Majalah Jom!

Pertama kali saya tau majalah Jom! adalah waktu saya ke NAK in Malaysia. Waktu itu cuma beli satu karena khawatir ga ngerti bahasanya. Setelah dibaca, ternyata mudah dimengerti kok 😀 Sejak saat itu sukaa banget sama majalah Jom! Kesempatan kedua beli majalah Jom! adalah waktu ke Ilmfest 2014, langsung beli agak banyak..hehe. Majalah ini isinya bagus, berisi, bermanfaat, dan layout + desainnya…beuh, gak main2, KEREN BANGET! Jatuh cinta lah sama majalah ini ❤

Sampai kemarin editornya membuka kesempatan untuk mengirim tulisan untuk majalah Jom!, saya langsung kontak, dan ikut kirim tulisan..hehe. Daan, akhirnya tiba juga edisi terbaru majalah Jom! yang saya tunggu2… karena ada tulisan saya loh 😄

writing_jom

Alhamdulillah..seneng banget banget waktu Sabtu pagi kemarin baca di facebook editornya bahwa majalah Jom! udah terbit dan bisa didownload gratis. Sepertinya mulai issue #45 ini mereka gak akan cetak, tapi distribusi online aja. Semoga makin banyak ya baca dan mengambil manfaat darinya, semoga berkah juga untuk tim redaksi 🙂

Download Majalah Jom! #45 gratis di SINI

Kejadian-kejadian yang Bikin Terharu

Lebay amat judulnya yak.. Haha.. Padahal kejadian2 ini simpel2 aja kok 😀

Saya kan jadi relawan RPPI ya.. Kami lagi fundraising untuk sekretariat RPPI di Jl. Polisi 1 no. 3 Bogor. Selama mengumpulkan dana ini (sekarang juga masih), banyak kejadian2 yang bikin terharu.. Kisah2 para donatur yang mendonasikan sebagian hartanya untuk keberlangsungan RPPI. Ada yang memberikan mahar pernikahan, ada yang memberikan uang hadiah yang dia dapat, ada yang berdonasi berkali2, dll. Nah saya kan lagi iseng2 jualan sambil mengumpulkan donasi untuk RPPI nih.. jadi pagi ini alhamdulillah ada yang beli 1 buku MMPQ. Total harga buku plus ongkir kan Rp 69.000, terus dia transfernya Rp 200.000, kelebihan uangnya buat donasi RPPI. Alhamdulillaah.. itu aja bikin saya terharu loh..hahaha lebay.

Terus ada kejadian lain yang bikin terharu, tiba2 inget ini setelah kejadian di atas tadi. Ini kejadian pas saya sama Mirna ke acara NAK di Malaysia tahun 2013. Waktu itu hari Jumat, kami mau main ke Islamic Art Museum, naik taksi dari mall Mid Valley. Abang supir taksinya potongannya gahul pisan.. Dengerinnya lagu2 Wali dan semacamnya gitu. Ternyata… taksi yang kami naiki itu taksi premium, yang tarifnya lebih mahal. Mana jalanan muacet pagi itu. Argonya bertambah terus dong. Sebagai traveller kere, dag dig dug lah saya.. huaa jangan mahal2 dong tarifnya.. Saat itu saya berdoa aja dalam hati, ya Allah semoga ga mahal2 nih bayar taksi. Sampai di tujuan, argo taksi menunjukkan angka 20an RM. Tapi abangnya bilang, “Bayar 10 aja, kalian penumpang pertama saya hari ini.. doakan saja semoga berkah”. Whaat?? Serius bang? Kami udah nolak, tapi abangnya meyakinkan gpp bayar segitu aja T_T Huhu makasih ya bang! *Ada kejadian lucu lagi sih tentang si abang ini. Jadi kami akan pulang besok naik pesawat jam 7 pagi. Dari tempat nginep mau berangkat jam 4. Khawatir gak ada taksi pagi2, janjian lah sama si abang ini untuk jemput besok pagi di Mid Valley. Besoknya jam 4 pagi pas kami nungguin, si abangnya gak muncul2, ditelp gak diangkat. Pas udah sampe rumah, jam 4 sore baru dia telpon 😄

Terus kejadian yang lebih lama lagi.. waktu masih di Forkom Alims, waktu mau nyetak leaflet dan pernak pernik untuk dibagikan ke ortu pas pembagian rapot dan perlu dana banyak, ada yang nyumbang berapa ya.. 1 apa 2 juta gitu, langsung terpenuhi keperluan nyetak dll. Pernah juga pas bikin Ramadhan Project bagi2 buku saku tentang shalat, itikaf, dll pas Ramadhan untuk dibagikan ke satpam dan janitor kampus, share ke milis angkatan bilang perlu dana sekian, eh ada yang nyumbang 2 orang masing2 sejumlah sekian, jadi dobel deh dapet dananya.

Yah, insya Allah masih banyak dan masih akan terus ada cerita2 yang bikin terharu dan takjub. Ini menunjukkan bahwa..apa ya.. pada dasarnya manusia itu baik dan cenderung pada kebaikan. Meskipun ada juga pastinya kecenderungan sebaliknya. Ada jalan takwa dan jalan fujurnya. Maka beruntunglah orang yang memilih jalan takwa, jalan kebaikan. Beruntunglah orang2 yang meringankan beban saudaranya di dunia, beruntunglah orang2 yang bisa memberi secercah rasa bahagia di hati orang lain.

Indeed, money can buy happiness, if it is spent in the right way!

PS: tulisan ini berkaitan sama uang yang diberikan untuk orang lain sih ya.. tapi membantu/membahagiakan orang lain gak sebatas dengan uang kok, tanpa itu juga selalu bisa 🙂

Bersama Geng Bocah di RPPI

Hari Sabtu atau Minggu biasanya saya nongkrong bersama geng bocah ini di RPPI (Rumah Peradaban Pelajar Indonesia) untuk bermain dan belajar. Contohnya, belajar tentang Ukhuwah Islamiyah. Awalnya kan saya mau ngasih tau tema hari itu tapi lewat tebak huruf/kata macem hangman gitu. Tapi hangman-nya diganti sama Dora yang terjebak di pinggir sungai yang ada buayanya (saya gambar di papan tulis). Kalau salah nebak huruf, Dora-nya maju selangkah. Ada 7 langkah sampai akhirnya Dora kecebur sungai dan dimakan buaya :O Eh merekanya baper pisan.. kasian sama Dora sampai takut2 mau nebak.. “Kasian Doranya kalau salah nanti dimakan buaya” 😄 Tapi akhirnya berhasil! Berhasil! Hore!

Selanjutnya main tebak gambar tentang hal2 apa aja yang bisa menguatkan ukhuwah Islamiyah, seperti memberi salam, berkunjung, mendoakan, memberi hadiah, dll. Mereka sendiri yang menggambar lalu ditebak oleh teman2 lainnya. Tebakannya benar semua! Saya tulis di papan tulis lalu mereka mencatat di bukunya masing2 *rajin ya*

Lalu di lain hari ada materi tentang Syukur Nikmat. Masing2 menyebutkan apa aja pemberian Allah yang dirasakan saat itu. Saya kasih “koin emas” alias biskuit egg drop 😄 untuk masing2 yang sudah menyebutkan nikmat Allah. Hayoo pabanyak2 koin emasnya! Ibaratnya semakin kita bersyukur, semakin nambah lagi nikmatnya 🙂

Yak, kami belajar dan bermain bersama. Kesannya sayalah yang mengajar mereka, tapi kenyataannya saya banyak belajar dari mereka 🙂

Itulah salah satu kegiatan di RPPI. Satu dari sekian banyak kegiatan untuk menjaga fitrah dan menumbuhkembangkan kebaikan dalam diri pelajar. Sedikit upaya untuk turut menjaga pelajar2 Indonesia dari arus pergaulan yang membahayakan, mengajak mereka mengisi masa mudanya dengan kegiatan positif dan bermanfaat.

Ikut dukung kegiatan2 ini yuk, dengan berpartisipasi dalam wakaf RPPI! Infonya bisa dilihat di sini: Rumah Pelajar 🙂

tempat favorit di RPPI: akuarium :D

tempat favorit di RPPI: akuarium 😀

 


 

PROGRAM WAKAF RPPI

📩Proposal dalam pdf:
Bit.ly/rumahpelajarpdf

🎥Sekilas profil RPPI:
Bit.ly/rumahpelajarvideo

🔅Web: www.rumahpelajar.com

📑Rekening An. Syahrizal Rakhman
BCA 0953-27-9662
Bank Mandiri 133-00-1283885-0
BRI Syariah 1025-03-2086

🏡Sekretariat RPPI
Jalan Polisi 1 No.3 Kelurahan Paledang
Kec. Bogor Tengah Kota Bogor 16122

After Eid

Berhubung ini tulisan pertama sejak Idul Fitri kemarin, meski sudah telat sekali, izinkanlah saya mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua. Mumpung masih bulan Syawal, semoga kita bisa melengkapi puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal ya.. aamiin! Oh ya, saya mau mengaku salah dulu nih karena gak bisa memenuhi target nulis tadabbur Quran setiap hari di blog ini selama Ramadhan kemarin. Cuma sampai 12 tulisan aja, itu pun banyak yang dirapel. Mohon maaf lahir dan batin 😄

Jadi setelah Idul Fitri ini ada beberapa hal yang berkecamuk di kepala *halah* karena emang sengaja ditunda mikirin/ngerjainnya setelah Ramadhan. Dimulai dari ini deh: saya takut. Saya merasa takut dan khawatir tentang suatu peluang/tantangan yang  mau saya ambil. Buanyak mikirnya deh, merasa ragu, bingung, gak percaya diri, dsb. Lalu kemudian saya jadi bingung.. kenapa saya jadi penakut begini? Apakah selama ini saya memang terlalu nyaman, ngejalanin rutinitas yang nyaris tanpa tantangan?

Kemudian jadi ingat waktu masa sekolah-kuliah kan kita masuk ke dalam sebuah sistem dan “dipaksa” mengikuti alur di dalamnya. Mau ga mau kita menghadapi tantangan yang namanya tugas, ujian, skripsi, sidang. Tantangan yang sebenarnya kalau boleh milih, mungkin enakan diskip aja, gak perlu dijalanin. Tapi karena kita punya tujuan (setidaknya untuk lulus), tetap harus dijalani. Setelah lulus, kita lepas dari sistem itu, kita bebas bikin alur sendiri. Gak ada yang maksa harus ikut ujian, gak ada yang mewajibkan sidang. Semua begitu bebas terserah kita. Mau ambil jalan yang lempeng aja, nyaman tanpa tantangan, atau memberanikan diri mengambil jalan sebaliknya.

Kata Bu Septi begini: “Hidup itu seperti naik sepeda. Saat kita terengah2, perlu tenaga besar, maka kita sedang dalam perjalanan naik. Tapi kalau hidup kita datar aja, ga perlu energi besar tapi tetap berjalan, maka kita sedang dalam perjalanan turun. Karena itu, temukan gunung lain untuk ditanjaki!”

Serius buuu? Harus naik gunung nih? Hahahah.. Ya benar sih hidup butuh tantangan, perlu gunung2 baru untuk ditanjaki. Tapi pertanyaannya, gunung apa yang akan kita pilih? Tentunya yang sesuai dengan visi hidup kan ya ya ya? Dengan gambaran besar kita sebenarnya mau jadi apa. Nah gambaran gw itu belum jelas jadi masih suka bingung -_-

Anyway, ada beberapa hal yang dipelajari sih dari peristiwa rungsing kebanyakan mikir kemarin2.. Bahwa sebenarnya yang bener itu bukan banyak mikir, apalagi mikirin hal2 yang belum tentu terjadi alias khawatiran. Ada ajaran Islam yang keren banget yaitu tawakkal. Di suatu artikel yang gw baca, tawakkal itu berarti kita bekerja keras, di luar kita mungkin terlihat rusuh bekerja dan berusaha, tapi di dalam hati tenang. Tenang, karena yakin sama Allah, bahwa Allah akan menolong dan memberikan yang terbaik. Lah gw mah kebalikannya, usaha belom, kebanyakan mikir iya, jadi we rungsing sorangan.

Kemudian jadi ingat lagi tentang ‘uluwwul himmah, bahwa sebagai Muslim kita harus bercita2 besar. Ingat lagi ceramahnya Yasir Qadhi yang ini, ceramah2nya ustadz Nouman, dll, yang mana saya menyimpulkan bahwa Islam memang mengajarkan supaya kita meraih lebih tinggi ya T_T Sebenarnya orang yang punya cita2 besar itu gak ada yang bisa menjamin dia akan sukses meraih cita2nya kan. Tapi dengan dia menetapkan cita2 itu, sebenarnya dia udah menaruh harapan pada dirinya dan Allah, bahwa dia akan berusaha, dan dia yakin Allah akan membantunya. Kadang cita2 itu terasa sulit diraih, kadang banyak hambatannya, tapi di situlah salah satu hikmah bercita2 besar adalah supaya kita bisa berserah pada Allah saat kesulitan itu terjadi. Saat stuck sekalipun, merasa diri nggak mampu, tapi yakin Allah bisa membuatnya mampu.

Postingan ini saya tinggal sejenak karena tadi baca postingan kakak kelas SMA di facebook, yang bikin saya googling terus nyangkut di milis angkatan SMA, terus nemu obrolan lama yang temanya tentang nostalgia SMA… waaaaaaa X) ada temen saya yang posting dia ketemu mantan kepsek kami, terus ngobrol2 dan di akhir si Bapak bilang gini: “anak2 smansa itu memang pantang menyerah…”. Ditambah saya lagi baca cerita2 nostalgia yg bukan hanya tentang kekonyolan, kegilaan, kelucuan, tapi juga tentang perjuangan dan betapa pantang menyerahnya kami saat SMA dulu. Ya, saya mulai belajar bermimpi besar di Smansa. Saya belajar berjuang keras di Smansa. Saya belajar bahwa saya punya teman2 yang tulus di Smansa. Sekarang, 10 tahun setelah saya lulus dari sana, gak ada alasan untuk melupakan pelajaran yang udah saya dapat di sana. Hidup Smansa! Aku cinta Smansa! *lah ini postingan kagak jelas banget yak ngalor ngidul ujung2nya Smansa :’)

Ramadhan oh Ramadhan

Huaaaa… gw ketinggalan banyak banget postingan tadabbur T_T insya Allah dikit2 dicicil deh ya..

Ada beberapa hal yang pengen dishare, terutama terkait Ramadhan.. Yang pertama, kita (gw sih ya terutama) semangat Ramadhannya kalau kondisi lagi baik. Lagi sehat, bugar, kondisi prima deh. Nah wajar lah kalau dalam kondisi itu kita bersemangat mengisi Ramadhan dengan amal2 terbaik. Tapi bagaimana kalau dikasih kondisi yang lain sama Allah? Misalnya, dikasih sakit. Apakah tetap sepenuh hati beribadah? Karena ternyata menyembah Allah itu bukan pas lagi enak doang, tapi pas lagi gak enak juga. Lagi sakit, ibadah memang gak optimal, tapi yang penting di hati dulu deh, apakah tetap menyembah Allah? Atau malah ngegerundel. Apakah tetap menyembah Allah dalam segala kondisi, semampunya. Kalau dikasih sakit dikit udah loyo, malu lah ya sama yang sakit parah tapi tetap kuat ibadahnya. Apalagi kalau ingat para sahabat dulu yang berperang di bulan Ramadhan. Pastinya bukan kondisi ideal kan, berjaga2 dalam perang, mungkin merasa cemas berkepanjangan, harus siap siaga, dst. Tapi pasti mereka tetap beribadah dengan optimal.

Yang kedua.. khususnya buat perempuan sih ini, yang ngalamin masa haid. Ini juga termasuk kondisi yang gak ideal sih kalau menurut saya. Ya namanya Ramadhan pengen maksimal ibadahnya, tapi saat haid yang bisa dilakukan terbatas. Yang jelas harus tetap bersyukur karena berarti sehat dan normal. Dan meninggalkan puasa dan shalat saat haid juga merupakan bentuk ketaatan pada Allah, karena memang gak boleh puasa dan shalat. Tapi harus sabar2 dah kalau jumlah harinya lebih banyak dari biasanya. Fasraaah aja dah sama Allah. Bukan berarti Allah gak pengen kita dapat keutamaan Ramadhan. Tapi mungkin Allah ingin kita belajar untuk bisa optimal beribadah dalam kondisi apapun, termasuk haid. Kan banyak ibadah hati dan lisan yang bisa dilakukan, misal dzikir, tawakkal, itu juga kan ibadah ya..

Ketiga.. betapa shalat itu instrumen yang canggih banget untuk membangun kedisiplinan. Ternyata saya terbiasa menjadwal diri saya dibantu oleh waktu shalat. Misalnya, waktu shalat Maghrib, sebelum waktu ini saya udah harus ini dan ini, dan sesudahnya harus ngapain. Kalau lagi leyeh2 ga jelas, shalat juga jadi pemutus ketidakjelasan itu dan jadi kayak pengingat, woy elu punya hal lebih penting yang harus dikerjain. Nah kalau lagi haid, jadwal itu hancur berantakan, dan jadinya suka seenaknya aja nabrak2 waktu..haha. Kece banget emang ternyata shalat, bisa bantu hidup jadi lebih teratur dan disiplin.

Dan.. sekarang udah mau tengah Ramadhan aja ya.. ya Allah, semoga masih bisa mengisi Ramadhan dengan baik T_T