[Ilmfest 2014] Yasir Qadhi: The Husband

  • Mawaddah is tender, caring, nurturing love
  • Hubb can be selfish love
  • Ikatan antar suami istri itu… yang tadinya gak kenal sama sekali, terus dipertemukan oleh Allah, menikah.. tapi suami istri itu bisa lebih dicintai daripada saudara kandung sendiri. Dari mana ikatan yang kuat itu? Allah yang menaruhnya di situ.
  • Two persons can love each other but say/speak different language of love. Which language i use to give to others? which language i want to receive from others?

The 5 language of love:

  1. Verbal. You say something that demonstrates love.
    1. “I love you” must be continuously said. It is sunnah to verbalize love. Woman loves to receive this language, but man is difficult to give it. Rasulullah aja bisa bilang di depan para sahabat bahwa beliau mencintai Aisyah.
    2. Words of appreciation, praising spouse. Bilang ke istri, “ini masakan terenak”, “kamu wanita tercantik”. Meskipun itu kebohongan, tapi itu kebohongan yang diperbolehkan.
  2. Spending quality time together. The husband thinks of quantity, wife thinks of quality (undivided attention). Schedule quality times with the person who deserves more than the husband’s friends (i.e. the wife). Rasulullah setelah pulang dari ekspedisi dengan pasukannya bilang pada mereka agar jalan duluan, supaya beliau bisa bersama dengan Aisyah. When you listen, try to genuinely pay attention.
  3. Giving gifts. Tahaddu, tahabbu. Give gifts, so you can love each other. Untuk istri: kalau dikasih hadiah, hindari respon seperti, “oh ya ampun, beneran buatku? ini kan mahal.. uangnya bisa buat beli yang lain..dst”. Untuk suami yang ngasih hadiah, ignore her reaction. Wanita lebih suka hadiah yang sering meski nilainya kecil, dan gak harus bernilai uang. Best gift coula be a poem. Men wants fancy expensive gift but less in frequency (misal setahun sekali tapi besar).
  4. Help each other. Do the household chores. Take care of each other’s needs. Umumnya, perempuan mengurus urusan rumah tangga, dan laki2 mengurus finansial. Meski suami tidak menunjukkan bahasa cinta dengan membantu urusan RT, tapi dia memberikan penghasilannya untuk keluarga. Itu juga tanda cintanya. Jangan bilang suami gak cinta kalau dia gak mengerjakan pekerjaan RT. Tapi kalau mau mencontoh Rasulullah SAW ya.. beliau juga ikut mengerjakan pekerjaan RT. Ini juga menunjukkan bahwa istri itu bukan pembantunya suami.
  5. Sexuality, intimacy.
    1. Non-sexual touching: hug, kiss, squeeze on shoulders. Not every touch leads to bedroom. Dan suami jangan menyentuh istri kalau butuh doang.
    2. Sexual intimacy: adalah bahasa yang paling sering ingin diterima laki2. Makanya istri gak boleh menolak kalau suami meminta.

In marriage, it’s not about winning the argument. It’s about winning the marriage.

Dan pernikahan harus dijaga, harus diusahakan oleh kedua belah pihak.

yasir qadhi 2

photo source: Qabeelat Ihsan

[Sold Out][Buku] 5 Guru Kecilku

Dari semua emak2 super yang suka sharing tentang parenting, kayaknya saya paling suka Teh Kiki Barkiah 😀 Terutama sih karena beliau tauhidnya kuat banget dan itu yang ditanamkan ke anak2nya. Ruh ini yang selalu ada di tulisan2nya.. Benar2 menjaga fitrah, bukan cuma sekedar anak bisa shalat, bisa ngaji, hafal sekian juz, tapi tauhidnya kosong melompong. Di buku ini banyak hal2 prinsip maupun teknis yang diterapkan Teh Kiki di keluarganya. Dan ituh semuaa…keren2!

—————————-

Buku ini bukanlah buku teori parenting, buku ini adalah buku bagaimana teori parenting dapat diaplikasikan dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Buku ini mengangkat kisah-kisah seputar pengasuhan anak yang mungkin sangat umum terjadi dalam keluarga. Namun atas petunjuk Allah SWT penulis mampu menyibak rahasia dan mengumpulkan hikmah yang berserak dari setiap permasalahan yang dihadapi dalam pengasuhan anak sehingga menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua.

Buku ini tidak hanya memberikan teladan dalam mengatasi berbagai konflik yang spesifik seputar pengasuhan anak, namun juga memberikan hikmah yang dapat menjadi ruh dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan lainnya. Meskipun permasalahan yang diangkat adalah seputar pengasuhan anak usia dini dan remaja, namun hikmah yang tergali dapat menjadi pelajaran berharga bagi orang tua dengan segala usia.

5gk

Judul Buku: 5 Guru Kecilku
Penulis: Kiki Barkiah
Penerbit: Mastakka Publishing
Spesifikasi: +- 241 halaman
Harga: Rp 75.000 (belum termasuk ongkir)

Dengan membeli buku ini, kamu sudah ikut berdonasi untuk RPPI lho! Lihat info tentang RPPI (Rumah Peradaban Pelajar Indonesia) di sini: www.rumahpelajar.com. Kalau mau berdonasi lebih? Boleh banget! 🙂

CP: Hening 0895-0455-9629 (whatsapp) atau email: heninggar at gmail dot com

[Film] Salah Sedekah

Film Salah Sedekah adalah Film yang menceritakan tentang pemuda yang sudah 6 bulan terus bersedekah namun belum doanya belum juga dijawab oleh Allah SWT.

Film ini didukung oleh PPPA Daarul Qur’an dan DAQU Movie

Barusan nonton film ini. Huaaaa baguuuus! Film-nya Want Production emang bagus2 sih. Tapi yang ini dapet banget feel-nya. Mulai pas kakaknya marah2 di meja makan, terus adiknya yang kecil nangis. Gw jadi ikut sedih 😦 *hahaha baper banget deh gw* Terus kata2 bapak penyapu jalan itu ya nyess banget, “Kayak anak saya yang ngambek kalau gak dikasih upah/hadiah setelah dia bantuin saya dan istri di rumah. Padahal kan kami lagi nabung buat beliin dia sepeda. Kata orang sekarang mah, surprise. Mungkin Allah juga pengen ngasih surprise ke mas” *kata2 gak sama persis* Sampai akhirnya dia ketemu temen bapaknya di rumah sakit. Jreeeng, terungkap deh surprise-nya.

Film ini pendek, sederhana, tapi seperti miniatur hidup kita. Menggambarkan bagaimana hidup kita, bagaimana sikap kita ke Allah, dan bagaimana sebenarnya Allah selalu menolong kita. Masya Allah. Thumbs up for Want Production. Semoga istiqomah menelurkan karya2 berkualitas! Barakallahu fiikum 🙂

whatever stage in life

“Whatever stage you are in life, make a conscious decision that at that stage you will grow closer to Allah” -Dr. Farhan Abdul Azeez @ Young Muslim’s Youth Conference 2015

 

Fatherhood Forum V: Make A Great Family

Catatan sesi 1 | Keluarga: Tempat Terbaik Memulai Aktualisasi Diri
oleh Pak Dodik Marianto & Ibu Septi Peni Wulandani
Kamis, 14 Mei 2015 @ Hotel Mitra Bandung

  • Orang menjadi hebat setelah berlatih selama 10.000 jam, kira-kira 4-5 tahun. Kalau dalam 5 tahun belum jadi ahli, maka ada yang salah dalam prosesnya.
  • Bagaimana mereka menghebatkan keluarga mereka?
  • Apa bedanya kumpulan orang di pasar dengan sebuah tim?
    • Di pasar: orang punya tujuan sendiri-sendiri, tata nilai sendiri-sendiri, bergerak sendiri-sendiri, dan bersuara.
    • Di dalam tim: orang yang memiliki tujuan bersama, tata nilai bersama, gerak yang terkoordinasi, dan berkomunikasi bukan sekedar bersuara.
    • Evaluasi keluarga masing-masing, sudahkah menjadi tim, atau seperti pasar?
  • “Apakah Anda menikahi orang hebar?”. Waktu dilamar Pak Dodik, yang bikin Bu Septi mau menerima adalah 1) Ganteng.. hahaha, 2) Punya prinsip, dan Bu Septi merasa, “ini dia imam saya”. Oh ya, Pak Dodik pas melamar itu minta nanti Bu Septi yang mendidik anak-anak, jadi harus melepaskan pekerjaannya (saat itu udah diterima jadi PNS). Kalau menurut Anda pasangan Anda adalah orang hebat, perlakukan dia sesuai prasangkaan itu. Gimana sih memperlakukan orang hebat? Perlakukan dengan baik, sikap terbaik, waktu terbaik, dll.
  • Yang harus diperhatikan dalam mendidik anak: talent, attitude, skill, knowledge.
  • Tahapan pendidikan anak yang dilakukan di keluarga mereka:
    • Usia 2-7: Tour de talent, main, berkunjung dan melihat orang-orang dengan berbagai profesi. Bertemu orang sukses bukan dalam urusan materi ya, tapi mereka yang bahagia karena mengerjakan passion-nya [kaya wawasan]
    • Usia 7-10: mencoba2, gonta ganti kegiatan. Banyak bertanya, “mengapa”, “mengapa tidak”, “bagaimana jika” [kaya gagasan]
    • Usia 10-14: memilih dan settle dengan pilihannya [kaya aktivitas]
    • Usia > 14th: sudah menemukan dirinya sebagai aqil baligh yang sudah menemukan sesuatu yang “ini gue banget”, udah menemukan passion-nya apa.
  • Pilihkan tempat dan lingkungan untuk tumbuh kembang anak sesuai dengan karakternya. Misal, ibarat pohon jati yang optimal tumbuh di tanah yang keras, kalau ada anak yang “keras”, kuat seperti pohon jati, dia harus terus dikasih tantangan. Termasuk memilihkan lingkungan yang baik bagi Pak Dodik adalah membawa keluarganya untuk tinggal di Salatiga, karena di sana values & lingkungan masih lebih bersahabat, gak seperti di ibukota dan sekitarnya (misalnya, di sana gak curigaan, lebih bersahabat, suka menolong, dll).
  • Yang harus suami lakukan: do the right things. Tugas istri kalau suami sudah menjalankan tugasnya: taat.
  • Balancing peran sebagai perempuan-istri-ibu
    • Bu Septi membuat program 7 to 7. Jadi meskipun kerja di rumah dan mengerjakan pekerjaan RT, tetap rapi seperti ke kantor. Membangun kebiasaan tersebut minimal 90 hari (baru jadi kebiasaan).
    • Tentukan prioritas: rumah rapi? pendidikan anak? makanan selalu tersedia? Kalau misalnya prioritas adalah pendidikan anak, maka standar pada 2 hal yang lainnya bisa diturunkan (jadi gak stress karena saking perfeksionis pengen sempurna di semua hal)
  • Kalau kita sedang terengah-engah, kecapekan, itu artinya kita sedang jalan menuju puncak. Tapi kalau lagi lempeng, enak, tanpa effort pun sampai tujuan, hati-hati, itu berarti kita sedang jalan menurun. Kalau sudah mencapai puncak, stop, buat dan tanjaki puncak lainnya.
  • Kalau kita keras pada diri sendiri, lingkungan akan lunak pada kita. Tapi kalau kita lunak pada diri sendiri, lingkungan akan keras pada kita.
  • Bagaimana cara mengetahui bakat anak? Kita gak akan pernah tahu sampai dieksplor, dan bagaimana mengeksplornya? Pertama luaskan wawasan anak (lihat periode usia 2-7 tahun di atas). Kalau nanti dia sudah menemukan passion-nya, bekerja akan seperti bermain, tidak memisahkan bekerja dengan refreshing. Sekarang banyak orang dewasa yang “tersiksa” dengan pekerjaannya, kalau Jumat senang, kalau Minggu sore/malam stress karena besok udah Senin lagi. Itu bisa jadi karena mengerjakan yang bukan passion-nya.
  • Kalau anak ditanya “bakat kamu apa?”, mereka gak ngerti bahasa itu. Makanya anak disuruh icip2 dulu. Nah selama proses eksplorasi itu, jangan beliin yang mahal2. Misal, anak lagi suka fotografi, jangan langsung beliin kamera mahal.
  • Bagaimana kalau tinggal serumah sama ortu dan pola asuhnya berbeda dengan yang kita inginkan? Ortu dikasih peran juga (dalam pengasuhan), tapi buku bacaannya, tontonannya, disamakan dengan kita. Ajak ke seminar2, supaya satu frekuensi. Serumah dengan ortu di waktu tumbuh kembang anak itu rawan durhaka (kecuali kalau anak2 udah besar, itu lain cerita).
  • Sedari kecil anak dilatih jadi decision maker/mengambil keputusan. Ditanya dari mulai mau milih makan apa, milih sekolah/belajar di mana, dst.
  • Sekolah itu hanya bagian kecil dari “iqro” dan “tholabul ilmi”. Di Quran gak ada perintah sekolah, adanya perintah baca dan mencari ilmu. Jadi jangan sempitkan belajar dengan harus di sekolah (anak2 Bu Septi milih homeschooling semua btw).
  • Kalau ibu sibuk, bagaimana menjalankan tour de talent untuk anak? Bu Septi memasukkan agenda tour de talent ke jadwal beliau mengisi seminar di mana2. Kalau ada undangan seminar, selalu ditanya, apakah itu untuk Bu Septi sendiri? Kalau iya, gak diizinin Pak Dodik. Jadi ditanya “anak2 bisa lebih hebat gimana kalau kamu ambil kesempatan itu?”. (Jadi usahakan kegiatan pribadi yang bisa dimasukkan pendidikan ke anak)
  • Harus disiplin manajemen waktu.
  • Bagaimana cara membuat istri taat? Taat itu kan sebenarnya udah perintah dari Allah. Kalau dari sisi manusiawinya, manusia pada dasarnya: 1) seeking pleasures, 2) avoiding pains. Jadi mungkin kedua hal itu bisa diterapkan untuk membuat seseorang mau taat.
  • Bagaimana menyikapi kebesaran seorang istri? Misal istri lebih aktif dan terkenal daripada suami (pernah saking terkenalnya Bu Septi, Pak Dodik sampai dipanggil Pak Septi). Suami harus merasa “tinggi” (bukan dalam arti sombong tapi yey). Kalau sudah tinggi, gimana mau merasa rendah? Jadi tinggikan diri dulu.
  • Siapa bilang ibu bekerja gak bisa mendidik anak dengan sangat bagus? Bisa! Tapi ada pijakannya:
    • Pahami anak
    • Menguasai ilmu mendidik anak (ini yg dibuat kurikulumnya Bunda Sayang oleh Bu Septi)
    • Memanage diri dan keluarga dengan baik (ini Bunda Cekatan)
  • Jadi si ibu ini bekerja di ranah publik dan juga di ranah domestik.
  • Ketika bersama anak, itulah panggungnya ibu. Ketika di kamar, itu backstage. Bolehlah kalau capek meluapkan kekesalan di backstage. Tapi kalau udah bersama anak, udah naik “panggung” lagi, harus dengan penampilan terbaik. Berangkat kerja rapi, pulang kerja mau ketemu anak juga harus rapi dan bahagia. Misal capek baru pulang dari luar kota, sampai rumah anak ngajak main, ya mainlah dulu barang 5 menit dan bilang, “5 menit aja ya, abis itu ibu mandi dulu, nanti kita main lagi”. Di depan anak harus fresh, nah pas di backstage itu baru deh boleh ekspresiin apa aja kecapekannya.
  • Ibu yang juga bekerja di ranah publik, di publik profesional, di rumah juga profesional.

Acara ini diadakan oleh Fatherhood Forum dan SEMAI 2045, profilnya bisa dilihat di link pada nama masing-masing. SEMAI 2045 bersama Samsung juga membuat aplikasi Android bernama Kakatu, aplikasi media parenting untuk mengontrol dan mengedukasi penggunaan gadget anak, dan ada juga konten2 materi parenting.