Tanggal Ini, Setahun yang Lalu

10 November 2015.

Siang itu setelah Dzuhur saya berkunjung ke ruangan salah satu dosen saya. Kemarin sorenya, bu dosen ini mengirim pesan pada saya, bilang beliau mau minta tolong dan minta saya datang ke ruangannya. Saya pikir ini tentang kerjaan kantor, atau urusan kemahasiswaan (karena saat masih mahasiswa saya banyak berinteraksi dengan beliau di bidang ini), atau tentang hal lain yang berhubungan dengan pekerjaan. Ternyata, sama sekali bukan.

Siang itu sambil makan siang kami mengobrol ringan.. awalnya beliau menanyakan kabar keluarga almarhumah temannya, yang kebetulan anaknya adalah teman saya. Jadi saya pikir beliau mau minta tolong menunjukkan alamat rumah temannya itu jika sekali-kali nanti mau berkunjung ke Bogor. Dan sudah.. saya kira hanya itu yang ingin disampaikannya, sampai kemudian.. beliau menyinggung hal lain.

🙂

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya.. di tanggal ini, setahun yang lalu.. Allah menjawab sebuah doa saya dengan jawaban “YA”. Setelah bertahun-tahun sebelumnya Allah menjawab dengan “nanti” atau “tidak sekarang”, namun tetap memberikan ganti yang lebih baik untuk saya saat itu. Setelah sekian ikhtiar dan harap-harap cemas yang mendebarkan..wkwk.. Setelah sekian kegagalan dan patah hati yang pahit awalnya tapi ternyata bikin saya tambah kuat *what doesn’t kill you only make you stronger.

Tanggal ini, setahun yang lalu, Allah membukakan jalan yang tak terduga untuk saya bertemu dengan jodoh terbaik yang telah disiapkanNya.

Kita sungguh selalu kurang canggih untuk menerka skenario yang telah Allah siapkan. Pun pikiran-pikiran seperti “ah, rasanya gak mungkin”, “ga ada harapan”, “susah deh kayaknya” rasanya tidak pantas kalau mengingat kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa melakukan segalanya. Maka hari ini, jika hidup terasa begitu sulit, begitu berat, begitu sesak; ingatlah akan keajaiban-keajaiban pertolonganNya, yang sudah terlulur untuk berjuta-juta hambaNya. Terus berusaha untuk percaya sepenuhnya kepadaNya:

Allah, The One who will never fail you.

 

~harusnya dipost kemarin 😄

Saat Memberi Saat Tidak

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

Children holding heartsymbol

Pagi ini ketika berselancar di linimasa Facebook, saya menemukan sebuah tulisan yang sangat menggugah karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim berikut ini:

“Seorang ibu memasuki minimarket bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Saya tidak memperhatikan dengan baik. Yang satu, kira-kira kelas 4 SD. Satu lagi mungkin TK atau SD kelas 1. Begitu masuk, ibu tersebut segera mengucapkan dua kata, “Nggak… Nggak….” sebagai isyarat larangan beli bagi kedua anaknya yang langsung berbelok ke tempat es krim.

Anaknya yang kecil segera menunjukkan reaksi spontan, hanya sepersekian detik (barangkali tidak sampai satu detik) dari kata “nggak” yang terakhir diucapkan ibunya, dengan menangis keras; melengking, memaksa….

Tak perlu waktu lama bagi anak itu untuk menangis. Ibunya segera memberi reward untuk tindakan anak mempermalukan orangtua. Ia mempersilakan anaknya mengambil es krim. Hampir saja tangisan kedua pecah ketika memilihkan es krim yang lebih murah dibanding pilihan anak. Tetapi tangisan itu segera berubah menjadi perayaan kemenangan yang…

View original post 1,522 more words

Stalking Berujung Iri Hati

Tadi pagi baca postingan ini.. Lucu ih😄 Begitu jujur dan ya.. benar kalau menurut saya. Sebagai orang yang sering berada di depan komputer, terkadang saya menggunakan komputer dan koneksi internetnya untuk melihat2 profil orang2 di socmed, baik itu teman sendiri atau orang terkenal. Dan ya, tak jarang kegiatan itu malah berujung iri dan atau rendah diri karena membandingkan diri dengan orang tersebut yang begitu waah, begitu keren, sedangkan aku mah apa atuh. Duh, penyakit banget ya stalking yang berujung begitu.. wkwk. Di tulisan tadi, menurut si penulis obatnya adalah stalking Aa Gym…hahaha. Maksudnya tentu saja menyimak tausiyah2 Aa Gym yang menenangkan hati.

Kemudian jadi inget artikel yang sangat bagus ini.. Benar juga ya.. bahwa yang banyak orang share di socmed adalah masa2 jayanya. Momen2 di mana mereka berhasil. Gak banyak yang posting tentang hari yang biasa2 aja. Atau gak semua orang mau posting tentang kegagalan2 yang dialami sebelum akhirnya sukses. Dan yang kita lihat ya itu, hanya masa2 jayanya orang. Padahal di balik itu, dia juga pasti pernah mengalami masa2 bosan, masa2 stagnan, masa2 galau, masa2 gagal, dan masa2 lainnya yang mungkin gak menarik untuk dishare di socmed. Membandingkan kehidupan kita (full-view, dari semua sisinya) dengan kehidupan orang (yang hanya kita lihat keberhasilan2nya) akhirnya membuat kita merasa gak banget dibandingin dia.

Gimana cara mengatasinya? Kalau merasa kegiatan stalking itu akhirnya berujung iri dan rendah diri, ya distop aja. Get a life, do something real. Something small but real, other than just clicking facebook. Sesungguhnya, becandaan sama adik, bantuin ibu di rumah, ataupun bersedekah walau kecil itu jauh lebih baik daripada stalking di socmed…wkwk. Sebaliknya ketika berada di pihak yang mau posting di socmed, sebelum posting baiknya kita periksa niat, untuk apakah saya posting ini. Selengkapnya silakan baca tulisan dari Omar Usman ini, sungguh sangat recommended: Jealousy, Attention, and the Social Media Highlight Reel.

 

Semakin tinggi, semakin agung, dan semakin besar tujuan hidup kita, akan semakin ringan pula kita menjalani hidup. Meskipun ujian demi ujian, kepahitan demi kepahitan datang bertubi-tubi.

Maka saudaraku, jadikanlah Allah Azza wa Jalla sebagai tujuan hidup kita. Sungguh, tiada yang lebih agung, lebih mulia, lebih besar dari Dia. Kejarlah ridha dan cinta-Nya. Semakin kita gigih mengejar ridha dan cinta-Nya, niscaya akan semakin ringan hidup kita, semakin mudah dan semakin bahagia. Insya Allah.

-Teh Ninih-

Salim A. Fillah: Mengemudi Hati

Ini tulisan Salim A. Fillah.. baguuus:

Inilah tugas kehambaan kita; mengemudi hati menuju Allah. Alangkah berat & peliknya; sebab ia qalb; bergoyah-gayih, berbolak-balik.

Maka dalam doa teragung nan tercantum di Ummul Kitab & terucap di tiap raka’at; kita memohon jalan yang lurus. Lurus menuju padaNya.

Tapi yang sering lupa diinsyafi; jalan yang lurus ke langit itu, di bumi justru berkelok, curam, terjal, menikung, &bergelombang.

Sebab ia adalah “Shirathalladzina an’amTa ‘alaihim”; jalan orang-orang yang Allah beri nikmat. Al Quran mengisahkannya dengan syahdu.

Kisah-kisah itu; yang mengambil bahagian terbesar dalam Al Quran; membentang dari Adam hingga Muhammad; semua menceritakan lika-liku.

Maka ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yang Kau limpahi cinta; dalam sempit maupun lapangnya, senyum dan juga lukanya.

Maka Ya Allah, walau tak Kau kayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniai kami syukur dan tawadhu’nya, yang hormati semut serta burung Hud-hud.

Maka Ya Allah, walau tak Kau beri kami daya raga dan keajaiban seperkasa Musa, curahi kami keberanian dan keteguhannya memimpin kaum yang sering membuat kecewa.

Maka Ya Allah, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da’wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikan kebenaran dalam aneka cara.

Maka Ya Allah, walau paras tak setampan Yusuf rupawan, kuatkan diri kami menahan semua goda dan derita, tajamkan nuraninya hingga mampu membaikkan negeri.

Maka Ya Allah, walau keajaiban tak selalu sertai perjalanan, penuhi hati kami dengan kasih mesra seperti ‘Isa, hingga tunduklah musuh dalam cinta.

Maka Ya Allah, walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya Kaudengarkan.

Maka Ya Allah, walau tak usah mengalami kehilangan, dicekik sakit, miskin, dan musibah; sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yang tabah.

Maka Ya Allah; walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar, dan Sarah; limpahi keluarga kami dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah, dengan keturunan yang shalih serta shalihah.

Maka Ya Allah, walau ibadah tak seterpelihara Zakaria dan kesucian tak seterjaga Maryam; nikmatkan bagi kami bakti anak mulia seperti Yahya dan ‘Isa.

Maka Ya Allah, walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa surga sebelum surga, terimalah taubat atas segala dosa.

Maka Ya Allah, walau hidup tak sepedas-pedih warna-warni hayat Ya’qub, jadikan kami hanya mengadu padaMu semata, hingga menampilkan kesabaran cantik yang mencahaya.

Maka Ya Allah, walau tak harus lari dan bersembunyi sebagaimana para Ashabul Kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al Haq di depan tirani.

Maka Ya Allah, walau kerajaan tak seluas Dzul Qarnain, curahi kami akhlaq pemimpin; yang senantiasa menyeru pada iman, membebaskan ummat, serta menebar manfaat.

Maka Ya Allah, walau jangan sampai Kau karuniai pasangan yang mirip Fir’aun, teguhkan kami bagai Asiyah yang mukminah, anugerahkan rumah di sisiMu di dalam surga.

Maka Ya Allah, walau persoalan hidup tak sepelik yang dialami Ibunda Musa, bisikkan selalu kejernihanMu di firasat kami saat menghadapi musykilnya hari-hari.

Maka Ya Allah, walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al Hakim; tajamkan fikir dan rasa kami untuk mengambil ‘ibrah di setiap kejadian.

Maka Ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan.