ordinary, but…

Mau share semangat dari Pak Warsito di Seminar FIM UPI Bandung Sabtu lalu..

“A man is contribution.  What will yours be?”

So what should we have/do?

  1. Keinginan yang tak tergoyahkan untuk berkontribusi. Sejarah ada karena kontribusi manusia. Apakah cukup hidup hanya untuk kerja, nikah, punya anak? (No) Karena itu harus punya idealisme dan keinginan untuk terus berkontribusi.
  2. Kontribusi yang jelas. Perlu tau juga mau kontribusi seperti apa. Meskipun dulu sebenarnya Pak War belum tahu mau kontribusi apa, yang ada semangat dan hanya ingin melakukan yang terbaik dan membuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang.
  3. Seriuslah, selesaikan PRmu. Cita2 besar itu harus direalisasikan dengan tahapan implementasi sedikit2. Cita2 besar itu dicapai dari pekerjaan yang kecil2.
  4. Bersiaplah untuk jadi yang pertama berkorban. Buat Pak War ini ya.. berkorban dalam risetnya. Jangan manja kalau gak ada fasilitas, dulu aja Pak War mulainya dari fasilitas seadanya banget such as ember bocor 😀 Riset Pak War ini (tomografi), untuk bisa ngeliat isi reaktor (eh apa tabung ya) aja butuh 5 tahun. Lanjut lagi dikembangin sampai 14 tahun dan belum menghasilkan uang. Sampai 20 tahun barulah terlihat hasilnya, sampai2 bisa dipakai NASA.

Asik lah dengerin Pak War ini seperti menguatkan saya kembali untuk berada di jalan ini 😀  Terus, jadi inget lirik lagunya Vanessa Carlton yang judulnya Ordinary Day..

just a boy, just an ordinary boy… but he was looking to the sky

Mungkin (sekarang) hanya orang biasa, tapi… semangatnya menembus langit *eaaa* 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s