After Eid

Berhubung ini tulisan pertama sejak Idul Fitri kemarin, meski sudah telat sekali, izinkanlah saya mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua. Mumpung masih bulan Syawal, semoga kita bisa melengkapi puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal ya.. aamiin! Oh ya, saya mau mengaku salah dulu nih karena gak bisa memenuhi target nulis tadabbur Quran setiap hari di blog ini selama Ramadhan kemarin. Cuma sampai 12 tulisan aja, itu pun banyak yang dirapel. Mohon maaf lahir dan batin 😄

Jadi setelah Idul Fitri ini ada beberapa hal yang berkecamuk di kepala *halah* karena emang sengaja ditunda mikirin/ngerjainnya setelah Ramadhan. Dimulai dari ini deh: saya takut. Saya merasa takut dan khawatir tentang suatu peluang/tantangan yang  mau saya ambil. Buanyak mikirnya deh, merasa ragu, bingung, gak percaya diri, dsb. Lalu kemudian saya jadi bingung.. kenapa saya jadi penakut begini? Apakah selama ini saya memang terlalu nyaman, ngejalanin rutinitas yang nyaris tanpa tantangan?

Kemudian jadi ingat waktu masa sekolah-kuliah kan kita masuk ke dalam sebuah sistem dan “dipaksa” mengikuti alur di dalamnya. Mau ga mau kita menghadapi tantangan yang namanya tugas, ujian, skripsi, sidang. Tantangan yang sebenarnya kalau boleh milih, mungkin enakan diskip aja, gak perlu dijalanin. Tapi karena kita punya tujuan (setidaknya untuk lulus), tetap harus dijalani. Setelah lulus, kita lepas dari sistem itu, kita bebas bikin alur sendiri. Gak ada yang maksa harus ikut ujian, gak ada yang mewajibkan sidang. Semua begitu bebas terserah kita. Mau ambil jalan yang lempeng aja, nyaman tanpa tantangan, atau memberanikan diri mengambil jalan sebaliknya.

Kata Bu Septi begini: “Hidup itu seperti naik sepeda. Saat kita terengah2, perlu tenaga besar, maka kita sedang dalam perjalanan naik. Tapi kalau hidup kita datar aja, ga perlu energi besar tapi tetap berjalan, maka kita sedang dalam perjalanan turun. Karena itu, temukan gunung lain untuk ditanjaki!”

Serius buuu? Harus naik gunung nih? Hahahah.. Ya benar sih hidup butuh tantangan, perlu gunung2 baru untuk ditanjaki. Tapi pertanyaannya, gunung apa yang akan kita pilih? Tentunya yang sesuai dengan visi hidup kan ya ya ya? Dengan gambaran besar kita sebenarnya mau jadi apa. Nah gambaran gw itu belum jelas jadi masih suka bingung -_-

Anyway, ada beberapa hal yang dipelajari sih dari peristiwa rungsing kebanyakan mikir kemarin2.. Bahwa sebenarnya yang bener itu bukan banyak mikir, apalagi mikirin hal2 yang belum tentu terjadi alias khawatiran. Ada ajaran Islam yang keren banget yaitu tawakkal. Di suatu artikel yang gw baca, tawakkal itu berarti kita bekerja keras, di luar kita mungkin terlihat rusuh bekerja dan berusaha, tapi di dalam hati tenang. Tenang, karena yakin sama Allah, bahwa Allah akan menolong dan memberikan yang terbaik. Lah gw mah kebalikannya, usaha belom, kebanyakan mikir iya, jadi we rungsing sorangan.

Kemudian jadi ingat lagi tentang ‘uluwwul himmah, bahwa sebagai Muslim kita harus bercita2 besar. Ingat lagi ceramahnya Yasir Qadhi yang ini, ceramah2nya ustadz Nouman, dll, yang mana saya menyimpulkan bahwa Islam memang mengajarkan supaya kita meraih lebih tinggi ya T_T Sebenarnya orang yang punya cita2 besar itu gak ada yang bisa menjamin dia akan sukses meraih cita2nya kan. Tapi dengan dia menetapkan cita2 itu, sebenarnya dia udah menaruh harapan pada dirinya dan Allah, bahwa dia akan berusaha, dan dia yakin Allah akan membantunya. Kadang cita2 itu terasa sulit diraih, kadang banyak hambatannya, tapi di situlah salah satu hikmah bercita2 besar adalah supaya kita bisa berserah pada Allah saat kesulitan itu terjadi. Saat stuck sekalipun, merasa diri nggak mampu, tapi yakin Allah bisa membuatnya mampu.

Postingan ini saya tinggal sejenak karena tadi baca postingan kakak kelas SMA di facebook, yang bikin saya googling terus nyangkut di milis angkatan SMA, terus nemu obrolan lama yang temanya tentang nostalgia SMA… waaaaaaa X) ada temen saya yang posting dia ketemu mantan kepsek kami, terus ngobrol2 dan di akhir si Bapak bilang gini: “anak2 smansa itu memang pantang menyerah…”. Ditambah saya lagi baca cerita2 nostalgia yg bukan hanya tentang kekonyolan, kegilaan, kelucuan, tapi juga tentang perjuangan dan betapa pantang menyerahnya kami saat SMA dulu. Ya, saya mulai belajar bermimpi besar di Smansa. Saya belajar berjuang keras di Smansa. Saya belajar bahwa saya punya teman2 yang tulus di Smansa. Sekarang, 10 tahun setelah saya lulus dari sana, gak ada alasan untuk melupakan pelajaran yang udah saya dapat di sana. Hidup Smansa! Aku cinta Smansa! *lah ini postingan kagak jelas banget yak ngalor ngidul ujung2nya Smansa :’)

NAK in Malaysia

 

Huaaa.. ini event-nya udah lamaaa banget, tp baru cerita sekarang..hehehe.

Tanggal 4-5 September 2013, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri kuliah ustadz Nouman Ali Khan di Malaysia. Ngapaiiin jauh-jauh amat ke Malaysia buat dengerin ceramah doang? Haha.. mungkin pada bertanya gitu ya, termasuk ibu saya juga. Tapi saya pengen aja. Emang kenapa? Buat menuntut ilmu kok. Mumpung ustadz Nouman ke Malaysia, kalo nyamperin ke Amerika kan jauh..haha. Dan sekalian jalan-jalan juga. Udah lama pengen ngerasain lagi sensasi jalan-jalan dan ngebolang. Jadilah setelah menyiapkan ini itu, tanggal 4 September pagi saya berangkat berdua sama Mirna.

Pada tulisan ini saya mau cerita tentang acaranya dan isi kuliahnya ya. Dalam 2 hari itu sebenarnya ustadz Nouman memberikan 3 ceramah, yaitu sebagai berikut:

  1. Tanggal 4 jam 20.00 di Masjid Wilayah Persekutuan, tema: Lessons from Surah Ar Rahman
  2. Tanggal 5 khutbah Jum’at di Masjid kampus IIUM
  3. Tanggal 5 jam 20.00 di PWTC, tema: The Final Miracle

Tapi saya hanya ikutan acara yang malam aja, gak ikutan khutbah Jum’at.

Lessons from Surah Ar-Rahman
Kuliah yang pertama di Masjid Wilayah tentang surat Ar-Rahman. Pertama kali melihat tempat acaranya, waaaaw keren banget masjidnya guede dan bagus! Saat itu dari area luar masjid udah terdengar suara ustadz Nouman, karena dipasang speaker luar juga. Dan saat itu saya dan teman-teman datangnya telat. Oh ya, selama di Malaysia saya numpang di flatnya Putu dan kawan-kawan. Terus, untuk pergi ke tempat acara pun ngikut mobil temennya Putu :p Setelah sampai di pintu masuk, kami langsung registrasi lalu masuk ke dalam masjid. Di dalam masjid tentu saja sudah penuh, jadi cuma bisa lihat dari belakang, kelihatan ustadz Nouman di depan jadi kecil banget hahaha, dan suaranya juga kurang jelas. Jadilah kami pindah ke luar. Di luar ada layar yang menampilkan ustadz Nouman dan suaranya juga lebih jelas.

masjidwilayah

Ini beberapa poin yang saya catat dari kuliah malam itu:

  • Ar-Rahman kalau diartikan ke Bahasa Inggris itu biasanya mercy. Tapi itu kurang tepat juga. Karena mercy bermakna pengampunan. Misalnya gini, saya harusnya menghukum kamu, tapi saya tidak jadi menghukum kamu karena saya punya mercy itu. Tapi Allah bahkan gak bermaksud menghukum, melainkan memang mencurahkan kasih sayang terus.
  • When Allah says Himself Ar-Rahman, He says He is care for you, never abandon you
  • Ar-Rahman is in the form of mubalaghah, superlative, beyond imagination, you can’t be more Rahman than that
  • Ar-Rahman shows present time too: right now. And Allah is showing me His love, right now :’)
  • We think about our problems all the time. But we don’t think of Ar-Rahman all the time 😦
  • We don’t appreciate what we have until it’s gone. And now we’re not appreciating Allah
  • Misalnya ada seorang ibu yang ngomel terus soal anaknya, bandel lah, males lah, gak nurut, dll. Kalau nyeritain anaknya ke orang lain pun yang diceritain jelek-jeleknya. Tapi misalnya anak itu suatu saat meninggal. Nah, kalau udah begitu, kalau ditanya tentang anaknya pun yang dia jawab ya anak saya baik sebenarnya..dst.
  • Ayat terakhir di Ar-Rahman: Tabaaraokasmu robbika dziljalaali wal ikroom. Ini menggambarkan nama Allah itu penuh dengan keberkahan
  • Arti berkah/barakah: Bertumbuh, penambahan yang di luar perkiraan. Kalau kita menanam satu benih, maka kita mengharapkan satu pohon akan tumbuh dari benih itu. Tapi dengan barakah, pohon yang tumbuh itu bisa lebih dari itu, dan pertumbuhan itu stabil. Barakah dari satu perbuatan baik, sekecil apapun, kita gak pernah tau sebanyak apa. It’s beyond expectation :’)
  • Salah satu perbedaan manusia dengan hewan: Manusia bisa mempercayai bahkan ketika mereka tidak melihat dengan mata sendiri. Sedangkan hewan hanya bisa percaya jika mereka melihat. Contoh: kita berada di sebuah gedung, kemudian ada alarm kebakaran. Meskipun gak melihat api, kita tetap bisa percaya kemudian keluar gedung untuk menyelamatkan diri. Tapi kalau hewan, harus lihat sendiri apinya. *ya karena hewan gak bisa mikir lah ya* Contoh lain, kalau lagi nyetir di jalan, kemudian ada pengumuman 10 km di depan, jalan ditutup. Mau muter balik apa nekat maju terus? Begitulah dengan Islam, ada hal-hal gaib, Allah yang gak bisa kita lihat.. Kita gak harus melihat untuk percaya, karena kita bisa mikir dengan melihat tanda-tanda yang ada.
  • Orang musyrikin Mekah di zaman Rasulullah dulu itu adalah murid paling bebal. Mereka diajar oleh guru terbaik (Rasulullah), dengan kurikulum terbaik (Qur’an) selama 12 tahun, tapi tetap gak ngerti atau gak mau ngerti. Padahal isi pelajaran itu (isi Qur’an periode Mekah) adalah tentang mengesakan Allah dan tidak menyekutukannya dengan apapun, percaya hari kemudian (dan hal-hal gaib juga).
  • Mulai sekarang, berapapun umurmu, mulai pelajari Qur’an. Sediakan waktu dan mulai belajar Qur’an. Ingat, guru kita dalam belajar Qur’an itu Allah lho (‘allamal Qur’an, QS Ar-Rahman:2), meskipun kita belajarnya lewat perantara manusia.
  • Mulai sekarang karena Allah. Mulai dengan nama Allah Ar-Rahman, kemudian lihat barakahnya. Akan penuh kemudahan, insya Allah.

The Final Miracle
Kuliah hari kedua diadakan di PWTC. Hari itu kami berangkat dari flatnya Putu sebelum Maghrib, kemudian shalat Maghrib di surau PWTC. Alhamdulillah bisa sampai tempat acaranya sebelum acara dimulai. Ruangannya besaaar, dan hampir penuh. Di email pendaftaran sih ditulis kapasitas 4000 dan udah penuh, tapi kemarin masih ada lumayan banyak bangku kosong. Acara dibuka oleh MC emmm Dawud siapa gitu lupa 😀

pwtc

Inilah yang sempat saya catat dari kuliah tersebut:

  • Kalau mau memperkenalkan Islam, menjelaskan kenapa Islam benar, adalah bukan dengan debat
  • Apa yang disampaikan ustadz Nouman di sini adalah pemahaman dia tentang kenapa Al Qur’an adalah keajaiban. Tapi itu juga dengan pemahaman yang terbatas. Dan keajaiban Qur’an gak sebatas pemahaman orang tertentu. Ustadz Nouman di sini mempelajari keajaiban Qur’an itu dari aspek linguistik
  • Al Qur’an itu punya pesan, dan kita harus penasaran untuk tau pesan-pesan dalam Al-Qur’an. Karena itu, harus belajar Bahasa Arab
  • I’jazul Qur’an, asal katanya dari ajaz: be on knees, unable to get up. I’jaz: something that make something else incapable, overpower. The Qur’an overpower everything else. Dan kalau kita belajar Qur’an itu kita akan nemu hal2 yang bikin kita overpowered, ngerasa takjub sampai gak bisa ngomong apa2 lagi saking kerennya

Contoh linguistic miracle dalam Qur’an:
– Sumbulah (contohnya buah jagung) pluralnya adalah sumbulaat. Tapi ada juga pluralnya sanaabil. Inilah yang disebut superplural. Contoh lain dari bentuk singular-plural-superplural: kaafir, kaafiruun, kuffaar. Di surat Yusuf disebutkan sumbulaat, dan di Al-Baqarah disebutkan sanaabil. Padahal jumlah yang disebutkan di masing-masing ayat itu sama-sama 7. Bedanya apa? saya lupaaaa -_- coba deh cari ayatnya :p

Selepas acara, kami melihat-lihat booth sponsor yang ada di luar. Di antaranya ada Brotherhood Arts dan Majalah Jom! Brotherhood Arts ini memproduksi dan menjual aksesoris seperti stiker, pin, dan ada juga kaos dan jaket. Majalah Jom! adalah majalah dakwah pemuda di Malaysia. Pertama kali melihat display beberapa edisi majalahnya, langsung tertarik karena desain sampulnya memang menarik sekali.. penuh warna. Isinya pun bagus-bagus. Karena khawatir nggak ngerti isinya, saya cuma beli satu. Eh ternyata mudah dibaca kok meskipun Bahasa Melayu. Mungkin karena bahasanya cukup formal ya. Kalau yang Melayu gaul banyak yang saya nggak ngerti. Sekarang malah pengen baca Majalah Jom! lagi..hihihi. Selain itu kalau gak salah ada stand penyelenggara acaranya. Jadi acara ini diselenggarakan oleh Nur Ala Nur Academy dan Light Upon Light, lembaga pendidikan Islam di Malaysia macem Bayyinah-nya ustadz Nouman gitu kali ya. Pokoknya makasih buanget buat penyelenggara dan panitia for those awesome events! Barakallahu fiikum!

Yak, sekian cerita saya tentang NAK in Malaysia. Makasih banyak buanget buat Mirna yang sudah bareng-bareng sama saya, Putu dan kawan-kawan flatnya yang menampung kami selama di sana: Mbak Putri, Mbak Dewi, Hajar, dan Winwin; serta Umamah yang baik sangat membolehkan kami menumpang mobilnya. Barakallahu fiikunna^^

Tahfidz Intensif Daarul Quran :)

Pagi itu sekitar jam 6 pagi saya yang membawa gembolan tas besar lari2an di stasiun Bogor, mengejar kereta jam 6.02 ke Jatinegara. Huff.. alhamdulillah, bisa masuk ke kereta dan berdiri manis (abisnya gak bisa duduk manis) di gerbong paling akhir. Beberapa detik kemudian, pintu menutup dan kereta pun berangkat.

Hari itu adalah hari yang saya nantikan sejak berhari-hari lalu. Pagi itu saya memulai perjalanan mendebarkan! Huehehe.. i was excited! Untuk pertama kalinya, saya akan pergi ke pesantren tahfidz Daarul Quran di Ketapang, Tangerang untuk mengikuti tahfidz intensif selama seminggu di sana. Jadi hari itu rencananya saya transit di stasiun Duri, kemudian naik kereta arah Tangerang lalu turun di stasiun Kalideres.

Sekitar pukul 7.30 saya sampai di stasiun Duri. Setelah turun dari kereta, saya mengikuti para commuter yang juga turun di stasiun tersebut, menunggu kereta lewat untuk menyebrang ke jalur satunya. Di jalur itulah saya menunggu kereta arah Tangerang. Namun sayang, ternyata sedang ada masalah aliran listrik atas, sehingga kereta belum beroperasi. Wah, alamat nunggu lama di stasiun Duri. Mau naik angkutan lain, saya sama sekali buta daerah situ. Ya udah lah, nunggu aja.. saya duduk di atas tas pakaian yang saya bawa, lalu tilawah aja. Meski cemas rasanya, membayangkan akan datang sangat siang ke Daarul Quran, padahal tahfidz intensifnya akan dibuka pukul 8 oleh ustadz Yusuf Mansur. Ya udah akhirnya saya SMS panitia dan menjelaskan keadaannya.

Setelah kurang lebih satu jam menunggu, banyak orang yang jalan kaki dari arah Tangerang. Ealaah.. itu orang2 katanya pada jalan kaki dari stasiun berikutnya. Karena pada ngejar kereta ke arah Manggarai. Haah.. udah pasrah aja, sambil berdoa semoga bisa sampai ke tujuan. Eh beberapa saat kemudian, keretanya datang! Entahlah sepertinya ada kereta yang mogok, jadinya didorong oleh kereta lain. Setelah semua penumpang turun, akhirnya kereta yang tadi mendorong itu siap menangkut penumpang ke Tangerang. Yay! Here we go! Deg2an karena baru pertama kalinya..haha.

Setelah kurang lebih 15 menit, turunlah saya di stasiun Kalideres. Begitu lihat Bapak2 ojek, langsung naik aja, soalnya gak ngerti jalur angkot. Saya bilang aja, mau ke pesantren Darul Quran-nya Yusuf Mansur, tp yang asrama Ar Rahman sebelah masjid Baitul Amin. Bapaknya minta 15ribu, yowes setuju aja. Setelah jalan beberapa membelah perkampungan, berhentilah bapak ojeknya, katanya sih udah sampai di pesantrennya. Saya turun dan bayar. Ini bener masjid Baitul Amin Pak? Memang ada masjid di situ. Bapaknya iya2 aja terus dia pergi. Pas saya tanya santri dan satpam di situ, ternyata tempat tahfidz intensifnya bukan di situ..hahahah, tapi masih jalan lagiii. Hah ya udah, karena ojeknya udah pergi, jadilah saya jalan kaki membawa gembolan ke arah yang ditunjukkan Pak Satpam. Setelah setengah jalan, Pak Satpam nyamperin sambil bawa motor, ikut saya aja mbak, katanya. Hooo ya udah ngikut ajalah, padahal kayaknya udah dekat.

Daaan.. akhirnya sampailah saya di asrama Ar Rahman, tempat tahfidz intensif diadakan. Masuk ke dalam aula, celingak celinguk, yah.. acara pembukaan pasti udah selesai. Orang2nya lagi pada duduk2. Kemudian saya menghampiri panitia, menyerahkan bukti daftar, dsb, sampai akhirnya saya dikasih goodie bag dan diantar ke tempat menginap yang berupa kasur2 digelar di ruangan besar. Pertama datang, belum juga kenalan sama tetangga kamar, eh saya nyenggol orang yang lagi bikin minum, airnya tumpaaah..huahahah. ampun mbak. Yowes, setelah sesi elap mengelap, kita tinggalkan kamar dan move on ke aula untuk acara berikutnya.

santriintensif2

Tibalah saya dan semua peserta acara di inti acara, yaitu menghafal Quran. Juz yang dihafal adalah juz 15, bertepatan dengan mulainya surat Al Isra. Metode menghafalnya begini: kami di aula bersama2 mendengarkan murattal Syaikh Saad Al Ghamidi sambil masing2 membaca dari mushaf. Bacanya langsung satu halaman full, diulang sebanyak 30 kali. Di sesi pertama itu saya ragu bisa hafal, dan ternyata memang belum hafal. Saya juga merasa kesulitan untuk menghafal langsung sehalaman. Sesi menghafal itu diulang lagi pada sore dan malam harinya. Jadi jadwal menghafal itu selama 1,5 jam dimulai pada jam 8, 10, 16.30, dan 20.00. Sedangkan siang hari adalah waktu untuk murajaah pribadi. Meski awalnya kesulitan, ternyata setelah sehari-2 hari bisa lho langsung hafal satu halaman. Itu WOOOOW banget buat saya!

santriintensif3

Malam harinya, yang harusnya sesi menghafal lagi, di hari pertama itu diisi dengan taujih dari ustadz Yusuf Mansur, dan ada putrinya juga, Wirda. Yaay, asik! Setelah itu ternyata ada 2 orang Arab yang hadir, ternyata mereka pengajar di Daarul Quran. Saya ingat di Traveler with The Quran, ustadz Yusuf Mansur memang mendatangkan guru2 langsung dari jazirah Arab untuk mengajarkan pelafalan huruf Arab yang benar bagi anak2 pesantren. Ustadz Arabnya ada yg kocak banget, gahul abis udah bisa ngomong “super sekali” ala salah satu motivator kenamaan Indonesia. Terus waktu mendengarkan bacaan seorang peserta yang bagus, dia bilang “Ustadz Khalid, ustadz Khalid, umroh..umroh..”. Maksudnya adalah itu peserta harusnya dikasih hadiah umroh 😀 Oia, ustadz Khalid adalah ketua panitia tahfidz intensif.

Keesokan harinya kami bangun sekitar jam 3 untuk shalat tahajud. Saat itu juga diputarkan murattal Al Isra dari Syaikh Al Ghamidi yang baru kami hafalkan, jadi bisa sambil mengulang. Shalat subuh berjamaah di aula dipimpin oleh ustadz, kemudian setelah itu masuk ke sesi hafalan hadits. Sepertinya ustadznya mengajar seperti ia mengajar ke murid2nya di pesantren. Seru sih, jadi berasa anak pesantren 😉

santriintensif1.jpg

Ba’da subuh, kami jalan ke pesantren tahfidz Daarul Quran. Di lapangannya, kami olahraga dipimpin guru di sana. Kemudian bebas jalan2 di dalam pesantrennya. Setelah itu pulang, bersih2, makan, dan mulai lagi rutinitas tahfidz seperti kemarin. Sore atau malam hari biasanya diisi dengan setoran hafalan ke ustadz. Setiap habis setoran saya biasanya nanya ke ustadznya, gimana cerita beliau menghafal. Ada ustadz muda (kayaknya baru lulus SMA) yang menghafalnya saat kelas 1-5 SD, ada ustadz yg hafal dalam 1,5 tahun dan melancarkan dalam 1,5 tahun. Kata beliau, kalau sudah lancar, murajaah sehari sejuz juga cukup. Kalau untuk orang yang bekerja, mungkin gak usah banyak2 menghafalnya, yang penting konsisten.

santriintensif5

Oh ya, saya senang kalau setoran ke ustadz Muhaimin, soalnya beliau teliti sekali. Selama ini saya pikir bacaan saya oke2 aja, ternyata beliau koreksi sampai ke bacaan ro tafkhim dan pengucapan qof saya yang gak konsisten, pengucapan “su” pada “rosulu” yang harusnya dikembalikan ke makhroj huruf “sin” (saya baru nyadar kalau saya bacanya seperti “shod”), dll.

santriintensif4

Alhamdulillah, saya merasa beruntung sekali bisa ikutan tahfidz intensif angkatan pertama ini :’) Bener2 gak rugi cuti kerja dan meninggalkan rutinitas untuk sementara. Suasana di sana kondusif dan menyenangkan banget, berasa terjaga banget. Senang bisa bertemu teman2 sesama peserta yang luar biasa.. ada yang udah lanjut usia, sampai ada yang anak2 SD. Adik2 SD yang luar biasa sekali, udah terbiasa shalat 5 waktu, dhuha, dan tahajud (ortunya keren ya!).

Bonusnya adalah sering ketemu ustadz YM! Hahaha.. Bahkan waktu saya menyepi untuk menghafal di masjid, saya ketemu beliau. Saat itu masjid sepi, di pelataran hanya ada saya yang menyender ke tiang, dan teman saya di tiang satunya lagi. Gak sengaja mata saya tertuju ke mobil yang baru parkir di sebelah masjid, dan ngeliat orang yang baru turun, kok seperti ustadz YM. Ah mungkin dia ada urusan ke mana gitu. Eh, taunya dia masuk lewat pintu samping masjid, yang tepat banget berada di depan saya! Ternyata beliau mau ke masjid. Karena lewat pintu itu, jadi masuk masjidnya pun melewati tempat saya duduk. Beliau salam, lalu menanyakan udah sampai mana hafalannya 😀

Hari Sabtu, beliau mengisi sesi tausiyah lagi. Luar biasa banget hari Sabtu pagi itu mengharu biru bangeeeeet! Ustadz YM membuka ceramahnya dengan ini: “Saya baru ngamalin satu aja ajaran dari Quran, yaitu sedekah, hidup saya udah luar biasa banget”. Terus beliau cerita2 tentang keajaiban sedekah. Terus saya lupa bahas apa, tapi beliau cerita tentang surga dan kenikmatan melihat Allah nanti di sana. Saya tiba2 nangis setelah beliau cerita tentang itu. Padahal saya udah pernah dengar sebelumnya. Tapi pas dengar pagi itu kok jadi gimana gitu ya..

Terus ada sesi tanya jawab. Salah satunya teman sekamar saya nanya. Sebelumnya saya pernah mendengar cerita dari teman saya ini, bagaimana dia kerja keras mengumpulkan uang untuk bekal ke tahfidz intensif ini, bagaimana dia meninggalkan pekerjaannya, dan minta izin ke ibunya di saat ibunya pgn dia nikah dulu lah ya. Dia awalnya mau daftar tahfidz intensif yang 2 bulan, tapi ternyata diubah adanya yang seminggu aja. Padahal dia udah pamit untuk yang 2 bulan, udah ninggalin kerjaan untuk ikut yang 2 bulan itu. Hari itu dia menyampaikan ke ust YM tentang kondisinya, juga tentang awal dia menghafal Quran itu karena sering banget bermimpi disuruh menghafal. Nah hari itu kayak jadi jawaban banget buat dia.. ust YM bilang, “Lid (manggil ustadz Khalid) yang kayak begini tolong didata, untuk ngajar aja di shighar putri (pesantren putri SD). Udah mbak kerja sama saya aja, ngajar di pesantren putri, bisa sambil menghafal juga. Kalo gak salah ada guru ikhwan yang blm nikah juga” (yang terakhir sambil bercanda bilangnya) 😀 Uh, terharu banget pas itu :’)

Terus ust YM minta peserta berdoa masing2. Terus kemudian cari temen2, jadi saling menyampaikan doa untuk kemudian didoakan sama temannya. Karena saya gak dapet temen, jadinya bertiga deh.. Ah, saat itu.. mbrebes mili.. entah kenapa yang paling saya inginkan saat itu adalah bisa melihat Allah di surga. Mau banget.. Pengen liat Allah di surga.. bareng2 sama keluarga, sama temen2 tahfidz intensif, sama saudara2 muslim :’) Kemudian tentu saja pengen jadi hafidzah, pengen nikah, dan jadi org yg bermanfaat buat umat (yg baca sekalian doain yaa..hahaha). 2 orang teman saya, yg 1 pgn jadi dokter yg hafidzah, yg 1 lg pgn jd hafidzah dan dpt suami yg baik..soalnya sebelumnya pernah menikah tp pisah 😦 Aamiin.. semoga terkabul semuanya!

Ustadz YM kemudian menyampaikan bahwa target dari tahfidz intensif ini bukan hanya belajar menghafal, tapi gimana biar kami juga bisa mengajak orang lain menghafal dan atau memfasilitasi orang untuk menghafal. Makanya kami dikasih proyek untuk membangun rumah tahfidz di depan UIN Jakarta. Keperluan dananya kalau gak salah 3 milyar. Jadi rumah tahfidz ini insya Allah akan jadi monumen kami, peserta tahfidz intensif angkatan pertama. Yoshh..semangat! Hari itu ustadz YM juga mengundang kami untuk makan malam di rumahnya hari Ahad nanti. Yeaay!

Sesi makan malam di rumah ustadz YM ramee sekali. Saya salut deh, gimana dia benar2 membuka rumahnya untuk para peserta, sampai boleh masuk ke dalamnya. Menunya sederhana, ada semur telor dan tekwan, dan beberapa menu penutup. Tapi suasananya menyenangkan. Bisa ketemu sama istrinya, anak2nya. Dan saya ngeliat Dr. Bilal Philips juga! Amazed banget waktu lihat beliau di sana. Belakangan saya baru tau kalo ternyata Dr. Bilal Philips adalah pengurus rumah tahfidz DQ di Kanada. Masya Allah 🙂

santriintensif6

Dan begitulah.. Ahad malam itu, saat besok harusnya semua peserta pulang, saya malah merasa gak mau pulang. Menyenangkan sekali di sana, berkesan sekali. Sungguh :’) Semoga Allah terus memberkahi ustadz Yusuf Mansur dan keluarganya, para asatidz Daarul Quran, para santri, dan semua orang yang terlibat dalam khadimul Quran..aamiin. Tahfidz intensif angkatan pertama ini ditutup tanggal 30 Desember dengan sebuah taujih motivasi dari ustadz Hendra Irawan. Kata penutup beliau, “kita bertemu lagi dalam doa2 kita” :’) Ah iya.. benar.. sekarang kalau kangen saya berdoa aja. Mendoakan Daarul Quran dan seisinya, dan teman2 tahfidz intensif dimanapun berada. Semoga nanti kita sama2 bisa melihat Allah di surga. Allahu yubaarik fiikum :’)

Muslim dan Prestasi

[taken from here]

Selalu ada inspirasi, terlahir dari saudara-saudara yang shalih. Selalu ada manfaat, bersapa dan berbincang dengan saudara-saudara yang shalih. Selalu ada kerinduan, berjumpa dan bersama dengan saudara-saudara yang shalih. Alhamdulillah, saya bersyukur karena selama ini Allah perkenankan saya berkenalan dan bersaudara dengan mereka-mereka. Semoga –saya sangat berharap- kesempatan membersamai mereka, mengizinkan saya tercelup keshalihan seperti mereka, ibarat ikut mendapati semerbak wangi karena berdekat-dekat dengan penjual minyak wangi.

Sesungguhnya, inspirasi, manfaat, dan rindu itu bukannya tanpa sebab. Kesemuanya itu terlahir dari kebaikan-kebaikan yang di atas rata-rata. Dalam bahasa akademis, mudahnya kita sebut saja sebagai prestasi. Namun semoga kita tak terjebak istilah ini, karena i-tsar juga merupakan prestasi yang tak terakui dalam dunia akademis. Sementara ianya adalah prestasi tertinggi persaudaraan. Pokoknya –dalam pembicaraan kita ini secara khusus-, sebabnya adalah prestasi. Kesimpulan inilah yang teralur dari ngobrol-ngobrol santai, yang bermula dari kekagetan yang segera menyadarkan saya. “Bukannya memang,” katanya merangkum saling sahut, “muslim itu harus berprestasi?”

“Betul!” dalam hati saya mengiyakan. Mengiyakan apa yang begitu sering terlupakan, sehingga tak pernah jadi identitas. Seorang muslim, dengan keislamannya yang sungguh-sungguh yang mengejawantah dalam keshalihan, sebenarnya sanggup menjadi jaminan terlahirnya prestasi demi prestasi. Sampai-sampai saya pernah mengambil kesimpulan –yang juga ikut terlupakan-, kalau kita tidak berprestasi, berarti ada yang harus ditata dan dibenahi bagaimana kita berislam. Boleh jadi belum seshalih yang selayaknya.

Saya ingat mereka, saudara-saudara yang shalih. Shalihnya membuatnya terjaga dalam prasangka baik, sehingga tersemai do’a-do’a yang merintis kebaikan. Ia yakin, Allah sebagaimana prasangka hambaNya, karenanya prasangka selalu kebaikan. Shalihnya membuatnya kokoh dalam bercita-cita, sehingga terbangun cahaya yang menyuluh memandu langkah-langkah menuju. Ia yakin, ada cita-cita di atas cita-cita, hingga cita-citanya menembus batas dunia –sampai akhirat-. Shalihnya membuatnya merasa tak layak mengeluh, sehingga syukur dan shabar menjadi kendaraan yang setia mengantarkan perjalanannya. Ia yakin, syukur itu baik, hingga nikmat tak membuatnya terbang terombang-ambing terlepas dari pijakan bumi; dan shabar itu pun baik, hingga ujian tak sampai membuatnya melemah, tersungkur-sungkur lalu terpelanting jatuh. Malah keduanya jadi karet katapel yang melontarkan kebaikan-kebaikan. Tentu saja, yang terpenting, shalihnya membuatnya indah dalam celupan iman dan kebersegeraan taqwa, yang membuat Allah cinta dan mendekat seribu langkah lebih dekat pada setiap langkahnya. Sungguh, adakah yang lebih baik jika Allah ridha? Ya, insyaallah mereka-mereka dapati itu. Ridha yang menjadikan bertumpuk prestasi, sampai ada rasa tak menyangka, apa yang mereka dapati begitu banyak dibanding apa yang mereka lakukan.

Muslim itu harus berprestasi. Kalau kita tidak berprestasi, berarti ada yang harus ditata dan dibenahi bagaimana kita berislam. Boleh jadi belum seshalih yang selayaknya. Insyaallah, saya nggak ingin ini menjadi kesimpulan. Apabila sebuah kesimpulan pada akhirnya membuat pintu-pintu refleksi diri tertutup rapat-rapat. Semoga darinya membuat gelisah bertambah-tambah, ada rasa tak puas dengan prestasi yang seadanya, ada rasa tak nyaman dengan cita-cita yang tak segera dijemput, ada muhasabah pada ikhtiyar-ikhtiyar diri selama ini. Dan kalaupun ada kesimpulan, mudah-mudahan kesimpulan itu adalah rentetan prestasi-prestasi yang diraih dengan kerja yang susah payah tak mengenal keluh kesah.

JazaakumuLlaah, untuk saudara-saudaraku yang shalih, yang setiap perjumpaannya menjadi rindu, yang setiap perbincangan dan kebersamaannya menjadi manfaat, dan setiap akhlaqnya menjadi inspirasi. Semoga saya bersama kalian, dan menjadi bagian dari kalian… []

-Tulisannya Aditya Rangga Yogatama, saudara di MITI-Mahasiswa, diambil dari blognya

Dan lagi2 saya bersyukur, telah diberi kesempatan  mengenal mereka

blogger favorit

yuhuuu.. sekarang saya mau share siapa sih blogger favorit saya.. dan inilah mereka (tiga dulu yak..):

1. Viera Rachmawati a.k.a Teteh Pierahttp://vierar.blogspot.com
Dia biasa menyebut dirinya Yang Mulia Teteh Piera. dia punya kelompok pembaca sendiri lho.. namanya kelompok PENCAPIR (PENgamat CeritA-cerita PIeRa!). Pertama nyasar ke blognya, kalo gak salah tahun lalu.. saya lupa awalnya dari mana, kl gak salah dari link di blog temen jg. Pertama liat blognya, kesannya “ih ni orang apaan sih, blognya meuni banyak kata b*k*r kitu. jorok pisan!”. Tapi setelah baca postingannya, kok banyak  yg menarik ya, gaya berceritanya asik, kocak pisan, dan orisinil lah pokoknya! banyak hikmah hidup yang disampaikan dengan santai ditambah selingan yang bikin keketawaan. udah gitu si teteh piera sekarang kan lagi di Italia, jadi sering cerita tentang segala rupa kehidupan di sana, termasuk galau trip yang menginspirasi saya membuat cerita ngebolang juga :p Salam ya teh buat Filipo Inzaghi!

2. Aresto Yudo | http://aresto.wordpress.com
Beliau ini sebenernya kakak kelas saya di Fasilkom, tp gak pernah ketemu karena dia udah lulus sebelum saya masuk. Pertama ke blognya itu dari link di blog Mbak Nuri yang suka saya baca juga. Pertama baca tulisannya… wow, bagus2, enak dibaca, rapi runut, cerdas dan berisi. Beberapa tingkat dewa karena kadang2 saya gak ngerti.. hehehe.. Wawasannya luaaaaaaaas banget. Mulai dari IT (esp IT Audit) sampe sastra ada di blognya. Banyak pelajaran hidup jg yang bisa didapat, untuk saya salah satunya: lebih banyaklah membaca 😀 Sukses ya kak untuk “seminggu untuk selamanya”

3. Winie Ariany | http://winieariany.blogspot.com
Dia seorang ilustrator untuk sebuah koran di Muscat, Oman. Bisa sampe ke blognya dari link di blog Teteh Piera. Saya suka blognya yang berisi ilustrasi2 yang dia buat. Keren2 euy. Ditunggu ya mbak update Kibi’s life-nya :p

Go check their blogs 🙂