Antara Kehendak Allah dan Usaha Kita

Memang benar adanya, semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah. Tapi pada beberapa hal, kita gak bisa hanya berhenti di situ. Kita bisa telusuri lebih jauh, menelisik ke sisi-sisi yang berada dalam jangkauan tangan kita. Ada sebab-sebab manusiawi juga di sana. Ada sumbangsih peran kita atas kejadian yang menjadi kehendak Allah itu.

Banjir contohnya. Adalah kehendak Allah yang menurunkan hujan sebagai salah satu tanda kasih sayangNya. Tapi kalau sampai jadi banjir? Memang kehendak Allah juga, tapi sebagai manusia kita perlu juga untuk evaluasi. Jangan-jangan banjir ini terjadi karena salah mengelola bumi yang diamanahkan Allah. Terlalu sering buang sampah sembarangan, terlalu banyak bangunan hingga tidak menyisakan daerah resapan air, dan sebagainya.

Ada contoh yang lucu dari Ustadz Nouman, tapi nampol. Ceritanya ada seorang laki-laki yang suka mabuk-mabukan dan hobi dugem. Kemudian dia ngobrol sama temannya. Dia bilang, “Hey, bukan salah saya loh kalo saya suka mabuk, atau kalau saya ke diskotik. Itu kehendak Allah yang bikin saya begitu”. Temannya tiba-tiba malah mukul orang itu. Kaget tiba-tiba dipukul, orang itu protes dong, “Eh apa-apaan kamu mukul saya?”. Dan dengan polosnya temannya jawab, “Loh, ini kan kehendak Allah, jangan salahin saya dong!”.

Ada lagi yang besok ujian terus gak belajar. Pas ditanya kenapa gak belajar? Jawabnya, “kan saya udah berdo’a”. Padahal, takdir Allah itu ada sebabnya juga. Kalau Allah menakdirkan seseorang masuk UI misalnya, apa orang itu cuma diam dan gak usaha? Sewajarnya pasti ada usahanya, belajar, daftar jalur masuk UI, ikut ujian, daftar ulang, dan sebagainya.

Jadi… memang ada hal-hal yang berpulang pada kita, pada pilihan-pilihan kita. Dan kita bertanggung jawab atas pilihan-pilihan dan perbuatan kita selama di dunia, gak bisa berlindung di balik alasan, “ini kan kehendak Allah”.

Kalaupun ada yang namanya takdir, segala keputusan yang berkaitan dengan hidupmu, segala ‘iya’ dan ‘tidak’ yang kamu katakan pada setiap kesempatan yang kamu temui, adalah berpulang pada dirimu sendiri. (Viera Rachmawati)

Namun tetap saja, segala usaha kita juga gak akan menampakkan hasilnya kalau Allah tidak menghendaki. Jadi kedua hal ini, kehendak Allah/sebab-sebab dari Allah (rabbul asbab) dan usaha kita sebagai manusia (kausalitas/taathil asbab), rasanya memang harus kita tempatkan secara proporsional, tanpa menafikkan salah satunya.

Referensi lebih lanjut, salah satunya: “Antara Doa dan Takdir”, dalam buku Penawar Hati yang Sakit hal 23, Ibnul Qayyim Al Jauziyah.

Advertisements

2 thoughts on “Antara Kehendak Allah dan Usaha Kita

  1. jtxtop says:

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  2. aburasya says:

    salah satu sifat yg kita harus jauhi ilah qadariyyah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s