Ilmu itu ya, dibagi!

Artikel ini disertakan dalam lomba blog IGOS Summit 2, kategori mahasiswa dengan tema โ€œAku Ingin Sekolahku / Kampusku Aktif Mengajarkan Free/Open Source Software (FOSS)โ€œ

Judul di atas bisa dengan mudah kita temukan di blog POSS UI (Pendayagunaan Open Source Software Universitas Indonesia). Jargon POSS UI itu menggambarkan semangat berbagi ilmu melaluipengembangan dan penggunaan Open Source Software (OSS). Hmm.. apaan sih OSS itu? Menurut The Open Source Initiative dalam The Open Source Definition, setidaknya ada sepuluh kriteria OSS.Namun, untuk menyederhanakan, kita artikan saja OSS sebagai software komputer yang menyertakan source code (kode program) dan mengizinkan kita untuk melakukan apa saja dengannya. Bebas digunakan, bebas dimodifikasi, dan bebas disebarluaskan. Berbeda dengan proprietary software yang penggunaan, modifikasi, dan penyebarannya diatur oleh si pembuatnya.

OSS telah menjadi kekuatan dan potensi tersendiri dalam dunia teknologi informasi (TI), terutama pengembangan software. Gimana nggak, kita bisa menggunakan software gratis! Kualitasnya pun nggak kalah sama yang proprietary. Dengan demikian, makin banyak orang yang bisa menggunakan OSS dan mendapatkan ilmu dengannya. Sehingga pada akhirnya nggak ada lagi kesenjangan TI, karena semua orang bisa menikmati kemudahan penggunaan software dan ilmu bisa terus mengalir dan menyebar. Untuk pengembang software sendiri, OSS memberikan kemudahan untuk terus berinovasi dan berkreasi tanpa perlu khawatir biaya pengembangan yang tinggi. Bayangkan kalau orang Indonesia bisa mengembangkan OSS. Kita nggak perlu mengimpor software dari luar negeri. Cukup pakai software buatan dalam negeri, dan dampak positifnya, wah.. banyak! Menghemat devisa negara, memajukan industri software lokal, meningkatkan daya saing bangsa dalam bidang TI, dan lain sebagainya.

Sangat disayangkan, di Indonesia masih sedikit yang menggunakan OSS. Dari voting di Blog Telematika Indonesia, didapatkan hasil bahwa yang menggunakan sistem operasi Linux dan aplikasi open source hanya sebanyak 11% dari total 1028 orang yang ikut voting. Sedangkan yang menggunakan sistem operasi dan aplikasi bajakan masih mendominasi, yaitu sebesar 82%. Padahal pemerintah Indonesia sudah mencanangkan program Indonesia, Go Open Source (IGOS) sejak empat tahun lalu. Namun mungkin sosialisasinya masih kurang. Saya pernah mengadakan survey di kampus saya, Fakultas Ilmu Komputer UI. Ternyata dari 10 orang mahasiswa yang disurvey, 55% tidak tahu apa itu IGOS. Bagaimana dengan masyarakat Indonesia yang lainnya? Mungkin lebih banyak lagi yang tidak tahu IGOS dan OSS.

Karena itu, upaya sosialisasi dan pengajarkan OSS perlu terus dilakukan. Dunia pendidikan merupakan tempat yang tepat untuk memulai, karena di sinilah tempat ilmu mengalir. Saya pernah membaca bahwa OSS sudah masuk ke dalam kurikulum pengajaran TIK di sekolah-sekolah. Hal tersebut merupakan langkah yang sangat baik untuk mengenalkan OSS sedini mungkin. Lalu bagaimana dengan perguruan tinggi? Saat ini di beberapa perguruan tinggi sudah berdiri POSS yang memiliki fungsi untuk mendayagunakan OSS, misalnya dengan mengembangkan produk, menjadi pusat konsultasi, memberikan pelatihan, dan memasyarakatkan OSS. POSS UI sendiri sudah ada sejak tahun lalu, namun saya sendiri menilai kegiatannya masih kurang “terdengar”. Sosialisasi di UI pun masih kurang.

Banyak hal yang bisa dilakukan dalam upaya sosialisasi dan pengajaran OSS di kampus UI. Upaya ini bisa dibagi dalam dua hal, ke dalam UI dan ke luar UI. Untuk ke dalam UI, banyak pihak yang bisa diberdayagunakan selain POSS UI. UI memiliki komunitas studi LINUX (KSL) yang aktif berbagi ilmu lewat mailing list ataupun pertemuan-pertemuan. Kedua komunitas ini, POSS dan KSL, bisa bersinergi untuk mensosialisasikan OSS pada civitas UI. Selama ini yang saya rasakan, heboh-hebohnya produk baru atau kecanggihan OSS baru tersebar di kalangan pecinta OSS saja. Hal ini wajar, karena mereka memang sudah memiliki ketertarikan pada OSS. Namun pada orang lain yang belum akrab dengan OSS, bahkan belum tahu apa itu OSS, perlu pendekatan dan upaya sosialisasi yang lebih friendly. Banyak bentuk publikasi yang bisa digunakan, di antaranya blog atau website, buletin, poster, dan lain sebagainya. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam sosialisasi tersebut, adalah tidak langsung menggunakan bahasa teknis yang masih asing bagi orang yang belum tahu OSS. Untuk strategi sosialisasi, mungkin bisa minta bantuan pada mahasiswa Ilmu Komunikasi yang lebih ahli ๐Ÿ™‚ Upaya sosialisasi ini juga bisa dilakukan dengan menggandeng organisasi mahasiswa seperti BEM. Bayangkan jika di setiap edisi BEM Media, buletinnya BEM UI, ada space kecil saja yang memuat tulisan atau logo “BEM UI mendukung IGOS! Ayo pakai Open Source!” ๐Ÿ™‚ Tentu dampaknya bisa lebih luas menyentuh mahasiswa.

Selain upaya sosialisasi, pengajaran OSS juga bisa dilakukan di kampus. Misalnya dengan mengadakan training atau pelatihan open source untuk mahasiswa atau untuk pengurus organisasi dan staf/dosen UI. Sebuah langkah yang baik telah dilakukan Fasilkom, yaitu dengan mengajarkan LINUX pada mahasiswa baru saat acara masa bimbingan mahasiswa baru. Selain ke dalam UI, pengajaran OSS juga bisa diberikan pada masyarakat di luar UI, khususnya siswa sekolah. Hal ini juga bisa menjadi bentuk pengabdian civitas UI kepada masyarakat sekitar.

Pasti asik sekali kalau di UI banyak yang belajar dan mengajarkan OSS. Selain menjadi upaya mendukung IGOS, hal itu juga bisa menjadi upaya untuk mengurangi pembajakan software, karena mudah-mudahan banyak orang yang bisa berpindah dari menggunakan software bajakan ke OSS. Dampak jangka panjangnya, seperti yang sudah saya sebutkan di atas juga, ini adalah upaya membangun kekuatan TI Indonesia. Ayo bangkitkan TI Indonesia dengan berbagi ilmu lewat open source software!

Advertisements