakwah kita harus tetep jalan coy!” kata Khalid.
“Dakwah? Apaan tuh? Hehe”, Mahar pura-pura ga ngerti.
“Haha.. pura-pura saja kau Har”, ujar Arief. “Dulu mungkin kita berpikir dakwah itu seram sekali lah, harus pintar agama macam Aa Gym. Padahal dakwah itu kan intinya mengajak pada cahaya Islam, pada kebaikan, sekecil apapun. Dan itu kewajiban kita setiap Muslim lah”
“Betul betul betul! Dari hal yang kecil aja, kayak ngajakin shalat zhuhur berjamaah, shalat dhuha!”, kata Khalid.
“Mentoring jangan lupa…”, sambung Mahar. “Kan kasian mentor kita jauh-jauh naek angkot atau kereta, eh sampe sekolah mentee nya pada gak ada …”
“Betul betul betul”, Khalid, Mahar, dan Arief jadi inget mentor mereka yang rela ke Smansa setelah paginya kuliah di IPB, dan setelah ngisi mentoring harus balik lagi ke kampus untuk praktikum.

————- ⌘ ———–

Sementara Khalid, Mahar, dan anak-anak kelas XII mulai sibuk buat menghadapi “the 3rd graders things”, lain halnya dengan Angga, Faris, dkk yang sekarang naik ke kelas XI. Ia tahu bahwa tahun ke dua di SMA ini tidak akan mudah dilalui, karena dia harus bersiap siap dengan yang namanya Regenerasi, karena tahun ini juga dia dan teman temannya lah yang akan memegang kendali penuh di ekskul sekolah.
Setelah pulang sekolah, Angga dan Faris pun mengbrol di mushala.

“Ris, tahun ajaran baru merasa ada yang menakutkan gak?”, tanya Angga agak takut.
“Hah? tahun ajaran baru takut sama apa? Nilai jeblok?”, jawab Faris.
“Hmm.. bukan sih … REGEN coy!’, jawab Angga.
“Hmm …. “, Faris mulai serius. “Kalo kata gue, masalah ekskul atau apapun gak boleh ganggu belajar, soalnya itu amanah orangtua, dan kita harus bijak bagi waktu antara belajar dan organisasi. Oh iya yang kagak boleh kita lupa adalah prioritas organisasi. Kalo gue lebih suka, kalo organisasi ikut banyak boleh pilih SATU yang jadi prioritas banget, bukan berarti gak loyal, cuma kalo semua kita ikutin … gue takut belajar gue ke ganggu, jarang dirumah, diomelin nyokap, akhirnya besoknya gue gak dikasih ongkos ke sekolah …”

“Terus Ekskul yang laennya lu GABUT dong?”, tanya Angga penasaran.
“Kagak lah, cukup lah sewajarnya, misal kan gue ikut baris berbaris, DKM, sama KIR. Di baris berbaris kalo ada ngelatih dan waktu gue kosong ya gue ngelatih, kalo di KIR ada kumpul divisi dan gak kerjaan ya gue ikut …”,  jawab Fars dengan santai. “Tapi, semua itu pilihan kok Ngga… gue inget kata bokap…”
“ Hidup itu Pilihan ! ” seru Faris. “Hidup lu, lu yang nentuin… bukan gue, kakak kelas, Kepala Sekolah, Pak Tohar…  atau siapapun …. kita mau aktif di organisasi manapun itu terserah kita… pilihan itu selalu ada…”

Belajar adalah amanah. Bijak dalam membagi waktu adalah kunci utama

————- ⌘ ———–

Akhirnya “pekan” regenerasi dimulai, pertama-tama yang mengalami giliran regenerasi adalah ekskul baris berbaris,  dan otomatis Faris yang merupakan anggota ekskul tersebut harus mengikuti regenerasi ekskul itu. Dan tidak terasa regenerasi sudah berjalan 3 minggu.

Pada suatu hari, Faris, Angga, Wisnu dan temen-temannya yang lain yang juga mengalami regenerasi kumpul buat nunggu mentor. Kali ini mereka punya mentor baru dari Teknik Kimia UI, namanya A’Ikbal.

“Eh…. Bro, masa yah gue kan semalem gak sengaja nonton berita soal video artis yang lagi heboh, yang gak gue habis pikir adalah, banyak cewek-cewek demo gitu di depan kantor polisi, minta si artis di bebasin … sambil nangis nangis lagih… katanya sih fans berat si artis …  astaghfirullah!” cerita Wisnu sambil terheran-heran.
“Iya tuh, sebenernya gue agak gak suka sama orang yang berlebihan kalo mengidola kan seseorang.. lebay abis”,  kata Faris.
“Iya, gue jadi inget kata mentor ganteng kita yang dari UI…” sahut Angga.
“Kita boleh mengidolakan sesorang, tapi jangan berlebihan… jangan melebihi cinta kita sama Allah dan Rasulullah”.

“Hmmmm … jadi, ngefans sama siapapun boleh .. mau ngefans sama ketua DKM yang mirip Vidi Aldiano? Boleh… Ngefans sama A’Agus yang Mas’ul FORKOM karena jambulnya? Boleh…. Ngefans sama A’Ikbal  yang anak Teknik Kimia UI karena jenggotnya yang gaul ? Juga boleh…”, tutur Wisnu. “Tapi gak boleh berlebihan”

Akhirnya tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, A’ Ikbal, mentor mereka pun sudah datang. Akhirnya, secepat kilat Faris, Wisnu, Angga dan teman temannya bersiap siap, ambil air wudhu dan Al-Qur’an untuk mulai tadarus.

Selama mentoring itu, banyak pelajaran dan manfaat yang mereka dapat. Salah satunya, pesan A’ Ikbal ini:

Seorang Muslim, ketika ngerasa gak mampu sekalipun, akan tetap optimis.
Karena yakin, bahwa Allah yang Maha Hebat, penguasa langit dan bumi, penggenggam setiap jiwa, bisa membuatnya mampu!

Ya, saat merasa gak mampu, down, mau jatoh, dan sebagainya, inget aja bahwa kita masih punya Allah yang bisa membantu kita bangkit lagi. Bahkan kalo kita memaknai syahadat kita, insya Allah kita bisa jadi orang yang tenang, optimis, dan berani. Layaknya Thoriq bin Ziyad yang membakar kapal-kapalnya biar gak ada pilihan untuk mundur ke belakang saat akan menaklukkan Spanyol.  Pilihannya hanya terus maju dan menang!

Faris, Wisnu, Angga dkk jadi lega dan tenang sehabis mentoring. Mereka merasa ter-charge lagi semangat dan imannya. Alhamdulillah. Dalam hati diam-diam mereka bertekad:

Meskipun regenerasi merupakan sebuah proses yang panjang, jangan lupakan mentoring.

Kamis, 29 Juli 2010 | 17 Sya’ban 1431 H
Redaksi Mentoring Online for You – MK Forkom Alims

Mahar & Khalid in uniform

Mahar & Khalid in uniform

Wajah Sule cerah sekali, secerah pagi itu. Dia melangkahkan kaki memasuki gerbang Smansa sambil bersenandung….

You go to school everyday, but you don’t study hard

And chatting when the class going on

Always cheating on the test by asking the answer

Or make many hidden small notes

What you gonna be…Oh what you gonna be? [Go to School, SNADA]

Sule jadi teringat masa lalunya: ngobrol di kelas, nyontek pas ujian, bikin contekan di kertas kecil. Ah, sekarang nggak lagi! Sule udah bertekad gak mau jadi pelajar kayak gitu. Apalagi sekarang dia udah kelas XII. Harus lebih serius belajar dan mikirin masa depan! Cieee…

Memasuki kelas barunya, XII IPA 7, Sule mengucap salam. Wah, ternyata di sana udah ada Khalid dan Mahar. Asik banget ternyata mereka bertiga sekelas. Ada Muti juga di kelas itu. Gak lama kemudian terdengar suara dari arah pintu kelas.

Haloo semua! Assalamu’alaikum… selamat yah, kalian semua sekelas sama guee… hehehe…”

Wa’alaikumsalam”, jawab teman-teman sekelas.

Ya ampun, sekelas sama Saskiii… bisa keriting nih gue kayak lo Har”, kata Sule frustasi. Terakhir kali ketemu Saski, rambut Sule sukses nempel-nempel karena dilem sama Saski.

Mutiiiii…. “, Saski menyapa Muti duluan sambil berpelukan kemudian menyapa yang lainnya. “Eh, ada Sule, ada Mahar, ada Khalid juga.”, . “Eh, ada murid baru ya? Kenalin, gue Saski. Lengkapnya sih Zaskiya. Adya Mecca. Hehe.. bukan deng… Zaskiya Sholihah”.

Nama sih boleh Zaskiya Sholihah, tapi kelakuan, beuuh… ”, sahut Sule..

Bletak! Tempat pensil Saski sukses mendarat di lengan Sule. Saski udah siap-siap mau ngelempar tempat minum, tapi keburu dilarang Khalid. Mereka bertiga terus kenalan sama murid baru itu. Namanya Ryan, pindahan dari Kalimantan. Sule akhirnya duduk sama Ryan. Di bangku depannya ada Khalid dan Mahar. Di depannya lagi Saski dan Muti. Bel masuk sudah berbunyi, murid-murid yang lain kembali duduk manis di bangku masing-masing.

————- ———–

Jam istirahat di kantin ….

Rif, masuk kelas mana?” tanya Mahar.

Gue? XII IPA 3. Kalo kau?” jawab Arief singkat.

XII IPA 7, sama Khalid dan Sule. Eh ke Bunda yuk! Makan nasi gokil…” kata Mahar, Arief ngangguk. Khalid ikutan.

Kira-kira apa ya tujuan sekolah ngacak kelas?”, tanya Mahar penasaran.

Tak tau juga lah, tapi, coba liat sisi positifnya…” jawab Arief pake gaya Mario Teguh. “Kalau diacak, kita bisa banyak teman, dan silaturahmi kita juga meluas .. betul tidak?”

Hmmmm…” Mahar serius mikir.

Bener juga Rif. Tapi kalo gue sih enjoy enjoy aja… Yang perlu kita perhatikan adalah, meskipun kita beda temen, beda situasi kelas, dakwah kita harus tetep jalan coy!” kata Khalid.

Dakwah? Apaan tuh? Hehe”, Mahar pura-pura ga ngerti.

Haha.. pura-pura saja kau Har”, ujar Arief. “Dulu mungkin kita berpikir dakwah itu seram sekali lah, harus pintar agama macam Aa Gym. Padahal dakwah itu kan intinya mengajak pada cahaya Islam, pada kebaikan, sekecil apapun. Dan itu kewajiban kita setiap Muslim lah”

Betul betul betul! Dari hal yang kecil aja, kayak ngajakin shalat zhuhur berjamaah, shalat dhuha!”, kata Khalid.

Mentoring jangan lupa…”, sambung Mahar. “Kan kasian mentor kita jauh-jauh naek angkot atau kereta, eh sampe sekolah mentee nya pada gak ada …”

Betul betul betul”, Khalid, Mahar, dan Arief jadi inget mentor mereka yang rela ke Smansa setelah paginya kuliah di IPB, dan setelah ngisi mentoring harus balik lagi ke kampus untuk praktikum.

————- ———–

Sementara Khalid, Mahar, dan anak-anak kelas XII mulai sibuk buat menghadapi “the 3rd graders things”, lain halnya dengan Angga, Faris, dkk yang sekarang naik ke kelas XI. Ia tahu bahwa tahun ke dua di SMA ini tidak akan mudah dilalui, karena dia harus bersiap siap dengan yang namanya Regenerasi, karena tahun ini juga dia dan teman temannya lah yang akan memegang kendali penuh di ekskul sekolah.

Setelah pulang sekolah, Angga dan Faris pun mengbrol di mushala.

Ris, tahun ajaran baru merasa ada yang menakutkan gak?”, tanya Angga agak takut.

Hah? tahun ajaran baru takut sama apa? Nilai jeblok?”, jawab Faris.

Hmm.. bukan sih … REGEN coy!’, jawab Angga.

Hmm …. “, Faris mulai serius. “Kalo kata gue, masalah ekskul atau apapun gak boleh ganggu belajar, soalnya itu amanah orangtua, dan kita harus bijak bagi waktu antara belajar dan organisasi. Oh iya yang kagak boleh kita lupa adalah prioritas organisasi. Kalo gue lebih suka, kalo organisasi ikut banyak boleh pilih SATU yang jadi prioritas banget, bukan berarti gak loyal, cuma kalo semua kita ikutin … gue takut belajar gue ke ganggu, jarang dirumah, diomelin nyokap, akhirnya besoknya gue gak dikasih ongkos ke sekolah …”

Terus Ekskul yang laennya lu GABUT dong?”, tanya Angga penasaran.

Kagak lah, cukup lah sewajarnya, misal kan gue ikut baris berbaris, DKM, sama KIR. Di baris berbaris kalo ada ngelatih dan waktu gue kosong ya gue ngelatih, kalo di KIR ada kumpul divisi dan gak kerjaan ya gue ikut …”, jawab Fars dengan santai. “Tapi, semua itu pilihan kok Ngga… gue inget kata bokap…”

Hidup itu Pilihan ! ” seru Faris. “Hidup lu, lu yang nentuin… bukan gue, kakak kelas, Kepala Sekolah, Pak Tohar… atau siapapun …. kita mau aktif di organisasi manapun itu terserah kita… pilihan itu selalu ada…”

Belajar adalah amanah. Bijak dalam membagi waktu adalah kunci utama

————- ———–

Akhirnya “pekan” regenerasi dimulai, pertama-tama yang mengalami giliran regenerasi adalah ekskul baris berbaris, dan otomatis Faris yang merupakan anggota ekskul tersebut harus mengikuti regenerasi ekskul itu. Dan tidak terasa regenerasi sudah berjalan 3 minggu.

Pada suatu hari, Faris, Angga, Wisnu dan temen-temannya yang lain yang juga mengalami regenerasi kumpul buat nunggu mentor. Kali ini mereka punya mentor baru dari Teknik Kimia UI, namanya A’Ikbal.

Eh…. Bro, masa yah gue kan semalem gak sengaja nonton berita soal video artis yang lagi heboh, yang gak gue habis pikir adalah, banyak cewek-cewek demo gitu di depan kantor polisi, minta si artis di bebasin … sambil nangis nangis lagih… katanya sih fans berat si artis … astaghfirullah!” cerita Wisnu sambil terheran-heran.

Iya tuh, sebenernya gue agak gak suka sama orang yang berlebihan kalo mengidola kan seseorang.. lebay abis”, kata Faris.

Iya, gue jadi inget kata mentor ganteng kita yang dari UI…” sahut Angga.

Kita boleh mengidolakan sesorang, tapi jangan berlebihan… jangan melebihi cinta kita sama Allah dan Rasulullah”.

Hmmmm … jadi, ngefans sama siapapun boleh .. mau ngefans sama ketua DKM yang mirip Vidi Aldiano? Boleh… Ngefans sama A’Agus yang Mas’ul FORKOM karena jambulnya? Boleh…. Ngefans sama A’Ikbal yang anak Teknik Kimia UI karena jenggotnya yang gaul ? Juga boleh…”, tutur Wisnu. “Tapi gak boleh berlebihan”

Akhirnya tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, A’ Ikbal, mentor mereka pun sudah datang. Akhirnya, secepat kilat Faris, Wisnu, Angga dan teman temannya bersiap siap, ambil air wudhu dan Al-Qur’an untuk mulai tadarus.

Selama mentoring itu, banyak pelajaran dan manfaat yang mereka dapat. Salah satunya, pesan A’ Ikbal ini:

Seorang Muslim, ketika ngerasa gak mampu sekalipun, akan tetap optimis.

Karena yakin, bahwa Allah yang Maha Hebat, penguasa langit dan bumi, penggenggam setiap jiwa, bisa membuatnya mampu!

Ya, saat merasa gak mampu, down, mau jatoh, dan sebagainya, inget aja bahwa kita masih punya Allah yang bisa membantu kita bangkit lagi. Bahkan kalo kita memaknai syahadat kita, insya Allah kita bisa jadi orang yang tenang, optimis, dan berani. Layaknya Thoriq bin Ziyad yang membakar kapal-kapalnya biar gak ada pilihan untuk mundur ke belakang saat akan menaklukkan Spanyol. Pilihannya hanya terus maju dan menang!

Faris, Wisnu, Angga dkk jadi lega dan tenang sehabis mentoring. Mereka merasa ter-charge lagi semangat dan imannya. Alhamdulillah. Dalam hati diam-diam mereka bertekad:

Meskipun regenerasi merupakan sebuah proses yang panjang, jangan lupakan mentoring.

Kamis, 29 Juli 2010 | 17 Sya’ban 1431 H

Redaksi Mentoring Online for You – MK Forkom Alims

[MOU-4] Lebih dari Sekedar Kata

Sore yang cerah! Khalid lagi ngagoler (pada tau gak sih artinya? :D) di karpet depan TV di rumahnya. Badan rasanya pegel semua. Sejam lalu baru aja dia main bulutangkis sama si Sule di lapangan komplek rumah Khalid. Alhamdulillah, target liburan Khalid mau banyakin olahraga tercapai juga. Main bulutangkis sama Sule udah dua kali. Futsal bareng temen-temen mentoring juga udah. Renang udah. Sip deh, badan jadi seger buger! Tapi sekarang lagi pegel nih karena baru beres main. Akhirnya sambil istirahat Khalid nyalain tipi. Gonta-ganti channel sambil komen dalam hati.

“Harga sayur mayur di pasar mengalami kenaikan..”
Wah kasian emak gue. Pusing mikir uang belanja.

“Ayo Patrick, temani aku menangkap ubur-ubur..”
Ah udah nonton episode yang ini mah.

“ (singing) Bertahan satu cinta. Bertahan satu…”
Oh no!

“Pejabat BPK diperiksa KPK. Pejabat tersebut tersangka kasus suap audit BPK… ”
Duh, pejabat korupsi lagi.

“Pemirsa, artis X kali ini sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus video…”
Astaghfirullah…

Khalid mematikan TV. Gak ada acara yang bagus, malah banyakan yang aneh-aneh dan berita gak bagus. Tuh contohnya berita tentang korupsi itu, terus tentang artis yang ternyata melakukan tindakan amoral. Sedih banget deh sekarang jadi orang Indonesia. Kayaknya susah banget nyari panutan gitu, nyari teladan yang baik, termasuk dari kalangan pemimpin/wakil rakyat, artis dan tokoh masyarakat. Padahal mereka kan harusnya bisa jadi teladan.

Khalid jadi inget asal muasal namanya. Orangtuanya ngasih dia nama Khalid Al Fatih. Nama yang bagus banget, diambil dari nama orang-orang hebat yang patut diteladani. Orangtuanya tentu berharap Khalid bisa meneladani dua orang tokoh yang jadi sumber namanya itu. Siapa aja? Dua tokoh itu adalah Khalid bin Walid dan Muhammad Al Fatih. Siapa sih mereka? Ini dia catetan singkat Khalid tentang mereka yang dikumpulin dari berbagai sumber:

Khalid bin Walid
Khalid bin Walid, adalah seorang panglima perang yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai “pedang Allah yang terhunus”. Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya. Popularitas Khalid dalam kemiliteran Islam saat itu, memang nyaris tak tertandingi. Ia memang sempurna di bidangnya: ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan kharismatik di tengah prajuritnya. Benar-benar idola yang pas buat mujahid Islam saat itu. Bahkan, oleh musuh sekali pun. Seorang panglima Romawi, Georgius, pernah mengatakan, “Saya ingin sekali jawaban jujur dari Anda, Wahai Panglima. Apakah Tuhan menurunkan pedang dari langit kepada Nabi Anda dan pedang itu diserahkan khusus buat Anda?” Jawabannya, tentu saja tidak 🙂

Muhammad Al Fatih
Muhammad Al Fatih adalah seorang panglima yang memimpin pasukan yang akhirnya dapat menaklukan Konstantinopel. Konstantinopel atau sekarang Istanbul adalah wilayah yang strategis di batas Eropa dan Asia dan dianggap sebagai titik terbaik pusat kebudayaan dunia, setidaknya pada kondisi geopolitik saat itu. Yang mengincar kota ini untuk dikuasai termasuk bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia, Khazar, Arab-Muslim, dan Pasukan Salib. Telah banyak upaya untuk menaklukan Konstantinopel, termasuk dari banyak generasi pasukan Muslim, namun belum ada yang berhasil. Rasulullah menyebutkan, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh sebaik-baik pasukan dan panglimanya adalah sebaik-baik panglima. Setelah menempuh berbagai upaya, akhirnya pada tahun 1453 pasukan Al Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel. Diceritakan bahwa pasukan Al Fatih tidak ada yang pernah meninggalkan shalat wajib dan puasa Ramadhan sejak baligh, sedangkan Al Fatih sendiri tidak pernah meninggalkan shalat malam, puasa Ayyamul Bidh, tidak pernah kehilangan hafalan Al-Qur’an, dan khatam Al-Qur’an tidak pernah lebih dari sebulan.

Gimana, keren banget kan? Bener-bener patut diteladani deh! Eh, ngomong-ngomong tentang teladan, Khalid juga harus bisa jadi teladan yang baik nih. Lebih khusus lagi di SMAnya tercinta. Sekarang dia naik ke kelas XII. Siswa-siswi baru kelas X segera datang. Sebagai kakak kelas, tentunya harus bisa jadi contoh yang baik dong ya. Ting tong! HP Khalid berbunyi, ada SMS masuk.

>>1 message received
Sender: Ketua DKM nan ganteng
“Assalamu’alaikum. Sobat, jangan lupa ya besok jam 10 kita ngumpul di sekret buat bahas penyambutan siswa baru! Jazakumullah khair”

Ah ya! Besok ada rapat penyambutan siswa baru oleh DKM. Sekarang Khalid berdiri dan bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Maghrib segera datang…

————- ⌘ ———–

Setengah jam sebelum waktu rapat yang ditentukan, Khalid udah nyampe sekret DKM. Masih belum ada siapa-siapa, jadi Khalid baca-baca buku dulu sambil nunggu. Gak lama kemudian konsentrasinya buyar karena mendengar seseorang grabak grubuk datang ke sekret.

“Aduuh Liid, tolongin gue. Parah banget itu si Saski errornya kumat. Masa tadi dia ngasih lem ke rambutnya Sule. Terus gue cuma lewat doang hampir kena lemparan sepatunya. Pas liat gue malah dia mo ngasih lem juga ke rambut gue. Untung dia dipanggil sama Muti”, Mahar nyerocos sambil buru-buru masuk sekret.
“Oh, Saski”, kata Khalid nyantai, kemudian melanjutkan baca buku. Demi melihat reaksi Khalid, Mahar cengo. Sedetik kemudian baru mafhum kenapa Khalid senyantai itu menanggapi ulah Saski. Iyalah, Khalid kan sekelas sama Saski si ratu error itu. Pasti udah biasa ngehadapinnya.
“Yah elo sih udah biasa ngehadapin si Saski ya”, kata Mahar. Khalid menggangguk. “By the way Lid, tadi di depan kantin gue ketemu Faris ama Angga, belom nyampe sini ya mereka?”

“Assalamu’alaikum…tuuk oo atuk”, sapa sesosok makhluk di depan pintu sekret. Ternyata si Angga. Di belakangnya ada Faris.
Khalid menutup buku yang tadi dibacanya. “Wa’alaikumsalam. Eh, cucu atuk sudah datang. Mari masuk”
“Jiah.. dia main sinetron ala Upin dan Ipin”, celetuk Mahar.
Angga dan Faris masuk lalu bersalaman dengan Mahar dan Khalid.
“Dari mana nih Ris, Ngga?”, tanya Khalid.
“Tadi kita panitia kelas X, eh kelas XI rapat dulu di kelas a’.. bahas acara dan pengisinya masih ada yang belum fix”, jawab Angga.
“Wah, hebat euy! Semangat banget. Panitia yang baik ini mah..hehe”, kata Khalid. “Gak kerasa ya, udah setaun aja. Perasaan baru aja kemaren saya jadi panita penyambutan kalian pas jadi siswa baru”.
Exactly, time does fly.
“Bener a’.. Sekarang saya dan temen-temen seangkatan udah jadi kakak kelas aja”,  kata Faris.

Percakapan mereka terhenti oleh sapaan seorang akhwat di depan pintu sekret, ternyata Muti, sang Sekretaris OSIS.
“Assalamu’alaikum”, sapa Muti.
“Wa’alaikumsalam”
“Wah Teh Muti. Ihiiy… POSKO yeuh..hehe”, kata Angga dan Faris.
“Ciee yang POSKO..”, kata Mahar.
“Haha.. apaan sih. Eh, saya nyari Arief nih, ga ada ya?”, kata Muti.
“Arief? Mana Har? Lo kantongin gak tadi?”, tanya Khalid iseng.
“Yee.. kagak lah Lid, kagak muat masuk kantong gue. Tadi gue liat Arief di mushala Mut, lagi bantuin Sule ngebersihin sisa lem di rambutnya. Sadis bener tuh temen lo si Saski”, kata Mahar.
“Iya Mut, mbok ya dibilangin tuh si Saski”, kata Khalid.
“Haha… iya iya, udah kok. Isengnya lagi kumat aja. Ya udah deh makasih ya. Mohon do’anya supaya MOSnya sukses ya”, kata Muti.
“Oke Mut, insya Allah. Selalu lurusin niat..”
“Iya Teh Muti, semoga lancar MOSnya.. Do’ain juga supaya acara SALAM bisa sukses ya Teh..”

“Ngelurusin niat itu satu tantangan tersendiri juga ya a’, apalagi jaman-jaman MOS gini?”, tanya Faris.
“Iya, sebenernya sih itu tantangan kita setiap hari ya. Kalo ga mau amalan kita ilang begitu aja ya harus terus-terusan berusaha ngelurusin niat untuk nyari ridho Allah aja”, jawab Khalid.
“Iya a’. Tapi lebih khusus lagi di MOS ini, gimana kita ngelurusin niat, bukan karena pengen keren-kerenan atau malah pengen bales dendam”, sambung Faris.
“Yap tul, insya Allah gak ada lah niat kayak gitu di SMA kita”, Mahar nimbrung. “SMA kita kan penuh cinta.. haha.. apaan sih. Maksudnya, kita ngeMOS itu kan karena pengen adik-adik kita bisa adaptasi di sini, pengen ntar mereka bisa sukses di sini, kalo bisa lebih baik dari kita. Kalo gak cinta, ngapain coba capek-capek ngeMOSin. Berangkat pagi, bahkan ba’da Subuh, trus pulang sore atau malem”

“Iya Har. Jadi inget pernah diceritain sama Aje”, Khalid kembali bicara. “Katanya, mungkin cuma di SMA kita deh yang pas regen ada hukuman-hukuman fisiknya sampe ada push up berantai, tapi rasanya bukan lagi disiksa atau dikerjain senior. Ya karena dasarnya cinta mungkin, jadi terasanya itu bentuk cintanya kakak buat adiknya, yang kalo adiknya ngelakuin kesalahan ada konsekuensi biar nyadar dan ga diulang kesalahannya.”
“Iya, guru-guru kita sebenarnya juga gitu ya a’. Jadi inget saya pernah disuruh lari keliling lapangan karena telat..hehe. Itu mungkin bentuk cintanya guru biar saya ntar-ntar gak telat lagi”, kata Angga.

“Hehe.. bener juga Ngga. Tapi ya, selain ngelurusin niat, ada lagi tantangan buat panitia MOS nih”, kata Khalid.
“Apa itu a’?”, tanya Angga.
“Panitia MOS atau penyambutan siswa baru itu kan ibaratnya teladan buat adik-adik baru di SMA ya. Dari mulai yang sifatnya penampilan kayak pakaian rapi, sepatu, dsb, sampai sikap dan kebiasaan”, jawab Khalid. “Jadi ya itu tantangannya, gimana kita bisa ngasih contoh yang baik, yang gak sekedar lewat kata-kata, tapi juga lewat perbuatan”.
“Bener banget itu Lid. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan, action speaks louder than words. Teladan dalam perbuatan lebih besar pengaruhnya daripada sekedar kata-kata doang”, kata Mahar. “Eh tapi bukan buat panitia doang, Lid. Buat semua yang jadi kakak kelas!”
“Iya betul, jadi kakak kelas berarti siap jadi teladan ya.. hehe”, sambung Khalid.
“Saya inget dah a’, ada juga ayat Al-Qur’an yang nyuruh kita biar sinkron antara ucapan dan perbuatan”, kata Faris. “Mana ya..”, Faris membuka Al-Qur’an dan mencari-cari ayat yang dimaksud. “Nah ini dia….”

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash Shoff: 2-3)

“Iya ya…”, kata Khalid. Mereka semua termenung.
“Semoga kita semua bisa jadi teladan buat adik-adik kita, mulai dari hal-hal yang kecil aja.”, kata Angga.
“Amiiiin”
“Iya, semoga bisa ngasih contoh dan arahan yang baik, gak cuma lewat omongan, tapi lewat perbuatan juga”, sambung Faris.
“Amiiiin”

Jreng jreng… sang ketua DKM datang. Ternyata dia mengabarkan kalo rapatnya dipindah ke kelas. Mahar, Khalid, Angga, dan Faris pun beranjak menuju kelas, menuju sekumpulan orang-orang dengan semangat yang sama, untuk menyambut adik-adik penerus perjuangan di SMA tercinta…

Senin, 12 Juli 2010 | 30 Rajab 1431 H
Redaksi Mentoring Online for You – MK Forkom Alims