IbuProf: Memahami Gaya Belajar Anak

Kuliah online Ibu Profesional, Rabu 7 Mei 2014

Anak kecil suka membuat berantakan dan melakukan hal aneh2, itu adalah cara mereka belajar. Tugas ortu sebagai fasilitator adalah mengamati anak belajar dan membantunya, bukan memarahi.

4 hal yang harus dikuatkan dalam belajar:

  1. Intellectual Curiosity: rasa ingin tahu anak harus naik. Kalau gak naik, berarti ada yang salah dengan cara kita memfasilitasinya belajar. Cirinya anak banyak bertanya. Waktu kecil pasti anak rajin bertanya, tapi setelah masuk sekolah ketika ditanya ada pertanyaan, dia gak lagi rajin bertanya. Berarti rasa ingin tahunya gak bertambah atau malah intellectual curiosity-nya mati. Harus menguatkannya dengan the power of question, mulai dengan bertanya dulu, jangan langsung menjelaskan. Bentuk pertanyaan: 5W+1H, mengapa, mengapa tidak, bagaimana jika
  2. Creative Imagination: Ortu pun harus kreatif. Ortu yang tidak kreatif, tidak punya rasa ingin tahu. Ortu yang punya rasa ingin tahu pasti kreatif.
  3. Art of Discovery: kalau kreatifitas naik, pasti kita akan menemukan sesuatu, menemukan banyak hal baru dari yang sederhana sampai rumit. Kalau anak sudah menemukan sesuatu, dia bisa membagikan pada orang lain sehingga menjadi manfaat dan memunculkan akhlak mulia
  4. Akhlak Mulia: mau membagi ilmu

Ketika sudah masuk usia sekolah, kita gak include di dalamnya. Ketika membawa anak ke sekolah, maka yang memilih adalah ortu sbg guru utamanya (dan sekolah itu sbg pelengkapnya). Sekolah itu harus bisa memenuhi 4 hal di atas, jika tidak maka bisa dipertimbangkan untuk pindah sekolah.

Kalau anak udah terlanjur tidak mau bertanya karena kesalahan ortu, maka mulai untuk mengajak bertanya. Apapun aktivitasnya, lakukan permainan bertanya. Misalnya, kalau lihat gambar gunung, bilang ke anak yuk buat pertanyaan tentang gunung. Misal: kenapa gunung itu tinggi? siapa yang membuat gunung? gunung apa yang tertinggi? dll. Dunia anak adalah dunia bermain, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan anak disampaikan dengan bermain. Ada 3 hal yang tidak akan ditolak oleh anak: bermain, dongeng, hadiah. Ortu gak boleh jaim, harus mau menemani anak main dan belajar. Ini penting, karena dengan bermain keempat hal di atas akan jalan.

Agar anak berani bertanya pada orang lain: bagaimana dia punya referensi ilmu/kalimat tanya yang banyak dan diajarkan untuk membuat kalimat tanya/bertanya pada orang, dengan didampingi ibunya. Jadi permainan bertanya dilakukan bersama orang lain juga.

Penting untuk memahami anak dominan otak kanan atau otak kiri untuk tau cara belajar yang bagus buat anak apa. Gunakan dan kuatkan mata dan hati untuk mengenali potensi anak (jadi gak perlu tes sidik jari gitu2).

Gaya Belajar Visual
Kalau bicara matanya melirik/naik ke atas, bicara dengan cepat (karena otaknya lebih cepat dari bicara), kekuatannya di mata, ortu mendampingi dengan peragaan, melihat objek yang sedang dipelajari

Ciri2:

  • bicara agak cepat
  • mementingkan penampilan dalam berpakaian
  • tidak mudah terganggu oleh keributan (bisa belajar sambil dengerin musik)
  • mengingat yang dilihat daripada yang didengar. Anak2 tipe ini jangan diberi tahu terus menerus karena gak masuk, tapi tuliskan/gambarkan pesan untuk dia
  • lebih suka membaca daripada dibacakan (termasuk dongeng sebelum tidur, lebih suka baca sendiri)
  • pembaca cepat dan tekun
  • seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata2 (referensi banyak, tp susah mengeluarkan. biasanya kemampuan presentasi kurang)
  • lebih suka melakukan demonstrasi daripada pidato (sambil menunjukkan benda/slide). Tapi kalau gak suka presentasi gak usah dipaksa, dia bs lebih optimal di belakang layar, mengonsep, atau peran2 coaching
  • lebih suka musik daripada seni
  • mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali ditulis

Strategi untuk visual:

  • gunakan materi visual, diagram, gambar, peta
  • gunakan warna untuk meng-highlight hal2 penting
  • ajak anak untuk membaca buku berilustrasi
  • gunakan multimedia
  • ajak anak utk menuangkan ide dalam gambar

Gaya Belajar Auditori
Kalau bicara matanya melirik ke kiri/kanan (mendatar), kecepatan bicara sedang, kekuatannya di telinga, karena itu perhatikan di kelas apakah dia duduk di belakang sehingga ga dengar guru. Belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang ibu katakan.

Ciri2:

  • saat bekerja suka bicara pada diri sendiri
  • penampilan rapi
  • mudah terganggu oleh keributan
  • belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat
  • senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  • menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  • biasanya pembicara yang fasih
  • lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskan
  • lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
  • mempunyai masalah dengan pekerjaan2 yang melibatkan visual
  • berbicara dalam irama yang terpola
  • dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama, dan warna suara

Pasangkan anak visual yang banyak referensi jago konsep dengan anak auditori yang bicaranya fasih & jago perform, dahsyat 😀

Jadi anak yang satu dan lainnya tidak boleh dibandingkan, tp dikolaborasikan dengan kekuatannya masing2.

Strategi untuk auditori:
– ajak anak untuk ikut perpartisipasi dalam diskusi baik di kelas maupun dalam keluarga
– dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras
– gunakan musik untuk mengajarkan anak
– diskusikan ide dengan anak secara verbal
– biarkan anak merekam materi pelajarannya lalu dia mendengarkan ulang
Gaya Belajar Kinestetik
Kalau bicara matanya melirik ke bawah, kecepatan bicara lambat, belajarnya dengan bergerak/menyentuh/melakukan, learning by doing. Sulit untuk duduk diam berjam2, mereka ingin beraktifitas dan eksplorasi sangat kuat. Anak2 ini energinya ga abis2. Maka habiskan energinya dan sampaikan materi dengan gerak (misal kalau ngajarin huruf2, tempel huruf2nya di seluruh ruangan dan suruh dia cari).

Ciri2:

  • bicara perlahan
  • penampilan rapi
  • tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
  • belajar melalui memanipulasi dan praktek
  • menghafal dengan cara berjalan dan melihat (kalau ngajarin ngafal quran, sambil gerak2in tangan sesuai arti ayat quran)
  • menggunakan jari sbg petunjuk ketika membaca
  • merasa kesulitan menulis tapi hebat dalam bercerita
  • menyikai buku2 dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
  • menyukai permainan dan menyibukkan
  • tidak dapat mengingat geografi, kecuali dia mereka memang pernah berada di sana
  • menyentuk orang untuk mendapatkan perhatian mereka
  • menggunakan kata2 yang mengandung aksi

Anak kinestetik ini kalau tidak tepat menanganinya akan berontak dan karena itu dicap nakal. Perhatikan di sekolah anak ini terfasilitasi apa ngga. Keren banget ada sekolah yang di awal ada acara main2 dulu, terus masuk kelas dan ceramah, lalu nonton video/lihat gambar; jadi semua tipe belajar anak terfasilitasi.

Strategi untuk kinestetik

  • jangan paksa untuk belajar berjam2
  • ajak anak untuk belajar sambil mengesplorasi lingkungannya (ajak dia baca sambil bersepeda, baca baliho, dll)
  • izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar (untuk menguatkan konsentrasi anak. karena anak2 kinestetik anggota tubuhnya harus ada yang bergerak, biar tangan kaki tidak mengganggu anak lain, mulutnya lah yang bergerak)
  • gunakan warna terang untuk meng-highlight hal2 penting dalam bacaan
  • izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik

Gaya belajar anak bisa dilihat sejak anak bisa bergerak (12 bulan ke atas). Masa balita digunakan untuk mendeteksi dia cara belajarnya gimana. Caranya distimulus dengan gaya2 belajar tadi. Cari taunya dengan mengajak bermain.

Kalau anak kidal, biarkan dia menggunakan tangan kiri tapi dilatih juga untuk menggunakan tangan kanan (untuk makan, salaman, memberikan sesuatu).

 

Advertisements

2 thoughts on “IbuProf: Memahami Gaya Belajar Anak

  1. novifauzie says:

    Mksh infonya… slm knl…
    Oia itu bs nurun dr org tua ga yah? Misal si ibu visual dan si ayah audio dan si anak ikut ibu gaya visual.. bgtu atau memang si anak punya gaya sendiri tdk menurun dr ortu. Hehehe tks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s