‘Uluwwul Himmah

intisari kajian di Al Ghifari, Selasa 1 Januari 2013
oleh Ibu Shintawati, S.Si

Alhamdulillah, hari pertama di tahun 2013 diisi dengan kajian yang sangat mengisi baterai semangat untuk jadi lebih baik lagi 🙂

Ibu Shinta memulai materinya dengan memutarkan sebuah video yang udah pernah saya lihat berkali2. Video yang dibuat oleh Danang Ambar Prabowo, alumnus IPB dan mahasiswa berprestasi nasional, tentang mimpi. Ini dia videonya:


Meskipun udah pernah nonton berkali2, tapi tetap aja saya merinding.. Hihi.. Keren ya, bagus pula itu lagunya yang Jepang2..hehehe. Oke, langsung aja ke ‘uluwwul himmah..

Himmah adalah motivator kerja, yang dapat disifati dengan tinggi atau rendah. Bisa juga diartikan kemauan, niat, dan tekad untuk melakukan suatu pekerjaan.

‘Uluwwul himmah berarti menyifati himmah dengan ketinggian. Menganggap kecil segala hal selain akhir dari urusan2 mulia (mungkin maksudnya, goal oriented, ga berhenti di awal, tapi bekerja sampai akhir). ‘Uluwwul himmah adalah upaya jiwa menggapai puncak kesempurnaan yang mungkin dapat diraihnya dalam urusan ilmu/amal.

Orang yang punya ‘uluwwul himmah gak akan mencukupkan ibadah pada yang wajib aja, tapi ditambah juga yang sunnah. Mereka adalah tipe climber, bukan quitter atau camper.

Orang yang punya ‘uluwwul himmah juga punya tujuan yang jelas. Mereka tau mau ke mana dan tindakan2 yang dilakukannya adalah untuk mencapai tujuannya itu. Hati2 kalau dalam keseharian kita merasa bebas melakukan apa aja. Diajak nonton, hayuk.. diajak nongkrong berjam2, boleh.. diajak ngemall, oke. Apa aja boleh, karena emang gak ada tujuan dalam hidupnya. Kayak kalo mau naik bajaj trus bilang ke abangnya: “Bang, anterin saya ya. Ke mana aja boleh”. Abang bajajnya pasti bingung, lah ini orang mau ke mana. Setiap hari itu harusnya diisi dengan kerja2 menuju tujuan kita, baik kecil maupun besar. Jangan sampe ada yang pengen jadi dokter tapi pas milih jurusan, milihnya akuntansi.

Ibnul Jauzi: “himmah orang beriman terkait dengan akhirat”.
“…apabila kamu memohon pada Allah, maka mohonlah surga Firdaus, karena ia paling tengah dan paling tinggi” (HR Bukhari)
Menetapkan tujuan juga perlu tinggi setinggi2nya. Dalam hal meminta surga aja Allah nyuruh kita minta surga tertinggi. Meskipun rasanya, emperan surga aja udah alhamdulillah banget. Tapi kalo targetnya surga Firdaus kan kalo meleset ga jauh2 bgt, masih di surga juga insya Allah. Tapi kalo targetnya asal masuk surga, kalo meleset ke mana dong?

Ibnu Taimiyah:
“Apa yang dapat dilakukan musuh2ku padaku? Surga dan tamanku ada dalam dadaku. Kemanapun aku pergi, surga selalu bersamaku. Penahananku adalah khalwat, kematianku adalah kesyahidan, dan pengasinganku adalah rekreasi”.
Ini nih tipe orang yang ga terpengaruh sama keadaan luar. Gak terpengaruh sama cuaca, kalo kita kan, mendung/panas dikit aja ngeluh. Ga terpengaruh sama keterbatasan dan ga membatasi diri.

Indikasi ‘uluwwul himmah:

  1. Kesungguhan beramal, ga berleha2, ga bermalas2an
  2. Semangat jihad
  3. Ambisi menggapai kesempurnaah dan menghindari kekurangan (tapi ga usah lebay, wajar aja)
  4. Bekerja keras
  5. Tegas dan sigap dalam berbagai urusan

 

‘Uluwwul himmah ini bukan bawaan ortu atau hasil didikan ortu. Tapi mungkin ada yang memang dari kecil dibiasakan begini sehingga terbawa sampai besar (Al Fatih contohnya). Tapi yang paling menentukan dalam ‘uluwwul himmah adalah keimanan. Al Fatih pun, ketika dari kecil udah dididik untuk punya ‘uluwwul himmah tapi gak menjaga di waktu dewasanya, ya ga akan bertahan sifat itu dalam dirinya. Jadi menjaga himmah tetap tinggi salah satunya adalah dengan menjaga keimanan. Keimanan rendah -> himmah rendah.

Dalam hidup pasti ada naik turunnya. Semangat turun itu wajar, tapi jangan dibiarkan. Segera tingkatkan dengan ibadah, cari motivasi, cari inspirasi. Keluar dari kondisi lemah itu. Setiap orang caranya beda2. Ada yang cukup dengan baca Qur’an, ada yang perlu dengerin motivator, dll. Carilah teman yang baik, yang punya ‘uluwwul himmah, karena semangat itu menular!

Alhamdulillah, sekian intisari kajian tentang ‘uluwwul himmah yang bisa saya bagikan. Semoga bermanfaat bagi teman2 yang membacanya 🙂


Bagi saya pribadi, menginternalisasi ‘uluwwul himmah dalam diri adalah salah satu target di tahun ini. Karena rasanya, semangat itu memudar. Dulu, kerasa banget rasanya sih saya punya ‘uluwwul himmah itu. Tau gak dari siapa atau di mana saya pertama kali belajar tentang itu? SMA Negeri 1 Bogor! 🙂 Dari BLDK, Bintal, OSIS, Pandawa, DKM, dan dari teman2 seangkatan saat berjuang untuk lulus dan kuliah. Manis rasanya, karena memang kata Imam Syafi’i manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Juga saya rasakan saat kuliah, dan terutama sekali saat mengerjakan skripsi. Setelah lulus kurang begitu terasa sampai sekarang baru mulai terasa lagi setelah lanjut S2. Itu pun masih terseok2, belum muncul sempurna semangatnya. Ternyata memang ya, hidup yang seru dan manis itu kalau ada tantangannya. Justru tantangan2 dan kesulitan2 itu yang bikin kita merasakan sari pati hidup!

“Aku ingin hidup, ingin merasakan sari pati hidup” (Andrea Hirata dalam Edensor)

Advertisements

12 thoughts on “‘Uluwwul Himmah

    • syariat islam hadir bukan utk membebani, tp utk memudahkan. tanpa syariat islam, kt akan bingung sekali membuat aturan2 dlm hidup. Allah yg menciptakan kt, paling tau apa yg terbaik utk kt. begitu pula dengan aturan2Nya, pastilah yg terbaik.. tinggal kt menyesuaikan diri aja. gak akan pernah rugi kl kt tunduk nurut patuh sama Dia 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s