[Sold Out][Buku] 5 Guru Kecilku

Dari semua emak2 super yang suka sharing tentang parenting, kayaknya saya paling suka Teh Kiki Barkiah 😀 Terutama sih karena beliau tauhidnya kuat banget dan itu yang ditanamkan ke anak2nya. Ruh ini yang selalu ada di tulisan2nya.. Benar2 menjaga fitrah, bukan cuma sekedar anak bisa shalat, bisa ngaji, hafal sekian juz, tapi tauhidnya kosong melompong. Di buku ini banyak hal2 prinsip maupun teknis yang diterapkan Teh Kiki di keluarganya. Dan ituh semuaa…keren2!

—————————-

Buku ini bukanlah buku teori parenting, buku ini adalah buku bagaimana teori parenting dapat diaplikasikan dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Buku ini mengangkat kisah-kisah seputar pengasuhan anak yang mungkin sangat umum terjadi dalam keluarga. Namun atas petunjuk Allah SWT penulis mampu menyibak rahasia dan mengumpulkan hikmah yang berserak dari setiap permasalahan yang dihadapi dalam pengasuhan anak sehingga menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua.

Buku ini tidak hanya memberikan teladan dalam mengatasi berbagai konflik yang spesifik seputar pengasuhan anak, namun juga memberikan hikmah yang dapat menjadi ruh dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan lainnya. Meskipun permasalahan yang diangkat adalah seputar pengasuhan anak usia dini dan remaja, namun hikmah yang tergali dapat menjadi pelajaran berharga bagi orang tua dengan segala usia.

5gk

Judul Buku: 5 Guru Kecilku
Penulis: Kiki Barkiah
Penerbit: Mastakka Publishing
Spesifikasi: +- 241 halaman
Harga: Rp 75.000 (belum termasuk ongkir)

Dengan membeli buku ini, kamu sudah ikut berdonasi untuk RPPI lho! Lihat info tentang RPPI (Rumah Peradaban Pelajar Indonesia) di sini: www.rumahpelajar.com. Kalau mau berdonasi lebih? Boleh banget! 🙂

CP: Hening 0895-0455-9629 (whatsapp) atau email: heninggar at gmail dot com

Fatherhood Forum V: Make A Great Family

Catatan sesi 1 | Keluarga: Tempat Terbaik Memulai Aktualisasi Diri
oleh Pak Dodik Marianto & Ibu Septi Peni Wulandani
Kamis, 14 Mei 2015 @ Hotel Mitra Bandung

  • Orang menjadi hebat setelah berlatih selama 10.000 jam, kira-kira 4-5 tahun. Kalau dalam 5 tahun belum jadi ahli, maka ada yang salah dalam prosesnya.
  • Bagaimana mereka menghebatkan keluarga mereka?
  • Apa bedanya kumpulan orang di pasar dengan sebuah tim?
    • Di pasar: orang punya tujuan sendiri-sendiri, tata nilai sendiri-sendiri, bergerak sendiri-sendiri, dan bersuara.
    • Di dalam tim: orang yang memiliki tujuan bersama, tata nilai bersama, gerak yang terkoordinasi, dan berkomunikasi bukan sekedar bersuara.
    • Evaluasi keluarga masing-masing, sudahkah menjadi tim, atau seperti pasar?
  • “Apakah Anda menikahi orang hebar?”. Waktu dilamar Pak Dodik, yang bikin Bu Septi mau menerima adalah 1) Ganteng.. hahaha, 2) Punya prinsip, dan Bu Septi merasa, “ini dia imam saya”. Oh ya, Pak Dodik pas melamar itu minta nanti Bu Septi yang mendidik anak-anak, jadi harus melepaskan pekerjaannya (saat itu udah diterima jadi PNS). Kalau menurut Anda pasangan Anda adalah orang hebat, perlakukan dia sesuai prasangkaan itu. Gimana sih memperlakukan orang hebat? Perlakukan dengan baik, sikap terbaik, waktu terbaik, dll.
  • Yang harus diperhatikan dalam mendidik anak: talent, attitude, skill, knowledge.
  • Tahapan pendidikan anak yang dilakukan di keluarga mereka:
    • Usia 2-7: Tour de talent, main, berkunjung dan melihat orang-orang dengan berbagai profesi. Bertemu orang sukses bukan dalam urusan materi ya, tapi mereka yang bahagia karena mengerjakan passion-nya [kaya wawasan]
    • Usia 7-10: mencoba2, gonta ganti kegiatan. Banyak bertanya, “mengapa”, “mengapa tidak”, “bagaimana jika” [kaya gagasan]
    • Usia 10-14: memilih dan settle dengan pilihannya [kaya aktivitas]
    • Usia > 14th: sudah menemukan dirinya sebagai aqil baligh yang sudah menemukan sesuatu yang “ini gue banget”, udah menemukan passion-nya apa.
  • Pilihkan tempat dan lingkungan untuk tumbuh kembang anak sesuai dengan karakternya. Misal, ibarat pohon jati yang optimal tumbuh di tanah yang keras, kalau ada anak yang “keras”, kuat seperti pohon jati, dia harus terus dikasih tantangan. Termasuk memilihkan lingkungan yang baik bagi Pak Dodik adalah membawa keluarganya untuk tinggal di Salatiga, karena di sana values & lingkungan masih lebih bersahabat, gak seperti di ibukota dan sekitarnya (misalnya, di sana gak curigaan, lebih bersahabat, suka menolong, dll).
  • Yang harus suami lakukan: do the right things. Tugas istri kalau suami sudah menjalankan tugasnya: taat.
  • Balancing peran sebagai perempuan-istri-ibu
    • Bu Septi membuat program 7 to 7. Jadi meskipun kerja di rumah dan mengerjakan pekerjaan RT, tetap rapi seperti ke kantor. Membangun kebiasaan tersebut minimal 90 hari (baru jadi kebiasaan).
    • Tentukan prioritas: rumah rapi? pendidikan anak? makanan selalu tersedia? Kalau misalnya prioritas adalah pendidikan anak, maka standar pada 2 hal yang lainnya bisa diturunkan (jadi gak stress karena saking perfeksionis pengen sempurna di semua hal)
  • Kalau kita sedang terengah-engah, kecapekan, itu artinya kita sedang jalan menuju puncak. Tapi kalau lagi lempeng, enak, tanpa effort pun sampai tujuan, hati-hati, itu berarti kita sedang jalan menurun. Kalau sudah mencapai puncak, stop, buat dan tanjaki puncak lainnya.
  • Kalau kita keras pada diri sendiri, lingkungan akan lunak pada kita. Tapi kalau kita lunak pada diri sendiri, lingkungan akan keras pada kita.
  • Bagaimana cara mengetahui bakat anak? Kita gak akan pernah tahu sampai dieksplor, dan bagaimana mengeksplornya? Pertama luaskan wawasan anak (lihat periode usia 2-7 tahun di atas). Kalau nanti dia sudah menemukan passion-nya, bekerja akan seperti bermain, tidak memisahkan bekerja dengan refreshing. Sekarang banyak orang dewasa yang “tersiksa” dengan pekerjaannya, kalau Jumat senang, kalau Minggu sore/malam stress karena besok udah Senin lagi. Itu bisa jadi karena mengerjakan yang bukan passion-nya.
  • Kalau anak ditanya “bakat kamu apa?”, mereka gak ngerti bahasa itu. Makanya anak disuruh icip2 dulu. Nah selama proses eksplorasi itu, jangan beliin yang mahal2. Misal, anak lagi suka fotografi, jangan langsung beliin kamera mahal.
  • Bagaimana kalau tinggal serumah sama ortu dan pola asuhnya berbeda dengan yang kita inginkan? Ortu dikasih peran juga (dalam pengasuhan), tapi buku bacaannya, tontonannya, disamakan dengan kita. Ajak ke seminar2, supaya satu frekuensi. Serumah dengan ortu di waktu tumbuh kembang anak itu rawan durhaka (kecuali kalau anak2 udah besar, itu lain cerita).
  • Sedari kecil anak dilatih jadi decision maker/mengambil keputusan. Ditanya dari mulai mau milih makan apa, milih sekolah/belajar di mana, dst.
  • Sekolah itu hanya bagian kecil dari “iqro” dan “tholabul ilmi”. Di Quran gak ada perintah sekolah, adanya perintah baca dan mencari ilmu. Jadi jangan sempitkan belajar dengan harus di sekolah (anak2 Bu Septi milih homeschooling semua btw).
  • Kalau ibu sibuk, bagaimana menjalankan tour de talent untuk anak? Bu Septi memasukkan agenda tour de talent ke jadwal beliau mengisi seminar di mana2. Kalau ada undangan seminar, selalu ditanya, apakah itu untuk Bu Septi sendiri? Kalau iya, gak diizinin Pak Dodik. Jadi ditanya “anak2 bisa lebih hebat gimana kalau kamu ambil kesempatan itu?”. (Jadi usahakan kegiatan pribadi yang bisa dimasukkan pendidikan ke anak)
  • Harus disiplin manajemen waktu.
  • Bagaimana cara membuat istri taat? Taat itu kan sebenarnya udah perintah dari Allah. Kalau dari sisi manusiawinya, manusia pada dasarnya: 1) seeking pleasures, 2) avoiding pains. Jadi mungkin kedua hal itu bisa diterapkan untuk membuat seseorang mau taat.
  • Bagaimana menyikapi kebesaran seorang istri? Misal istri lebih aktif dan terkenal daripada suami (pernah saking terkenalnya Bu Septi, Pak Dodik sampai dipanggil Pak Septi). Suami harus merasa “tinggi” (bukan dalam arti sombong tapi yey). Kalau sudah tinggi, gimana mau merasa rendah? Jadi tinggikan diri dulu.
  • Siapa bilang ibu bekerja gak bisa mendidik anak dengan sangat bagus? Bisa! Tapi ada pijakannya:
    • Pahami anak
    • Menguasai ilmu mendidik anak (ini yg dibuat kurikulumnya Bunda Sayang oleh Bu Septi)
    • Memanage diri dan keluarga dengan baik (ini Bunda Cekatan)
  • Jadi si ibu ini bekerja di ranah publik dan juga di ranah domestik.
  • Ketika bersama anak, itulah panggungnya ibu. Ketika di kamar, itu backstage. Bolehlah kalau capek meluapkan kekesalan di backstage. Tapi kalau udah bersama anak, udah naik “panggung” lagi, harus dengan penampilan terbaik. Berangkat kerja rapi, pulang kerja mau ketemu anak juga harus rapi dan bahagia. Misal capek baru pulang dari luar kota, sampai rumah anak ngajak main, ya mainlah dulu barang 5 menit dan bilang, “5 menit aja ya, abis itu ibu mandi dulu, nanti kita main lagi”. Di depan anak harus fresh, nah pas di backstage itu baru deh boleh ekspresiin apa aja kecapekannya.
  • Ibu yang juga bekerja di ranah publik, di publik profesional, di rumah juga profesional.

Acara ini diadakan oleh Fatherhood Forum dan SEMAI 2045, profilnya bisa dilihat di link pada nama masing-masing. SEMAI 2045 bersama Samsung juga membuat aplikasi Android bernama Kakatu, aplikasi media parenting untuk mengontrol dan mengedukasi penggunaan gadget anak, dan ada juga konten2 materi parenting.

Jatuh Cinta

Bagaimanalah ini.. saya jatuh cinta pada mereka 🙂

Pada adik2 kecil di rumah itu. Saya jatuh cinta pada mata bersinar-penasaran mereka waktu melihat saya, juga pada senyum malu2nya kala mendekati. Pada sapa ramah dan tanya, “uti (ukhti) namanya siapa?”. Pada dengung suara dzikir ba’da shalat mereka dengan nada khasnya. Pada suara cempreng dan lantang mereka meski di pagi buta. Pada tubuh2 mungil berbalut mukena warna warni pada tiap awal waktu shalat. Pada keistiqomahan bertahajjud meski minta roka’at sedikit dan bacaan cepat2 saja 😉 Pada wajah segar dengan cemong bedak bahkan sebelum Subuh. Pada peluk hangatnya meski baru sekali bertemu.

Meski saya tau, mereka bisa jadi serupa “monster” kecil sewaktu-waktu, atau bertingkah rempong dan aneh semacam ini:

  • Keluar dari shaf saat shalat jama’ah sudah akan dimulai untuk mengambil mushaf, karena imamnya bilang akan membaca juz 4, jadi dia ingin menyimak dari mushaf. Setelah mushaf di tangan dan kembali ke shaf, malah minta tolong dicarikan juz 4, padahal shalat baru saja dimulai XD
  • Minta izin shalat ba’diyah sambil duduk XD
  • Ada yang lapor ke gurunya: “ustadzaah.. si X shalat ba’diyahnya gak pake ruku! Cepet banget! Langsung sujud!” XD

Sungguh beruntung orang tua yang memiliki anak2 itu. Sungguh beruntung para ustadzah yang setiap hari mengajar dan berinteraksi dengan mereka di rumah itu. Dan sungguh beruntung kita yang memiliki generasi penerus seperti itu *aheey :p

Semoga mereka terus tumbuh sesuai yang Allah mau, dan terus terjaga fitrahnya dalam kebaikan.

Beware of kids.. they can easily make you fall in love 😉

ditulis setelah kunjungan kedua ke sana

Pesantren Tahfidz Daarul Quran Depok

Kalau kamu punya rumah segede gini, mau kamu apain?

rumah2

Huehehe.. serius ini rumah guedenyaa masya Allah 😀 Mupeng saya liatnya juga. Umumnya orang kalau punya rumah begini ya ditinggalin lah ya, atau dijual lagi, tapi sama yang namanya Yusuf Mansur, rumah ini diwakafkan untuk jadi Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an untuk santri SD putri (biasa disebut sighor putri juga. Sighor:kecil). Beliau memang suka mengajarkan begitu, kalau kita berjuang pengen dapat sesuatu (misal rumah), kalau udah dapat jangan terus2an di-keep, tapi di-nol-kan lagi, dikasihin/sedekahin. Saya baru ngerti ternyata logika berpikir seperti ini beliau ambil dari Qur’an. Nanti kapan2 saya tulis di sini 🙂

Alhamdulillah Kamis-Jum’at lalu saya berkesempatan mengunjungi pesantren sighor putri ini. Teman tahfidz intensif saya ada yang stay di sini, jadi saya sekalian aja main ke sana. Di pesantren ini ada sekitar 60 santri putri kelas 1-6 SD. Mereka hanya belajar pelajaran umum selama kurang lebih tiga jam. Sisanya diisi tahfidz dan pelajaran agama.

pesantren

Anak2 ini udah biasa bangun sekitar jam 3.30 kemudian shalat tahajjud berjamaah dipimpin salah seorang dari mereka (ada jadwal giliran). Setelah itu ada yang tidur2an lagi, ada juga yang mandi sambil menunggu subuh. Kemudian mereka shalat subuh berjamaah dipimpin Ustadz yang sekaligus pemimpin pondok pesantren tersebut, namanya ustadz Agus. Setelah shalat, mereka baca dzikir. Sambil ngantuk2 gitu 😀 Kalau udah gitu mereka disuruh berdiri sama ustadznya. Setelah itu harusnya mulai belajar, tapi karena saya ke sana Jum’at, jadi mereka libur.

Di hari Jum’at itu, pas banget ada acara pelepasan ustadz Agus yang mau pergi umroh. Anak2nya dan guru2 dikumpulkan di aula. Saya? Nimbrung dong :))

safar

Di Jum’at pagi itu, ustadz Agus mengisi tausiyah tentang umroh dan meninggalkan pesan untuk anak2. Intinya ustadz Agus bilang, untuk umroh itu, bukan dengan uang yang banyak atau dengan badan yang kuat, tapi dengan do’a. Do’a yang seyakin-yakinnya pada Allah. Ustadz nggak pernah minta diberangkatkan sama Daqu, dan kalau pakai uang sendiri mungkin baru bisa berangkat bertahun2 lagi. Tapi karena kehendak Allah alhamdulillah bisa berangkat. Terus kan sambil diputerin lagu Labbaik ya.. Dari awal anak2 udah sesenggukan tuh.

Sejak Isya kemarin juga ustadz udah mengingatkan anak2, pokoknya ada nggak ada ustadz, kalian harus tetap rajin, kamar tetap bersih dan rapi, bukan karena ustadz, tapi karena Allah. Karena apa? Karena Allah! Ini yang saya suka.. Anak2 itu sejak kecil begitu sudah ditanamkan keyakinan pada Allah. Ustadz juga mengajak berdo’a supaya anak2, para ustadzah, dan keluarganya bisa menyusul ke tanah suci semua. Pokoknya mah, minta aja sama Allah 🙂

Setelah itu semuanya salam2an dan maaf2an. Anak2nya makin sesenggukan deh..hehe. Pun setelah acara usai, mereka masih nangis2 dong, terus ngerubungin ustadznya, kayak yang gak mau ditinggalin. Saking deketnya kali ya 🙂 Alhamdulillah, semoga lancar umrohnya ustadz Agus dan rombongan. Senang sekali bisa berkunjung lagi ke pesantren Daarul Qur’an 🙂

Ilmu & Fitrah

There’s a difference between ‘ilm and ‘ilm that benefits (rushd) most ppl you’ll meet will have ‘ilm but it won’t help them recognize Allah.
Those with true intellect reflect on the subtle signs of Allah ‘azzawajal.
If you look at some of the great philosophers and thinkers from history, you’ll notice that what was triggering them to (almost) recognize Allah, was the same thing that kept them away from really getting there–their intellect.
Similarly, shaytan has more knowledge than all of humanity from the beginning of time, but did his knowledge help him or hurt him?
We ask Allah to make our knowledge an evidence for us and not against us on yaum ul Qiyamah. Allahummah Ameen.

Setelah membaca tweets dari @DawahTips di atas, barulah saya ngeh kenapa Ustadz Nouman pernah bilang begini:

“If you are a bad human being, and you take an Arabic class, you’ll be a bad human being in the end of nine months who can speak a little of Arabic”.

Sebelumnya gak ngeh2 amat karena saya pikir, yang namanya ilmu itu selalu mencerahkan. Kan ada juga yang bilang tuh, kalau hati gak dikasih makan ilmu dalam 3 hari, dia akan mati. Nah berarti kan ilmu itu makanan buat hati. Harusnya setiap kali dikasih ilmu jadi makin sehat hatinya. Eh ya ternyata enggak juga. Tergantung ilmu apa dulu kali ya. Lah kalo ilmu hitam mah bikin hati makin kelam dong ah XD

Bahkan Ustadz Nouman bilang, anak2 yang menghapal Qur’an pun belum tentu baik loh, kalau fitrahnya gak terjaga. Bisa aja mereka main lari2an di halaman masjid, sementara di masjid sedang berlangsung shalat fardhu berjama’ah. Begitu juga ilmu yang dimiliki ulama ya. Kalau fitrahnya gak terjaga mungkin juga dia bisa lupa bahwa dia hanyalah hamba. “Knowledge can be very convincing, even for the wrong things“. Orang berilmu bisa aja tampil sangat meyakinkan, tapi belum tentu dia baik. Ilmu itu gak bikin dia jadi orang baik, kalau fitrahnya udah rusak/tercemar.

Apa sih fitrah itu? Kalo diibaratin komputer, kita ini ketika diciptakan adalah komputer2 yang di dalamnya udah diinstall sebuah software berjudul Fitrah. Software ini berisi nilai2 dasar kemanusiaan, kepantasan, kebaikan, yang berujung pada mengesakan Allah. Itu menurut bahasa saya..huehehe. Kalau diambil dari glossary di suhaibwebb.com katanya begini: An innate disposition towards virtue, knowledge, and the oneness of God. Muslims believe every child is born with fitrah. Kecenderungan bawaan yang menuju pada kebajikan. Begitu lah ya terjemahnya..hehe. Jadi pada dasarnya semua orang terlahir dengan kecenderungan untuk menuju kebaikan.

Nah masalah dimulai ketika nih orang (kita2 sih maksudnya) mulai mengenal dunia. Baik dikenalkan/diajari oleh orangtuanya, atau kemudian ia belajar sendiri. Di sinilah tantangannya, dan di sinilah ujiannya. Kalau hidup kagak ada ujiannya, dari mana kita bisa dinilai? Wong pas lahir posisinya semua sama. Namun ketika diuji itulah, baru keliatan kualitasnya, mana yang tetap dalam fitrahnya, dan mana yang lama2 melepaskannya. Ujian ilmu hanyalah salah satunya.

Kalo ngomongin fitrah, panjang buener deh kayaknya.. Ustadz Nouman sudah membahasnya di video di bawah ini.

Dari video di atas, saya catat setidaknya ada lima hal yang harus diperhatikan untuk menjaga fitrah (terutama ini dari orang tua pada anak):

  1. Sense of purpose. Harus menanamkan dan memberi arahan tentang tujuan hidup, biar kagak gaje (gajelas) hidupnya. Bener banget sih.. orang2 yang ngabisin waktu tawuran, narkobaan, dugem, kemungkinan besar gak jelas tujuan hidupnya.
  2. Good company. Tanamkan untuk punya teman2 yang baik. Gile bok jaman sekarang, anak SD aje punya HP canggih2 isinya porno2an 😦
  3. Hands-on lessons. Beri pelajaran sekaligus praktekkan. Jadi teladan, jadi contoh yang baik. Jadi inget Ustadz Nouman pernah bilang, setiap kali dia masukin sedekah ke kotak sumbangan, yang teringat di benaknya adalah betapa dulu ayahnya mengajari Nouman kecil untuk memasukkan uang ke kotak sumbangan kalau mereka ke masjid 🙂
  4. Respect. Ajari untuk menghormati siapapun, terutama orang yang lebih tua.
  5. Reflection. Punya kesadaran diri yang baik. Ada waktu2 di mana kita harus refleksi, muhasabah bahasa kerennya mah, untuk mengevaluasi diri, merenungkan kesalahan2, menata diri jadi lebih baik.

Semoga kita termasuk orang2 yang berada dalam fitrah yang lurus 🙂

Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS ar-Rum [30]: 30)