Problems In Life

Do you have problems in life?

Pastinya.

Pernah ga berpikir, seandainya masalah ini hilang, tentu hidup saya akan baik2 aja?

Padahal, kalau masalah yang ini hilang, nanti akan muncul masalah lainnya. Problems after problems after problems. Kehidupan para Nabi aja begitu.. penuh masalah. Padahal kurang beriman apa mereka. Tapi hidupnya gak lepas dari masalah.

Kalau tau masalah akan selalu ada sepanjang hidup, dan yang kita butuhkan bukanlah segera selesainya masalah itu, lalu apa dong yang paling kita butuhkan?

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghobun: 11)

Yahdi qolbah“, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.

His Guidance. PetunjukNya. Itulah yang akan membuat masalah seberat apapun jadi terasa ringan, hati pun tenang.

Kita minta mobil, Allah mungkin ga kasih. Kita minta sembuh, mungkin Allah belum menyembuhkan. Karena itulah yang terbaik bagi kita saat itu. Tapi kalau kita menghadap Allah dengan hati yang tulus, mengharap petunjukNya, ga mungkin Allah ga kasih. Dan itulah hadiah terindah dari masalah2 yang menimpa kita. Bukan selesainya masalah, tapi petunjukNya.

People are stuck, you’re stuck, i’m stuck. In some situation we don’t see a way out. Those difficult situations are actually Allah’s way of giving us the most valuable gift we can ever earn, His way of guiding our hearts.

Semakin tinggi, semakin agung, dan semakin besar tujuan hidup kita, akan semakin ringan pula kita menjalani hidup. Meskipun ujian demi ujian, kepahitan demi kepahitan datang bertubi-tubi. Maka saudaraku, jadikanlah Allah Azza wa Jalla sebagai tujuan hidup kita. Sungguh, tiada yang lebih agung, lebih mulia, lebih besar dari Dia. Kejarlah ridha dan cinta-Nya. Semakin kita gigih […]

Salim A. Fillah: Mengemudi Hati

Ini tulisan Salim A. Fillah.. baguuus:

Inilah tugas kehambaan kita; mengemudi hati menuju Allah. Alangkah berat & peliknya; sebab ia qalb; bergoyah-gayih, berbolak-balik.

Maka dalam doa teragung nan tercantum di Ummul Kitab & terucap di tiap raka’at; kita memohon jalan yang lurus. Lurus menuju padaNya.

Tapi yang sering lupa diinsyafi; jalan yang lurus ke langit itu, di bumi justru berkelok, curam, terjal, menikung, &bergelombang.

Sebab ia adalah “Shirathalladzina an’amTa ‘alaihim”; jalan orang-orang yang Allah beri nikmat. Al Quran mengisahkannya dengan syahdu.

Kisah-kisah itu; yang mengambil bahagian terbesar dalam Al Quran; membentang dari Adam hingga Muhammad; semua menceritakan lika-liku.

Maka ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yang Kau limpahi cinta; dalam sempit maupun lapangnya, senyum dan juga lukanya.

Maka Ya Allah, walau tak Kau kayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniai kami syukur dan tawadhu’nya, yang hormati semut serta burung Hud-hud.

Maka Ya Allah, walau tak Kau beri kami daya raga dan keajaiban seperkasa Musa, curahi kami keberanian dan keteguhannya memimpin kaum yang sering membuat kecewa.

Maka Ya Allah, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da’wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikan kebenaran dalam aneka cara.

Maka Ya Allah, walau paras tak setampan Yusuf rupawan, kuatkan diri kami menahan semua goda dan derita, tajamkan nuraninya hingga mampu membaikkan negeri.

Maka Ya Allah, walau keajaiban tak selalu sertai perjalanan, penuhi hati kami dengan kasih mesra seperti ‘Isa, hingga tunduklah musuh dalam cinta.

Maka Ya Allah, walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya Kaudengarkan.

Maka Ya Allah, walau tak usah mengalami kehilangan, dicekik sakit, miskin, dan musibah; sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yang tabah.

Maka Ya Allah; walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar, dan Sarah; limpahi keluarga kami dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah, dengan keturunan yang shalih serta shalihah.

Maka Ya Allah, walau ibadah tak seterpelihara Zakaria dan kesucian tak seterjaga Maryam; nikmatkan bagi kami bakti anak mulia seperti Yahya dan ‘Isa.

Maka Ya Allah, walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa surga sebelum surga, terimalah taubat atas segala dosa.

Maka Ya Allah, walau hidup tak sepedas-pedih warna-warni hayat Ya’qub, jadikan kami hanya mengadu padaMu semata, hingga menampilkan kesabaran cantik yang mencahaya.

Maka Ya Allah, walau tak harus lari dan bersembunyi sebagaimana para Ashabul Kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al Haq di depan tirani.

Maka Ya Allah, walau kerajaan tak seluas Dzul Qarnain, curahi kami akhlaq pemimpin; yang senantiasa menyeru pada iman, membebaskan ummat, serta menebar manfaat.

Maka Ya Allah, walau jangan sampai Kau karuniai pasangan yang mirip Fir’aun, teguhkan kami bagai Asiyah yang mukminah, anugerahkan rumah di sisiMu di dalam surga.

Maka Ya Allah, walau persoalan hidup tak sepelik yang dialami Ibunda Musa, bisikkan selalu kejernihanMu di firasat kami saat menghadapi musykilnya hari-hari.

Maka Ya Allah, walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al Hakim; tajamkan fikir dan rasa kami untuk mengambil ‘ibrah di setiap kejadian.

Maka Ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan.

Always A Traveller

Mizzz Nina. Saya baru tau orang ini karena ada teman yang share video acara-acara yang dibawakannya, seperti Beyond Translation dan Always A Traveller. Saya kira dia presenter muslimah biasa aja, ternyata dia punya kisah hijrah yang woow. Sebelumnya, Mizz Nina adalah seorang pop star di Malaysia *bayangin Agnezmo..haha* terus tiba2 (ya nggak tiba2 sih) pake hijab aja, kemudian meninggalkan gemerlap dunia hiburan.

Saya kurang tau Always A Traveller itu totalnya ada berapa episode/season. Saya baru nonton episode 1-3, yang mendokumentasikan perjalanan Mizz Nina dalam acara IlmTour seminggu di New Zealand bersama ustadzah Yasmin Mogahed dan ustadz Navaid Aziz. *men, asik banget seminggu liqo terus sama teteh Yasmin X)

Ini video yang episode 3. Di sini, awalnya Mizz Nina dan Yasmin membahas tentang pernikahan dan pendidikan anak, kemudian Yasmin membahas QS Al Hadid: 20. Di akhir tayangan, Mizz Nina menceritakan tentang hidupnya.. Yang mana.. dia gak tau tuh awalnya bahwa kita hidup ini tujuannya apa. Gak tau bahwa kita itu hidup ya untuk Allah, dan untuk membangun jembatan ke surgaNya. Sekarang, dia bersemangat sekali belajar Islam, dan ingin mengajak orang2 untuk sama2 ke surgaNya Allah. Dan ada satu kalimat yang nyesss banget:

Being His slave really sets me free.

Menjadi hamba Allah benar2 membebaskan saya.

Iyaa benar banget! Kalau ada satu hal sama yang diajarkan sama ustadz Nouman, teteh Yasmin, sampai Aa Gym dan Yusuf Mansur pada saya, hal itu adalah: benar2 menjadi hamba Allah. Hal ini sangat menolong saya dalam banyak hal. Saya jadi punya cara pandang dan sikap baru yang benar2 membantu saya lebih tenang dan lebih baik menjalani hidup. Membebaskan diri dari ilah/sembahan lainnya yang bikin gak tenang. Menjadi hamba Allah benar2 membebaskan! 🙂

Keep Calm and Trust Allah

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid: 22-23)

“Kalau seseorang memahami bahwa semua yang terjadi telah ditakdirkan, dirancang, dan diketahui Allah, maka dia akan merasa tentang dan tentram dalam menghadapinya. Dia berlalu bersama takdir Allah dengan kepatuhan dan kerelaan. Kerelaan yang bijak, yang memahami bahwa perkara yang telah terjadi merupakan sesuatu yang semestinya terjadi.” (dari Fi Zhilalil Quran)

“Andaikan kamu tau bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya” (Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah)

so keep calm, everything is under (Allah’s) control!