prioritas

Pagi tadi ada twit “lucu” dari akun seorang pengusaha yang cukup ternama. Waktu ada follower yang nanya, “gimana sih caranya sukses bisnis saat kuliah?”. Jawaban si pengusaha itu adalah: “Jgn t’lalu pinter d kampus. Jd waktunya bs optimal u bisnis”. Ngoook.

Terus lu kuliah mau belajar apa mau bisnis? Sama kayak jaman2 dulu nih waktu ada pertanyaan “dakwah apa akademis?” di kampus. Seorang ustadz –gw lupa siapa, kl gak salah Pak Musholi-maap Pak kalo bukan Bapak– bilang, di kampus ya untuk belajar. Kalau mau dakwah, ga perlu di kampus juga bisa. Bukan berarti gak perlu dakwah, tapi gw lebih seneng mengartikannya sebagai: jangan didikotomi. Toh elu belajar yang bener terus berprestasi, menginspirasi orang lain, bisa bagi2 dan manfaatin ilmu juga dakwah.

Kalau dalam kasus twit di atas tadi, lebih parah lagi sih. Seperti menegasikan tujuan utama kuliah. Kesannya, ya elu santai2 aja lah kuliah, gak usah pinter2 amat, biar waktunya bisa dipake bisnis. Bukan berarti bisnis saat kuliah itu gak boleh. Mau kuliah sambil ngapain aja ya sah2 aja, tapi ya mbok inget tujuan kuliah tuh apa. Kan harusnya kalo belajar yang bener bisa jadi orang yang kompeten dan kontributif ya *nonjok diri sendiri* Lagian, bisa kok bisnisnya selaras sama kuliahnya. Misalnya tuh dulu temen2 Fasilkom gw bisnisnya bikin web, atau si anak pertanian UGM yang bisnisnya di sektor pertanian juga, si anak perikanan IPB bisnisnya ternak lele, si anak kedokteran UI bisnisnya alat kedokteran.

Berniat untuk bertambah pintar (“terlalu pinter” sekalipun) saat kuliah tuh perlu. Intinya sih semangat nyari ilmunya. Apalagi udah ngabisin bertahun2 di kampus, udah bayar mahal2, dan ga semua orang punya kesempatan yang sama. Kalo mau sambil bisnis atau apapun juga, yakin deh, dua2nya bisa dijalanin dengan optimal. Asal bisa nyusun prioritas aja. Sekian.

Advertisements

Masuk UI, Siapa Takut?

Tulisan Big Zaman, Kadep Adkesma BEM Fasilkom UI 2010

Sekitar dua setengah tahun yang lalu, seorang anak lulusan SMA ternama di sebuah kota memberanikan dirinya pergi ke sebuah kota besar yang sama sekali belum pernah dijamahnya, dimana ia tidak punya kerabat disana. Hanya karena suatu alasan, karena namanya dinyatakan lulus ujian seleksi perguruan tinggi oleh sebuah media massa terkenal di kotanya. Ya, berbekal uang seratus ribu rupiah saja, pemberian ibunya, dan seratus ribu lagi yang diberikan oleh teman-temannya di SMA yang mengantar keberangkatannya, ia pun berangkat menuju ibukota, Jakarta.

Entah kenapa, ia punya keyakinan kuat dapat bertahan hidup disana, walaupun ia yakin ia tidak akan pernah mendapat kiriman sepeserpun setiap bulan dari rumah, karena ia hanya seorang anak yatim dan tidak mau membebani ibunya yang sudah renta dan sakit-sakitan. Dengan suatu keyakinan terhadap apa yang pernah didengarnya dari salah seorang seniornya, “UI adalah universitas dengan seleksi intelektual bukan seleksi finansial..”

Dan luarbiasa, dengan kesungguhan itu, ia dapat melenggang ke UI dengan uang semester dan uang pangkal nol rupiah, mendapatkan beasiswa, dan beberapa pekerjaan yang dapat menopang hidupnya hingga sekarang. Sekarang, ia pun kembali berjuang keras bersama rekan-rekan yang memiliki kepedulian yang sama untuk membantu adik-adik mahasiswa baru yang senasib dengan dirinya dahulu.

Itulah salah satu kisah nyata seorang anak yang memiliki tekad untuk mengubah hidupnya, bertaruh untuk mengubah nasib keluarganya. Ya, kisah – kisah seperti ini bukanlah salah satu atau salah dua saja di UI namun banyak ! Mulai dari yang bapaknya petani, tukang jahit, sopir, atau yatim piatu sekalipun. Kisah-kisah ini adalah suatu pembuktian bahwa menuntut ilmu di perguruan tinggi bukanlah mimpi bagi mahasiswa yang tidak berada ! Karena semua hanya berawal dari sebuah tekad dan konsistensi untuk terus berjuang hingga kita mendapatkan apa yang kita cita-citakan.

Untuk menjadi mahasiswa UI, tantangan yang harus dilewati tidak hanya sampai di fase ujian seleksinya saja, suatu saat nanti kalian pasti akan bertemu dengan ujian berikutnya, sebuah makhluk yang bernama BOP-B. Banyak cerita simpang siur memang akan sistem pembayaran ini, dimana mahasiswa akan selalu membayar 5 juta untuk rumpun sosial dan 7,5 juta untuk rumpun IPA. Dan tidak hanya sampai disitu karena ada bonus hadiah bernama uang pangkal dengan total hingga 25 juta rupiah ! (Uda kayak kuis aja) Kalau begitu apa bedanya UI dengan universitas swasta yang lain ?

Terlepas dari segala macam perdebatannya, harus diakui Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan atau BOP-B memiliki niatan yang mulia untuk mencapai keseimbangan anggaran pendidikan dengan kondisi ekonomi di negara kita yang tidak ideal. BOP-B merupakan transformasi dari sebuah sistem yang sering kita dengar, sistem subsidi silang, dimana mahasiswa yang berada memberikan sebagian rezekinya kepada mahasiswa yang membutuhkannya dengan kompensasi jumlah nominal BOP-B yang lebih besar. Nominal ini ditentukan oleh sebuah matriks dengan variabel fakta yang kuantitatif seperti slip gaji orang tua, rekening listrik, bukti pajak, dan sebagainya, yang diharapkan dapat mendekati definisi adil untuk setiap mahasiswa.

Sampai disitu saja ? Tentu saja tidak, karena banyak fakta kualitatif yang harus dipertimbangkan untuk lebih precise dan mantab lagi bahwa inilah nominal yang adil untuk mahasiswa. Oleh karena itu setiap mahasiswa berhak menjelaskan fakta-fakta lain melalui proses keberatan, diskusi dengan bagian kemahasiswaan, dan sebagainya. Nominal yang dihasilkan matriks dan proses penjelasan data kualitatif menghasilkan sebuah kebijakan yang tepat di mata mahasiswa dan di pihak universitas. Sebuah proses penentuan yang tentunya tidak bisa kita temui di beberapa univeritas ternama lain yang sudah barang tentu harus didukung dan dikawal ketat pelaksanaannya dengan bersama-sama.

Ya, tidak terasa kurang lebih seminggu lagi sejak tulisan ini ditulis, yakni tanggal 29 Januari, adik-adik kita dari PPKB akan mulai merasakan ujian bernama BOPB ini dan tentunya semua yang akan masuk UI baik melalui jalur SIMAK, UMB, maupun SNMPTN. Pada akhirnya, saya ingin mengatakan,

“Jangan takut masuk UI !”

Mengapa ? Satu, karena takut hanya boleh kepada Allah, tidak boleh kepada yang lain. Kedua, karena tidak ada yang perlu ditakutkan. Yakinlah, dengan niat yang baik dan usaha yang baik pasti akan menghasilkan hasil yang baik pula !

Untuk teman-teman yang berada, bersiaplah menjadi malaikat penolong bagi calon teman-teman anda nanti, janji akan pahala dan surga-Nya terbentang jelas dihadapan anda dan keluarga. Orang kaya pun bukan berarti tidak berhak mendapatkan biaya yang murah, bila anda sudah masuk UI, kalian akan melihat sendiri betapa berserakannya yang bernama beasiswa karena begitu banyaknya, maka buktikanlah anda bisa mendapatkannya ! Untuk teman-teman yang kurang berada, siapkanlah tekad anda yang membaja dan menjulang tinggi ! Bersyukurlah dengan keadaan ini karena ini akan menjadi pembeda antara anda dan teman-teman lainnya. Kalau anak orang kaya, sukses itu mah biasa tapi seorang yang biasa saja, tidak bermodal apa-apa, hanya tekad dan Allah di hatinya, itu baru mantap ! 🙂

Al Ikhwanul Muslimin berkata, “..bahwa yang memisahkan diri kita dengan kesuksesan adalah keputusasaan.” Maka, janganlah menjadi bagian dari kumpulan orang yang berputus asa dan yakinlah Allah telah mempersiapkan skenario yang paling indah untuk hidup kita..

See U at UI next semester My Brother and Sister! 🙂

Big Zaman

Fakultas Ilmu Komputer 2007

Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM Fasilkom 2010

Teruntuk: : adik-adikku yang masih bimbang dan takut untuk masuk UI, tolong sebarkanlah ke adik-adik dan teman-teman kita sebanyak-banyaknya. Demi UI yang lebih baik !

Mimpi-mimpi itu

Melihat ke belakang.. gak usah susah2 deh, liat dari postingan2 sebelum ini aja. Satu semester atau beberapa bulan yang lalu mungkin saya hanya bisa memimpikan dan menuliskan “gw pgn lulus semester ini!” atau “gw pgn poto bareng Tahu Logay di Balairung pas wisuda!”. Dan Subhanallah, itu terwujud..

wisuda bareng tahu logay
wisuda bareng bbrp anak2 tahu logay di ui

Kalau liat lebih ke belakang lagi.. beberapa tahun lalu, saat masih semester2 awal di UI, saya pun bermimpi.. Pengen lulus dari Fasilkom dengan predikat cum laude. Pengen membuat ortu seneng dengan prestasi itu. Pengen nunjukkin ke orang2 bahwa seorang anak Fasilkom yang notabene tugas2nya seabrek2 pun masih bisa ttp aktif organisasi sana sini dengan ttp berprestasi. Dan Subhanallah, itu terwujud..

tercapai jg
tercapai jg

Liat lagi ke belakang.. beberapa tahun yang lalu jg, saat masih berseragam putih abu2.. Rasanya hanya mimpi bisa masuk Fasilkom UI. Mengingat saya bukan orang yang prestasi akademisnya menonjol saat SMA. Tapi mimpi itu ternyata adalah modal yang sangat besar. Mimpi itu terus dipupuk. Sampe2 pas ulangan Bahasa Indonesia, nunggu waktu keluar, saya corat coret di kertas soalnya. Nama saya kelak ketika mimpi itu tercapai: Heninggar Septiantri, S.Kom. Dan Subhanallah, itu terwujud…

S.Kom :)
S.Kom 🙂

Ternyata awalnya adalah mimpi-mimpi. Cuma mimpi. Dan menurut saya itu udah merupakan modal yang sangat besar. Bayangin aja kalo ga berani bermimpi. Selanjutnya, usahe.. dan tentu saja do’a..

So, let’s continue the dreams catching project guys!

Future belongs to those who believe in the beauty of their dreams
Life, at the end, is a huge dreams catching project
(Eleanor Roosevelt)

PS: Meskipun mimpi2 tercapai, tp sampai sekarang merasa belum ngasih kontribusi apa2 dengan gelar dan predikat whatsoever itu. Do’akan aja yaa.. 😉

Chatbot

>Hello, I'm Eliza.

Hai.. dah pernah ngobrol ama robot belom? Satu baris di atas itu adalah sapaan Eliza untuk memulai percakapan. Cobain deh, di sana.. Eliza si chatbot, “robot” yang diprogram buat chatting sama manusia ini adalah salah satu “mainan” di bidang NLP. Apaan tuuuh? Natural Language Processing.. Apaan lagi tuuuh? Kalo orang2 nanya gini, saya biasanya jawab “pokoknya belajar gimana caranya biar komputer ngerti bahasa manusia”. Hehe

NLP adalah salah satu dari 3 mata kuliah yang saya ambil di semester 8 ini. Kenapa ngambil NLP? Awalnya karena pengen seimbang aja.. kan semester kemaren udah ngambil Information Retrieval (IR). Kalo utk ngolah teks/bahasa, IR kan pendekatannya statistik/empirik, pake korpus (koleksi dokumen) yang besar untuk melatih dan membangun sistem. Kalo NLP ini simbolik, sistem dibangun berdasarkan model yang dibuat dengan aturan tertentu oleh knowledge expert. Mungkin bisa dibilang IR itu bottom-up dan NLP top-down. CMIIW.

Awalnya agak kurang semangat ikut kuliah ini. Soalnya kayaknya susaaah. Mirip2 SC (Sistem Cerdas) gitu kali.. dan bawa2 TBA (Teori Bahasa dan Automata) segala karena ada bahasan ttg Finite State Automata (FSA). Saya udah lupa bgt kayaknya 😀 Dan sempet mikir pragmatis jg.. Ngapain sih kuliah yg susah2, cari yg gampang2 aja lah.. dah mo lulus, selametin IPK! Duh.. Tapi setelah dipikir2.. kuliah ini mungkin bisa berguna buat TA (Tugas Akhir). Dan sepertinya berguna juga di masa depan. Aplikasinya kan bisa banyak, speech recognition, question answering, machine translation, dll. Masalah susah.. hmm.. emang sekarang ini saatnya bersusah2.. kalo mo seneng2 nanti aja dah.. Mumpung masih mahasiswa, mumpung masih bisa menyelami samudera ilmu komputer yang luar biasa luasnya.. 🙂

So there I was.. menikmati ngerjain worksheet Eliza Chatbot dan menemukan pola di balik respon si Eliza. Seperti:

 >Hello, I am Eliza.
* hello there
> How are you today.. What would you like to discuss? 
* i am ready to talk about anything except the weather
> Do you enjoy being ready to talk about anything except the weather? 
* i am i am
> Do you believe it is normal to be you are? 
* i belive it, of course
> What does that suggest to you? 
* i am hungry
> Do you believe it is normal to be hungry?

(diawali “>“: chatbot, diawali “*“: manusia)

Intinya Eliza ini menangkap pola dari kalimat manusia dan meresponnya berdasarkan pola tersebut. Contoh, kalo diawali “I am…” dia jawabnya “Do you believe it is normal to be” atau “Did you come to me because…?” atau “Do you enjoy being…?”. Intinya dia gak akan pernah jawab pertanyaan, yang ada malah balik nanya 😀

Haha.. so we made the rules for Indonesian chatbot. Polanya tiga ajah:
1. “Saya X”
respon chatbot: “Mengapa kamu X?”
2. “X?”
respon chatbot: “Kenapa kamu ingin tahu X?”
3. selain dua di atas
respon chatbot: “Oh, begitu”, “Ceritakan lagi”, “Wah, menarik”

Sehingga chattingnya jadi begini:
* Saya ingin makan
> Mengapa kamu ingin makan?
* Karena saya lapar
> Oh, begitu
* Saya ingin makan es krim
> Mengapa kamu ingin makan es krim?
* Kamu nanya terus sih?
> Kenapa kamu ingin tahu kamu nanya terus sih?
* Huh.. mulai aneh
> Wah, menarik

Dan worksheet ini bisa jadi games aja dong.. Hari Jum’at 2 minggu lalu saya bawa ke Smansa dan saya kasih ke adik2 mentoring saya.. haha.. Yah, pertama dijelasin dulu sih aturan umumnya dan harus diarahin juga untuk nangkep polanya. Yang lucu ya pas bagian bikin aturan untuk chatbot Indonesia. Umumnya aturannya sama, tapi responnya aneh2. Ada yang “Ngapain kamu nanya2?”, “Pergi sana!”, “Mau tau aja”. Haha^^

Akhir 7/8 Perjalanan

Ah.. akhirnya sampai juga di sini.. Di titik yang dulu sering banget ingin saya capai. Rasanya pengen banget meloncat langsung ke titik ini tanpa harus melewati segala macem rintangan dan ujian sebelumnya. Tapi gak mungkin kan? Saya cuma bisa nyebayangin bahwa suatu saat saya akan sampai di titik ini dan segala macem rintangan dan ujian itu memang harus dihadapi. Dan akhirnya memang sampai 🙂 Alhamdulillah..

Hehe.. Ya, saya memang lagi ngomongin semester 7 di Fasilkom. Udah jadi kebiasaan sih di akhir semester biasanya saya review apa aja yang udah terjadi satu semester ke belakang. Dan semester ini rasanya seru aja!

Bayangin.. di sini ada kuliah yang awalnya sangat2 saya senengin dan saya semangat ngejalaninnya, eh lama2 berubah jadi monster jahat pemangsa manusia.. halah.. emangnya Israel! Maksudnya berubah jadi malesiiiin banget. Bikin stress dan sampe2 saya mo udahan aja. Maksudnya gak nerusin kuliah itu dan ngebiarin aja gitu saya gak lulus kuliah itu semester ini. Ah gampang, kata saya, bisa ngulang semester depan. Tapi setelah bersemedi (berpikir dan merenung maksudnya) dan tanya sana sini, rasanya sayang juga kalo nyerah begitu aja. Lalu saya bilang sama ibu saya, eh katanya terusin aja itu kuliah. Kerjaan yang belom beres segera diberesin. Wah saya dibilangin gitu sama ibu saya jadi gak enak kalo mo nyerah begitu aja. Padahal tadinya udah mo bilang, ngulang semester depan aja ya Mah.. Eh taunya gak boleh. Ya iya sih, mana ada ibu yang tega liat anaknya ngulang kuliah (lebay).

Akhirnya saya selesaiin deh itu kerjaan. Begadang sehari, tidur sehari :D. Di rumah ngerjain, di kamar ngerjain, di lab ngerjain, di milad Salam ngerjain. Pagi-siang-sore-malem, kapan aja gak ada kegiatan yang lebih penting dan mendesak, saya kerjain. Dan alhamdulillah, saya bisa juga mengikuti salah satu persyaratan lulus kuliah yang bersangkutan (ybs). Special thanks buat Mba Prita yang udah mengirimkan do’a dari Tanah Suci 🙂

Pelajaran moral  buat yang mo ngambil kuliah ybs: Carilah tempat ybs yang baik, bikin perjanjian sama penyelia untuk pertemuan rutin, pastikan Anda tidak sendirian -kalopun sendiri harus ada yang bisa bantuin setidaknya untuk ngarahin- dan jangan males2an, jagalah komunikasi dengan pembimbing. Hmm.. Masih banyak banget sih pelajaran moralnya. Tapi saya udah eneg ah ngomongin itu 😛

Kuliah yang lain.. rata2 menyenangkan. Tugas2nya juga asik banget, aplikatif, kongkrit! Saya bikin mini search engine (abal2:D), konfigurasi LMS Moodle macem Scele dan silabus untuk “Open Source Goes to School”, aplikasi SIPERIKSA yang harus disempurnakan lagi -apa jadiin TA aja ya?- dan bikin proposal penelitian “KM di Organisasi Kemahasiswaan”. Baru kali ini deh kayaknya, saya nyadar bahwa tugas2 kuliah itu bisa diterapin di dunia nyata dan sebenarnya bisa berguna buat banyak orang. Kalo tugas2nya kayak gitu sih gak ngerasa jadi budak tugas, karena kerasa tugasnya emang berguna. Kenapa saya baru nyadar sekarang ya? 😦

Lalu ada kuliah yang cukup unik, karena mengupas tuntas sisi humanis dari dunia komputer. Tuntas? Gak juga sih. Saya pikir di akhir kuliah saya masih bingung, jadi yang lebih penting itu peraturan apa pengguna yang bertanggung jawab sih? Hehe.. nggak ding, saya nggak bingung kalo soal itu. Cuma bingung aja, betapa kita manusia kerepotan untuk menentukan mana yang baik? Mana yang benar? Mana yang salah? Meskipun ada etika, tetep aja ada makhluk aneh yang menganggap bahwa cracking sistem itu etis, misalnya. Terus kalo mau jadi pengguna yang bertanggung jawab, nanya lagi, tanggung jawab terhadap apa nih? Peraturan yang mana dulu? Bla..bla..bla.. Gak selesai2 kayaknya. Gak tau lah. Yang saya yakini sih, ketika saya udah punya idealisme, punya nilai2 yang saya anggap baik dan saya terbimbing oleh nilai itu, maka insya Allah apa yang saya lakukan gak akan melenceng dari nilai itu. Buat saya, nilai itu terangkum dalam “diiniiy” (bener gak nih bahasa arabnya?). Artinya.. cari sendiri.

Ada yang lucu lagi, di artikel ujian akhirnya yang berjudul “The Dea[r]th of Human Understanding“. Yang saya tangkep sih, artikel itu bercerita tentang berkurangnya pemahaman diri manusia terhadap diri dan sesamanya sebagai dampak dari teknologi digital. Contohnya video game, yang lebih menekankan pada sisi reaktif dan spontanitas manusia dan melemahkan sisi penalaran dan kontemplasi. Padahal dengan penalaran dan kontemplasi-lah manusia bisa mengenal dirinya. CMIIW. Lalu ada lagi contoh anak muda yang nendang orang di bus, karena orang itu meminta si anak muda mengecilkan volume musik di playernya yang kelewat keras. Contoh yang deket deh, betapa kita lebih asik SMSan padahal di samping kanan kiri kita ada temen. Wallahu a’lam. Benarkan teknologi sampe segitunya mematikan sisi humanis manusia?
*pesan sponsor: makanya jangan IQ doang digedein, EQ sama SQ juga.

Hmm.. postingan ini jadi panjang sekali. Baiklah saya akhiri saja 😛 Nggak kerasa udah 7/8 aja. Bentar lagi 8/8 dan artinya penuhlah sudah masa studi saya di Fasilkom. Semoga bisa lulus semester depan dengan *** (it’s my dream). Selain pengen lulus bareng temen2 Kuncung (Fasilkom 05), saya juga pengen banget lulus bareng temen2 Tahu Logay (Smansa 05) di UI. Ntar foto bareng ya cuy, di Balairung! 😉

Allahumma amiin..

Kalo kita yakin sama sesuatu, kita cuma harus percaya, terus berusaha bangkit dari kegagalan, jangan pernah menyerah dan taruh keyakinan itu di sini… (Zafran meletakkan telunjuk di depan keningnya).
Taruh mimpi itu di sini..
Juga keinginan dan cita-cita kamu..
Semua keyakinan, keinginan dan harapan kamu…
Taruh di sini…
Begitu juga dengan mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu kejar taruh di sini…
Kamu taruh di sini.. jangan menempel di kening.
Biarkan…
dia…
menggantung…
mengambang…
5 centimeter…
di depan kening kamu…
Jadi dia nggak pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apa pun hambatannya, bilang aja sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri…
Biarkan keyakinan kamu, 5 centimenter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu… cuma…
Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja…
Dan hati yang akan berkerja lebih keras dari biasanya…
Serta mulut yang akan selalu berdo’a…
Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan cuma seonggok daging yang hanya punya nama. Kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja, bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, megikuti arus dan kalah oleh keadaan. Tapi seorang yang selalu percaya akan keajaiban mimpi, keajaiban cita-cita, dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terkalkulasikan dengan angka berapa pun… Dan kamu nggak perlu bukti apakah mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu hanya harus mempercayainya.
Percaya pada… 5 centimeter di depan kening kamu.
(5cm, Donny Dhirgantoro)