random

pikiran random hari ini:

1. lagi penasaran soal qaulan sadida.

Ya ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wa qûlu qaulan sadîda (QS. al-Ahzab [33]: 70).

Qaulan sadida mengandung makna straight to the point atau tidak berbelit-belit, berbicara secara positif, tegas tanpa mengelabui, jujur, tidak mengandung kebohongan dan apa adanya.

Ini berarti, bicara secara terang-terangan membuat orang lain mampu memahami sikap kita, sehingga kesalahpahaman pun bisa dihindari. Sikap terus terang juga bermanfaat bagi orang lain sebagai bagian dari upaya pembelajaran. Secara tidak langsung, qaulan sadida merupakan gambaran dari amar ma’ruf nahi munkar.(sumber)

oh atau mungkin ini berkaitan dengan pertanyaan saya: “bagaimana cara terbaik menegur orang yang buang sampah sembarangan”. kalau yg merokok di tempat umum kan lebih mudah: “maaf pak, rokoknya bisa dimatikan dulu?”. kalau buang sampah sembarangan?

“maaf pak/bu, jangan buang sampah sembarangan”
“mbak, sampahnya simpan di tas dulu aja, nanti baru dibuang kalau ada tempat sampah”
“woi mbak, percuma cantik kalau buang sampah sembarangan!” 😀

2. lagi penasaran sama ulama terdahulu seperti imam syafi’i, imam bukhari, dll.

kalau sekarang kan, di kalangan pelajar atau mahasiswa aja, menuntut ilmu itu seolah2 menjadi semacam “beban”. dikasih tugas, “yaaaah”. ujian “waduuuh”. disuruh baca paper “ampun dah”. tapi bagi para ulama terdahulu, rasanya gak pernah puas dalam mencari ilmu. buku yang dibacanya, fatwa yang dihasilkannya, buku yang ditulisnya. apa yang membuat mereka bisa seperti itu? kalau gak salah karena pemerintah saat itu jg sangat mendukung perkembangan iptek. jadi mungkin karena lingkungannya? hmm.. harus belajar sejarah islam lagi 🙂 selain itu tentunya, adalah karena keimanan mereka, dan kuatnya interaksi dengan Al-Qur’an. para ulama itu sejak usia muda telah hafal Al-Qur’an.

sebagai penutup, nampilin quote bagus ah:

“Jika seorang pelajar ingin meraih kesempurnaan ilmu, hendaklah ia menjauhi kemaksiatan dan senantiasa menundukkan pandangannya dari hal-hal yang haram untuk dipandang karena yang demikian itu akan membukakan beberapa pintu ilmu, sehingga cahayanya akan menyinari hatinya. Jika hati telah bercahaya maka akan jelas baginya kebenaran. Sebaliknya, barangsiapa menyumbar pandangannya, maka akan keruhlah hatinya dan selanjutnya akan gelap dan tertutup baginya pintu ilmu “ (Ibnu Qayyim Al Jauziah)

“Saat aku lelah menulis dan membaca, di atas buku-buku kuletakkan kepala. Dan saat pipiku menyentuh sampulnya hatiku tersengat, kewajibanku masih berjebah, bagaimana mungkin aku bisa beristirahat?” (Imam An-Nawawi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s