Bagaimana Ramadhanmu?

11 Ramadhan. Tepat saat saya merasa linglung di Ramadhan ini. Merasa tidak bersemangat dan biasa2 saja mengisi Ramadhan. Padahal dari awal dan sebelum Ramadhan semangat sekali menyambutnya. Entah kenapa di tengah2 malah seperti hilang arah. Tepat di saat itu, Allah hadirkan pengingat yang menancap langsung ke hati, membangunkan dari kelalaian. Lewat 2 orang di 2 forum yang saya hadiri Jum’at itu. Alhamdulillah, berkah menghadiri majelis ilmu. Walaupun masuk dalam kondisi malas dan gak jelas, keluarnya bisa penuh terisi ilmu, keinsyafan, dan inspirasi 🙂

Yang pertama, dari Dewi Lestari, istrinya Big Zaman, yang menjadi pembicara Kajian Muslimah di Fasilkom UI saat jum’atan. Dengan cita rasa bahasa yang sastrawi (halah, istilah apa ini), Dewi menyampaikan tentang cinta Ramadhan. Saat di mana objek yang dicintai sama, namun kadar cintanya berbeda. Seperti para sahabat yang semuanya cinta Rasulullah SAW, tapi tidak ada yang sedalam dan sepeka Abu Bakar, yang bisa menangkap isyarat perpisahan beliau, saat yang lain tidak ada yang menyadarinya. Pun saat Ramadhan yang menghampiri kita semua sama bulannya, sama harinya, sama waktunya, sama detik2nya. Namun kadar keimanan dan kecintaan membedakan bagaimana kita memperlakukannya. Ramadhan adalah bulan yang diistimewakan Allah. Sudahkah kita mengistimewakannya sebagaimana Allah mau, dan sebagaimana Rasul dan para sahabat mencontohkan?

Yang kedua, dari Dr. Taufik Hulaimy yang mengisi kajian menjelang buka puasa bersama di Fasilkom UI. Beliau menukil hadits ini:

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang disebutkanku, lalu dia tidak bershalawat atasku, Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya), Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga”. (HR. Tirmidzi)

Jadi sesungguhnya alumni Ramadhan hanya ada 2 golongan: 1) yang diampuni dosa2nya, sehingga saat idul fitri seperti kembali pada fitrahnya: bersih; 2) yang terhina karena Ramadhan lewat begitu saja tanpa diampuni dosa2nya. Golongan orang2 yang diampuni dosanya itulah yang mengisi hari2 Ramadhan dengan optimal dalam ibadah pada Allah. Sedangkan yang tidak diampuni, ikut puasa Ramadhan, tapi tidak optimal beribadah, dan maksiat jalan terus. Kalau begini, gimana caranya menyebut idul fitri hari kemenangan? Memangnya diampuni? Harusnya kita khawatir apakah Allah menerima amal ibadah kita dan mengampuni kita atau tidak.

Beberapa poin penting dalam ibadah Ramadhan:

  1. Puasa, bukan sekedar menahan dari yang membatalkan puasa (makan, minum, dst) tapi juga dari yang membatalkan pahala puasa (maksiat, berbohong, melihat yang haram, dst).
  2. Shalat tarawih, tidak asal2an, tertib, tenang, dan mengutamakan yang berdirinya lama. Kenapa ada shalat yang 20 raka’at itu karena tidak kuat shalat yang 8 raka’at. Loh bukannya kebalik? 20 kan lebih berat? Ternyata 8 raka’at itu harusnya panjang2, sehingga kalau dibagi ke 20 raka’at justru lebih ringan (kata Ibnu Taimiyah). Kalau kita sih, pengennya shalat cepet2, tapi waktu berdo’a daftar permintaannya panjang. Berani gak, capek2 ibadah di Ramadhan, baru deh abis itu minta (do’a) yang banyak?
  3. Dzikir, lebih baik dzikir daripada ngabuburit yang sama sekali nggak dicontohkan dan malah bisa menimbulkan keburukan (misal kumpul sama temen jadi gosip, ngeliatin yang nggak2, dst)
  4. Memperbanyak do’a. No 1 do’a apa? Akhirat… No 2, akhirat.. No 3, minta akhirat.. baru nomer 9 dan seterusnya minta dunia. Kalau berdo’a minta surga gak? (atau justru lebih banyak minta dunianya)
  5. I’tikaf
  6. Zakat
  7. Memberi makan orang puasa (yang pahalanya seperti orang yang berpuasa)

Bagaimana kalau kita malas beribadah? Kurang motivasi, atau lelah? Kata ustadz Taufik Hulaimy: “Kita malas2an itu karena kita kepedean masuk surga! Ga khawatir jadi orang munafik. Padahal para sahabat dulu takut sekali dirinya termasuk orang munafik. Ibadah itu menghasilkan rasa takut/khawatir tidak diterima, dan berharap diterima, jadi bukan kepastian masuk surga”.

Bagaimana kalau kita takut riya dalam beribadah? Bisa jadi riya itu godaan setan supaya kita tidak beribadah sama sekali. Tapi ingat, setan hanya menggoda, sedangkan keputusannya tetap ada pada manusia (mau atau tidak mengikuti godaan). Jadi jangan ditinggalkan amalnya. Tetap beramal sambil berusaha ikhlas. Lakukan amal sebanyak mungkin, mudah2an ada di antara amal itu yang ikhlas dan akhirnya menyelamatkan kita.

Huaaah.. jleb jleb banget deh kajian sore itu T_T Tapi alhamdulillah dapet pengingat yang pas banget, pas saya lagi males. Sekarang, semoga tambah semangat mengisi Ramadhan dengan sebaik2nya! ><9

Advertisements

One thought on “Bagaimana Ramadhanmu?

  1. auqi1406 says:

    Kalo gw nge-priming otak supaya semangat ramadhan dengan taujih2nya aa nouman dkk, ning.. salah satunya di Qur’an Weekly.
    Bikin semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s