Dia Baru Menikah di Usia 45 Tahun

*sebuah catatan tentang kapan nikah, jodoh, anak, rezeki. CMIIW ;)*

Kemarin lusa saya menghadiri akad nikah dan walimatul ‘urs salah satu guru tahsin saya. Acaranya diselenggarakan dengan sederhana di masjid tempat kami biasa belajar. Sebenarnya saya kurang tahu pasti usia beliau sekarang berapa. Yang jelas di atas 40 tahun. Yah, kita sebut saja 45 tahun ya.. Usia yang tak lagi muda untuk menikah bukan? Dan itu adalah pernikahannya yang pertama. Sebuah momen yang mungkin telah dirindukannya selama puluhan tahun. Saya membayangkan beliau yang bertahun-tahun dalam penantian, bertahun-tahun dalam keinginan yang belum tersampaikan, bertahun-tahun menghadapi pertanyaan, “kapan nikah?”. Tapi beliau menjalaninya dengan baik-baik saja dan tetap produktif dalam kebaikan.

Terkadang saya sendiri berpikir tentang kenapa saya belum menikah: “Duh mungkin gw messed up banget ya”, “Ah iya sih gw masih payah banget, kacau banget”, “Gw masih kurang ini itu”, dan sebagainya (introspeksi diri tentu perlu ya!). Tapi apakah harus jadi orang yang baik sempurna untuk bisa menikah? Kalau iya, kenapa ada pencuri, penjahat, perampok, gampang-gampang aja ketemu jodohnya? Lalu bagaimana dengan orang yang baru menikah di usia 40/50an? Atau orang-orang yang belum bertemu jodohnya sampai mereka meninggal dunia? Masa iya mereka messed up sepanjang hidupnya? Apa kita mau bilang, oh mungkin kurang ibadahnya, kurang berdoa, kurang usaha, kurang cantik/ganteng, kurang kaya, belum siap, belum dewasa, belum pantas, dan sebagainya. Tapi setelah segala usaha dilakukannya, apalagi yang bisa kita bilang selain: memang itulah waktu yang ditetapkan Allah untuknya.

Saya teringat tulisan Bang Tere Liye yang berjudul “Keran Rezeki”. Intinya, rezeki yang didapatkan manusia itu tidak ditentukan oleh kegantengan/kecantikannya, kepintarannya, kegigihannya, melainkan ditentukan oleh Allah. Terserah Allah aja bagaimana mengucurkan rezekinya. Begitu pula dengan jodoh bagi yang ingin menikah, atau anak bagi yang ingin memiliki anak. Seorang teman saya yang sudah menikah bilang, “Saya sama suami udah nikah pengen punya anak belum dapat juga, sementara anak SMP yang berzina (na’udzubillahi min dzalik), sekali berhubungan langsung hamil”.

Begitulah, terserah bagaimana Allah memberikannya. Tapi yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah bukanlah “apakah kita dapat rezeki (termasuk jodoh/anak) atau tidak”, tapi “bagaimana cara mendapatkannya dan digunakan/diperlakukan seperti apa”. Teman saya yang lain sudah delapan tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Saat ini mereka sedang berusaha, bolak-balik kontrol ke dokter, cek laboratorium, suntik hormon, dsb. Saat ini dia berpikirnya, terserah Allah aja mau dikasih apa nggak, yang dilakukannya hanyalah menyempurnakan ikhtiar. Subhanallah.

Sebagai manusia tugas kita adalah berusaha, sedangkan hasilnya Allah yang menentukan. Ketika berhasil, mungkin saat itulah keinginan kita dan takdir Allah bertemu. Keberhasilan kita bukan hanya berasal dari usaha kita, melainkan dengan izin Allah juga.

Every single success you experience is a combination of two things: your effort and Allah’s help
-Nouman Ali Khan

Jadi ketika sudah berusaha, sudah berdoa, tapi yang kita inginkan belum juga terwujud, apakah itu sesuatu yang buruk? Apakah Allah benci pada kita? Tidak, selama kita selalu berusaha mematuhi Allah dan menjauhi laranganNya. Tercapai atau tidaknya keinginan bukanlah ukuran kemuliaan kita. Dikasih nggak dikasih itu hak prerogatif Allah.  Allah menilai usaha kita, apakah kita bersabar dan berbaik sangka, apakah kita tetap percaya dan terus berdoa meski hasilnya belum nampak di depan mata. Sementara di mata manusia, seringkali yang dinilai adalah dapat atau tidaknya 🙂 Maka penting bagi kita untuk menjadikan Allah sebagai tujuan, dan keinginan kita sebagai sarana, bukan sebaliknya. Apakah keinginan kita terwujud atau tidak, yang penting selalu dapat Allah.

Untuk teman-teman yang belum menikah -termasuk saya, huehehehe- mari kita isi hidup dengan amal sebaik-baiknya. Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang paling baik amalnya (bukan siapa yang udah nikah, siapa yang duluan nikah..wkwkwk). Kata Yasmin Mogahed, mungkin dari kecil kita terbiasa dicekokin cerita macem Cinderella atau Snow White. Ketika bertemu pangeran tampan, sempurna sudah hidupnya, bahagia selamanya. Seperti cerita putri tidur yang baru bangun waktu pangeran datang, jangan berpikir kita baru benar-benar hidup setelah nanti bertemu jodoh. Lalu hidup sebelum nikah ngapain? Koma?

Dalam pernikahan memang banyak kebaikan dan kebahagiaan. Kita turut berbahagia dan bersyukur jika ada saudara-saudara kita yang mendapatkannya. Namun bagi yang belum mengalaminya, kita pun bisa mendapatkan kebahagiaan dan kebaikan!

Allah telah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya (At-Tin:4). Allah telah memuliakan manusia (Al-Isro:70). Kita berharga, dan kita bisa bahagia kalau fokus hidup kita adalah untuk Allah.

Terus mendekat pada Allah, terus memperbaiki diri, dengan niat karena Allah. Terus beramal, belajar, berkarya, berkontribusi, produktif dalam kebaikan dan amal shalih, menabung untuk kehidupan abadi di akhirat kelak.

Belajar Quran, belajar Islam, menghafal Quran, belajar ilmu yang bermanfaat, ngajarin anak-anak kecil ngaji, bikin proyek sosial, semangat menyebarkan kebaikan sekecil apapun.

Kita bisa bahagia kalau fokus kita bukan hanya pada diri sendiri. Biarlah cerita hidup kita berjalan sesuai yang dikehendakiNya. Allah yang telah menciptakan kita, yang selama ini menjaga kita, tahu yang terbaik untuk kita dan selalu memberikan yang terbaik pada kita. Semoga kelak kita pun bisa kembali padaNya dalam kondisi sebaik-baiknya 🙂

“Asking me when I’m getting married is like asking me when Qiyamah is:
I don’t know.
Perhaps the time is near.”

No one knows when they will get married. It is Qadr of Allah. Also we need to remember marriage is not synonymous to happiness or fulfilment.
Peace and Happiness can only be attained through taqwa and Quran.
Marriage is just another phase of life. Some are tested with it and some blessed.

-The Ideal Muslimah

Menikah itu bukan soal siapa cepat.
Tapi Allah sudah pilihkan waktu yang tepat.

Memantaskan diri itu bukan ditujukan untuk si dia.
Tapi fokus memperbaiki diri di hadapan Allah.

Kalau kita jatuh cinta, kejar cinta Sang Pemilik hatinya: Allah.
Agar yang mengejar kita, dia yang mencintai Sang Maha Cinta.

-Assalamualaikum Sally – Jodoh Pasti Bertamu

Advertisements

5 thoughts on “Dia Baru Menikah di Usia 45 Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s