Mencintai adalah Memberi

Kemarin saya menemukan video ini di salah satu akun tumblr, yang berisi penjelasan seorang rabbi tentang “fish love”.

A: Kenapa kamu makan ikan itu?
B: Karena saya suka ikan
A: Oh, kamu menyukai ikan itu. Karena itu kamu mengeluarkannya dari air, kemudian membunuhnya, dan memasaknya. Jangan katakan padaku kamu mencintai ikan itu. Kamu mencintai dirimu sendiri, dan karena ikan itu terasa enak bagimu, maka kamu mengambilnya dari air dan membunuhnya lalu memasaknya.

Seringkali cinta yang banyak terjadi sekarang adalah “fish love”, di mana orang mencintai pasangannya karena merasa pasangannya bisa memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Mereka merasa saling mencintai, tapi sebenarnya dalam hubungan itu mereka hanya mencari pemenuhan kebutuhannya sendiri. Pasangannya dijadikan sarana untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam mencintai, yang seharusnya terjadi adalah memberi, bukan apa yang bisa didapatkan.

Yasmin Mogahed juga pernah bilang tentang orang yang miskin dalam relasi suami istri. Orang yang miskin adalah yang meminta-minta dan menuntut untuk dicintai. Ibaratnya karena ga punya cinta, jadi minta dicintai dan diberi. Sebaliknya, orang yang kaya adalah mereka yang merasa cukup dengan cinta dari Allah, lalu banyak memberi pada pasangannya. Mereka kaya karena cinta Allah cukup baginya, dan tabungan cintanya cukup sehingga bisa tulus mencintai pasangannya.

Secara teori mungkin ini terlihat, “oh ya, bagus.. bagus.. betul tuh memang harusnya begitu”. Tapi secara praktek ini susaaah banget. Kadang bayangan-bayangan sebelum nikah seperti “saya akan jadi istri yang begini, saya akan mencintai walaupun bla bla bla”, kadang luntur sendiri saat menjumpai realita. Menjalani memang ga semudah membayangkannya. Susah untuk bisa fokus hanya untuk mencintai, memberi, dan mengingat kewajiban, karena terkadang ada dorongan untuk diberi hak dan menuntut ini itu.

Mungkin itulah kenapa bekal ruhiyah sangat penting dalam pernikahan (dan juga dalam hal lainnya). Karena saat ruhiyah baik, kita akan lebih banyak fokus ke Allah dan kurang menuntut dari makhluk. Seperti kata teteh Yasmin, cinta dari Allah itu cukup sehingga dia bisa fokus mencintai dan ga meminta dicintai. Selain itu, saat ruhiyah baik biasanya lebih mudah untuk bersyukur dan bersabar, sehingga bisa lebih menerima pasangan dan gak menuntut macam-macam.

Lagipula, sebenarnya gak ada ruginya kalau fokus mencintai dan memberi. Cinta dari Allah dapat, dari pasangan pun insya Allah dapat. Saya ingat salah satu cerita dari ustadz Hanan tentang Ibunda Khadijah yang begitu spesial di mata Rasulullah SAW. Menurut beliau, kenapa Ibunda Khadijah begitu spesial dan tak tergantikan bagi Rasulullah SAW adalah karena “wafa”. Karena totalitas alias habis-habisan beliau mendukung Rasulullah SAW. Beliau menjadi tempat pulang yang menenangkan Rasul, memberikan harta, mendukung perjuangan, memberikan apapun yang dimilikinya. Tapi tentu niatnya untuk dapat cinta Allah aja. Kalau Allah udah cinta seseorang, mudah bagiNya membuat makhluk-makhluk mencintainya.

The underlying principle in marriage (as it is in everything else in this deen of Allah), you worry about your obligation, and you forget about your right. (Nouman Ali Khan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s