(sedikit) peduli

Pernah dulu saya menonton sebuah tayangan televisi tentang Ibu Tri Mumpuni. Tau? Beliau bersama suaminya mengajak masyarakat di daerah yang belum dialiri listrik PLN untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Ternyata yang lulusan Teknik itu suaminya, sedangkan Bu Puni lebih ke sosialnya: bagaimana melibatkan masyarakat untuk membangun dan menjaga, mencari dana, dsb.

Di acara itu, bagian yang paling menyentuh adalah saat suaminya bicara. Dia bilang, sudah ada sekian desa yang kami bangun pembangkit listrik di situ.. Yang belum.. masih banyak.. masih ada sekian. (maaf, saya tidak ingat angka tepatnya.. tapi sekian yang pertama itu jumlahnya enam puluhan kalau tidak salah, dan sekian yang kedua itu ribuan). Yang saya ingat, setelah bicara begitu dia menangis, sambil agak menunduk. Ya, menangis. Mungkin dia sedih mengingat banyaknya orang yang belum bisa menikmati listrik di desanya. Tapi yang luar biasa, dia seolah merasa punya tanggung jawab agar mereka juga bisa menikmati listrik. Dengan tangis itu dia seperti menyesal, jangkauan tangannya tidak (atau belum) seluas yang dibutuhkan. Subhanallah ya.. padahal udah begitu besar kontribusinya :’)

Beberapa hari lalu, teman saya mengajak mengumpulkan beberapa alumni SMA untuk membuat semacam LSM, atau apapun lah bentuknya yang bisa menyalurkan bantuan pada orang2 yang kurang mampu secara finansial. Katanya, selama ini dia sudah pernah mengumpulkan dan menyalurkan dana dari teman2 untuk beberapa pelajar yang membutuhkan dana untuk melanjutkan studinya. Saya berpikir, tentunya ini sesuatu yang bagus. Tapi, siapa sasarannya? Maksudnya, mungkin bisa diperjelas segmen penerimanya. Apakah hanya di daerah Bogor, atau bagaimana?

Lalu.. saya malah teringat dengan betapa banyaknya orang yang membutuhkan bantuan dari orang2 yang diberi kelebihan harta. Kalau teman saya itu pernah menolong beberapa kenalannya, misalnya anak SMP yang terancam putus sekolah, atau teman yang kena kanker ganas dan butuh biaya operasi. Saya pun melihat begitu banyak orang yang perlu dibantu. Setiap hari saya melihatnya. Di stasiun, di kereta, di jalan menuju rumah ke kantor. Si kakek tua depan PLN, nenek tua di emperan toko dekat stasiun, sekian banyak orang yang tidur di emperan toko tas Tatos, sekumpulan anak yang tidur di emperan toko atau bahkan di stasiun, si anak laki2 yang saya ceritakan di sini, si anak perempuan kecil yang ngamen sambil membawa adiknya yang baru 2 tahun, si Dhea Windy Saputri, si kakek yang menjual tisu di stasiun UI, daaaaaan masih banyak lagi. Lalu teringat juga dulu teman2 Tahu Logay dulu pernah merencanakan memberi beasiswa pada anak2 Smansa (yang mungkin keberatan dengan biaya sekolah di Smansa). Dan teringat juga dengan anak2 Tatibajo dan mungkin anak2 di daerah pedalaman lain di Indonesia, yang belum mendapatkan akses pendidikan sebaik di kota2.

Tanggung jawab siapa?

Akhirnya, seperti kata (entah siapa lah yang ngomong ini pertama kali), lebih baik menyalakan lilin dari pada menyalakan kegelapan. Sekecil apapun, sisihkan (emm kata Mas @ipphoright ini salah! Pantes aja sedekah dikit, krn cuma sisa dari penghasilan) baiklah kita ganti dengan alokasikan 😀 bagian dari harta kita untuk membantu orang2 yang membutuhkan. Juga sedapat mungkin menghindari gaya hidup mewah.

Dan… harapan saya satu lagi… semoga pemimpin2 bangsa ini masih bisa nangis! Masih bisa nangis melihat masih banyak penduduk negerinya yang hidup kesusahan. Dan gak enak2an dengan segala kemudahan dan fasilitas yang mereka punya sehingga melupakan rakyat.. Merdeka!

Advertisements

5 thoughts on “(sedikit) peduli

  1. Yang lilin2an itu katanya2 Anies Baswedan.

    Pas baca tulisan ini saya sebenarnya tertarik dg paragraf pembukanya. I wonder how that couple did what they have done (halah, ngomong opo iki????).

    Aku punya khayalan yang agak2 bersifat lokal, tapi nafasnya ga jauh beda dg semangat orang2 tersebut. Ya, masih khayalan, belum jadi rencana.

      • Hoo…, bukan Anies Baswedan ya?!

        Iya, hebat. Makanya aku pingin tahu caranya mereka ngajak masyarakat berpartisipasi itu gmn.

        Maksudnya lokal, aku pingin ikut bergerak jadi social entprener di Sby. Cita2nya mengganti makna BONEK. Dari Bondo Nekat menjadi Bondo lan Nekat.

  2. iya gung, kayaknya kata2 itu udah dari lama ada sblm AB yg ngomong.

    kl utk comdev kayak gitu tmn2 MITI banyak yg udah pengalaman. kayaknya sih asal ada manfaatnya utk mereka akan bs diterima. wah, cita2 saya jg tuh di Bogor^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s