going the extra miles

Sedang terkesan dengan nasehat2 dari buku Ranah 3 Warna plus The Outliers (meskipun belum baca) yang kira2 intinya begini:

  • jika ingin jadi unggul, berusahalah di atas rata2, going the extra miles
  • seorang yang tidak berbakat sekalipun, bisa menjadi ahli dalam suatu bidang asalkan dia berlatih/berkecimpung di bidang itu selama setidaknya 10.000 jam (ternyata saya baca ttg ini disini, thanks ran!)
  • antara usaha sungguh2 dan sukses itu ada jarak, yang bisa dekat, bisa juga sangat jauh. Itulah ruang untuk sebuah kata bernama sabar. Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar, dia akan beruntung.

Terkesan karena, itulah nasehat yang ingin saya praktekkan dalam hidup saya ke depannya. Tapi sampe skr kayaknya belum dipraktekkin deh :p

Tentang going the extra miles, ada cerita bagus yang kalo gak salah saya baca dari buku Life is Beautiful tulisan Arvan Pradianysah. Ada secuplik tentang going the extra miles dari cerita ini, walaupun secara keseluruhan cerita ini lebih menggambarkan tentang sudut pandang/perbedaan respon. Berikut ini saya ceritakan ulang dengan bahasa saya sendiri πŸ˜€

Alkisah, ada seorang pedagang sukses yang saat itu sakit keras. Dia merasa waktunya tidak lama lagi, karena itu ia memanggil kedua putranya. Pada kedunya, ia mewariskan masing2 sebuah toko untuk dikelola. Ia juga menambahkan pesan terakhir, yaitu agar anak2nya menjaga toko tersebut baik2 dan menjalankan 2 hal: 1. jangan terkena sinar matahari saat pulang-pergi toko-rumah, 2. jangan pernah menagih hutang. Setelah itu, sang ayah mengehembuskan nafas terakhirnya.

Bertahun2 kemudian, kondisi kedua kakak beradik itu sungguh berbeda. Sang kakak jatuh miskin, usahanya hampir bangkrut, sedangkan sang adik bertambah kaya, usahanya sukses. Sang ibu terheran2 dengan perbedaan ini, lalu ia mendatangi sang kakak. Ibu bertanya, mengapa kau menjadi bangkrut begitu? Si kakak menjawab, “ini gara2 nasehat ayah! Ayah berpesan jangan terkena sinar matahari dalam perjalanan ke toko, karena itu aku naik andong setiap hari sehingga pengeluaran bertambah. Lalu ayah berpesan agar tidak menagih hutang, karena itu banyak pembeli yang belum membayar hutang sehingga aku tidak balik modal, usahaku tidak berputar”. Sang ibu menggeleng2kan kepalanya. Kemudian ia mengunjungi anak kedua.

Ibu bertanya pada sang adik, bagaimana caranya usahamu maju begini? Sang adik menjawab, “ini karena nasehat ayah”. Sang ibu terkejut karena baru saja anak pertamanya menyalahkan nasehat ayahnya atas kegagalan yang dialaminya, bagaimana bisa menjadi sebaliknya? Si adik meneruskan, “Ayah berpesan agar tidak kena sinar matahari, karena itu aku berangkat sebelum matahari terbit, dan pulang setelah matahari terbenam. Kemudian ayah berpesan agar jangan pernah menagih hutang, karena itu aku tidak pernah membiarkan pembeli berhutang”. Sang ibu tersenyum mendengar penjelasan itu.

Wow.. bagaimana cerita di atas? super sekali bukan? πŸ˜€ Ya, meskipun secara umum bercerita tentang sudut pandang/perbedaan respon, tapi gw suka yang bagian si anak pertama buka toko dari pagi buta sampe malem. he’s going the extra miles. Karena itu mungkin pelanggan senang, karena ada toko yang reliable untuk memenuhi kebutuhan mereka di saat toko lain tutup.

Jadi.. yah, mari praktekkan nasehat2 di atas πŸ˜€ *ngomong ke diri sendiri*

Jarak antara sungguh-sungguh & sukses itu tidak bersebelahan,tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya 1 cm,tapi bisa juga ribuan km. Jarak ini bisa ditempuh dlm hitungan detik,tapi juga bisa puluhan tahun. Jarak antara sungguh-sungguh & sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yg aktif,sabar yg gigih,sabar yg tidak menyerah. Sabar yg bisa membuat sesuatu yg tidak mungkin menjadi mungkin…

Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh2lah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan

(A. Fuadi, Ranah 3 Warna)

Advertisements

3 thoughts on “going the extra miles

  1. wah bagus tulisannya mbak… bikin pingback gimana sih mbak?

  2. arifromdhoni says:

    Tentang sang kakak dan sang adik itu kesimpulannya terbalik ya? πŸ˜€

    tapi gw suka yang bagian si anak pertama buka toko dari pagi buta sampe malem

    Btw, man ‘arafa bu’da safari falyasta’idda, barangsiapa yang mengetahui jauhnya perjalanan, maka ia akan bersiap-siap πŸ™‚

  3. heningsept says:

    @randi: kayaknya otomatis deh

    @arif: ah iya, teliti banget. makasih ya πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s