[Buku] 5 Guru Kecilku

Dari semua emak2 super yang suka sharing tentang parenting, kayaknya saya paling suka Teh Kiki Barkiah :D Terutama sih karena beliau tauhidnya kuat banget dan itu yang ditanamkan ke anak2nya. Ruh ini yang selalu ada di tulisan2nya.. Benar2 menjaga fitrah, bukan cuma sekedar anak bisa shalat, bisa ngaji, hafal sekian juz, tapi tauhidnya kosong melompong. Di buku ini banyak hal2 prinsip maupun teknis yang diterapkan Teh Kiki di keluarganya. Dan ituh semuaa…keren2!

—————————-

Buku ini bukanlah buku teori parenting, buku ini adalah buku bagaimana teori parenting dapat diaplikasikan dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Buku ini mengangkat kisah-kisah seputar pengasuhan anak yang mungkin sangat umum terjadi dalam keluarga. Namun atas petunjuk Allah SWT penulis mampu menyibak rahasia dan mengumpulkan hikmah yang berserak dari setiap permasalahan yang dihadapi dalam pengasuhan anak sehingga menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua.

Buku ini tidak hanya memberikan teladan dalam mengatasi berbagai konflik yang spesifik seputar pengasuhan anak, namun juga memberikan hikmah yang dapat menjadi ruh dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan lainnya. Meskipun permasalahan yang diangkat adalah seputar pengasuhan anak usia dini dan remaja, namun hikmah yang tergali dapat menjadi pelajaran berharga bagi orang tua dengan segala usia.

5gk

Judul Buku: 5 Guru Kecilku
Penulis: Kiki Barkiah
Penerbit: Mastakka Publishing
Spesifikasi: +- 241 halaman
Harga: Rp 75.000 (belum termasuk ongkir)

Dengan membeli buku ini, kamu sudah ikut berdonasi untuk RPPI lho! Lihat info tentang RPPI (Rumah Peradaban Pelajar Indonesia) di sini: www.rumahpelajar.com. Kalau mau berdonasi lebih? Boleh banget! :)

CP: Hening 0895-0455-9629 (whatsapp) atau email: heninggar at gmail dot com

[Buku] Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran

“Ngafal Qur’an? Hah, ngapain?!”

Dulu saya mikir gitu loh. Ngerasa gak ada urusan sama sekali dengan Al Qur’an. Apalagi ngafalin! Ngapain juga, i have so many more interesting things in life. Ngek! Sombong bener ye.. Tapi itu dulu. Sekarang semuanya berubah sejak negara api menyerang sejak saya ikutan tahsin :D

Ternyata kalau kita mulai melangkah untuk mendekati Quran, Allah akan bukakan pintu2 kebaikan lainnya. Awalnya cuma belajar tahsin/tajwid, lama2  mau menghafal, mentadabburi, mengajarkan, dan tentu saja mengamalkan..insya Allah.

Dalam perjalanannya, tentu banyak naik turunnya. Karena itu penting bgt untuk selalu tersambung dengan sumber2 inspirasi quran, baik itu halaqah tahsin/tahfizh, video2 ceramah, buku, dll, biar selalu dpt suntikan semangat :D

Nah ini ada satu buku yg baguuus bgt:

“Quran tidak akan mau diduakan, ia sendirilah yang akan menyeleksi siapa yang berhak bersanding dengannya”. -Ratna Puspa Indah

Itulah satu kalimat yang diucapkan oleh mahasiswa yang punya kesibukan luar biasa tapi masih menyempatkan waktu untuk mempelajari surat cinta dari Rabb nya dan memantaskan diri bersanding dengan Al. Qur’an

Kalimat itu ada di salah satu bagian dari buku Mahasiswa Mahasiswa Pencinta Al. Qur’an (MMPQ). MMPQ berisi cerita-cerita dari santri IQF (Indonesia Quran Foundation) yang merupakan mahasiswa/i dari Universitas Indonesia dan kampus lain di Jakarta. Mereka berbagi kisah tentang bagaimana mereka “menemukan” Quran dan kemudian berjuang untuk terus membersamainya.

Yuk beli buku MMPQ ini.. Temukan banyak inspirasi di dalamnya :)

mmpq

Judul Buku: Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran (MMPQ)
Penulis: Tim Penulis IQF
Penerbit: Lembah Kapuk
Spesifikasi: 212 halaman, 13x19cm, ada pembatas buku
Harga: Rp 60.000 (belum termasuk ongkir)

Dengan membeli buku ini, kamu sudah ikut berdonasi untuk RPPI lho! Lihat info tentang RPPI (Rumah Peradaban Pelajar Indonesia) di sini: www.rumahpelajar.com. Kalau mau berdonasi lebih? Boleh banget! :)

Kalau berminat hubungi saya ya.. tapi karena saya gak nyaman membagi no HP di sini, ada sih no HP yang satu lagi tapi HPnya yang ga ada, jadi kalau mau boleh email aja ke heninggar at gmail dot com atau twitter @heninggar :)

Salim A. Fillah: Mengemudi Hati

Ini tulisan Salim A. Fillah.. baguuus:

Inilah tugas kehambaan kita; mengemudi hati menuju Allah. Alangkah berat & peliknya; sebab ia qalb; bergoyah-gayih, berbolak-balik.

Maka dalam doa teragung nan tercantum di Ummul Kitab & terucap di tiap raka’at; kita memohon jalan yang lurus. Lurus menuju padaNya.

Tapi yang sering lupa diinsyafi; jalan yang lurus ke langit itu, di bumi justru berkelok, curam, terjal, menikung, &bergelombang.

Sebab ia adalah “Shirathalladzina an’amTa ‘alaihim”; jalan orang-orang yang Allah beri nikmat. Al Quran mengisahkannya dengan syahdu.

Kisah-kisah itu; yang mengambil bahagian terbesar dalam Al Quran; membentang dari Adam hingga Muhammad; semua menceritakan lika-liku.

Maka ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yang Kau limpahi cinta; dalam sempit maupun lapangnya, senyum dan juga lukanya.

Maka Ya Allah, walau tak Kau kayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniai kami syukur dan tawadhu’nya, yang hormati semut serta burung Hud-hud.

Maka Ya Allah, walau tak Kau beri kami daya raga dan keajaiban seperkasa Musa, curahi kami keberanian dan keteguhannya memimpin kaum yang sering membuat kecewa.

Maka Ya Allah, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da’wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikan kebenaran dalam aneka cara.

Maka Ya Allah, walau paras tak setampan Yusuf rupawan, kuatkan diri kami menahan semua goda dan derita, tajamkan nuraninya hingga mampu membaikkan negeri.

Maka Ya Allah, walau keajaiban tak selalu sertai perjalanan, penuhi hati kami dengan kasih mesra seperti ‘Isa, hingga tunduklah musuh dalam cinta.

Maka Ya Allah, walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya Kaudengarkan.

Maka Ya Allah, walau tak usah mengalami kehilangan, dicekik sakit, miskin, dan musibah; sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yang tabah.

Maka Ya Allah; walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar, dan Sarah; limpahi keluarga kami dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah, dengan keturunan yang shalih serta shalihah.

Maka Ya Allah, walau ibadah tak seterpelihara Zakaria dan kesucian tak seterjaga Maryam; nikmatkan bagi kami bakti anak mulia seperti Yahya dan ‘Isa.

Maka Ya Allah, walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa surga sebelum surga, terimalah taubat atas segala dosa.

Maka Ya Allah, walau hidup tak sepedas-pedih warna-warni hayat Ya’qub, jadikan kami hanya mengadu padaMu semata, hingga menampilkan kesabaran cantik yang mencahaya.

Maka Ya Allah, walau tak harus lari dan bersembunyi sebagaimana para Ashabul Kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al Haq di depan tirani.

Maka Ya Allah, walau kerajaan tak seluas Dzul Qarnain, curahi kami akhlaq pemimpin; yang senantiasa menyeru pada iman, membebaskan ummat, serta menebar manfaat.

Maka Ya Allah, walau jangan sampai Kau karuniai pasangan yang mirip Fir’aun, teguhkan kami bagai Asiyah yang mukminah, anugerahkan rumah di sisiMu di dalam surga.

Maka Ya Allah, walau persoalan hidup tak sepelik yang dialami Ibunda Musa, bisikkan selalu kejernihanMu di firasat kami saat menghadapi musykilnya hari-hari.

Maka Ya Allah, walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al Hakim; tajamkan fikir dan rasa kami untuk mengambil ‘ibrah di setiap kejadian.

Maka Ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan.

[Ilmfest 2014] Yasmin Mogahed: The Lessons from Tha’if

Rasulullah SAW pergi berdakwah ke Tha’if pada Amul Huzn (tahun kesedihan), yaitu tahun di mana Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia. Yang terjadi di Tha’if adalah beliau ditolak mentah2, bahkan dilempari batu sampai berdarah. Yet he’s not complaining about Allah, but to Allah. Merendah dan merasa gak mampu di hadapan Allah. Concern beliau saat itu bukan derita beliau, tapi asal Allah gak marah pada beliau. His concern is the pleasure of Allah.

Tiga respon terhadap kesulitan:

  1. Rasa marah pada Allah. Semoga kita gak pernah merespon kesulitan dengan ini. Ini adalah respon orang2 yang akhirnya menjauh dari Allah.
  2. Sabar. Bahkan jika kita terluka, kita tidak mengeluh terhadap Allah. Tapi kita boleh mengadu ke Allah, artinya kita menghadap Allah dan meminta pertolonganNya, menyadari bahwa kita ini nothing tanpaNya. Gak ada musibah yang menimpa seorang muslim melainkan musibah itu membersihkan dirinya dari dosa, asal kita meresponnya dengan benar. Salah satu alasan Allah menimpakan kesulitan pada seseorang adalah untuk menyucikannya.
  3. Ridha. Bukan hanya sabar, tapi lebih tinggi dari itu. Ridha apapun yang Allah tetapkan. Inilah responnya Rasulullah. Tahap ini tidak hanya menyucikan diri, tapi juga mengangkat derajat.

Difficulties and hardships push you towards Allah. Karena kalau udah kehabisan pertolongan makhluk dan cara2 dunia, satu2nya cara adalah melihat ke “atas”.

Pasca peristiwa Tha’if, ada malaikat penjaga gunung yang menawarkan untuk menghancurkan masyarakat Tha’if dengan menimpakan gunung ke atas mereka. Tapi Rasulullah menolaknya, karena bisa jadi keturunannya ada yang beriman.

Kapan terakhir kali kita dikecewakan orang? Rasa kecewa itu pasti gak ada apa2nya dibandingkan yang dialami oleh Rasulullah. Tapi kita inginnya membalas.

Hidup ini adalah tentang fokus. Dan fokus kita adalah ridha Allah, bukan ego kita sendiri. Ketika peristiwa haditsul ifki (Aisyah difitnah), Rasulullah tidak mementingkan ego, tapi apakah Aisyah benar/tidak, dan bagaimana hubungan Aisyah dengan Allah.

Amul huzn yang dialami Rasulullah, dibalas dengan yang jauuuuuh lebih baik: isra’ mi’raj. When he was soooo near to Allah. And the gift given to him and his ummah is: shalat. Kita seringkali menganggap shalat itu beban.. padahal shalat itu refuge from the storm. Rasulullah bilang shalat itu coolness of the eyes.

Setan itu fokusnya cuma 1: menyesatkan manusia, sedangkan manusia banyak fokusnya. Pelindung kita terhadap setan: dzikrullah. Hati2 karena setan itu bisa membuat yang hitam terlihat putih, dan sebaliknya. Hijab  dibilang oppresive, alcohol jadi attractive, dsb.

Jika kita berlindung dengan shalat, insya Allah kita akan bisa melihat dengan benar. Mengarungi lautan dunia ini, jika kita berpegang dengan dzikrullah, shalat, Quran, insya Allah kita tidak akan tenggelam.

photo source: Qabeelat Ihsan

photo source: Qabeelat Ihsan

[Ilmfest 2014] Yasir Qadhi: The Husband

  • Mawaddah is tender, caring, nurturing love
  • Hubb can be selfish love
  • Ikatan antar suami istri itu… yang tadinya gak kenal sama sekali, terus dipertemukan oleh Allah, menikah.. tapi suami istri itu bisa lebih dicintai daripada saudara kandung sendiri. Dari mana ikatan yang kuat itu? Allah yang menaruhnya di situ.
  • Two persons can love each other but say/speak different language of love. Which language i use to give to others? which language i want to receive from others?

The 5 language of love:

  1. Verbal. You say something that demonstrates love.
    1. “I love you” must be continuously said. It is sunnah to verbalize love. Woman loves to receive this language, but man is difficult to give it. Rasulullah aja bisa bilang di depan para sahabat bahwa beliau mencintai Aisyah.
    2. Words of appreciation, praising spouse. Bilang ke istri, “ini masakan terenak”, “kamu wanita tercantik”. Meskipun itu kebohongan, tapi itu kebohongan yang diperbolehkan.
  2. Spending quality time together. The husband thinks of quantity, wife thinks of quality (undivided attention). Schedule quality times with the person who deserves more than the husband’s friends (i.e. the wife). Rasulullah setelah pulang dari ekspedisi dengan pasukannya bilang pada mereka agar jalan duluan, supaya beliau bisa bersama dengan Aisyah. When you listen, try to genuinely pay attention.
  3. Giving gifts. Tahaddu, tahabbu. Give gifts, so you can love each other. Untuk istri: kalau dikasih hadiah, hindari respon seperti, “oh ya ampun, beneran buatku? ini kan mahal.. uangnya bisa buat beli yang lain..dst”. Untuk suami yang ngasih hadiah, ignore her reaction. Wanita lebih suka hadiah yang sering meski nilainya kecil, dan gak harus bernilai uang. Best gift coula be a poem. Men wants fancy expensive gift but less in frequency (misal setahun sekali tapi besar).
  4. Help each other. Do the household chores. Take care of each other’s needs. Umumnya, perempuan mengurus urusan rumah tangga, dan laki2 mengurus finansial. Meski suami tidak menunjukkan bahasa cinta dengan membantu urusan RT, tapi dia memberikan penghasilannya untuk keluarga. Itu juga tanda cintanya. Jangan bilang suami gak cinta kalau dia gak mengerjakan pekerjaan RT. Tapi kalau mau mencontoh Rasulullah SAW ya.. beliau juga ikut mengerjakan pekerjaan RT. Ini juga menunjukkan bahwa istri itu bukan pembantunya suami.
  5. Sexuality, intimacy.
    1. Non-sexual touching: hug, kiss, squeeze on shoulders. Not every touch leads to bedroom. Dan suami jangan menyentuh istri kalau butuh doang.
    2. Sexual intimacy: adalah bahasa yang paling sering ingin diterima laki2. Makanya istri gak boleh menolak kalau suami meminta.

In marriage, it’s not about winning the argument. It’s about winning the marriage.

Dan pernikahan harus dijaga, harus diusahakan oleh kedua belah pihak.

yasir qadhi 2

photo source: Qabeelat Ihsan

[Ilmfest 2014] Abdulbary Yahya: The Shyness

  • Shyness/hayaa’/rasa malu, bukan hanya milik perempuan. Bahkan orang yang dikenal sangaat pemalu adalah seorang laki-laki, beliau adalah Utsman bin Affan.
  • Rasa malu adalah bagian dari iman.
  • Setiap agama punya khuluq (defining trait/characteristic). Dan khuluq of Islam is hayaa’ (shyness).
  • Tapi rasa malu itu seharusnya tidak menghalangi kita dari mencari kebenaran atau berkata yang benar.
  • 2 bagian dari rasa malu itu adalah rasa malu kepada Allah, dan rasa malu pada orang lain. Rasa malu pada Allah seharusnya lebih besar dari rasa malu pada mahkluk.
  • Di dunia online, rasa malu tetap harus dijaga. Misalnya kalau seorang laki-laki berinteraksi dengan perempuan, kata ust Abdulbary, “cc to her father”. Kalau yang akan diucapkan dirasa tidak pantas ketika diketahui ayahnya, berarti itu bukan sesuatu yang baik untuk diucapkan.
  • If you don’t take care of your parents, you have no shyness.
  • Part of shyness is giving people their rights.
  • When shyness is lost, community becomes corrupt.
  • When you’re alone, have some shyness in front of Allah.
  • The way to jannah is perfecting ihsan.
allteachers

photo source: Qabeelat Ihsan. (Abdulbary Yahya laki2 yang berdiri paling kiri)