#30HariQJ[1] An-Nisa 32: Tentang Iri Hati

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS An-Nisa: 32

Dalam tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah pertanyaan Ummu Salamah: “Wahai Rasulullah, kaum pria dapat ikut berperang, sedangkan kami (kaum wanita) tidak dapat ikut berperang, dan bagi kami hanya separo warisan (yang diterima lelaki)”. Maka Allah menurunkan ayat ini: “Dan janganlah kamu iri hati…”.

Padahal kalau dilihat dari pertanyaannya, sepertinya “iri hati” ini dalam urusan pahala dan akhirat, bukan dunia. Iri sama orang yang bisa jihad kenapa? Karena dia bisa dapat pahala dan jadi syuhada. Kalau pertanyaan pertama udah seperti ini, bisa jadi pertanyaan kedua tentang waris juga motivasinya adalah harta itu untuk amal juga. Wallahu a’lam.

Tapi tetap aja Allah bilang, jangan iri.. untuk laki-laki dan perempuan masing-masing ada bagian usahanya sendiri-sendiri. Perempuan ga diwajibkan turun ke medan jihad, tapi laki-laki juga ga bisa dapat pahala mengandung, melahirkan, dan menyusui seperti perempuan. Dan banyak lagi perbedaan ladang amal lainnya antara laki-laki dan perempuan, tapi keduanya pasti mendapat balasan dari apa yang mereka usahakan.

Kalau iri hati dalam urusan pembagian pahala aja ga boleh, lalu gimana dong dengan iri hati dalam urusan dunia? Kita (eh saya deh) kan seringnya iri dalam urusan dunia ya.. Eh si A udah punya itu, aku belum.. Eh si B hidupnya enak banget, aku ngga. Padahal pembagian nikmat dunia itu adalah ketetapan Allah juga. Ada pelajaran yang saya dapat dari ayat ini, ditambah dari pengalaman juga, bahwa:

Kalau menginginkan sesuatu, ga usah iri sama orang lain, ga usah baper, minta aja sama Allah.

“…dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya”.

Kemudian, gimana mengatasi iri hatinya? Salah satu obatnya yang menurut saya manjur adalah:

Dzikrul maut.

Bayangin kalau kita mati besok atau sebentar lagi.. rasa iri hati dan baper kita itu ga berguna sama sekali di dalam kubur, ga berguna sama sekali ketika kita menghadap Allah lalu dihisab. Malah ngeri, pas mati masih membawa penyakit hati, pas ketemu Allah masih menyimpan rasa tidak puas dengan pemberian-Nya. Kalau kita mati, hal-hal yang kita inginkan pun ga berguna lagi. Hal-hal yang bikin kita iri ga ada artinya lagi.

Ayat ini mengajarkan saya bahwa ketika ingin sesuatu, atau bahkan iri (dalam hal yang baik ya), jangan berhenti di perasaan iri itu lalu mempertanyakan keadilan Allah. Ubah perasaan itu menjadi aksi/usaha dan doa, dan terus bersangka baik pada Allah. Berusaha untuk ridha dengan ketetapan-Nya, karena ridha atau contentment itu adalah a paradise on earth! 🙂

Referensi: http://www.ibnukatsironline.com/2015/05/tafsir-surat-nisa-ayat-32.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s