Tadabbur Quran #7: Something Inside Us

Dalam sebuah ceramah, ustadz Nouman cerita pernah ditanya gurunya, “coba tunjuk diri kamu”. “Aku? Aku ya ini” *nunjuk diri sendiri* Iya tapi sebenarnya diri kita itu apa? yang mana? bagian mana? kepala? seluruh badan? atau apa? Hehe.. Poinnya, DIRI kita yang sesungguhnya bukanlah jasad yang terlihat ini, tapi RUH di dalamnya. Btw, jasad ini mungkin ada unsur orang tua kita, ada turunan/warisan dari orang tua. Tapi ruh, itu langsung dari langit bok, dari Allah. Ditiupkan oleh malaikat -kalo ga salah- setelah 4 bulan di rahim ibu.

Nah, sebenarnya saya abis dengerin pengantar dan awal2 QS Az Zumar dari ustadz Nouman. Kata beliau, surat ini adalah tentang aspek spiritual kita, terutama dalam ibadah. Saya share beberapa poin ya..

Dalam ibadah yang kita lakukan, itu ada aspek fisik (body) dan ada aspek spiritual (soul). Gerakan shalat, ritual haji, pakaian haji, itu adalah aspek fisik. Sedangkan aspek spiritualnya itu adalah attitude, yang tidak hanya berlaku saat ibadah, tapi sampai meresap dalam diri dan berkembang ke hal lain di luar ibadah. Jadi di luar ibadah mahdoh, attitude kita tetap sama. Maka dalam berdagang misalnya, attitude kita tetap dalam ketundukan pada Allah. Attitude of a slave of Allah.

Namun bisa kita perhatikan, ada orang yang ibadahnya jalan, tapi hanya di aspek fisik aja. Sedangkan di spiritualnya sama sekali nggak ada bekasnya.

  • Ayat 1-2: Al Quran diturunkan oleh Allah bil haqq. Artinya, ada tujuannya. Bukan tanpa tujuan Allah menurunkan Al Quran.
  • Ayat 2: Maka sembahlah Allah dengan eksklusif, murni; hanya padaNya. Enslave yourself to Him.
  • Diin lebih tepat diterjemahkan bukan agama, tapi lifestyle. Secara harfiah artinya judgement. Yaumu-diin means day of judgement.
  • Allah says, make your lifestyle sincere to Him. Semua keputusan yang kita buat dalam hidup, harus menyesuaikan dengan apa yang diturunkanNya. Kalau ga paham ini, akan ada orang yang pergi haji tiap tahun, tapi kerjaannya jualan minuman keras. Ada yang jilbabnya lebar, janggut panjang, sering pengajian, tapi pelit bayar zakat/shodaqoh.
  • Sekali lagi, murnikan ibadah kita, lifestyle kita, hanya untuk Allah. Jangan shalat yang sekedar menggugurkan kewajiban. Shalatlah yang terbaik dan sungguh2.

“Islam, when you understand tauhid, it forces a code of ethics in everything you do. There’s law, and there’s ethics.”

Law (hukum) itu berbeda dengan ethics (etika). Hukum hanya bicara tentang apa yang dibolehkan, apa yang tidak dibolehkan, dan apa konsekuensinya. Sedangkan ethics bicara tentang nilai2 justice, nilai2 kepantasan. Jadi sangat mungkin ada orang yang paham fiqih, paham hukum, tapi dia memperlakukan orang semena2. Keimanan pada Allah harusnya membuat kita tidak sekedar paham hukum, tapi juga memiliki kode etik/etika yang sangat kuat terutama pada Allah dan pada sesama.

Satu lagi, ini dari ayat yang ke-8. Bahwa ada orang yang pernah diselamatkan Allah, kemudian Allah memberinya nikmat, kemudian dia lupa pernah diselamatkan, dan bahkan menyimpang dengan mengada2kan sekutu bagi Allah. Wrap up in favors, kalau kata ustadz Nouman. Jadi kita ini bagaikan dibungkus dengan banyak lapisan. Ruh kita dibungkus badan, badan kita dibungkus/dilindungi keluarga, masyarakat, negara, planet bumi, langit berlapis2. Dan nanti di hari kiamat, semua bungkus ini dicabut, hilang semua sehingga tinggal ruh kita yang menghadap Rabb. Nah orang yang lupa nikmat ini dari Allah, terus mereka malah menyekutukan Allah, terus ngajak2 orang untuk ikut menyekutukan Allah. Dan orang2 banyak yang tertarik ikut mereka. Kenapa? Karena secara lahiriah, kehidupan mereka penuh kenikmatan. Tapi apa yang Allah katakan pada mereka, “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.

Jangan merasa aman kalau bermaksiat pada Allah terus di luar/secara lahir terlihat tetap baik2 aja, sukses, bahagia, dilimpahi nikmat. Siapa tau kenikmatan yang dia rasakan itu adalah istidraj. Dan kita gak tau seberapa rusak dan menderita ruh di dalamnya. Kenapa banyak orang kaya, sukses, terkenal, tapi bunuh diri? Ya gw gak tau sih sebab pastinya..haha. Tapi bisa jadi jiwa mereka merana. Karena gak ada kebahagian bagi jiwa kecuali sejalan dengan keinginan pemillik aslinya, yaitu Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s