Salim A. Fillah: Mengemudi Hati

Ini tulisan Salim A. Fillah.. baguuus:

Inilah tugas kehambaan kita; mengemudi hati menuju Allah. Alangkah berat & peliknya; sebab ia qalb; bergoyah-gayih, berbolak-balik.

Maka dalam doa teragung nan tercantum di Ummul Kitab & terucap di tiap raka’at; kita memohon jalan yang lurus. Lurus menuju padaNya.

Tapi yang sering lupa diinsyafi; jalan yang lurus ke langit itu, di bumi justru berkelok, curam, terjal, menikung, &bergelombang.

Sebab ia adalah “Shirathalladzina an’amTa ‘alaihim”; jalan orang-orang yang Allah beri nikmat. Al Quran mengisahkannya dengan syahdu.

Kisah-kisah itu; yang mengambil bahagian terbesar dalam Al Quran; membentang dari Adam hingga Muhammad; semua menceritakan lika-liku.

Maka ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yang Kau limpahi cinta; dalam sempit maupun lapangnya, senyum dan juga lukanya.

Maka Ya Allah, walau tak Kau kayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniai kami syukur dan tawadhu’nya, yang hormati semut serta burung Hud-hud.

Maka Ya Allah, walau tak Kau beri kami daya raga dan keajaiban seperkasa Musa, curahi kami keberanian dan keteguhannya memimpin kaum yang sering membuat kecewa.

Maka Ya Allah, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da’wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikan kebenaran dalam aneka cara.

Maka Ya Allah, walau paras tak setampan Yusuf rupawan, kuatkan diri kami menahan semua goda dan derita, tajamkan nuraninya hingga mampu membaikkan negeri.

Maka Ya Allah, walau keajaiban tak selalu sertai perjalanan, penuhi hati kami dengan kasih mesra seperti ‘Isa, hingga tunduklah musuh dalam cinta.

Maka Ya Allah, walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya Kaudengarkan.

Maka Ya Allah, walau tak usah mengalami kehilangan, dicekik sakit, miskin, dan musibah; sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yang tabah.

Maka Ya Allah; walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar, dan Sarah; limpahi keluarga kami dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah, dengan keturunan yang shalih serta shalihah.

Maka Ya Allah, walau ibadah tak seterpelihara Zakaria dan kesucian tak seterjaga Maryam; nikmatkan bagi kami bakti anak mulia seperti Yahya dan ‘Isa.

Maka Ya Allah, walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa surga sebelum surga, terimalah taubat atas segala dosa.

Maka Ya Allah, walau hidup tak sepedas-pedih warna-warni hayat Ya’qub, jadikan kami hanya mengadu padaMu semata, hingga menampilkan kesabaran cantik yang mencahaya.

Maka Ya Allah, walau tak harus lari dan bersembunyi sebagaimana para Ashabul Kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al Haq di depan tirani.

Maka Ya Allah, walau kerajaan tak seluas Dzul Qarnain, curahi kami akhlaq pemimpin; yang senantiasa menyeru pada iman, membebaskan ummat, serta menebar manfaat.

Maka Ya Allah, walau jangan sampai Kau karuniai pasangan yang mirip Fir’aun, teguhkan kami bagai Asiyah yang mukminah, anugerahkan rumah di sisiMu di dalam surga.

Maka Ya Allah, walau persoalan hidup tak sepelik yang dialami Ibunda Musa, bisikkan selalu kejernihanMu di firasat kami saat menghadapi musykilnya hari-hari.

Maka Ya Allah, walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al Hakim; tajamkan fikir dan rasa kami untuk mengambil ‘ibrah di setiap kejadian.

Maka Ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan.

Advertisements

[Film] Salah Sedekah

Film Salah Sedekah adalah Film yang menceritakan tentang pemuda yang sudah 6 bulan terus bersedekah namun belum doanya belum juga dijawab oleh Allah SWT.

Film ini didukung oleh PPPA Daarul Qur’an dan DAQU Movie

Barusan nonton film ini. Huaaaa baguuuus! Film-nya Want Production emang bagus2 sih. Tapi yang ini dapet banget feel-nya. Mulai pas kakaknya marah2 di meja makan, terus adiknya yang kecil nangis. Gw jadi ikut sedih 😦 *hahaha baper banget deh gw* Terus kata2 bapak penyapu jalan itu ya nyess banget, “Kayak anak saya yang ngambek kalau gak dikasih upah/hadiah setelah dia bantuin saya dan istri di rumah. Padahal kan kami lagi nabung buat beliin dia sepeda. Kata orang sekarang mah, surprise. Mungkin Allah juga pengen ngasih surprise ke mas” *kata2 gak sama persis* Sampai akhirnya dia ketemu temen bapaknya di rumah sakit. Jreeeng, terungkap deh surprise-nya.

Film ini pendek, sederhana, tapi seperti miniatur hidup kita. Menggambarkan bagaimana hidup kita, bagaimana sikap kita ke Allah, dan bagaimana sebenarnya Allah selalu menolong kita. Masya Allah. Thumbs up for Want Production. Semoga istiqomah menelurkan karya2 berkualitas! Barakallahu fiikum 🙂

whatever stage in life
“Whatever stage you are in life, make a conscious decision that at that stage you will grow closer to Allah” -Dr. Farhan Abdul Azeez @ Young Muslim’s Youth Conference 2015

 

Dia Baru Menikah di Usia 45 Tahun

*sebuah catatan tentang kapan nikah, jodoh, anak, rezeki. CMIIW ;)*

Kemarin lusa saya menghadiri akad nikah dan walimatul ‘urs salah satu guru tahsin saya. Acaranya diselenggarakan dengan sederhana di masjid tempat kami biasa belajar. Sebenarnya saya kurang tahu pasti usia beliau sekarang berapa. Yang jelas di atas 40 tahun. Yah, kita sebut saja 45 tahun ya.. Usia yang tak lagi muda untuk menikah bukan? Dan itu adalah pernikahannya yang pertama. Sebuah momen yang mungkin telah dirindukannya selama puluhan tahun. Saya membayangkan beliau yang bertahun-tahun dalam penantian, bertahun-tahun dalam keinginan yang belum tersampaikan, bertahun-tahun menghadapi pertanyaan, “kapan nikah?”. Tapi beliau menjalaninya dengan baik-baik saja dan tetap produktif dalam kebaikan.

Terkadang saya sendiri berpikir tentang kenapa saya belum menikah: “Duh mungkin gw messed up banget ya”, “Ah iya sih gw masih payah banget, kacau banget”, “Gw masih kurang ini itu”, dan sebagainya (introspeksi diri tentu perlu ya!). Tapi apakah harus jadi orang yang baik sempurna untuk bisa menikah? Kalau iya, kenapa ada pencuri, penjahat, perampok, gampang-gampang aja ketemu jodohnya? Lalu bagaimana dengan orang yang baru menikah di usia 40/50an? Atau orang-orang yang belum bertemu jodohnya sampai mereka meninggal dunia? Masa iya mereka messed up sepanjang hidupnya? Apa kita mau bilang, oh mungkin kurang ibadahnya, kurang berdoa, kurang usaha, kurang cantik/ganteng, kurang kaya, belum siap, belum dewasa, belum pantas, dan sebagainya. Tapi setelah segala usaha dilakukannya, apalagi yang bisa kita bilang selain: memang itulah waktu yang ditetapkan Allah untuknya.

Saya teringat tulisan Bang Tere Liye yang berjudul “Keran Rezeki”. Intinya, rezeki yang didapatkan manusia itu tidak ditentukan oleh kegantengan/kecantikannya, kepintarannya, kegigihannya, melainkan ditentukan oleh Allah. Terserah Allah aja bagaimana mengucurkan rezekinya. Begitu pula dengan jodoh bagi yang ingin menikah, atau anak bagi yang ingin memiliki anak. Seorang teman saya yang sudah menikah bilang, “Saya sama suami udah nikah pengen punya anak belum dapat juga, sementara anak SMP yang berzina (na’udzubillahi min dzalik), sekali berhubungan langsung hamil”.

Begitulah, terserah bagaimana Allah memberikannya. Tapi yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah bukanlah “apakah kita dapat rezeki (termasuk jodoh/anak) atau tidak”, tapi “bagaimana cara mendapatkannya dan digunakan/diperlakukan seperti apa”. Teman saya yang lain sudah delapan tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Saat ini mereka sedang berusaha, bolak-balik kontrol ke dokter, cek laboratorium, suntik hormon, dsb. Saat ini dia berpikirnya, terserah Allah aja mau dikasih apa nggak, yang dilakukannya hanyalah menyempurnakan ikhtiar. Subhanallah.

Sebagai manusia tugas kita adalah berusaha, sedangkan hasilnya Allah yang menentukan. Ketika berhasil, mungkin saat itulah keinginan kita dan takdir Allah bertemu. Keberhasilan kita bukan hanya berasal dari usaha kita, melainkan dengan izin Allah juga.

Every single success you experience is a combination of two things: your effort and Allah’s help
-Nouman Ali Khan

Jadi ketika sudah berusaha, sudah berdoa, tapi yang kita inginkan belum juga terwujud, apakah itu sesuatu yang buruk? Apakah Allah benci pada kita? Tidak, selama kita selalu berusaha mematuhi Allah dan menjauhi laranganNya. Tercapai atau tidaknya keinginan bukanlah ukuran kemuliaan kita. Dikasih nggak dikasih itu hak prerogatif Allah.  Allah menilai usaha kita, apakah kita bersabar dan berbaik sangka, apakah kita tetap percaya dan terus berdoa meski hasilnya belum nampak di depan mata. Sementara di mata manusia, seringkali yang dinilai adalah dapat atau tidaknya 🙂 Maka penting bagi kita untuk menjadikan Allah sebagai tujuan, dan keinginan kita sebagai sarana, bukan sebaliknya. Apakah keinginan kita terwujud atau tidak, yang penting selalu dapat Allah.

Untuk teman-teman yang belum menikah -termasuk saya, huehehehe- mari kita isi hidup dengan amal sebaik-baiknya. Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang paling baik amalnya (bukan siapa yang udah nikah, siapa yang duluan nikah..wkwkwk). Kata Yasmin Mogahed, mungkin dari kecil kita terbiasa dicekokin cerita macem Cinderella atau Snow White. Ketika bertemu pangeran tampan, sempurna sudah hidupnya, bahagia selamanya. Seperti cerita putri tidur yang baru bangun waktu pangeran datang, jangan berpikir kita baru benar-benar hidup setelah nanti bertemu jodoh. Lalu hidup sebelum nikah ngapain? Koma?

Dalam pernikahan memang banyak kebaikan dan kebahagiaan. Kita turut berbahagia dan bersyukur jika ada saudara-saudara kita yang mendapatkannya. Namun bagi yang belum mengalaminya, kita pun bisa mendapatkan kebahagiaan dan kebaikan!

Allah telah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya (At-Tin:4). Allah telah memuliakan manusia (Al-Isro:70). Kita berharga, dan kita bisa bahagia kalau fokus hidup kita adalah untuk Allah.

Terus mendekat pada Allah, terus memperbaiki diri, dengan niat karena Allah. Terus beramal, belajar, berkarya, berkontribusi, produktif dalam kebaikan dan amal shalih, menabung untuk kehidupan abadi di akhirat kelak.

Belajar Quran, belajar Islam, menghafal Quran, belajar ilmu yang bermanfaat, ngajarin anak-anak kecil ngaji, bikin proyek sosial, semangat menyebarkan kebaikan sekecil apapun.

Kita bisa bahagia kalau fokus kita bukan hanya pada diri sendiri. Biarlah cerita hidup kita berjalan sesuai yang dikehendakiNya. Allah yang telah menciptakan kita, yang selama ini menjaga kita, tahu yang terbaik untuk kita dan selalu memberikan yang terbaik pada kita. Semoga kelak kita pun bisa kembali padaNya dalam kondisi sebaik-baiknya 🙂

“Asking me when I’m getting married is like asking me when Qiyamah is:
I don’t know.
Perhaps the time is near.”

No one knows when they will get married. It is Qadr of Allah. Also we need to remember marriage is not synonymous to happiness or fulfilment.
Peace and Happiness can only be attained through taqwa and Quran.
Marriage is just another phase of life. Some are tested with it and some blessed.

-The Ideal Muslimah

Menikah itu bukan soal siapa cepat.
Tapi Allah sudah pilihkan waktu yang tepat.

Memantaskan diri itu bukan ditujukan untuk si dia.
Tapi fokus memperbaiki diri di hadapan Allah.

Kalau kita jatuh cinta, kejar cinta Sang Pemilik hatinya: Allah.
Agar yang mengejar kita, dia yang mencintai Sang Maha Cinta.

-Assalamualaikum Sally – Jodoh Pasti Bertamu

[Ilmfest2014] Muhammad Alshareef: The Call

Suatu hari Rasulullah SAW meminta pada Ibnu Mas’ud untuk membacakan Qur’an untuknya. Sampai di QS An-Nisa ayat 41, Rasulullah berkata, cukup. Dan saat Ibnu Mas’ud melihat beliau, ternyata pipi beliau berlinang air mata. Ayat tersebut mengatakan bahwa setiap umat ada saksinya, yakni Rasul yang diutus pada umat itu. Beliau pun memikirkan bagaimana nantinya di hari pengadilan akan menjadi bagi umatnya, sedangkan umatnya ada yang sudah diseru namun tidak mau taat. Ya, beliau selalu memikirkan kita, umatnya.

Salah satu warisan beliau yang harus kita ikuti adalah jalan dakwah. Qum fa andzir. Bangunlah, dan berilah peringatan! Bangun, dalam energi yang penuh untuk berdakwah, mengajak orang. Dakwah seharusnya menjadi warisan terbesar kita. Dakwah should be your greatest legacy.

Jalan dakwah memang tidak mudah dan penuh ujian. Ujian pertama dalam dakwah: cemoohan orang2. Tapi dakwah adalah perkataan terbaik,

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat: 33)

Dan pahalanya memang sangat besar. Kalau kita bisa mengajak orang pada Islam, itu lebih baik dari dunia dan seisinya,

“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya)”. (HR. Al-Hakim).

Teladan dakwah dari Nabi Ibrahim yang menghadapi Namrud. Ibrahim bilang bahwa Allah bisa menghidupkan dan mematikan, lalu Namrud berkata, dia pun bisa demikian. Padahal yang Namrud maksud dengan menghidupkan adalah membiarkan orang hidup dan mematikan berarti membunuhnya. Lalu Ibrahim bilang bahwa Allah menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkannya di barat. Lalu bungkamlah Namrud. Jadi di sini Nabi Ibrahim memberikan bukti yang nyata. Kalau ucapannya Namrud yang awal tadi ditanggapi, diterusin, bisa jadi debat kosong aja. Tapi kemudian Ibrahim menyampaikan fakta yang tidak bisa dibantah. Perlu bahasa yang jelas dan lugas.

Untuk berdakwah, tidak harus jadi syaikh, atau lulusan sekolah agama. Karena Rasul berkata, sampaikanlah walaupun satu ayat. Caranya pun tidak harus dengan lisan/pidato/ceramah, tapi juga bisa lewat tulisan di blog, sms, dll.

Perlu diingat, bahwa dalam berdakwah, tugas kita bukanlah membuat orang menerima, tetapi hanya menyampaikan. Dan kita melakukannya dengan ihsan, sebaik2nya.

Kalau kita tidak berdakwah, pesan itu berhenti di kita. Kehidupan yang baik itu terjadi ketika kita mengikuti jalan Allah dan Rasul, termasuk berdakwah.

Langkah-langkah dakwah
Peduli terhadap orang dengan tulus dan genuine
Kita bisa meneladani Rasulullah SAW yang peduli pada semua orang, termasuk uang belum pernah beliau temui.
Rasulullah juga memikirkan generasi berikutnya. Sedihnya beliau adalah ketika orang tidak menerima Islam. Beliau juga menggunakan setiap kesempatan untuk berdakwah. Seperti waktu beliau dan Abu Bakar hijrah, orang yang mengejar mereka, Suroqoh, juga beliau dakwahi.

Tips praktis dalam berdakwah

  1.  #shareknowledge: Share konten! Gak perlu bikin, cukup share aja di social media
  2. Mulai dari keluarga, nanti melebar ke masyarakat
  3. Berakhlak baik di kantor, kampus, dll
  4. Menjaga shalat, dan ajak orang2 untuk shalat

Penutup
Ada sebuah peristiwa saat Haji Wada, Rasulullah berkata pada para sahabat, ketika nanti kalian ditanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan? Sahabat menjawab, kami akan bilang bahwa kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, dan kami telah menyaksikan/menjadi saksi.

Tanyakan pada diri kita sendiri, kalau kita bertanya hal yang sama pada keluarga, tetangga, teman, kira2 apa yang akan mereka katakan?

M. Alshareef
source: Qabeelat Ihsan

Tambahan
Muhammad Alshareef memulai Al Maghrib karena keprihatinan akan minimnya acara Islam yang dikemas dengan baik. Masa poster acara Islam seadanya banget, kalah sama poster restoran siap saji. Mereka bisa sebagus itu padahal hanya jual hamburger. Kita jualan surga, kenapa gak bisa sebagus itu? Lalu beliau menginisiasi Al Maghrib yang terbukti memang sampai sekarang, kualitas acara, branding, dan desainnya top banget!

PS: maaf saya banyak paraphrasing untuk menyampaikan inti hadits. Hadits lengkapnya bisa dicari sendiri kali ya :’D

The Afterlife

 

After we die from here, we are going to go to another state of life and it’s gonna go on for generations. Some people, that life in the grave that they are going through, they have been going through for thousands of years. And they have been in there. That’s another phase of life. We don’t see it as death. We see it as another stop in the journey of life. So when you compare all these stops in the journey of life, you will realize that this life, meaning from my birth to my worldly death is the shortest stop in this journey. The shortest span! And so when you realize that, you also realize this tiniest space, this tiniest lifetime that I have, the span that I have, this is the one that will determine all of my actions in the future.

My eternal life is based on these very few moments. So my time is no longer trivial. I have to make the best of it. I have to make the most of it. There is no such thing as free time for me now. What the afterlife does is, (it) gives me respect for my time. A sense of urgency to accomplish more and more good and to get away from more and more evil. It destroys laziness inside me. So if I find Muslim in the audience, if you find yourself being lazy and you have to ask whether or not your beliefs in the afterlife are concrete enough. Maybe you need more reminder about the afterlife because they necessarily give you a sense of urgency. And for those of you who think, “well, Judgement day, Paradise, Hellfire, it’s so far away”. What does Allah Himself say, “No doubt they see if far away – We see it near” (Al-Ma’arij 6-7).

*selalu suka cara NAK menjelaskan sesuatu^^