Tentang Usaha dan Hasilnya

Secara singkat: hubungan usaha dan hasil seringkali tidak linear. Udah capek2 usaha, taunya hasil di bawah ekspektasi. Atau usahanya dikit2 aja, eh hasilnya ternyata luar biasa. Penjelasannya: Hasil itu hak prerogatif Allah. Sedangkan usaha adalah kewajiban kita, terlepas apapun hasilnya nanti.

Udah ada 3 orang keren yang menyampaikan hal itu, yang akhirnya membentuk pemahaman saya tentang usaha dan hasilnya.

Pertama, Ustadz Nouman Ali Khan ~kyaaaaaa *plak* dalam potongan ceramah yang diambil dari When Muslims Work Together series (seri ceramah yang amat sangat penting sekali untuk disimak). Potongan ceramahnya bisa dilihat di sini:

Dari ceramah beliau, yang bisa saya simpulkan tentang usaha dan hasilnya adalah sebagai berikut:

Results are not in your hand.
Results will only come from Allah.
Work hard not for the results.
Work hard because Allah told you so.

Bener gak? Bener! *yee dijawab sendiri* Ya coba aja bayangin itu Nabi Nuh dakwah ratusan taun yang ngikut cuma segelintir. Bahkan anaknya aja menolak beriman. Kadang kita malas berusaha karena mikir hasilnya gak bakal bagus nih. So what’s the point, why should I do that? Lagi2 kita harus ingat bahwa hasil itu dari Allah, kewajiban kita cuma usaha. *tonjok diri sendiri*

Lanjut, orang keren kedua adalah Bu Sarmini yang saya tulis di sini loooh! Saya copas poin2 dari beliau tentang usaha dan hasil ya.

Nilai dan hargai proses. Jangan lihat hasilnya. Urusan kita usaha, hasil urusan Allah.

Mendekatkan anak pada Qur’an dan membuat anak senang Qur’an itu “kontrak kerja” kita dengan Allah. Sabar aja, kan udah ada pahalanya. Sabar tunggu waktu yang terbaik menurut Allah kapan anak akan bisa. Misal, sebenarnya Allah menetapkan anak ini akan bisa dalam 5 hari. Tapi, pada hari ketiga yang ngajarin udah gak sabaran dan marah2. Nanti anak malah jadi malas belajar.

Ini sebuah catatan penting tentang hasil dan usaha. Ingat kisah Maryam yang setelah melahirkan Isa, disuruh sama Allah untuk menggoyangkan pohon kurma. Kurma itu jatuh bukan karena usahanya Maryam yang pastinya sangat lemas pasca melahirkan. Tapi karena Allah menghendaki.

Yang lebih jelas lagi kisahnya Siti Hajar dan air zamzam. Udah cape2 lari bolak balik Safa-Marwah, taunya air yang dicari keluar dari mana? Dari bawah kaki Ismail. Tau gitu kan mending gali tanah di situ aja :D Jadi ga ada hubungannya usaha dan hasil yang didapatnya.

Tugas kita adalah berusaha, karena kita diperintahkan untuk berusaha, untuk belajar, untuk bekerja. Soal hasil, itu urusan Allah. Soal percaya hasil dari Allah ini terkait sama aqidah juga.

Dan yang terakhir, dari Bang Tere Liye, penulis Indonesia yang kemampuan nulis dan pengetahuannya luarrrr biasa banget! Tulisannya bukan cuma menggambarkan betapa luas pengetahuannya, tapi juga bisa nyentuh hati. Bukunya yang terkenal dan udah dibuat filmnya itu Hafalan Shalat Delisa. Berikutnya yang mau dibuat filmnya juga adalah Bidadari-Bidadari Surga. Aseli itu keren banget ceritanya… can’t wait for the movie! Ups, jadi ngelantur. Oke, apa kata Bang Tere tentang usaha dan hasilnya? Beliau menggambarkannya dengan “keran rezeki”. Saya copas dari fanpage-nya di Facebook ya:

keran rezeki yg kita miliki, tidak ada hubungannya dgn seberapa keras kita bekerja. karena jelas, banyak sekali orang-orang yg bermandikan keringat setiap hari bekerja, tidak kenal lelah, tetap saja penghasilannya itu-itu saja. orang2 yg berpeluh, membanting tulang seharian, tetap saja keran rezekinya kecil dan tersendat. sedangkan sebaliknya, banyak sekali orang2 yg tdk mengeluarkan keringat apapun, usaha apapun, keran rezekinya bagai menjebol dinding bendungan, berlimpah ruah.

keran rezeki yg kita miliki, juga tidak ada hubungannya dgn seberapa tampan atau cantik kita, seberapa tinggi, pendek kita, tidak peduli. banyak orang2 yg tampan/cantik, keran rezekinya tidak tampan/cantik, dan sebaliknya. semua seolah-olah teracak alias random begitu saja, tidak ada rumus bakunya.keran rezeki yg kita miliki, jelas tidak ada hubungannya dgn kepintaran atau kecerdasan kita. kalau ada hubungannya, maka seharusnya profesor, guru besar, ulama, dan semua orang2 pintar adalah orang kaya raya, nyatanya tidak. banyak orang yg biasa2 sj kepintarannya justeru punya keran rezeki berkali-kali lipat dari orang paling pintar dulu di sekolahnya.

dan termasuk satu lagi, keran rezeki yg kita miliki, amat tidak berhubungan dgn tingkat kesalehan kita, ketaqwaan kita. karena kalau ada hubungannya, maka nabi, sahabat, tabiin, dan seterusnya ada dalam rantai paling atas orang terkaya di dunia, bukan sebaliknya, ternyata boleh jd orang2 jahat, merusak, berbisnis culas, menghabisi masa depan orang2 demi jualannya, yg ternyata kaya raya. seperti sebuah kenyataan tidak adil? bagaimana mungkin begitu?

adil? tentu saja semua adil, karena demi Allah, keran rezeki kita adalah mutlak hak Allah.

itu benar, kita yg menanam padi, jagung atau kedelai.

itu benar, kita yg menebar benih ikan di kolam.

itu benar, kita yg memelihara ternak.

tapi kita hanya berusaha. seberapa besar rezeki itu keluar, mutlak hak Allah.

itu benar, kita yg mendaftar bekerja sebagai karyawan, PNS, pegawai.

itu benar, lembaga, perusahaan atau pemerintah yg menggaji kita.

tapi bagaimana rezeki itu tiba ke kita, itu mutlak hak Allah. keliru kesimpulan kalau kita merasa yg memberikan rezeki adalah manusia. dan lebih keliru lg kalau pongah merasa bisa memberikan rezeki pd manusia lewat perusahaan, bisnis milik sendiri. bagaimana mungkin? jelas2 rezeki kita sendiri adalah mutlak hak Allah, bagaimana mungkin kita mengklaim bisa mengontrolnya.

maka, orang2 yg memahami ini, hidupnya akan selalu tenteram. dia percaya, Allah-lah pemilih segala rezeki di alam semesta. Allah-lah yg punya alasan kenapa sedemikian rupa, dan keadilan milikNya ghaib dan misteri, maka dia akan selalu bekerja keras–tentu saja, dia akan selalu bekerja pintar–tentu saja, dia akan selalu bekerja dgn seluruh kesalehan yg dia miliki–tentu saja, tapi dia menyerahkan seberapa besar keran rezeki itu terbuka mutlak terserah Allah. dia selalu senang berbagi, mengeluarkan rezeki yg dimilikinya utk hak orang lain, dia tidak iri, tidak berlomba2 mengejar kekayaan, ber-ambisi aneh2, dan sebagai puncak dari segalanya, dia selalu bersyukur.

maka, di hari yg berbahagia ini, terima kasih ya Rabb, atas segala rezeki yg Engkau berikan. sungguh terima kasih. kami tenteram dengan semua pemahaman ini.

Nah, bagaimana? Jelas sekali bukaaaan? Memahami usaha dan hasil seperti ini somehow bisa membuat stress berkurang deh menurut saya. Soalnya kita akan lebih fokus ke usaha optimal, berusaha sebaik2nya, tanpa mikirin hasilnya. Usaha yang ikhlas dengan mengharap ridho Allah. Susah emang, tapi bukan berarti gak bisa. Terus gimana dengan yang jadi males usaha kalo tau hasilnya bukan kita yang nentuin? Justru kalo kita sadar hasil itu Allah yang nentuin, harusnya jadi lebih semangat mendekat ke Allah dan mempersembahkan kerja2 terbaik dong. Masa pengen diliat Allah tapi usahanya pas2an.

Sebagai penutup, kalo kata Aa Gym mah, “terserah Allah aja”. Toh ya emang Dia yang Maha Tau yang terbaik untuk kita. Kata NAK, “You don’t even know what best for yourself“. Jadiii.. semangat berusaha dan menyerahkan hasilnya ke Allah disertai do’a-do’a terbaik. Bukankah itu tawakkal? Dan Allah mencintai orang yang tawakkal [3:159] 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Tentang Usaha dan Hasilnya

  1. Setuju dgn tulisan Hening, Do the best and Allah the rest! 🙂
    Hoya Bidadari-Bidadari Surga bagus banget ya ning ceritanya? Aku ada bukunya tapi belom selese dibaca 😦 Jadi pengen ngebaca…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s