Back on Track

Cita-cita kami: menjadi bagian dari generasi intelektual penghafal Qur'an
senjaya: Hadiah dari @IndonesiaQuran , benar2 jdi penyemangat n pengingat kmbali akan cita2 ini

Sore kemarin saya tertegun mendapati gambar di atas, yang saya dapat dari link di twitter. Glek. Saya juga mau. Itu cita-cita saya juga: “Menjadi bagian dari generasi intelektual penghafal Qur’an”. Tapi…tapi..tapi..sekarang rasanya betapa jauh saya dari jalan menuju ke sana.

Kemudian teringat kata Ustadz Nouman. Kalau kamu nggak punya atau lupa tujuan, ya kamu akan buang2 waktu seenaknya. Entah ngenet ga penting berkepanjangan, main game, nonton, leha2, dan malas2an. Dan itulah mungkin yang terjadi pada saya T_T

Siang ini pas makan siang saya dan 2 orang teman ngobrol sama mahasiswi Korea yang sering makan di kantin kampus saya. Ngobrolnya pake Bahasa Indonesia. Dia udah cukup lancar ngomong Bahasa Indonesia, dengan logat Koreanya tentu 🙂 Seruu! Dan dia masih bersemangat untuk belajar dan pengen bisa lancar berbahasa Indonesia. Ya, setiap orang punya cita2nya sendiri. Tidak ada yang salah dengan cita2 setinggi apapun. Yang salah adalah ketika tidak berjalan di jalan untuk mencapainya. Bagai pungguk merindukan bulan.

Maka sekarang.. meski saya telah terlempar dari orbit entah sejauh apa, semoga belum terlambat untuk kembali.

Man Saara Ala Darbi Washala. Siapa berjalan di jalannya akan sampai di tujuan. (A. Fuadi, Rantau 1 Muara)

If I have a passion for life, then laziness shouldn’t exist in me. If I have a mission in life, then laziness shouldn’t exist in me. If I have a noble purpose in life, then laziness shouldn’t exist in me. (Aiman Azlan)

Advertisements

Ingin Ini, Ingin Itu, Banyak Sekali

Kalian pernah gak siiih.. punya banyak keinginan.. Pengen ini, pengen itu… sampe2 ngerasa absurd sendiri.. “Ini mungkin gak sih keinginan2 gw tercapai? Ini waras gak sih gw pengen segala macem begini?”

Mimpinya/keinginannya yang ga usah macem2, atau tetapin mimpi/keinginan setinggi2nya?

Yang saya pelajari dari beberapa guru, justru mimpi atau keinginan itu harus setinggi2nya. Inget bahasan tentang uluwwul himmah ini. Plus ceramahnya Yasir Qadhi ini, setidaknya ada 2 alasan kenapa harus punya keinginan tinggi:

  1. Kita disuruh minta surga, gak tanggung2, minta surga tertinggi, surga Firdaus: “…apabila kamu memohon pada Allah, maka mohonlah surga Firdaus, karena ia paling tengah dan paling tinggi” (HR Bukhari)
  2. Kita disuruh sabar seperti kesabarannya nabi2 ulul ‘azmi (Al-Ahqof:35), yang manaa… rasanya gak mungkin lah ya bisa nyamain kesabarannya Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad SAW. Tapi tetap aja kita disuruh menjadikan mereka sebagai standar.

Nah, kalau surga Firdaus yang rasanya jauh bgt, muluk, sulit digapai aja kita disuruh minta, gimana cita2 yang dibawah itu ya.. Jadi tentu boleh dong kita bercita, bermimpi, berkeinginan setinggi2nya.. Cuma, masalahnya sekarang di usahanya, gimana caranya biar pantes meraih keinginan itu. Dan quote dari bukunya A. Fuadi, Rantau 1 Muara, yang akan terbit April 2013 ini sukses menonjok2 saya:

Man Saara Ala Darbi Washala. Siapa berjalan di jalannya akan sampai di tujuan.

Kalau pengennya A… ya jalan di jalur yang menuju A.. Kalau pengen A tapi jalan di jalur B, atau malah males jalan, malah nongkrong di pinggir jalan, itu baru absurd namanya. Intinya, semua orang, siapapun, boleh bercita2 besar, boleh ingin ini – ingin itu – banyak sekali… tapi, langkah untuk menuju ke sananya juga harus diusahakan. Setidaknya berjalan di jalan yang menuju keinginannya, bukan malah melenceng atau mogok jalan. Dan satu hal lagi menurut saya, untuk menilai apakah keinginan itu pantas diperjuangkan, lihat aja apakah keinginan itu karena Allah, bikin makin dekat sama Allah? Kalau iya, go for it 🙂

 

‘Uluwwul Himmah

intisari kajian di Al Ghifari, Selasa 1 Januari 2013
oleh Ibu Shintawati, S.Si

Alhamdulillah, hari pertama di tahun 2013 diisi dengan kajian yang sangat mengisi baterai semangat untuk jadi lebih baik lagi 🙂

Ibu Shinta memulai materinya dengan memutarkan sebuah video yang udah pernah saya lihat berkali2. Video yang dibuat oleh Danang Ambar Prabowo, alumnus IPB dan mahasiswa berprestasi nasional, tentang mimpi. Ini dia videonya:


Meskipun udah pernah nonton berkali2, tapi tetap aja saya merinding.. Hihi.. Keren ya, bagus pula itu lagunya yang Jepang2..hehehe. Oke, langsung aja ke ‘uluwwul himmah..

Himmah adalah motivator kerja, yang dapat disifati dengan tinggi atau rendah. Bisa juga diartikan kemauan, niat, dan tekad untuk melakukan suatu pekerjaan.

‘Uluwwul himmah berarti menyifati himmah dengan ketinggian. Menganggap kecil segala hal selain akhir dari urusan2 mulia (mungkin maksudnya, goal oriented, ga berhenti di awal, tapi bekerja sampai akhir). ‘Uluwwul himmah adalah upaya jiwa menggapai puncak kesempurnaan yang mungkin dapat diraihnya dalam urusan ilmu/amal.

Orang yang punya ‘uluwwul himmah gak akan mencukupkan ibadah pada yang wajib aja, tapi ditambah juga yang sunnah. Mereka adalah tipe climber, bukan quitter atau camper.

Orang yang punya ‘uluwwul himmah juga punya tujuan yang jelas. Mereka tau mau ke mana dan tindakan2 yang dilakukannya adalah untuk mencapai tujuannya itu. Hati2 kalau dalam keseharian kita merasa bebas melakukan apa aja. Diajak nonton, hayuk.. diajak nongkrong berjam2, boleh.. diajak ngemall, oke. Apa aja boleh, karena emang gak ada tujuan dalam hidupnya. Kayak kalo mau naik bajaj trus bilang ke abangnya: “Bang, anterin saya ya. Ke mana aja boleh”. Abang bajajnya pasti bingung, lah ini orang mau ke mana. Setiap hari itu harusnya diisi dengan kerja2 menuju tujuan kita, baik kecil maupun besar. Jangan sampe ada yang pengen jadi dokter tapi pas milih jurusan, milihnya akuntansi.

Ibnul Jauzi: “himmah orang beriman terkait dengan akhirat”.
“…apabila kamu memohon pada Allah, maka mohonlah surga Firdaus, karena ia paling tengah dan paling tinggi” (HR Bukhari)
Menetapkan tujuan juga perlu tinggi setinggi2nya. Dalam hal meminta surga aja Allah nyuruh kita minta surga tertinggi. Meskipun rasanya, emperan surga aja udah alhamdulillah banget. Tapi kalo targetnya surga Firdaus kan kalo meleset ga jauh2 bgt, masih di surga juga insya Allah. Tapi kalo targetnya asal masuk surga, kalo meleset ke mana dong?

Ibnu Taimiyah:
“Apa yang dapat dilakukan musuh2ku padaku? Surga dan tamanku ada dalam dadaku. Kemanapun aku pergi, surga selalu bersamaku. Penahananku adalah khalwat, kematianku adalah kesyahidan, dan pengasinganku adalah rekreasi”.
Ini nih tipe orang yang ga terpengaruh sama keadaan luar. Gak terpengaruh sama cuaca, kalo kita kan, mendung/panas dikit aja ngeluh. Ga terpengaruh sama keterbatasan dan ga membatasi diri.

Indikasi ‘uluwwul himmah:

  1. Kesungguhan beramal, ga berleha2, ga bermalas2an
  2. Semangat jihad
  3. Ambisi menggapai kesempurnaah dan menghindari kekurangan (tapi ga usah lebay, wajar aja)
  4. Bekerja keras
  5. Tegas dan sigap dalam berbagai urusan

 

‘Uluwwul himmah ini bukan bawaan ortu atau hasil didikan ortu. Tapi mungkin ada yang memang dari kecil dibiasakan begini sehingga terbawa sampai besar (Al Fatih contohnya). Tapi yang paling menentukan dalam ‘uluwwul himmah adalah keimanan. Al Fatih pun, ketika dari kecil udah dididik untuk punya ‘uluwwul himmah tapi gak menjaga di waktu dewasanya, ya ga akan bertahan sifat itu dalam dirinya. Jadi menjaga himmah tetap tinggi salah satunya adalah dengan menjaga keimanan. Keimanan rendah -> himmah rendah.

Dalam hidup pasti ada naik turunnya. Semangat turun itu wajar, tapi jangan dibiarkan. Segera tingkatkan dengan ibadah, cari motivasi, cari inspirasi. Keluar dari kondisi lemah itu. Setiap orang caranya beda2. Ada yang cukup dengan baca Qur’an, ada yang perlu dengerin motivator, dll. Carilah teman yang baik, yang punya ‘uluwwul himmah, karena semangat itu menular!

Alhamdulillah, sekian intisari kajian tentang ‘uluwwul himmah yang bisa saya bagikan. Semoga bermanfaat bagi teman2 yang membacanya 🙂


Bagi saya pribadi, menginternalisasi ‘uluwwul himmah dalam diri adalah salah satu target di tahun ini. Karena rasanya, semangat itu memudar. Dulu, kerasa banget rasanya sih saya punya ‘uluwwul himmah itu. Tau gak dari siapa atau di mana saya pertama kali belajar tentang itu? SMA Negeri 1 Bogor! 🙂 Dari BLDK, Bintal, OSIS, Pandawa, DKM, dan dari teman2 seangkatan saat berjuang untuk lulus dan kuliah. Manis rasanya, karena memang kata Imam Syafi’i manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Juga saya rasakan saat kuliah, dan terutama sekali saat mengerjakan skripsi. Setelah lulus kurang begitu terasa sampai sekarang baru mulai terasa lagi setelah lanjut S2. Itu pun masih terseok2, belum muncul sempurna semangatnya. Ternyata memang ya, hidup yang seru dan manis itu kalau ada tantangannya. Justru tantangan2 dan kesulitan2 itu yang bikin kita merasakan sari pati hidup!

“Aku ingin hidup, ingin merasakan sari pati hidup” (Andrea Hirata dalam Edensor)

a lifetime dream

kashmiri couple hajj

Kashmiri couple describes 70-year wait

Muhammad and Saafya from Kashmir have had to wait for 70 years before performing Haj because they did not have enough money.

They spent the last 70 years of their life saving money for the journey of the lifetime. They are in their 90s now.
They put their savings inside a red box that had come to be known among their relatives and friends as the box of lifetime journey.

Saafiya said she and her husband did not have any children and they have lived alone.

When her husband Muhammad proposed to her and she agreed, he promised her 70 years ago that he would take her to Haj. The husband and his wife kept working to raise the money.

They both said they were ready to wait for another 70 years, if Allah prolonged their life, to raise the money to visit Makkah for another Haj.

 

another story:

bosnian walk for hajj

source: mirnasm.tumblr.com

Quotes from 2

Karena segala sesuatu
diciptakan
2
kali.
Dalam dunia imajinasi, dan dalam dunia nyata.

Ini nonjok banget lah buat orang imajinatif tingkat nasional kayak gw 😉

Dengan kerja keras, tinggalkan bukti di dunia nyata bahwa impianmu, ada.
Bersama alam bawah sadarmu kamu bermimpi, bersama alam sadarmu kamu berjuang.
Karena manusia bisa, ia ada untuk bisa.

“Jangan sekali-kali meremehkan kekuatan manusia,karena Tuhan sekalipun tidak pernah.”  (Pak Pelatih)

2, Donny Digantoro