[Ilmfest 2014] Yasmin Mogahed: The Lessons from Tha’if

Rasulullah SAW pergi berdakwah ke Tha’if pada Amul Huzn (tahun kesedihan), yaitu tahun di mana Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia. Yang terjadi di Tha’if adalah beliau ditolak mentah2, bahkan dilempari batu sampai berdarah. Yet he’s not complaining about Allah, but to Allah. Merendah dan merasa gak mampu di hadapan Allah. Concern beliau saat itu bukan derita beliau, tapi asal Allah gak marah pada beliau. His concern is the pleasure of Allah.

Tiga respon terhadap kesulitan:

  1. Rasa marah pada Allah. Semoga kita gak pernah merespon kesulitan dengan ini. Ini adalah respon orang2 yang akhirnya menjauh dari Allah.
  2. Sabar. Bahkan jika kita terluka, kita tidak mengeluh terhadap Allah. Tapi kita boleh mengadu ke Allah, artinya kita menghadap Allah dan meminta pertolonganNya, menyadari bahwa kita ini nothing tanpaNya. Gak ada musibah yang menimpa seorang muslim melainkan musibah itu membersihkan dirinya dari dosa, asal kita meresponnya dengan benar. Salah satu alasan Allah menimpakan kesulitan pada seseorang adalah untuk menyucikannya.
  3. Ridha. Bukan hanya sabar, tapi lebih tinggi dari itu. Ridha apapun yang Allah tetapkan. Inilah responnya Rasulullah. Tahap ini tidak hanya menyucikan diri, tapi juga mengangkat derajat.

Difficulties and hardships push you towards Allah. Karena kalau udah kehabisan pertolongan makhluk dan cara2 dunia, satu2nya cara adalah melihat ke “atas”.

Pasca peristiwa Tha’if, ada malaikat penjaga gunung yang menawarkan untuk menghancurkan masyarakat Tha’if dengan menimpakan gunung ke atas mereka. Tapi Rasulullah menolaknya, karena bisa jadi keturunannya ada yang beriman.

Kapan terakhir kali kita dikecewakan orang? Rasa kecewa itu pasti gak ada apa2nya dibandingkan yang dialami oleh Rasulullah. Tapi kita inginnya membalas.

Hidup ini adalah tentang fokus. Dan fokus kita adalah ridha Allah, bukan ego kita sendiri. Ketika peristiwa haditsul ifki (Aisyah difitnah), Rasulullah tidak mementingkan ego, tapi apakah Aisyah benar/tidak, dan bagaimana hubungan Aisyah dengan Allah.

Amul huzn yang dialami Rasulullah, dibalas dengan yang jauuuuuh lebih baik: isra’ mi’raj. When he was soooo near to Allah. And the gift given to him and his ummah is: shalat. Kita seringkali menganggap shalat itu beban.. padahal shalat itu refuge from the storm. Rasulullah bilang shalat itu coolness of the eyes.

Setan itu fokusnya cuma 1: menyesatkan manusia, sedangkan manusia banyak fokusnya. Pelindung kita terhadap setan: dzikrullah. Hati2 karena setan itu bisa membuat yang hitam terlihat putih, dan sebaliknya. Hijab  dibilang oppresive, alcohol jadi attractive, dsb.

Jika kita berlindung dengan shalat, insya Allah kita akan bisa melihat dengan benar. Mengarungi lautan dunia ini, jika kita berpegang dengan dzikrullah, shalat, Quran, insya Allah kita tidak akan tenggelam.

photo source: Qabeelat Ihsan
photo source: Qabeelat Ihsan
Advertisements

4 thoughts on “[Ilmfest 2014] Yasmin Mogahed: The Lessons from Tha’if

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s