tradisi ilmu

Lagi kepikiran frase ini deh.. kayaknya gara2 baca tentang Google X. Itu tuh laboratorium rahasianya Google, yang udah menghasilkan produk antara lain sbb:

  1. Kulkas yang tersambung ke internet trus bisa order produk tertentu kalo persediannya di kulkas udah menipis
  2. Mobil tanpa supir yang katanya sekarang udah dapat lisensi untuk jalan di jalan raya di California
  3. Piring yang bisa post tentang apa yang lagi dimakan ke social network
  4. Kacamata kayak kacamatanya Conan, ada komputernya
  5. Bahkan katanya ada lift ke luar angkasa (jadi inget Charlie and The Chocolate Factory)

baca: Google’s Lab of Wildest Dreams

Pertanyaannya adalah, kok bisa segitunya ya mereka.. Di saat gw masih ribet gimana cara mecah isi file jadi kalimat2 pake Perl, eh mereka udah bikin lift ke luar angkasa segala. Lalu muncullah term itu, tradisi ilmu. Mungkin itu ya, yang bikin seseorang bisa unggul. Ya karena mereka mencintai ilmu, tanpa lelah belajar, dan gak gampang nyerah. Waktu yang dimiliki semua manusia sama2 24 jam setiap harinya. Tapi sebagian orang bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar, membaca, diskusi, nulis, berkarya, berkontribusi, bekerja; sedangkan sebagian lainnya masih sering membuang2 waktu untuk hal2 gak berguna.

Jadi serem, kalau sekarang terbiasa males2an, mau kapan membangun tradisi ilmunya? Kapan bisa unggul? Harus dimulai dari diri sendiri kan ya? Sampai nanti, semoga bisa punya keluarga dengan tradisi ilmu yang kuat.  Sampai akhirnya bisa menyebarkan tradisi ilmu ke masyarakat juga. Dan untuk itu diperlukan usaha yang kuat juga untuk mewujudkannya.

Sejarah mencatat, peradaban Islam pada masa lalu tak lepas dari peran ulama, yaitu mereka yang berilmu, mencintai ilmu, dan menebarkan ilmu dengan landasan kalimat thayyibah. Tradisi mencintai ilmu di kalangan para salafus shaleh itu kemudian dikokohkan dengan tradisi mengikat ilmu lewat tulisan-tulisan yang dibukukan dalam kitab-kitab yang ribuan jumlahnya. Konsep pendidikan para salafus shaleh pada masa lalu adalah pendidikan yang berlandaskan pada Al-Qur’an, induk dari segala pengetahuan yang lafazh dan maknanya diturunkan langsung oleh Allah SWT, dijaga kemurniaannya sampai Hari Kiamat. Setelah tauhidnya kokoh, pemahamannya terhadap Al-Qur’an baik, maka ilmu yang digeluti tidak akan menjerumuskannya pada kerusakan berfikir dan keangkuhan intelektual. (Artawijaya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s