[MOU-5] Horeee… Semester Baru!!

Wajah Sule cerah sekali, secerah pagi itu. Dia melangkahkan kaki memasuki gerbang Smansa sambil bersenandung….

You go to school everyday, but you don’t study hard
And chatting when the class going on
Always cheating on the test by asking the answer
Or make many hidden small notes

What you gonna be…Oh what you gonna be? [Go to School, SNADA]

Sule jadi teringat masa lalunya: ngobrol di kelas, nyontek pas ujian, bikin contekan di kertas kecil. Ah, sekarang nggak lagi! Sule udah bertekad gak mau jadi pelajar kayak gitu. Apalagi sekarang dia udah kelas XII. Harus lebih serius belajar dan mikirin masa depan! Cieee…

Memasuki kelas barunya,  XII IPA 7, Sule mengucap salam. Wah, ternyata di sana udah ada Khalid dan Mahar. Asik banget ternyata mereka bertiga sekelas. Ada Muti juga di kelas itu. Gak lama kemudian terdengar suara dari arah pintu kelas.
“Haloo semua! Assalamu’alaikum… selamat yah, kalian semua sekelas sama guee… hehehe…”
“Wa’alaikumsalam”, jawab teman-teman sekelas.
“Ya ampun, sekelas sama Saskiii… bisa keriting nih gue kayak lo Har”, kata Sule  frustasi. Terakhir kali ketemu Saski, rambut Sule sukses nempel-nempel karena dilem sama Saski.

“Mutiiiii…. “, Saski menyapa Muti duluan sambil berpelukan kemudian menyapa yang lainnya. “Eh, ada Sule, ada Mahar, ada Khalid juga.”, . “Eh, ada murid baru ya? Kenalin, gue Saski. Lengkapnya sih Zaskiya. Adya Mecca. Hehe.. bukan deng… Zaskiya Sholihah”.
“Nama sih boleh Zaskiya Sholihah, tapi kelakuan, beuuh… ”, sahut Sule..
Bletak! Tempat pensil Saski sukses mendarat di lengan Sule. Saski udah siap-siap mau ngelempar tempat minum, tapi keburu dilarang Khalid. Mereka bertiga terus kenalan sama murid baru itu. Namanya Ryan, pindahan dari Kalimantan. Sule akhirnya duduk sama Ryan. Di bangku depannya ada Khalid dan Mahar. Di depannya lagi Saski dan Muti. Bel masuk sudah berbunyi, murid-murid yang lain kembali duduk manis di bangku masing-masing.

————- ⌘ ———–

Jam istirahat di kantin ….

“Rif, masuk kelas mana?” tanya  Mahar.
“Gue? XII IPA 3. Kalo kau?” jawab Arief singkat.
“XII IPA 7, sama Khalid dan Sule. Eh ke Bunda yuk! Makan nasi gokil…” kata Mahar, Arief ngangguk. Khalid ikutan.
“Kira-kira apa ya tujuan sekolah ngacak kelas?”, tanya Mahar penasaran.
“Tak tau juga lah, tapi, coba liat sisi positifnya…” jawab Arief pake gaya Mario Teguh. “Kalau diacak, kita bisa banyak teman, dan silaturahmi kita juga meluas .. betul tidak?”
“Hmmmm…” Mahar serius mikir.
“Bener juga Rif. Tapi kalo gue sih enjoy enjoy aja… Yang perlu kita perhatikan adalah, meskipun kita beda temen, beda situasi kelas, dakwah kita harus tetep jalan coy!” kata Khalid.
“Dakwah? Apaan tuh? Hehe”, Mahar pura-pura ga ngerti.
“Haha.. pura-pura saja kau Har”, ujar Arief. “Dulu mungkin kita berpikir dakwah itu seram sekali lah, harus pintar agama macam Aa Gym. Padahal dakwah itu kan intinya mengajak pada cahaya Islam, pada kebaikan, sekecil apapun. Dan itu kewajiban kita setiap Muslim lah”
“Betul betul betul! Dari hal yang kecil aja, kayak ngajakin shalat zhuhur berjamaah, shalat dhuha!”, kata Khalid.
“Mentoring jangan lupa…”, sambung Mahar. “Kan kasian mentor kita jauh-jauh naek angkot atau kereta, eh sampe sekolah mentee nya pada gak ada …”
“Betul betul betul”, Khalid, Mahar, dan Arief jadi inget mentor mereka yang rela ke Smansa setelah paginya kuliah di IPB, dan setelah ngisi mentoring harus balik lagi ke kampus untuk praktikum.

————- ⌘ ———–

Sementara Khalid, Mahar, dan anak-anak kelas XII mulai sibuk buat menghadapi “the 3rd graders things”, lain halnya dengan Angga, Faris, dkk yang sekarang naik ke kelas XI. Ia tahu bahwa tahun ke dua di SMA ini tidak akan mudah dilalui, karena dia harus bersiap siap dengan yang namanya Regenerasi, karena tahun ini juga dia dan teman temannya lah yang akan memegang kendali penuh di ekskul sekolah.
Setelah pulang sekolah, Angga dan Faris pun mengbrol di mushala.

“Ris, tahun ajaran baru merasa ada yang menakutkan gak?”, tanya Angga agak takut.
“Hah? tahun ajaran baru takut sama apa? Nilai jeblok?”, jawab Faris.
“Hmm.. bukan sih … REGEN coy!’, jawab Angga.
“Hmm …. “, Faris mulai serius. “Kalo kata gue, masalah ekskul atau apapun gak boleh ganggu belajar, soalnya itu amanah orangtua, dan kita harus bijak bagi waktu antara belajar dan organisasi. Oh iya yang kagak boleh kita lupa adalah prioritas organisasi. Kalo gue lebih suka, kalo organisasi ikut banyak boleh pilih SATU yang jadi prioritas banget, bukan berarti gak loyal, cuma kalo semua kita ikutin … gue takut belajar gue ke ganggu, jarang dirumah, diomelin nyokap, akhirnya besoknya gue gak dikasih ongkos ke sekolah …”

“Terus Ekskul yang laennya lu GABUT dong?”, tanya Angga penasaran.
“Kagak lah, cukup lah sewajarnya, misal kan gue ikut baris berbaris, DKM, sama KIR. Di baris berbaris kalo ada ngelatih dan waktu gue kosong ya gue ngelatih, kalo di KIR ada kumpul divisi dan gak kerjaan ya gue ikut …”,  jawab Fars dengan santai. “Tapi, semua itu pilihan kok Ngga… gue inget kata bokap…”
“ Hidup itu Pilihan ! ” seru Faris. “Hidup lu, lu yang nentuin… bukan gue, kakak kelas, Kepala Sekolah, Pak Tohar…  atau siapapun …. kita mau aktif di organisasi manapun itu terserah kita… pilihan itu selalu ada…”

Belajar adalah amanah. Bijak dalam membagi waktu adalah kunci utama

————- ⌘ ———–

Akhirnya “pekan” regenerasi dimulai, pertama-tama yang mengalami giliran regenerasi adalah ekskul baris berbaris,  dan otomatis Faris yang merupakan anggota ekskul tersebut harus mengikuti regenerasi ekskul itu. Dan tidak terasa regenerasi sudah berjalan 3 minggu.

Pada suatu hari, Faris, Angga, Wisnu dan temen-temannya yang lain yang juga mengalami regenerasi kumpul buat nunggu mentor. Kali ini mereka punya mentor baru dari Teknik Kimia UI, namanya A’Ikbal.

“Eh…. Bro, masa yah gue kan semalem gak sengaja nonton berita soal video artis yang lagi heboh, yang gak gue habis pikir adalah, banyak cewek-cewek demo gitu di depan kantor polisi, minta si artis di bebasin … sambil nangis nangis lagih… katanya sih fans berat si artis …  astaghfirullah!” cerita Wisnu sambil terheran-heran.
“Iya tuh, sebenernya gue agak gak suka sama orang yang berlebihan kalo mengidola kan seseorang.. lebay abis”,  kata Faris.
“Iya, gue jadi inget kata mentor ganteng kita yang dari UI…” sahut Angga.
“Kita boleh mengidolakan sesorang, tapi jangan berlebihan… jangan melebihi cinta kita sama Allah dan Rasulullah”.

“Hmmmm … jadi, ngefans sama siapapun boleh .. mau ngefans sama ketua DKM yang mirip Vidi Aldiano? Boleh… Ngefans sama A’Agus yang Mas’ul FORKOM karena jambulnya? Boleh…. Ngefans sama A’Ikbal  yang anak Teknik Kimia UI karena jenggotnya yang gaul ? Juga boleh…”, tutur Wisnu. “Tapi gak boleh berlebihan”

Akhirnya tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, A’ Ikbal, mentor mereka pun sudah datang. Akhirnya, secepat kilat Faris, Wisnu, Angga dan teman temannya bersiap siap, ambil air wudhu dan Al-Qur’an untuk mulai tadarus.

Selama mentoring itu, banyak pelajaran dan manfaat yang mereka dapat. Salah satunya, pesan A’ Ikbal ini:

Seorang Muslim, ketika ngerasa gak mampu sekalipun, akan tetap optimis.
Karena yakin, bahwa Allah yang Maha Hebat, penguasa langit dan bumi, penggenggam setiap jiwa, bisa membuatnya mampu!

Ya, saat merasa gak mampu, down, mau jatoh, dan sebagainya, inget aja bahwa kita masih punya Allah yang bisa membantu kita bangkit lagi. Bahkan kalo kita memaknai syahadat kita, insya Allah kita bisa jadi orang yang tenang, optimis, dan berani. Layaknya Thoriq bin Ziyad yang membakar kapal-kapalnya biar gak ada pilihan untuk mundur ke belakang saat akan menaklukkan Spanyol.  Pilihannya hanya terus maju dan menang!

Faris, Wisnu, Angga dkk jadi lega dan tenang sehabis mentoring. Mereka merasa ter-charge lagi semangat dan imannya. Alhamdulillah. Dalam hati diam-diam mereka bertekad:

Meskipun regenerasi merupakan sebuah proses yang panjang, jangan lupakan mentoring.

Kamis, 29 Juli 2010 | 17 Sya’ban 1431 H
Redaksi Mentoring Online for You – MK Forkom Alims

Mahar & Khalid in uniform
Mahar & Khalid in uniform

Wajah Sule cerah sekali, secerah pagi itu. Dia melangkahkan kaki memasuki gerbang Smansa sambil bersenandung….

You go to school everyday, but you don’t study hard

And chatting when the class going on

Always cheating on the test by asking the answer

Or make many hidden small notes

What you gonna be…Oh what you gonna be? [Go to School, SNADA]

Sule jadi teringat masa lalunya: ngobrol di kelas, nyontek pas ujian, bikin contekan di kertas kecil. Ah, sekarang nggak lagi! Sule udah bertekad gak mau jadi pelajar kayak gitu. Apalagi sekarang dia udah kelas XII. Harus lebih serius belajar dan mikirin masa depan! Cieee…

Memasuki kelas barunya, XII IPA 7, Sule mengucap salam. Wah, ternyata di sana udah ada Khalid dan Mahar. Asik banget ternyata mereka bertiga sekelas. Ada Muti juga di kelas itu. Gak lama kemudian terdengar suara dari arah pintu kelas.

Haloo semua! Assalamu’alaikum… selamat yah, kalian semua sekelas sama guee… hehehe…”

Wa’alaikumsalam”, jawab teman-teman sekelas.

Ya ampun, sekelas sama Saskiii… bisa keriting nih gue kayak lo Har”, kata Sule frustasi. Terakhir kali ketemu Saski, rambut Sule sukses nempel-nempel karena dilem sama Saski.

Mutiiiii…. “, Saski menyapa Muti duluan sambil berpelukan kemudian menyapa yang lainnya. “Eh, ada Sule, ada Mahar, ada Khalid juga.”, . “Eh, ada murid baru ya? Kenalin, gue Saski. Lengkapnya sih Zaskiya. Adya Mecca. Hehe.. bukan deng… Zaskiya Sholihah”.

Nama sih boleh Zaskiya Sholihah, tapi kelakuan, beuuh… ”, sahut Sule..

Bletak! Tempat pensil Saski sukses mendarat di lengan Sule. Saski udah siap-siap mau ngelempar tempat minum, tapi keburu dilarang Khalid. Mereka bertiga terus kenalan sama murid baru itu. Namanya Ryan, pindahan dari Kalimantan. Sule akhirnya duduk sama Ryan. Di bangku depannya ada Khalid dan Mahar. Di depannya lagi Saski dan Muti. Bel masuk sudah berbunyi, murid-murid yang lain kembali duduk manis di bangku masing-masing.

————- ———–

Jam istirahat di kantin ….

Rif, masuk kelas mana?” tanya Mahar.

Gue? XII IPA 3. Kalo kau?” jawab Arief singkat.

XII IPA 7, sama Khalid dan Sule. Eh ke Bunda yuk! Makan nasi gokil…” kata Mahar, Arief ngangguk. Khalid ikutan.

Kira-kira apa ya tujuan sekolah ngacak kelas?”, tanya Mahar penasaran.

Tak tau juga lah, tapi, coba liat sisi positifnya…” jawab Arief pake gaya Mario Teguh. “Kalau diacak, kita bisa banyak teman, dan silaturahmi kita juga meluas .. betul tidak?”

Hmmmm…” Mahar serius mikir.

Bener juga Rif. Tapi kalo gue sih enjoy enjoy aja… Yang perlu kita perhatikan adalah, meskipun kita beda temen, beda situasi kelas, dakwah kita harus tetep jalan coy!” kata Khalid.

Dakwah? Apaan tuh? Hehe”, Mahar pura-pura ga ngerti.

Haha.. pura-pura saja kau Har”, ujar Arief. “Dulu mungkin kita berpikir dakwah itu seram sekali lah, harus pintar agama macam Aa Gym. Padahal dakwah itu kan intinya mengajak pada cahaya Islam, pada kebaikan, sekecil apapun. Dan itu kewajiban kita setiap Muslim lah”

Betul betul betul! Dari hal yang kecil aja, kayak ngajakin shalat zhuhur berjamaah, shalat dhuha!”, kata Khalid.

Mentoring jangan lupa…”, sambung Mahar. “Kan kasian mentor kita jauh-jauh naek angkot atau kereta, eh sampe sekolah mentee nya pada gak ada …”

Betul betul betul”, Khalid, Mahar, dan Arief jadi inget mentor mereka yang rela ke Smansa setelah paginya kuliah di IPB, dan setelah ngisi mentoring harus balik lagi ke kampus untuk praktikum.

————- ———–

Sementara Khalid, Mahar, dan anak-anak kelas XII mulai sibuk buat menghadapi “the 3rd graders things”, lain halnya dengan Angga, Faris, dkk yang sekarang naik ke kelas XI. Ia tahu bahwa tahun ke dua di SMA ini tidak akan mudah dilalui, karena dia harus bersiap siap dengan yang namanya Regenerasi, karena tahun ini juga dia dan teman temannya lah yang akan memegang kendali penuh di ekskul sekolah.

Setelah pulang sekolah, Angga dan Faris pun mengbrol di mushala.

Ris, tahun ajaran baru merasa ada yang menakutkan gak?”, tanya Angga agak takut.

Hah? tahun ajaran baru takut sama apa? Nilai jeblok?”, jawab Faris.

Hmm.. bukan sih … REGEN coy!’, jawab Angga.

Hmm …. “, Faris mulai serius. “Kalo kata gue, masalah ekskul atau apapun gak boleh ganggu belajar, soalnya itu amanah orangtua, dan kita harus bijak bagi waktu antara belajar dan organisasi. Oh iya yang kagak boleh kita lupa adalah prioritas organisasi. Kalo gue lebih suka, kalo organisasi ikut banyak boleh pilih SATU yang jadi prioritas banget, bukan berarti gak loyal, cuma kalo semua kita ikutin … gue takut belajar gue ke ganggu, jarang dirumah, diomelin nyokap, akhirnya besoknya gue gak dikasih ongkos ke sekolah …”

Terus Ekskul yang laennya lu GABUT dong?”, tanya Angga penasaran.

Kagak lah, cukup lah sewajarnya, misal kan gue ikut baris berbaris, DKM, sama KIR. Di baris berbaris kalo ada ngelatih dan waktu gue kosong ya gue ngelatih, kalo di KIR ada kumpul divisi dan gak kerjaan ya gue ikut …”, jawab Fars dengan santai. “Tapi, semua itu pilihan kok Ngga… gue inget kata bokap…”

Hidup itu Pilihan ! ” seru Faris. “Hidup lu, lu yang nentuin… bukan gue, kakak kelas, Kepala Sekolah, Pak Tohar… atau siapapun …. kita mau aktif di organisasi manapun itu terserah kita… pilihan itu selalu ada…”

Belajar adalah amanah. Bijak dalam membagi waktu adalah kunci utama

————- ———–

Akhirnya “pekan” regenerasi dimulai, pertama-tama yang mengalami giliran regenerasi adalah ekskul baris berbaris, dan otomatis Faris yang merupakan anggota ekskul tersebut harus mengikuti regenerasi ekskul itu. Dan tidak terasa regenerasi sudah berjalan 3 minggu.

Pada suatu hari, Faris, Angga, Wisnu dan temen-temannya yang lain yang juga mengalami regenerasi kumpul buat nunggu mentor. Kali ini mereka punya mentor baru dari Teknik Kimia UI, namanya A’Ikbal.

Eh…. Bro, masa yah gue kan semalem gak sengaja nonton berita soal video artis yang lagi heboh, yang gak gue habis pikir adalah, banyak cewek-cewek demo gitu di depan kantor polisi, minta si artis di bebasin … sambil nangis nangis lagih… katanya sih fans berat si artis … astaghfirullah!” cerita Wisnu sambil terheran-heran.

Iya tuh, sebenernya gue agak gak suka sama orang yang berlebihan kalo mengidola kan seseorang.. lebay abis”, kata Faris.

Iya, gue jadi inget kata mentor ganteng kita yang dari UI…” sahut Angga.

Kita boleh mengidolakan sesorang, tapi jangan berlebihan… jangan melebihi cinta kita sama Allah dan Rasulullah”.

Hmmmm … jadi, ngefans sama siapapun boleh .. mau ngefans sama ketua DKM yang mirip Vidi Aldiano? Boleh… Ngefans sama A’Agus yang Mas’ul FORKOM karena jambulnya? Boleh…. Ngefans sama A’Ikbal yang anak Teknik Kimia UI karena jenggotnya yang gaul ? Juga boleh…”, tutur Wisnu. “Tapi gak boleh berlebihan”

Akhirnya tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, A’ Ikbal, mentor mereka pun sudah datang. Akhirnya, secepat kilat Faris, Wisnu, Angga dan teman temannya bersiap siap, ambil air wudhu dan Al-Qur’an untuk mulai tadarus.

Selama mentoring itu, banyak pelajaran dan manfaat yang mereka dapat. Salah satunya, pesan A’ Ikbal ini:

Seorang Muslim, ketika ngerasa gak mampu sekalipun, akan tetap optimis.

Karena yakin, bahwa Allah yang Maha Hebat, penguasa langit dan bumi, penggenggam setiap jiwa, bisa membuatnya mampu!

Ya, saat merasa gak mampu, down, mau jatoh, dan sebagainya, inget aja bahwa kita masih punya Allah yang bisa membantu kita bangkit lagi. Bahkan kalo kita memaknai syahadat kita, insya Allah kita bisa jadi orang yang tenang, optimis, dan berani. Layaknya Thoriq bin Ziyad yang membakar kapal-kapalnya biar gak ada pilihan untuk mundur ke belakang saat akan menaklukkan Spanyol. Pilihannya hanya terus maju dan menang!

Faris, Wisnu, Angga dkk jadi lega dan tenang sehabis mentoring. Mereka merasa ter-charge lagi semangat dan imannya. Alhamdulillah. Dalam hati diam-diam mereka bertekad:

Meskipun regenerasi merupakan sebuah proses yang panjang, jangan lupakan mentoring.

Kamis, 29 Juli 2010 | 17 Sya’ban 1431 H

Redaksi Mentoring Online for You – MK Forkom Alims

Advertisements

6 thoughts on “[MOU-5] Horeee… Semester Baru!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s