Tidak Lebih Baik dari Siapapun

Selasa, 6 Januari 2009, saya ikut Pengajian UI di Rektorat. Pengajian ini adalah hasil kerjasamanya Rektorat UI dengan SALAM UI. Yang dateng lumayan banyak, dari mulai Pak Rektor, wakil2 Rektor dan pejabat Rektorat lainnya, karyawan, mahasiswa, dan ada masyarakat sekitar UI juga.

Pak Gumilar sang Rektor UI di dalam pidato sambutannya menceritakan sebuah kisah, tentang dialog Rasulullah SAW dengan iblis. Rasulullah nanya sama iblis, siapa manusia yang paling kau sukai? Terus iblis jawab, manusia yang paling aku sukai adalah yang rajin beribadah. Tapi karena ibadahnya itu dia merasa lebih baik dari orang lain. Lalu Rasulullah nanya lagi, siapa yang paling kau benci? Iblis jawab, yang paling kubenci adalah orang yang banyak dosa, tapi karena dosanya itu dia bertobat meminta ampun dan takut pada Allah. (Ada yang bisa ngasih tau riwayat siapa ini?)

Lalu pembicara pengajian ini, Pak Muslih Abdul Karim, menyambungnya dengan tausiyahnya. Subhanallah.. Ini ustadz, dari pertama kali ngomong, rasanya setiap kata2nya menyentuh hati. Gak tau kenapa, di pengajian itu hati saya damai banget.. (^-^)V

Ustadz Muslih membenarkan tausiyah Pak Gum, kenapa iblis suka sama manusia yang rajin ibadah tapi ngerasa lebih baik dari yang lain? Karena manusia itu persis banget ama iblis. Soalnya dulu kan iblis tuh nurut sama Allah, eh pas Allah menciptakan Adam as dan nyuruh iblis dan malaikat sujud sama Adam, iblis gak mau. Karena dia ngerasa lebih baik. Somse euy.. sombong sekali..

Padahal, tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan walaupun sebesar dzarrah (atom). Astaghfirullah.. Jadi inget diri saya. Sampai sekarang, udah berapa kali coba ngerasa lebih baik dari orang lain? Dapet nikmat dikit, sombong. Bisa ngelakuin sesuatu, sombong. N.g.e.r.a.s.a l.e.b.i.h b.a.i.k d.a.r.i o.r.a.n.g l.a.i.n.

Hiks..

Jadi inget Pak Heru, dosen Fasilkom. Waktu presentasi pemilihan calon dekan, beliau bilang bahwa ada satu pertanyaan di formulir pendaftaran yang menjebak. Pertanyaan itu berbunyi, “Apakah anda merasa pantas jadi dekan Fasilkom?” (kira2 begitu pertanyaannya). Terus kata Pak Heru, “Kalo jawab iya, berarti saya sombong. Kalo sombong, gak bisa masuk surga. Mendingan gak saya jawab aja. Biarpun gak jadi dekan, tapi masih ada kesempatan masuk surga”. Subhanallah..

Oke Ning.. stop it from now..
Mulai sekarang.. jangan lagi ngerasa lebih baik dari siapapun.. dalam hal sekecil apapun..

Hasan Al Basri berkata, tawadhu itu jika kamu keluar dari rumahmu lalu setiap kali kamu bertemu saudaramu, kamu merasa bahwa saudaramu itu lebih baik darimu.

Advertisements

7 thoughts on “Tidak Lebih Baik dari Siapapun

  1. ning, gw kan suka nganggep setiap orang mesti lebih hebat dari gw. bukannya itu rendah diri ya?gw suka gitu soalnya…kalo bukan, terus apa bedanya dong ya? yg dipiran gw sih, tiap orang punya kelebihan dan kekurangan, ya kudu menghargai aja…jadi ga boleh sombong gitu…

  2. kynya sombong beda ama ngerasa lebih baik..ngerasa lebih baik mah itu kudu…apalagi dalam hal ibadah…ngerasa lebih baik bukan berarti sombong juga..dua hal yg beda kyanya..

  3. kalo emang kenyataannya kita yang lebih pantas mendapatkannya ya bilang aja gitu,,,,,

    mengerjakan sesuatu karena orang –> riya
    tidak mengerjakan sesuatu karena selain Allah –> syirik

    pilih mana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s