If You’re Busy, You’re Doing Something Wrong. Really?

Dapet link ke artikel ini dari tweetnya kak @arestoyudo.

Jadi ceritanya diadakan sebuah riset yang meneliti para calon violinist di Berlin (eh tp ini riset taun 1990an, dah lama jg ya). Ada dua kelompok yang diteliti: 1) the elite players, yang bener2 jagoan banget dan diprediksi akan jadi violinist profesional; 2) the average players, yang kemampuannya dibawah kelompok pertama. Para peneliti mengadakan wawancara mendalam dengan 2 kelompok ini, lalu memberi log book, atau buku catatan kegiatan harian yang harus mereka isi dengan aktivitas sehari-hari. Tentunya yang ingin diketahui, apa sih kebiasaan/kegiatan harian yang jadi faktor penyebab the elite players lebih baik dari the average ones.

Ternyata dari waktu latihan biolanya, masing2 menghabiskan waktu rata2 yang sama, yaitu 50 jam setiap minggunya. Bedanya, the average players menyebar waktu latihan ini di sepanjang hari. Sedangkan para elite players punya waktu latihan khusus di mana mereka latihan dengan sungguh2 dan seksama. Waktu latihan ini dibagi dalam 2 waktu per harinya: pagi hari dan sore hari (kayak dzikir al ma’tsurat ye :p). Dengan demikian, mereka lebih punya waktu luang di luar waktu2 tersebut dan hidupnya pun nggak stress.

Jadi, ada perbedaan antara hard work dan hard to do work:

  • Hard work is deliberate practice. It’s not fun while you’re doing it, but you don’t have to do too much of it in any one day (the elite players spent, on average, 3.5 hours per day engaged in deliberate practice, broken into two sessions). It also provides you measurable progress in a skill, which generates a strong sense of contentment and motivation. Therefore, although hard work is hard, it’s not draining and it can fit nicely into a relaxed and enjoyable day.
  • Hard to do work, by contrast, is draining. It has you running around all day in a state of false busyness that leaves you, like the average players from the Berlin study, feeling tired and stressed. It also, as we just learned, has very little to do with real accomplishment.

Kesimpulannya adalah:

Do less. But do what you do with complete and hard focus. Then when you’re done be done, and go enjoy the rest of the day.

Nah, masalahnya adalah, berlakukah ini untuk semua orang? Belum tentu juga ya. Soalnya pengalaman gw waktu kuliah sih, yang namanya tugas itu, gak  bisa selesai hanya dalam 3.5 jam. Mau gak mau ya ngerjain sepanjang hari (kalau libur) atau sepanjang malam alias begadang. Belum lagi kalau punya amanah di tempat2 lain. Ya memang jadi terlihat sibuk. Tapi satu hal yang pasti yang bisa diambil dari penelitian ini adalah pentingnya fokus dan pembagian waktu. Sering banget lah gw ngalamin, kalo di kelas bukannya konsen belajar, malah mikirin organisasi. Di organisasi malah mikirin tugas kuliah. Dengan pembagian waktu dan fokus yang benar, mungkin kesibukan yang berlebihan bisa dihindari^^

Advertisements

2 thoughts on “If You’re Busy, You’re Doing Something Wrong. Really?

  1. Ini seperti orang yang makan sambil belajar : ndak akan dapet keduanya,… makanannya doank, atau belajarnya doank,… tapi kedua kegiatan tersebut berhasil terlewati,… artinya : fokus dalam suatu hal membuat kita lebih menikmati dan menghargai setiap waktu dalam hidup ini,…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s