Mencintai adalah Memberi

Kemarin saya menemukan video ini di salah satu akun tumblr, yang berisi penjelasan seorang rabbi tentang “fish love”.

A: Kenapa kamu makan ikan itu?
B: Karena saya suka ikan
A: Oh, kamu menyukai ikan itu. Karena itu kamu mengeluarkannya dari air, kemudian membunuhnya, dan memasaknya. Jangan katakan padaku kamu mencintai ikan itu. Kamu mencintai dirimu sendiri, dan karena ikan itu terasa enak bagimu, maka kamu mengambilnya dari air dan membunuhnya lalu memasaknya.

Seringkali cinta yang banyak terjadi sekarang adalah “fish love”, di mana orang mencintai pasangannya karena merasa pasangannya bisa memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Mereka merasa saling mencintai, tapi sebenarnya dalam hubungan itu mereka hanya mencari pemenuhan kebutuhannya sendiri. Pasangannya dijadikan sarana untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam mencintai, yang seharusnya terjadi adalah memberi, bukan apa yang bisa didapatkan.

Read More »

Advertisements

[Ilmfest 2014] Yasir Qadhi: The Husband

  • Mawaddah is tender, caring, nurturing love
  • Hubb can be selfish love
  • Ikatan antar suami istri itu… yang tadinya gak kenal sama sekali, terus dipertemukan oleh Allah, menikah.. tapi suami istri itu bisa lebih dicintai daripada saudara kandung sendiri. Dari mana ikatan yang kuat itu? Allah yang menaruhnya di situ.
  • Two persons can love each other but say/speak different language of love. Which language i use to give to others? which language i want to receive from others?

The 5 language of love:

  1. Verbal. You say something that demonstrates love.
    1. “I love you” must be continuously said. It is sunnah to verbalize love. Woman loves to receive this language, but man is difficult to give it. Rasulullah aja bisa bilang di depan para sahabat bahwa beliau mencintai Aisyah.
    2. Words of appreciation, praising spouse. Bilang ke istri, “ini masakan terenak”, “kamu wanita tercantik”. Meskipun itu kebohongan, tapi itu kebohongan yang diperbolehkan.
  2. Spending quality time together. The husband thinks of quantity, wife thinks of quality (undivided attention). Schedule quality times with the person who deserves more than the husband’s friends (i.e. the wife). Rasulullah setelah pulang dari ekspedisi dengan pasukannya bilang pada mereka agar jalan duluan, supaya beliau bisa bersama dengan Aisyah. When you listen, try to genuinely pay attention.
  3. Giving gifts. Tahaddu, tahabbu. Give gifts, so you can love each other. Untuk istri: kalau dikasih hadiah, hindari respon seperti, “oh ya ampun, beneran buatku? ini kan mahal.. uangnya bisa buat beli yang lain..dst”. Untuk suami yang ngasih hadiah, ignore her reaction. Wanita lebih suka hadiah yang sering meski nilainya kecil, dan gak harus bernilai uang. Best gift coula be a poem. Men wants fancy expensive gift but less in frequency (misal setahun sekali tapi besar).
  4. Help each other. Do the household chores. Take care of each other’s needs. Umumnya, perempuan mengurus urusan rumah tangga, dan laki2 mengurus finansial. Meski suami tidak menunjukkan bahasa cinta dengan membantu urusan RT, tapi dia memberikan penghasilannya untuk keluarga. Itu juga tanda cintanya. Jangan bilang suami gak cinta kalau dia gak mengerjakan pekerjaan RT. Tapi kalau mau mencontoh Rasulullah SAW ya.. beliau juga ikut mengerjakan pekerjaan RT. Ini juga menunjukkan bahwa istri itu bukan pembantunya suami.
  5. Sexuality, intimacy.
    1. Non-sexual touching: hug, kiss, squeeze on shoulders. Not every touch leads to bedroom. Dan suami jangan menyentuh istri kalau butuh doang.
    2. Sexual intimacy: adalah bahasa yang paling sering ingin diterima laki2. Makanya istri gak boleh menolak kalau suami meminta.

In marriage, it’s not about winning the argument. It’s about winning the marriage.

Dan pernikahan harus dijaga, harus diusahakan oleh kedua belah pihak.

yasir qadhi 2
photo source: Qabeelat Ihsan

Dia Baru Menikah di Usia 45 Tahun

*sebuah catatan tentang kapan nikah, jodoh, anak, rezeki. CMIIW ;)*

Kemarin lusa saya menghadiri akad nikah dan walimatul ‘urs salah satu guru tahsin saya. Acaranya diselenggarakan dengan sederhana di masjid tempat kami biasa belajar. Sebenarnya saya kurang tahu pasti usia beliau sekarang berapa. Yang jelas di atas 40 tahun. Yah, kita sebut saja 45 tahun ya.. Usia yang tak lagi muda untuk menikah bukan? Dan itu adalah pernikahannya yang pertama. Sebuah momen yang mungkin telah dirindukannya selama puluhan tahun. Saya membayangkan beliau yang bertahun-tahun dalam penantian, bertahun-tahun dalam keinginan yang belum tersampaikan, bertahun-tahun menghadapi pertanyaan, “kapan nikah?”. Tapi beliau menjalaninya dengan baik-baik saja dan tetap produktif dalam kebaikan.

Terkadang saya sendiri berpikir tentang kenapa saya belum menikah: “Duh mungkin gw messed up banget ya”, “Ah iya sih gw masih payah banget, kacau banget”, “Gw masih kurang ini itu”, dan sebagainya (introspeksi diri tentu perlu ya!). Tapi apakah harus jadi orang yang baik sempurna untuk bisa menikah? Kalau iya, kenapa ada pencuri, penjahat, perampok, gampang-gampang aja ketemu jodohnya? Lalu bagaimana dengan orang yang baru menikah di usia 40/50an? Atau orang-orang yang belum bertemu jodohnya sampai mereka meninggal dunia? Masa iya mereka messed up sepanjang hidupnya? Apa kita mau bilang, oh mungkin kurang ibadahnya, kurang berdoa, kurang usaha, kurang cantik/ganteng, kurang kaya, belum siap, belum dewasa, belum pantas, dan sebagainya. Tapi setelah segala usaha dilakukannya, apalagi yang bisa kita bilang selain: memang itulah waktu yang ditetapkan Allah untuknya.

Saya teringat tulisan Bang Tere Liye yang berjudul “Keran Rezeki”. Intinya, rezeki yang didapatkan manusia itu tidak ditentukan oleh kegantengan/kecantikannya, kepintarannya, kegigihannya, melainkan ditentukan oleh Allah. Terserah Allah aja bagaimana mengucurkan rezekinya. Begitu pula dengan jodoh bagi yang ingin menikah, atau anak bagi yang ingin memiliki anak. Seorang teman saya yang sudah menikah bilang, “Saya sama suami udah nikah pengen punya anak belum dapat juga, sementara anak SMP yang berzina (na’udzubillahi min dzalik), sekali berhubungan langsung hamil”.

Begitulah, terserah bagaimana Allah memberikannya. Tapi yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah bukanlah “apakah kita dapat rezeki (termasuk jodoh/anak) atau tidak”, tapi “bagaimana cara mendapatkannya dan digunakan/diperlakukan seperti apa”. Teman saya yang lain sudah delapan tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Saat ini mereka sedang berusaha, bolak-balik kontrol ke dokter, cek laboratorium, suntik hormon, dsb. Saat ini dia berpikirnya, terserah Allah aja mau dikasih apa nggak, yang dilakukannya hanyalah menyempurnakan ikhtiar. Subhanallah.

Sebagai manusia tugas kita adalah berusaha, sedangkan hasilnya Allah yang menentukan. Ketika berhasil, mungkin saat itulah keinginan kita dan takdir Allah bertemu. Keberhasilan kita bukan hanya berasal dari usaha kita, melainkan dengan izin Allah juga.

Every single success you experience is a combination of two things: your effort and Allah’s help
-Nouman Ali Khan

Jadi ketika sudah berusaha, sudah berdoa, tapi yang kita inginkan belum juga terwujud, apakah itu sesuatu yang buruk? Apakah Allah benci pada kita? Tidak, selama kita selalu berusaha mematuhi Allah dan menjauhi laranganNya. Tercapai atau tidaknya keinginan bukanlah ukuran kemuliaan kita. Dikasih nggak dikasih itu hak prerogatif Allah.  Allah menilai usaha kita, apakah kita bersabar dan berbaik sangka, apakah kita tetap percaya dan terus berdoa meski hasilnya belum nampak di depan mata. Sementara di mata manusia, seringkali yang dinilai adalah dapat atau tidaknya 🙂 Maka penting bagi kita untuk menjadikan Allah sebagai tujuan, dan keinginan kita sebagai sarana, bukan sebaliknya. Apakah keinginan kita terwujud atau tidak, yang penting selalu dapat Allah.

Untuk teman-teman yang belum menikah -termasuk saya, huehehehe- mari kita isi hidup dengan amal sebaik-baiknya. Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang paling baik amalnya (bukan siapa yang udah nikah, siapa yang duluan nikah..wkwkwk). Kata Yasmin Mogahed, mungkin dari kecil kita terbiasa dicekokin cerita macem Cinderella atau Snow White. Ketika bertemu pangeran tampan, sempurna sudah hidupnya, bahagia selamanya. Seperti cerita putri tidur yang baru bangun waktu pangeran datang, jangan berpikir kita baru benar-benar hidup setelah nanti bertemu jodoh. Lalu hidup sebelum nikah ngapain? Koma?

Dalam pernikahan memang banyak kebaikan dan kebahagiaan. Kita turut berbahagia dan bersyukur jika ada saudara-saudara kita yang mendapatkannya. Namun bagi yang belum mengalaminya, kita pun bisa mendapatkan kebahagiaan dan kebaikan!

Allah telah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya (At-Tin:4). Allah telah memuliakan manusia (Al-Isro:70). Kita berharga, dan kita bisa bahagia kalau fokus hidup kita adalah untuk Allah.

Terus mendekat pada Allah, terus memperbaiki diri, dengan niat karena Allah. Terus beramal, belajar, berkarya, berkontribusi, produktif dalam kebaikan dan amal shalih, menabung untuk kehidupan abadi di akhirat kelak.

Belajar Quran, belajar Islam, menghafal Quran, belajar ilmu yang bermanfaat, ngajarin anak-anak kecil ngaji, bikin proyek sosial, semangat menyebarkan kebaikan sekecil apapun.

Kita bisa bahagia kalau fokus kita bukan hanya pada diri sendiri. Biarlah cerita hidup kita berjalan sesuai yang dikehendakiNya. Allah yang telah menciptakan kita, yang selama ini menjaga kita, tahu yang terbaik untuk kita dan selalu memberikan yang terbaik pada kita. Semoga kelak kita pun bisa kembali padaNya dalam kondisi sebaik-baiknya 🙂

“Asking me when I’m getting married is like asking me when Qiyamah is:
I don’t know.
Perhaps the time is near.”

No one knows when they will get married. It is Qadr of Allah. Also we need to remember marriage is not synonymous to happiness or fulfilment.
Peace and Happiness can only be attained through taqwa and Quran.
Marriage is just another phase of life. Some are tested with it and some blessed.

-The Ideal Muslimah

Menikah itu bukan soal siapa cepat.
Tapi Allah sudah pilihkan waktu yang tepat.

Memantaskan diri itu bukan ditujukan untuk si dia.
Tapi fokus memperbaiki diri di hadapan Allah.

Kalau kita jatuh cinta, kejar cinta Sang Pemilik hatinya: Allah.
Agar yang mengejar kita, dia yang mencintai Sang Maha Cinta.

-Assalamualaikum Sally – Jodoh Pasti Bertamu

#Love

Allah (swt) deprives us in order to give something better; something more. The longer we do not have what we want, the more we invoke upon Him in order to receive. All the while He elevates us, and brings us closer and closer to Him. He strengthens our iman to such an extent, that when we finally […]