[MN7-1] Menanamkan Tauhid pada Anak

Menanamkan Tauhid Pada Anak (Ust Arsal Sjah)

Madrasatun Nisa season 7 episode 1

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Nabi bersabda:

“Ajarkan kalimat Laa ilaha illallah kepada anak kalian sebagai kalimat pertama, dan tuntunkanlah mereka (mengucapkan) Laa ilaha illalallah ketika menjelang mati” (HR Hakim)

Ustadz Arsal menyebutkan 3 cara untuk menanamkan tauhid pada anak usia dini: mendiktekan kalimat tauhid dan maknanya, mengajarkan Al Quran, menjaga dan mengawalnya.

1. Mendiktekan kalimat tauhid dan maknanya pada anak

“Di awal waktu ketika anak-anak mulai bisa berbicara, hendaklah mendiktekan kepada mereka kalimat Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, dan hendaklah sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah Laa ilaha illallah (mengenal Allah) dan mentauhidkannya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah bersemayan di atas singgasanaNya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataan mereka, senantiasa bersama mereka di manapun mereka berada”. (Ibnul Qayyim)

 

  • Mendiktekan akan menjadi proses penanaman tauhid pada anak. Sekarang ini banyak yang mendiktekan doa, tapi jangan lupa juga mendiktekan kalimat tauhid. Kemudian kasih tau artinya dengan bahasa dia, dan tanamkan kepercayaan terhadap kalimat itu.

  • Seringkali kita mengajarkan sesuatu bukan dengan sebab tauhid, misalnya biar dapat hadiah. Padahal seharusnya menanamkan kesadarkan sebagai makhluk dan hamba yang harus melakukan apapun yang diperintahkan Al Khaliq, penciptanya, Tuhannya. Bukan biar dapat ini itu.

  • Kesadaran sebagai makhluk itu nanti yang akan membentuk akhlaknya. Berakhlak bukan biar dapat ini itu, tapi karena dia hamba Allah. Sehingga anak ga pamrih.

  • Kalau udah diajarin sejak awal, nantinya kita ga perlu ribet menjelaskan bukti2 keesaan Allah, karena memang belum saatnya mereka memahami bukti2 itu, belum saatnya mereka mempertanyakan itu (belum sampai akalnya).

Kapan saat terbaik untuk mendiktekan kalimat tauhid atau ajaran agama:

  1. Saat makan bersama. Makanya makan bersama itu penting. Bukan hanya untuk menanamkan tauhid, tapi juga untuk evaluasi.. apa yang sudah dan belum dilakukan, apa kesalahan yang dilakukan, dll. Rasulullah juga suka memberi nasehat saat makan bersama.

  2. Saat di perjalanan. Rasulullah sambil membonceng Ibnu Abbas banyak mengajarkann berbagai hal. Misal hadits yang isinya tentang “jagalah Allah..”. Perjalanan bukan sekedar untuk membahas pemandangan atau apa yang dilewati di perjalanan.

  3. Saat anak sakit. Saat itu hatinya lebih lembut karena sedang kuat fitrahnya sebagai anak dan sebagai makhluk. Rasulullah pun dulu saat menjenguk anak Yahudi yang sedang sakit memberi nasehat “Wahai anak, berimanlah kau pada Allah, patuhlah pada Allah, ikutilah yang aku ajarkan”, sampai beberapa kali dan akhirnya anak ini masuk Islam.

2. Membacakan, mengajarkan, dan memahamkan Al Quran

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS Al-Jumu’ah: 2)

Yaitu membacakan Al Quran sejak dalam kandungan, baik ibunya yang tilawah, ayahnya yang tilawah, atau diperdengarkan murattal. Jadi yang pertama itu membacakan atau memperdengarkan, baru mengajarkan.. sesuai urutan di QS Al Jumu’ah: 2. Membacakan/memperdengarkan untuk membuat anak familiar dengan Al Quran, supaya tidak asing.

Kalau perlu, pengantar tidurnya itu bacaan Al Quran, dibacakan terjemah tafsir, meskipun dia belum paham. Karena memori anak pada saat itu tugasnya baru terima dan simpan. Nanti ketika diajarkan, akan langsung nyambung dengan apa yang pernah didiktekan.

Sibukkan dia dengan mengajarkan Al Quran, membaca hadits dan maknanya, menyibukkan diri dengan ibadah. Tiga hal itu akan menambah kokoh kepercayaan anak, banyak faedah yang bisa dipetik, ditambah lagi cahaya ibadah dan amalan akan semakin memperkuat itu semua.

3. Menjaga dan mengawalnya

Tidak cukup hanya mendiktekan dan mengajarkan, tapi juga perlu menjaga dan mengawal apa yang sudah diajarkan pada anak. Karena setan selalu mengganggu kita, termasuk anak juga. Meskipun anak lahir dengan fitrah keimanan yang selalu mencari jalan menuju Tuhan, tapi ada setan yang bisa menggelincirkan manusia dengan cara merayu dengan tipu muslihatnya. Setan bisa menipu dengan sesuatu yang terlihat baik. Misal saat merayu Nabi Adam, iming-imingnya adalah supaya bisa abadi di surga.

Perhatikan lingkungan, teman, guru, sekolah anak.. Jangan sampai merusak apa yang sudah orang tuanya tanamkan. Anak kecil sampai TK dan SD bisa aja dikasih lingkungan steril, karena belum saatnya mereka untuk memilih.

Penutup

  • Menanamkan tauhid lebih efektif jika teladan tauhid ada dalam diri kita, karena anak itu suka memperhatikan. Kalau ada yang ga sesuai, anak akan protes atau berontak.

  • Ortu melakukan juga apa yang dikatakan dengan ikhlas karena Allah, bukan sekedar action doang.

  • Doakan anak-anak, jangan jadikan ikhtiar sebagai Tuhan.. itu bagian dari aplikasi tauhid juga.

Tanya jawab

1. Tentang azan pada anak yang baru lahir apakah shahih? Jawab: Ada yang bilang shahih, ada yang bilang dho’if.. Tapi sedho’if dho’ifnya hadits, tetap hadits. Yang lemah adalah di sanadnya bukan di matannya. Maka adalah sunnah (karena ada riwayatnya) untuk mengazankan bayi baru lahir di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya.

2. Pada fase anak sudah bisa berpikir, lalu nanya Allah itu seperti apa, gimana jawabnya? Jawab: kalau sebelum fase berpikir sudah ditanamkan tauhid, dia ga akan nanya seperti tiu. Pertanyaan itu muncul pada anak-anak yang belum ditanamkan tauhid pada fase sebelum dia bisa berpikir. Kalaupun anak bertanya tentang Allah, berikan jawaban tauhid, misal

  • “Allah itu kayak apa?” Jawab: “Allah ga sama dengan makhluk, jadi ga bisa dibayangin Allah seperti apa”.

  • “Allah di mana?” Jawab: “di langit, di Arsy, dan Allah memperhatikan kamu. Kalau kamu berbuat jahat, Allah tau. Kalau kamu menyangkal, Allah punya bukti. Makanya kamu berbuat baik aja, karena Allah senang itu”.

  • “Kalau kamu mau tau Allah seperti apa, nanti di surga kamu akan tau”. “Oh, berarti aku harus ke surga dulu ya, bun?”

Mendidik anak dengan bahasa tauhid, bukan dengan bahasa fiqih yang pakai reward & punishment. Yang berhak menghukum adalah Allah. Dalam bahasa tauhid, yang dipakai adalah responsibility and consequences. Misalnya saat ngajarin kenapa shalat. Kasih tau bahwa kita shalat karena Allah yang perintahkan. Ini juga mendidik anak agar patuh, nantinya dia terbiasa patuh ke ortu juga. Biar pas udah besar ga suka membantah.

Kembali ke kenapa kita shalat, karena Allah perintahkan.. biar Allah sayang. Kalau Allah sayang, apapun bisa Allah kasih. Kalau ngga shalat, Allah ga suka. Jangankan yang kamu minta, yang kamu punya aja bisa diambil sama Allah. Dengan bahasa yang begini, anak bisa merefleksikan dengan apa yang dia alami sekarang. Bagaimana dia disayang ayah ibunya, bagaimana kalau dia ingin sesuatu, apa aja yang dia miliki. Kalau dikasih tau tentang surga neraka dia belum ngerti, ga kebayang.

3. Sampai usia berapa anak bisa di-talqin/didiktekan? Jawab: sampai mumayyiz (bisa berpikir), umumnya 6 tahun. Anak yang mumayyiz boleh jadi imam asal memenuhi kriteria jadi imam. Kalau dia pengen jadi imam tapi bacaan belum baik, dimotivasi aja.. misalnya “kalau kamu mau ketemu sama teman tapi belum pakai baju, malu ngga? Kita shalat juga harus rapi dulu, harus dibagusin bajunya, juga bacaannya. Kamu belajar dulu ya.. Kalau bacaannya sudah bagus, boleh jadi imam”

4. Bagaimana jika telat mengajarkan tauhid? Jawab: langsung diajarkan dengan urutan seperti di QS Al Jumuah: 2. Terus diajarkan sampai hatinya menerima. Kalau hati sudah terpegang, pikiran secanggih apapun ga bisa melawan. Libatkan Allah dengan mengajarkan perkatanNya, yaitu Al Quran.

5. Mengajarkan anak dengan bahasa negatif (misal, kamu jangan begini begitu) apakah baik? Jawab: Dalam hal tertentu, bahasa negatif bisa diganti yang positif, tapi dalam hal tauhid, ga bisa digantikan. Misal kalau mau ngelarang anak supaya jangan lari, bisa diganti dengan “kita jalan aja ya pelan-pelan”. Tapi kalau mau ngelarang anak menyekutukan Allah, ga bisa cuma bilang.. kita sembah Allah ya.. Pesan jangan sekutukan Allah tetap harus disampaikan. Jadi dalam hal ini bukan mengganti yang negatif jadi positif, tapi melembutkan (cara menyampaikan) bahasa negatif. Ini supaya anak tau dengan tegas mana yang boleh dan ga boleh.

One thought on “[MN7-1] Menanamkan Tauhid pada Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s