Sirah Shahabiyah (1)

Seperti judulnya, dalam postingan ini saya mau menulis ringkasan cerita shahabiyah yang diambil dari buku “Shirah Shahabiyah” tulisan Mahmud Mahdi Al Istambuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi, yang diterbitkan oleh Maktabah Salafy Press: Pekalongan, 2006. Yah daripada abis dibaca lupa, mendingan saya tulis deh. Sekalian bisa dibaca sama teman2 pembaca setia blog saya juga kan!? *emang ada?*

Oke deh.. selamat menyimak! Rencananya sih akan ada beberapa bagian. Ini bagian pertamanya…

1. Asma’ binti Abu Bakar
Asma’ adalah putri Abu Bakar Ash Shidiq. Berarti dia adalah saudarinya Aisyah ra. Usianya lebih tua 13 tahun dari Aisyah. Asma’ menikah dengan Zubair bin Awwam. Anaknya bernama Abdullah bin Zubair.
Saat Rasulullah dan Abu Bakar hijrah, Asma’ membawakan bekal makanan untuk keduanya. Dia membagi ikat pinggangnya menjadi dua bagian, lalu dengan satu bagian digunakan untuk mengikat bekal makanan. Itulah kenapa ia dijuluki Dzatun Nithaqain (wanita yang memiliki dua ikat pinggang).

Ketika Abu Bakar menemani Rasulullah hijrah, seluruh hartanya turut dibawa. Kakek Asma’, Abu Quhafah yang telah buta matanya, berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar tidak meninggalkan harta maupun jiwanya untuk kalian”. Asma’ kemudian membungkus batu-batu dengan pakaian dan meletakkan tangan kakeknya di atas bungkusan itu seraya berkata, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya dia telah meninggalkan kebaikan yang banyak untuk kita”. Kakeknya berkata, “Adapun jika ini yang dia tinggalkan untuk kalian, maka tidak mengapa”. Dengan demikan Asma’ telah menenangkan hati kakeknya.

Asma’ adalah wanita yang taat pada suaminya dan sangat mengutamakan keridhaannya. Berikut ini perkataan Asma’ dalam hadits shahih Bukhari: “Az Zubair telah menikahi aku dan dia tidak memiliki sesuatu selain kuda. Aku yang memelihara serta memberikan makanan dan minuman, demikian pula menumbukkan biji korma, dan aku pula yang mengadoni roti untuknya. Pada suatu kali aku membawa biji-bijian korma di atas kepalaku dari tanah Az Zubair yang merupakan pemberian dari Rasulullahdengan jarak dua pertiga farsakh (1 farsakh = ± 8 km) dari tempat tinggalku.
Ketika aku sedang membawa biji-bijian korma itu, aku berjumpa dengan Rasulullah dan para sahabatnya, lalu beliau memanggilku. Beliau berkata (kepada keledainya), duduklah, duduklah. Supaya keledai tersebut membawaku di belakangnya. Tetapi aku malu dan aku ceritakan kepada beliau tentang Az Zubair dan kecemburuannya.
Asma’ berkata, maka beliau berlalu. Tatkala aku telah sampai rumah, aku kabarkan hal tersebut kepada Az Zubair. Maka dia berkata, Demi Allah, kamu memanggul biji-biji korma itu lebih berat bagiku daripada engkau naik kendaraan bersamanya. Asma’ berkata, setelah itu ayahku mengirim pelayan kepadaku, maka aku telah dicukupi dengan seorang pelayan yang mengatur kuda itu. Dengan hal ini, sungguh ayahku telah meringankan bebanku.”

Asma’ adalah wanita yang dermawan, ia tidak menyimpan sedikitpun kenikmatan untuk esok hari. Katanya, “berinfaklah dan bershadaqahlah kalian dan janganlah kalian menanti-nanti hingga harta kalian berlebih”. Asma’ meninggal di Mekah pada usia mendekati 100 tahun, beberapa hari setelah anaknya Abdullah terbunuh oleh Al Hajjaj.

2. Fathimah binti Khaththab
Dari namanya, kita tahu Fathimah ini bersaudara dengan Umar bin Khaththab. Dia dan suaminya, Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail masuk Islam melalui tangan seorang sahabat, Khabab bin Arats. Saat itu Umar bin Khaththab belum masuk Islam, bahkan sangat benci dengan Rasulullah dan ingin membunuhnya. Ketika Umar menuju rumah Arqam bin Abi Arqam untuk membunuh Rasulullah, dia bertemu dengan seseorang yang memberi tahu tentang keislaman saudarinya, Fathimah. Umar pun murka, lalu berbalik arah ke rumah saudarinya dengan niat untuk membunuhnya dan suaminya.

Ketika sampai di rumah saudarinya, ia mendengar bacaan Al Qur’an. Ternyata Khabab bin Arats sedang mengajarkan Al Qur’an pada Fathimah dan suaminya. Umar bertanya, “suara apa yang barusan aku dengar?” Mereka berdua menjawab, “Engkau tidak mendengar sesuatu apapun”. Umar berkata, “Aku telah diberi kabar bahwa kalian berdua telah mengikuti agama Muhammad”. Kemudian  ia menyerang saudara iparnya, tapi dihalangi oleh Fathimah. Maka Umar menampar saudarinya sehingga melukainya. Ketika itulah Sa’id dan Fathimah mengakui keislamannya dan berkata, “Benar, sesungguhnya kami telah masuk Islam dan beriman kepada Allah dan RasulNya, maka silakan kau berbuat sesukamu terhadap kami”.

Melihat darah mengalir pada saudara perempuannya, Umar menyesal dan berkata, “Berikanlah kepadaku lembaran yang telah kalian baca dimana aku telah mendengarnya. Aku ingin melihat apa yang dibawa oleh Muhammad ini”. Fathimah sangat berharap Umar masuk Islam, ia berkata pada Umar, “Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau ini najis karena kesyirikanmu dan tidak boleh menyentuhnya kecuali orang yang suci”. Lalu Umar berdiri dan mandi, kemudian lembaran Qur’an itu diberikan padanya. Intinya setelah itu, Umar terkesan dengan ayat Qur’an, terutama surat Thaha ayat 15. Akhirnya Umar menemui Rasulullah dan masuk Islam. Demikianlah Fathimah menjadi pengantar masuknya Umar ke dalam Islam.

3. Ummul Kultsum binti Ali bin Abi Thalib
Ia adalah putri Ali bin Abi Thalib dan Fathimah. Ummu Kultsum menikah dengan Umar bin Khaththab dan melahirkan Zaid bin Umar dan Ruqayyah binti Umar. Yang unik dari kisah Ummu Kultsum adalah saat beliau menjadi bidan, membantu kelahiran anak seorang badui. Ceritanya, seperti biasa pada malam hari Umar yang saat itu menjadi amirul mukminin berkeliling untuk memperhatikan keadaan rakyatnya (TOP banget gak tuh Umar bin Khaththab). Ia mendengar rintihan seorang perempuan dari sebuah kemah, dan ada seorang laki-laki berdiri di pintunya. Ternyata istri laki-laki itu sudah hampir melahirkan. Akhirnya Umar pulang ke rumah dan berkata pada Ummu Kultsum, “Apakah kamu menginginkan pahala yang akan Allah berikan padamu?”. Ummu Kultsum menjawab dengan gembira, “Kebaikan dan pahala apa itu wahai Umar?”.

Umar mengabarkan peristiwa yang baru dialaminya. Setelah itu Ummu Kultsum menyiapkan peralatan melahirkan dan keperluan bayi. Sementara itu, Umar membawa periuk yang berisi mentega dan biji-bijian. Berdua mereka pergi ke kemah tersebut. Ummu Kultsum kemudian membantu persalinan layaknya seorang bidan. Sedangkan Umar duduk di luar kemah bersama laki-laki tersebut sambil memasak makanan yang dibawanya. Ummu Kultsum berkata dari dalam kemah, “Wahai amirul mukminin, berilah kabar gembira kabar gembira pada kawanmu itu. Sesungguhnya Allah telah memberi rizki seorang anak laki-laki kepadanya.”. Maka tercenganglah laki-laki tersebut, ternyata orang yang memasak bersamanya adalah amirul mukminin, dan yang membantu istrinya melahirkan adalah istri amirul mukminin. Subhanallah, peradaban Islam mampu membuat kepala negara bersama istrinya sebagai pelayan seorang laki-laki dan wanita badui!

4. Shafiyah binti Abdul Muthalib
Shafiyah adalah bibi Rasulullah, dan saudara Hamzah bin Abdul Muthalib. Ia dibesarkan di rumah Abdul Muthalib, seorang pemimpin Quraisy, sehingga terbentuklah kepribadian yang kuat dalam dirinya. Shafiyah adalah orang yang memiliki kefasihan lisan, pembaca yang berilmu, dan pemberani dan berjiwa pahlawan. Ia berhijrah ke Madinah dengan anaknya, Zubair bin Awwam.

Saat perang Uhud, Shafiyah ikut turun ke medan perang untuk melayani keperluan para pejuang Islam, dan menjadi tim medis untuk orang-orang yang terluka. Saat pasukan pemanah tidak menaati perintah Rasulullah, keunggulan pasukan Islam berbalik menjadi kekalahan. Banyak kaum Muslim yang tercertai bertai meninggalkan Rasulullah. Shafiyah berdiri menghadang sambil membawa panah dan dipukulkannya ke wajah orang-orang yang lari sambil berkata, “Kalian lari ke belakang dan meninggalkan Rasululllah?”.

Shafiyah hidup sampai masa pemerintahan Umar bin Khaththab, dan wafat pada usia lebih dari 70 tahun.

5. Sumayyah binti Khayyath
Ia dikenal sebagai syahidah pertama dalam Islam. Suaminya bernama Yasir, dan anaknya bernama Ammar dan Ubaidilah. Ammar masuk Islam lebih dulu, lalu mengajak ayah dan ibunya. Bani Makzhum mengetahui keislaman mereka, lalu mereka melakukan penyiksaan pada keluarga tersebut.

Mereka mengeluarkan keluarga tersebut ke tanah lapang di siang hari yang panas terik. Mereka melemparkan Sumayyah dan menghujani kerikil panas padanya, dan meletakkan batu yang sangat berat di atas dadanya. Tapi Sumayyah hanya berkata, “Ahad.. Ahad..”.

Rasulullah berkata, “Bersabarlah keluarga Yasir, sesungguhnya kalian telah dijanjikan dengan surga”. Sumayyah merasa siksaan itu ringan saja, karena kuatnya keimanannya. Ia akhirnya menyaksikan Yasir meninggal, dan beberapa saat kemudian ia pun menyusulnya, setelah orang-orang kafir menghunjamkan tombak padanya.

(to be continued)

Shirah Shahabiyah

Advertisements

2 thoughts on “Sirah Shahabiyah (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s