Membedakan Musibah dan Ujian

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ayat ini bercerita tentang kekalahan (dalam ayat ini disebut sebagai musibah) kaum muslimin di Perang Uhud, dan membuat mereka bertanya-tanya, kenapa kali ini musibah terjadi padahal sebelumnya di Perang Badar mereka yang berhasil menimpakan musibah itu kepada musuh. Maka kali ini jawabannya adalah “dari kesalahanmu sendiri” (yaitu ada pasukan pemanah yang meninggalkan pos sebelum diperintahkan turun karena tertarik mendapatkan harta rampasan perang).

Musibah dalam ayat ini disebutkan sebagai akibat dari perbuatanmu sendiri, sementara di ayat lain, ada yang menyebutkan bahwa “tidaklah sesuatu musibah dirimu melainkan karena izin Allah”. Dan keduanya benar. Kategori pertama lah yang disebutkan hukuman, kategori kedua yang disebut sebagai ujian.

Bagaimana membedakannya? Silakan simak tulisan dan video di tumblr NAK Indonesia ini ya :)

Akar

Ini akar yang seharusnya menghunjam kuat, menjadi dasar diri dan kehidupan.

Transkrip menit ke 5:16 s.d. 7:10

Kebahagiaan sejati, bukan bahagia semu, orang yang bahagia sejati itu adalah yang “laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun”. Tidak ada gentarnya menghadapi hidup ini. Tidak sedih oleh duniawi. Tidak takut oleh duniawi ini. Sedih dan takutnya hanya sedih kalau jauh dari Allah, takut menghadapi murka Allah. Mantep, ajeg, sentosa batinnya. Situasi apapun, keadaan apapun, di manapun, itu bahagia.

Kalau bahagia karena tempat, bukan bahagia. Kalau bahagia karena uang, bukan bahagia. Kalau bahagia karena dihormati orang, bukan bahagia. Kalau bahagia karena kemudahan, bukan bahagia. Kebahagiaan tuh ajeg di hatinya. Merdeka dari perbudakan, ingin sesuatu dari makhluk. Merdeka dari mengharapkan sesuatu. Merdeka dari takut kepada makhluk.

Itu yang membuat batin ini mantep, tenang, dan itulah tauhid. Dan inilah yang diperjuangkan Nabi siang malam.. Bersimbah keringat, tumpah darah, air mata, supaya tauhid itulah, masuk menghunjam, kokoh. Kalau tauhid sudah ada di dalam qalbu, bersih. Kebahagiaan sejati. Kemuliaan sejati. Kita tidak menjadi orang yang kehilangan kehormatan/harga diri karena uang, karena kerjaan, jabatan, tidak ada apa-apanya. Terhormat, tegak.

Perbaiki Diri, Lakukan yang Terbaik

Ini sedikit catatan dari ceramah Aa Gym di Masjid UI. Tapi ini bukan transkrip ya, jadi gak semuanya tercantum di sini. Hanya beberapa yang sempat saya catat. Sisanya silakan ditonton videonya.. Baguuus, dan kocak penyampaian Aa Gym-nya :D

Oh ya, di awal video ini ada contoh yang bagus sekali dari Aa Gym. Beliau merasa gak nyaman dengan kursinya, kemudian berdiri dan mencari sendiri kursi lain, terus bilang “Apa yang bisa dilakukan sendiri, lakukan sendiri”. Maksudnya jadi gak ngerepotin orang lain.. masya Allah. Jadi inget kata Salim A. Fillah tentang pentingnya belajar adab dari guru, dengan melihat tingkah lakunya, bukan sekedar apa yang dikatakannya.

Okeh, langsung aja ini sedikit catatannya:

Ilmu yang penting kita pelajari:

  1. Ilmu tentang Allah
  2. Ilmu tentang bagaimana kitta bisa jadi dekat dengan Allah
  3. Konsekuensi dalam ilmu ini: kalau baik dan patuh pada Allah apa konsekuensinya, kalau gak patuh apa konsekuensinya dunia akhirat

Terus bagaimana dengan ilmu seperti Matematika, IPA, Politik, Sosial, dll yang kita pelajari?
Itu adalah bagian dari perintah Allah supaya hidup kita punya nilai tambah yang besar, supaya kita tambah bermanfaat (bukan supaya kaya, bukan supaya terkenal). Karena kata Rasulullah SAW, khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ada kasus orang berpendidikan tinggi tapi berkelakuan buruk (mengkonsumsi narkoba atau korupsi misalnya). Kenapa ilmu yang begitu tinggi tidak bisa mengerem dirinya dari perbuatan buruk itu? Karena ilmunya itu tidak menghasilkan rasa takut pada Allah. Padahal dalam Islam, orang yang berilmu tinggi itu adalah yang mengenal Allah dan bisa takut pada Allah. Bedanya takut pada manusia dengan takut pada Allah adalah, jika takut pada manusia kita akan menjauh darinya, sedangkan takut pada Allah justru membuat kita ingin mendekatiNya. Orang itu tadi mungkin tinggi ilmunya, tapi belum kuat ilmu keimanannya.

Orang yang takut pada Allah akan memiliki akhlak yang baik, dan baiknya itu sampai ke lubuk hati, bukan baik karena pamrih. Ada orang yang baik karena misalnya ingin dagangannya dibeli. Begitu orang gak jadi beli, baiknya hilang.

Kemuliaan tidak tergantung dari status, suami, anak, tapi tergantung dirinya. Maryam memiliki anak tanpa suami, tapi dia mulia. Asiyah memiliki istri sejahat Firaun, tapi dia juga mulia. Aisyah istri Rasulullah SAW tidak memiliki anak, tapi tetap mulia. Kalau seseorang dekat dengan Allah, dengan ilmu yang ada, dia mulia. Sama dengan bahagia.. Bahagia itu tidak tergantung orang. Bahagia itu tergantung bersihnya hati dari harap dan takut kepada selain Allah T_T Makin kuat kita berharap kepada selain Allah, makin tidak enak hidup ini.

Asy Syakur
Dari sesuatu yang amat dikit, menjadi sesuatu yang amat besar. Contoh: gajah makannya apa? Rumput kan? Tapi kenapa jadi besar begitu. Terus pohon cuma makan air dan zat hara, tapi bisa jadi besar dan rindang.

Nah, Allah itu Asy Syakur, sangat mensyukuri apapun kebaikan hambaNya. Ada di QS Al Baqarah: 158. Contohnya ketika baca Quran, misal baca lafaz basmalah aja yang ada 19 huruf. Cuma 19 huruf, tapi Allah menghargai 1 hurufnya jadi 10 kebaikan. Datang ke tempat menuntut ilmu, sepanjang jalan menggugurkan dosa, dan didoakan oleh makhluk2 Allah yang lainnya.

Jangan sampai hidup ini diatur oleh keburukan orang lain. Kita harus konsisten bahwa yang kembali pada saya adalah apa yang saya lakukan.

Jadi kalau kita berbuat baik, ada orang atau tidak ada orang, apakah Allah ada?
Orang lihat, orang tidak lihat, Allah lihat tidak?
Orang berterima kasih, orang tidak berterima kasih, Allah mensyukuri tidak?
Orang memuji, orang mencaci, kalau kita berbuat baik dengan ikhlas, Allah suka tidak?
Apakah ada sesuatu yang luput dari pandangan Allah SWT?
Adakah balasan Allah yang tertukar? Yang meleset?
Adakah yang bisa menghalang-halangi apa yang akan Allah berikan pada kita?

Jangan mau diatur keburukan orang lain. Orang ngomong jelek, itu mulut dia. Saya punya mulut sendiri, dan tidak mau dipakai untuk ngomong jelek. Hidup saya diatur oleh apa yang Allah sukai. Karena Allah Asy Syakur, Maha Mensyukuri kebaikan yang dilakukan hambaNya.

Apakah kita harus cuek/asal dalam apa yang kita kerjakan? Tidak, tapi kita harus jadi orang yang fokus sekali kepada penilaian Allah. Karena kita fokus pada penilaian Allah, maka kita akan menggunakan standar tertinggi dalam berbuat baik. Baiknya bukan hanya di tampak lahir, tapi sampai ke dalam hati. Inilah akhlakul karimah.

Segala sesuatu dari Allah itu baik. Selama ini Allah ngurusin kita, pernah gak Allah berbuat jahat pada kita? Misalnya nih, ada orang yang mau nikah terus batal. Apakah itu sesuatu yang baik? Iya, itu sesuatu yang baik. Karena bisa jadi itu berkah dari doa ingin dapat suami yang cocok, sedangkan calonnya itu belum cocok, bukan yang terbaik dari Allah. Memang rasanya sakit hati, dan sakitnya itu sebanding dengan rasa cinta kita terhadap makhluk.

~Ternyata ada juga catatan dari Masjid UI di sini.

Dia Baru Menikah di Usia 45 Tahun

*sebuah catatan tentang kapan nikah, jodoh, anak, rezeki. CMIIW ;)*

Kemarin lusa saya menghadiri akad nikah dan walimatul ‘urs salah satu guru tahsin saya. Acaranya diselenggarakan dengan sederhana di masjid tempat kami biasa belajar. Sebenarnya saya kurang tahu pasti usia beliau sekarang berapa. Yang jelas di atas 40 tahun. Yah, kita sebut saja 45 tahun ya.. Usia yang tak lagi muda untuk menikah bukan? Dan itu adalah pernikahannya yang pertama. Sebuah momen yang mungkin telah dirindukannya selama puluhan tahun. Saya membayangkan beliau yang bertahun-tahun dalam penantian, bertahun-tahun dalam keinginan yang belum tersampaikan, bertahun-tahun menghadapi pertanyaan, “kapan nikah?”. Tapi beliau menjalaninya dengan baik-baik saja dan tetap produktif dalam kebaikan.

Terkadang saya sendiri berpikir tentang kenapa saya belum menikah: “Duh mungkin gw messed up banget ya”, “Ah iya sih gw masih payah banget, kacau banget”, “Gw masih kurang ini itu”, dan sebagainya (introspeksi diri tentu perlu ya!). Tapi apakah harus jadi orang yang baik sempurna untuk bisa menikah? Kalau iya, kenapa ada pencuri, penjahat, perampok, gampang-gampang aja ketemu jodohnya? Lalu bagaimana dengan orang yang baru menikah di usia 40/50an? Atau orang-orang yang belum bertemu jodohnya sampai mereka meninggal dunia? Masa iya mereka messed up sepanjang hidupnya? Apa kita mau bilang, oh mungkin kurang ibadahnya, kurang berdoa, kurang usaha, kurang cantik/ganteng, kurang kaya, belum siap, belum dewasa, belum pantas, dan sebagainya. Tapi setelah segala usaha dilakukannya, apalagi yang bisa kita bilang selain: memang itulah waktu yang ditetapkan Allah untuknya.

Saya teringat tulisan Bang Tere Liye yang berjudul “Keran Rezeki”. Intinya, rezeki yang didapatkan manusia itu tidak ditentukan oleh kegantengan/kecantikannya, kepintarannya, kegigihannya, melainkan ditentukan oleh Allah. Terserah Allah aja bagaimana mengucurkan rezekinya. Begitu pula dengan jodoh bagi yang ingin menikah, atau anak bagi yang ingin memiliki anak. Seorang teman saya yang sudah menikah bilang, “Saya sama suami udah nikah pengen punya anak belum dapat juga, sementara anak SMP yang berzina (na’udzubillahi min dzalik), sekali berhubungan langsung hamil”.

Begitulah, terserah bagaimana Allah memberikannya. Tapi yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah bukanlah “apakah kita dapat rezeki (termasuk jodoh/anak) atau tidak”, tapi “bagaimana cara mendapatkannya dan digunakan/diperlakukan seperti apa”. Teman saya yang lain sudah delapan tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Saat ini mereka sedang berusaha, bolak-balik kontrol ke dokter, cek laboratorium, suntik hormon, dsb. Saat ini dia berpikirnya, terserah Allah aja mau dikasih apa nggak, yang dilakukannya hanyalah menyempurnakan ikhtiar. Subhanallah.

Sebagai manusia tugas kita adalah berusaha, sedangkan hasilnya Allah yang menentukan. Ketika berhasil, mungkin saat itulah keinginan kita dan takdir Allah bertemu. Keberhasilan kita bukan hanya berasal dari usaha kita, melainkan dengan izin Allah juga.

Every single success you experience is a combination of two things: your effort and Allah’s help
-Nouman Ali Khan

Jadi ketika sudah berusaha, sudah berdoa, tapi yang kita inginkan belum juga terwujud, apakah itu sesuatu yang buruk? Apakah Allah benci pada kita? Tidak, selama kita selalu berusaha mematuhi Allah dan menjauhi laranganNya. Tercapai atau tidaknya keinginan bukanlah ukuran kemuliaan kita. Dikasih nggak dikasih itu hak prerogatif Allah.  Allah menilai usaha kita, apakah kita bersabar dan berbaik sangka, apakah kita tetap percaya dan terus berdoa meski hasilnya belum nampak di depan mata. Sementara di mata manusia, seringkali yang dinilai adalah dapat atau tidaknya :) Maka penting bagi kita untuk menjadikan Allah sebagai tujuan, dan keinginan kita sebagai sarana, bukan sebaliknya. Apakah keinginan kita terwujud atau tidak, yang penting selalu dapat Allah.

Untuk teman-teman yang belum menikah -termasuk saya, huehehehe- mari kita isi hidup dengan amal sebaik-baiknya. Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang paling baik amalnya (bukan siapa yang udah nikah, siapa yang duluan nikah..wkwkwk). Kata Yasmin Mogahed, mungkin dari kecil kita terbiasa dicekokin cerita macem Cinderella atau Snow White. Ketika bertemu pangeran tampan, sempurna sudah hidupnya, bahagia selamanya. Seperti cerita putri tidur yang baru bangun waktu pangeran datang, jangan berpikir kita baru benar-benar hidup setelah nanti bertemu jodoh. Lalu hidup sebelum nikah ngapain? Koma?

Dalam pernikahan memang banyak kebaikan dan kebahagiaan. Kita turut berbahagia dan bersyukur jika ada saudara-saudara kita yang mendapatkannya. Namun bagi yang belum mengalaminya, kita pun bisa mendapatkan kebahagiaan dan kebaikan!

Allah telah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya (At-Tin:4). Allah telah memuliakan manusia (Al-Isro:70). Kita berharga, dan kita bisa bahagia kalau fokus hidup kita adalah untuk Allah.

Terus mendekat pada Allah, terus memperbaiki diri, dengan niat karena Allah. Terus beramal, belajar, berkarya, berkontribusi, produktif dalam kebaikan dan amal shalih, menabung untuk kehidupan abadi di akhirat kelak.

Belajar Quran, belajar Islam, menghafal Quran, belajar ilmu yang bermanfaat, ngajarin anak-anak kecil ngaji, bikin proyek sosial, semangat menyebarkan kebaikan sekecil apapun.

Kita bisa bahagia kalau fokus kita bukan hanya pada diri sendiri. Biarlah cerita hidup kita berjalan sesuai yang dikehendakiNya. Allah yang telah menciptakan kita, yang selama ini menjaga kita, tahu yang terbaik untuk kita dan selalu memberikan yang terbaik pada kita. Semoga kelak kita pun bisa kembali padaNya dalam kondisi sebaik-baiknya :)

“Asking me when I’m getting married is like asking me when Qiyamah is:
I don’t know.
Perhaps the time is near.”

No one knows when they will get married. It is Qadr of Allah. Also we need to remember marriage is not synonymous to happiness or fulfilment.
Peace and Happiness can only be attained through taqwa and Quran.
Marriage is just another phase of life. Some are tested with it and some blessed.

-The Ideal Muslimah

Menikah itu bukan soal siapa cepat.
Tapi Allah sudah pilihkan waktu yang tepat.

Memantaskan diri itu bukan ditujukan untuk si dia.
Tapi fokus memperbaiki diri di hadapan Allah.

Kalau kita jatuh cinta, kejar cinta Sang Pemilik hatinya: Allah.
Agar yang mengejar kita, dia yang mencintai Sang Maha Cinta.

-Assalamualaikum Sally – Jodoh Pasti Bertamu

I Love Everything About Islam, But…

Masih teringat video ini deh (A Message For Non Hijabi Sisters By Ustadh Nouman Ali Khan). Pengen share sedikit

NAK cerita ada muslimah yang bilang, “Saya suka islam, tapi nggak dengan kewajiban jilbabnya. Itu cuma untuk melindungi laki-laki biar ga ngeliat perempuan. What’s the point?”

Alih-alih menjawab dengan manfaat hijab untuk wanita, misalnya lebih terlindungi, efek sosialnya, dst, kita mundur sejenak & tanyakan sebuah pertanyaan mendasar

Dimulai dengan review kisah Nabi Ibrahim as. Beliau cinta juga sama Islam. Allah beri “sedikit” perintah: tinggalkan istri & anak di padang pasir tandus!

Ah ini enaknya ditonton sendiri, karena jleb banget cara ngomongnya “I love everything about islam, but leaving my family in the desert? Please..

Intinya Nabi Ibrahim ga ngomong gitu kan? Beliau lempeng aja jalanin perintah Allah. Pun saat diperintah menyembelih Ismail. Ga pake nanya, untuk apa?

Saat diperintah Allah, Nabi Ibrahim ga pake nanya, “ya Allah, bisa berikan penjelasan logis knp harus gini? Apa manfaatnya saya lakukan ini?”

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. (QS 2:131)

Jadi sebelum bicara tentang aspek lain dari Islam, hal mendasar itu adalah: tunduk, patuh, berserah pada Allah. Islam is the total submission to Allah.

Kalau udah tunduk patuh pada Allah, disuruh berhijab kita ga perlu nanya, “apa manfaatnya untuk saya?”. Seperti Nabi Ibrahim ga nanya, untuk apa ia sembelih putranya?

Ini sejalan dengan yang disampaikan Ust Yasir Qadhi dalam salah 1 ceramahnya. Kalau ada orang nanya, kenapa sih Islam bolehin poligami? Kenapa gini kenapa gitu?

Menurut dia jawaban terbaik adalah bukan dengan menjabarkan manfaat sosial, alasan logis, dsb, tapi dengan jawaban “karena Allah yang perintahkan”

Karena kalau dijawab (misal tentang poligami): Islam bolehin poligami karena jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Ntar dia nanya lagi, kalau pakai senjata pemusnah massal sehingga jumlahnya sama gimana?

Hehe.. ekstrim ya contohnya. Tapi intinya akal manusia ya bakal nemu alasan terus. Jadi emang kuncinya tunduk patuh ke Allah itu tadi.

Yakin di balik perintah dan larangan Allah pasti ada manfaat untuk kita. Allah yang mencipta kita, Allah tau yang terbaik untuk ciptaanNya.

Btw, thanks to Twitter’s archive so that i can retrieve these old tweets of mine. Yay :)