Muslim dan Prestasi

[taken from here]

Selalu ada inspirasi, terlahir dari saudara-saudara yang shalih. Selalu ada manfaat, bersapa dan berbincang dengan saudara-saudara yang shalih. Selalu ada kerinduan, berjumpa dan bersama dengan saudara-saudara yang shalih. Alhamdulillah, saya bersyukur karena selama ini Allah perkenankan saya berkenalan dan bersaudara dengan mereka-mereka. Semoga –saya sangat berharap- kesempatan membersamai mereka, mengizinkan saya tercelup keshalihan seperti mereka, ibarat ikut mendapati semerbak wangi karena berdekat-dekat dengan penjual minyak wangi.

Sesungguhnya, inspirasi, manfaat, dan rindu itu bukannya tanpa sebab. Kesemuanya itu terlahir dari kebaikan-kebaikan yang di atas rata-rata. Dalam bahasa akademis, mudahnya kita sebut saja sebagai prestasi. Namun semoga kita tak terjebak istilah ini, karena i-tsar juga merupakan prestasi yang tak terakui dalam dunia akademis. Sementara ianya adalah prestasi tertinggi persaudaraan. Pokoknya –dalam pembicaraan kita ini secara khusus-, sebabnya adalah prestasi. Kesimpulan inilah yang teralur dari ngobrol-ngobrol santai, yang bermula dari kekagetan yang segera menyadarkan saya. “Bukannya memang,” katanya merangkum saling sahut, “muslim itu harus berprestasi?”

“Betul!” dalam hati saya mengiyakan. Mengiyakan apa yang begitu sering terlupakan, sehingga tak pernah jadi identitas. Seorang muslim, dengan keislamannya yang sungguh-sungguh yang mengejawantah dalam keshalihan, sebenarnya sanggup menjadi jaminan terlahirnya prestasi demi prestasi. Sampai-sampai saya pernah mengambil kesimpulan –yang juga ikut terlupakan-, kalau kita tidak berprestasi, berarti ada yang harus ditata dan dibenahi bagaimana kita berislam. Boleh jadi belum seshalih yang selayaknya.

Saya ingat mereka, saudara-saudara yang shalih. Shalihnya membuatnya terjaga dalam prasangka baik, sehingga tersemai do’a-do’a yang merintis kebaikan. Ia yakin, Allah sebagaimana prasangka hambaNya, karenanya prasangka selalu kebaikan. Shalihnya membuatnya kokoh dalam bercita-cita, sehingga terbangun cahaya yang menyuluh memandu langkah-langkah menuju. Ia yakin, ada cita-cita di atas cita-cita, hingga cita-citanya menembus batas dunia –sampai akhirat-. Shalihnya membuatnya merasa tak layak mengeluh, sehingga syukur dan shabar menjadi kendaraan yang setia mengantarkan perjalanannya. Ia yakin, syukur itu baik, hingga nikmat tak membuatnya terbang terombang-ambing terlepas dari pijakan bumi; dan shabar itu pun baik, hingga ujian tak sampai membuatnya melemah, tersungkur-sungkur lalu terpelanting jatuh. Malah keduanya jadi karet katapel yang melontarkan kebaikan-kebaikan. Tentu saja, yang terpenting, shalihnya membuatnya indah dalam celupan iman dan kebersegeraan taqwa, yang membuat Allah cinta dan mendekat seribu langkah lebih dekat pada setiap langkahnya. Sungguh, adakah yang lebih baik jika Allah ridha? Ya, insyaallah mereka-mereka dapati itu. Ridha yang menjadikan bertumpuk prestasi, sampai ada rasa tak menyangka, apa yang mereka dapati begitu banyak dibanding apa yang mereka lakukan.

Muslim itu harus berprestasi. Kalau kita tidak berprestasi, berarti ada yang harus ditata dan dibenahi bagaimana kita berislam. Boleh jadi belum seshalih yang selayaknya. Insyaallah, saya nggak ingin ini menjadi kesimpulan. Apabila sebuah kesimpulan pada akhirnya membuat pintu-pintu refleksi diri tertutup rapat-rapat. Semoga darinya membuat gelisah bertambah-tambah, ada rasa tak puas dengan prestasi yang seadanya, ada rasa tak nyaman dengan cita-cita yang tak segera dijemput, ada muhasabah pada ikhtiyar-ikhtiyar diri selama ini. Dan kalaupun ada kesimpulan, mudah-mudahan kesimpulan itu adalah rentetan prestasi-prestasi yang diraih dengan kerja yang susah payah tak mengenal keluh kesah.

JazaakumuLlaah, untuk saudara-saudaraku yang shalih, yang setiap perjumpaannya menjadi rindu, yang setiap perbincangan dan kebersamaannya menjadi manfaat, dan setiap akhlaqnya menjadi inspirasi. Semoga saya bersama kalian, dan menjadi bagian dari kalian… []

-Tulisannya Aditya Rangga Yogatama, saudara di MITI-Mahasiswa, diambil dari blognya

Dan lagi2 saya bersyukur, telah diberi kesempatan  mengenal mereka

Advertisements

3 thoughts on “Muslim dan Prestasi

  1. iyah euy, kemaren2 sibuk menghayal konsep cerpen, kakakaka!

    Simple ya desainnya yang sekarang, but less is more 🙂

    Butuh waktu penyesuaian nih, soalnya kan terbiasa disambut sama background warna putih polos 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s