Al Lathif

Beberapa waktu lalu saya sedang kesulitan untuk bangun tahajud. Kesulitan? Well.. Kemalasan. Sekalinya bisa tahajud pun kayaknya gak berkualitas gitu, yang sekedarnya aja. Kemudian saya berdo’a dan bertekad supaya bisa rutin tahajud. Yang terjadi? Tetep aja bangun setelah dengar alarm, kemudian matiin alarm dan lanjut tidur lagi -_-

Beberapa hari lalu saya mendapat pesan-pesan yang ngena dan tepat sasaran banget sama kondisi saya itu. Hari itu saya twitteran seperti biasa.. Terus nemu konten yang, kok ya sesuai banget dan bikin jleb gitu.

Pertama, foto ini, dari @MuslimSpeakerz.

Prayer is Heavy

Tulisan di situ berbunyi:

“The prayer is heavy, because one’s legs and hands are not what get up for the prayer. What gets up for the prayer are the heart and the soul” -Sheikh Abdullah Azzam

Semoga saya gak salah mengerti maksud kalimat itu, yang saya tangkap adalah bahwa shalat itu berat, karena yang digerakkan untuk shalat bukanlah kaki dan tangan, melainkan hati dan jiwa. Alamak. Kena deh.. Jiwa gw berarti yang lemah. T_T

Kedua, ada twit temen saya dengan link ke blog temen saya juga, Acie. Saya baca beberapa tulisannya, dan ada tulisan yang terkait tahajud juga, yaitu ini dan ini.

Cie, gw kutip beberapa kalimat di tulisan Acie ya 😀

Ini bikin gue ga bisa tidur. Sampai alarm buat sholat malam akhirnya berbunyi. Pasca Ramadan dan Syawalan, gue emang niat buat rutin sholat malam. Tapi dasar gue-nya bandel, alarm bunyi atau bahkan mata melek pas jamnya sholat malam, eh ya malah milih tidur lagi. Payah, ga bisa nahan godaan. Tapi Senin malam itu, karena gue emang ga bisa tidur dan emosi sedang membludak, gue rasa sholat malam adalah salah satu obatnya. Empat rokaat awal gw masih belum bisa tenang, masih kesel, masih marah, masih pengen nangis. Gw tambah 4 rokaat lagi dan setelah itu mengadu semuanya sama Sang Pemilik Segala.

You know what, tepat di rokaat pertama witir, hati dan badan gue yang sedang panas itu seperti dibanjur air dingin. Rasanya sejuuuukkk banget. Debaran jantung perlahan kembali normal, dan gue bisa merasakan darah yang naik semua ke kepala berdesir mengalir turun menenangkan seluruh tubuh. Dan yang lebih penting lagi, masalah yang bikin gue emosi tadi terasa begitu kecil, ga ada apa-apanya dibanding kuasa Alloh.

Setelah sholat witir, gw jadi mikir, mungkin masalah ini sengaja Alloh kasih tunjuk biar gue ga bisa tidur, biar gue bisa sholat malam seperti apa yang gw niatkan jauh-jauh hari tapi dengan sombongnya gue lalaikan, biar ge bisa mengadu pada-Nya. Maka, sesungguhnya masalah adalah cara Alloh menyampaikan rindu pada hamba-Nya.

(I Miss You)

Sempat berpikir juga kalau bunyi bel itu hanya halusinasi. Positifnya, saya berkesimpulan bel itu merupakan salah satu cara Alloh memanggil saya untuk sholat. Saya yang bandel karena terlena oleh hangatnya selimut, akhirnya bangun dan berwudhu dengan rasa malu. Malu, karena usaha Alloh sampai sebegitunya demi membangunkan saya, sementara saya yang sudah diberi kesempatan dan kemudahan malah males-malesan. Sungguh, cinta Alloh pada hambaNya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

(Who Rang The Bell?)

Setelah baca tulisan Acie itu, jadi ngerasa, ah ini benar-benar yang saya butuhkan. Tulisan itu benar-benar paaaas banget bikin saya malu, mikir, terus sadar. Kemudian saya menyimpulkan, apa-apa yang saya temukan di dunia maya hari itu bukanlah suatu kebetulan, melainkan cara Allah untuk mengingatkan saya. Cara untuk memberi saya “obat” dalam dosis paling tepat, manjur dan tepat sasaran. Cara yang sangat halus dan lembut, sehingga saya merasa harus berubah bukan karena paksaan eksternal, tapi karena tergerak dari hati. Dan yang menggerakan hati adalah trigger yang Allah sampaikan pada hari itu, yang disampaikan dengan halus sekali.

Di malam harinya, saat facebook-an saya menemukan gambar ini:

tahajjud-yq
Beberapa saat ngeliat ngerasa biasa aja, karena sebelumnya udah pernah lihat quote dari Yasir Qadhi itu. Tapi beberapa detik kemudian.. senyum sendiri, “ini pesan dariMu lagi kah?” 😀

Kata Al-Lathif berasal dari akar kata la-tha-fa, yang bermakna lembut, halus, atau kecil. Az-Zajjaj, pakar bahasa Arab dalam tafsir Asma’ul Husna mengartikan Al-Lathif sebagai “yang mencapai tujuannya dengan cara yang sangat tersembunyi atau tak terduga.”

(Al Lathif, Yang Maha Lembut)

You have the Lord who knows what is going on in your heart, and sends you what you need out of His Mercy and Kindness in the most subtle way.

(Al Lateef)

Advertisements

3 thoughts on “Al Lathif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s