After Eid

Berhubung ini tulisan pertama sejak Idul Fitri kemarin, meski sudah telat sekali, izinkanlah saya mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua. Mumpung masih bulan Syawal, semoga kita bisa melengkapi puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal ya.. aamiin! Oh ya, saya mau mengaku salah dulu nih karena gak bisa memenuhi target nulis tadabbur Quran setiap hari di blog ini selama Ramadhan kemarin. Cuma sampai 12 tulisan aja, itu pun banyak yang dirapel. Mohon maaf lahir dan batin XD

Jadi setelah Idul Fitri ini ada beberapa hal yang berkecamuk di kepala *halah* karena emang sengaja ditunda mikirin/ngerjainnya setelah Ramadhan. Dimulai dari ini deh: saya takut. Saya merasa takut dan khawatir tentang suatu peluang/tantangan yang  mau saya ambil. Buanyak mikirnya deh, merasa ragu, bingung, gak percaya diri, dsb. Lalu kemudian saya jadi bingung.. kenapa saya jadi penakut begini? Apakah selama ini saya memang terlalu nyaman, ngejalanin rutinitas yang nyaris tanpa tantangan?

Kemudian jadi ingat waktu masa sekolah-kuliah kan kita masuk ke dalam sebuah sistem dan “dipaksa” mengikuti alur di dalamnya. Mau ga mau kita menghadapi tantangan yang namanya tugas, ujian, skripsi, sidang. Tantangan yang sebenarnya kalau boleh milih, mungkin enakan diskip aja, gak perlu dijalanin. Tapi karena kita punya tujuan (setidaknya untuk lulus), tetap harus dijalani. Setelah lulus, kita lepas dari sistem itu, kita bebas bikin alur sendiri. Gak ada yang maksa harus ikut ujian, gak ada yang mewajibkan sidang. Semua begitu bebas terserah kita. Mau ambil jalan yang lempeng aja, nyaman tanpa tantangan, atau memberanikan diri mengambil jalan sebaliknya.

Kata Bu Septi begini: “Hidup itu seperti naik sepeda. Saat kita terengah2, perlu tenaga besar, maka kita sedang dalam perjalanan naik. Tapi kalau hidup kita datar aja, ga perlu energi besar tapi tetap berjalan, maka kita sedang dalam perjalanan turun. Karena itu, temukan gunung lain untuk ditanjaki!”

Serius buuu? Harus naik gunung nih? Hahahah.. Ya benar sih hidup butuh tantangan, perlu gunung2 baru untuk ditanjaki. Tapi pertanyaannya, gunung apa yang akan kita pilih? Tentunya yang sesuai dengan visi hidup kan ya ya ya? Dengan gambaran besar kita sebenarnya mau jadi apa. Nah gambaran gw itu belum jelas jadi masih suka bingung -_-

Anyway, ada beberapa hal yang dipelajari sih dari peristiwa rungsing kebanyakan mikir kemarin2.. Bahwa sebenarnya yang bener itu bukan banyak mikir, apalagi mikirin hal2 yang belum tentu terjadi alias khawatiran. Ada ajaran Islam yang keren banget yaitu tawakkal. Di suatu artikel yang gw baca, tawakkal itu berarti kita bekerja keras, di luar kita mungkin terlihat rusuh bekerja dan berusaha, tapi di dalam hati tenang. Tenang, karena yakin sama Allah, bahwa Allah akan menolong dan memberikan yang terbaik. Lah gw mah kebalikannya, usaha belom, kebanyakan mikir iya, jadi we rungsing sorangan.

Kemudian jadi ingat lagi tentang ‘uluwwul himmah, bahwa sebagai Muslim kita harus bercita2 besar. Ingat lagi ceramahnya Yasir Qadhi yang ini, ceramah2nya ustadz Nouman, dll, yang mana saya menyimpulkan bahwa Islam memang mengajarkan supaya kita meraih lebih tinggi ya T_T Sebenarnya orang yang punya cita2 besar itu gak ada yang bisa menjamin dia akan sukses meraih cita2nya kan. Tapi dengan dia menetapkan cita2 itu, sebenarnya dia udah menaruh harapan pada dirinya dan Allah, bahwa dia akan berusaha, dan dia yakin Allah akan membantunya. Kadang cita2 itu terasa sulit diraih, kadang banyak hambatannya, tapi di situlah salah satu hikmah bercita2 besar adalah supaya kita bisa berserah pada Allah saat kesulitan itu terjadi. Saat stuck sekalipun, merasa diri nggak mampu, tapi yakin Allah bisa membuatnya mampu.

Postingan ini saya tinggal sejenak karena tadi baca postingan kakak kelas SMA di facebook, yang bikin saya googling terus nyangkut di milis angkatan SMA, terus nemu obrolan lama yang temanya tentang nostalgia SMA… waaaaaaa X) ada temen saya yang posting dia ketemu mantan kepsek kami, terus ngobrol2 dan di akhir si Bapak bilang gini: “anak2 smansa itu memang pantang menyerah…”. Ditambah saya lagi baca cerita2 nostalgia yg bukan hanya tentang kekonyolan, kegilaan, kelucuan, tapi juga tentang perjuangan dan betapa pantang menyerahnya kami saat SMA dulu. Ya, saya mulai belajar bermimpi besar di Smansa. Saya belajar berjuang keras di Smansa. Saya belajar bahwa saya punya teman2 yang tulus di Smansa. Sekarang, 10 tahun setelah saya lulus dari sana, gak ada alasan untuk melupakan pelajaran yang udah saya dapat di sana. Hidup Smansa! Aku cinta Smansa! *lah ini postingan kagak jelas banget yak ngalor ngidul ujung2nya Smansa :’)

When I Was Single…

heningsept:

ntms :)

Originally posted on So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?:

eiffel and rose

Ketika masih single dulu, prinsip saya..

Menikah itu jika memang sudah merasa siap dan telah yakin menemukan orang yang tepat. Siap yang meliputi persiapan jasadiyah dan ruhiyah. Bukan karena usia, bukan pula karena dikejar tenggat.

Bukan juga karena ikut-ikutan teman yang sudah lebih dulu menikah. Atau karena desakan dan sindiran sebagian orang. Nope. Bukan karena semua itu saya memutuskan untuk menikah.

View original 245 more words

Tadabbur Quran #12: Ar Rahman dan Al Waqi’ah

Kalau sebelumnya dibahas hubungan QS Ar Rahman (55) dengan surat sebelumnya, sekarang dibahas hubungannya dengan surat setelahnya, Al Waqi’ah (56).

Kandungan surat Al Waqi’ah:

  1. Penghuni elit di surga: as sabiquun (orang yang beriman paling dahulu)
  2. Penghuni surga, tapi di bawahnya sabiqun: asyhabul yamin (golongan kanan)
  3. Penghuni neraka: asyhabus syimal (golongan kiri)
  4. Ciptaan2 Allah (nutfah, tanaman, air, kayu, api)
  5. Keistimewaan Quran

Kandungan surat Ar Rahman:

  1. Quran
  2. Ciptaan2 Allah (manusia, matahari, bulan, tumbuhan, langit, dll)
  3. Penghuni neraka (orang2 berdosa dan adzab neraka)
  4. Penghuni surga (orang2 yang takut pada Tuhannya dan nikmat2 surga)
  5. Surga yang spesial, elit

Coba perhatikan, kandungannya mirip, cuma urutannya terbalik :)

Terus saya baru ngerti kenapa di QS Al Waqiah bagian “as sabiqunas sabiqun” disebutnya “tsullatun minal awwalin wa qolilun minal akhirin” (sebagian besar dari golongan terdahulu, dan sebagian kecil dari golongan kemudian), tapi kalau “asyhabus syimal” disebutnya sebagian besar baik dari golongan terdahulu maupun kemudian. Karena ternyata, yang memenuhi kualitas as sabiqun itu memang proporsinya lebih banyak dari golongan terdahulu, generasi sahabat dst. Ibaratnya, kalau ada 1000 orang per generasi, dari golongan terdahulu yang masuk kategori as sabiqun itu 900an, tapi di generasi kemudian hanya 20an.

Tadabbur Quran #11: Message vs Miracle

Kemarin saya baru dengerin bagian pertama ceramah ustadz Nouman tentang surat Ar Rahman di bayyinah.tv, judulnya message vs miracle. Sebelum mempelajari surat Ar Rahman, ustadz Nouman menjelaskan dulu apa sih hubungan surat ke-55 ini dengan surat sebelum dan sesudahnya. Yang dibahas di sesi itu sih seinget saya cuma hubungannya dengan surat ke-54 yaitu QS Al Qomar.

Surat Al Qomar dan Ar Rahman sama2 diawali dengan penyebutan/penceritaan mu’jizat oleh Allah. Di QS Al Qomar, yang disebutkan adalah mu’jizat Rasulullah yang membelah bulan, sedangkan di QS Ar Rahman, yang disebutkan adalah mu’jizat yang diturunkan pada Rasulullah, yaitu Al Quran. Bagi orang yang beriman, mereka mempercayai mu’jizat itu adalah tanda kebenaran rasul, bahwa rasul itu memang utusan Allah. Tapi bagi orang yang tidak beriman, meskipun mereka gak percaya, tapi ekspresi mereka sebenarnya mengungkapkan kekaguman mereka akan mu’jizat itu. Orang2 kafir yang melihat bulan terbelah, atau mendengar Quran, mereka kan menuduh itu adalah sihir yang dibuat Muhammad. Ungkapan itu sebenarnya menunjukkan bahwa yang mereka lihat/dengar itu adalah sesuatu yang luar biasa banget, sesuatu yang di luar nalar mereka.

Bicara tentang mu’jizat, para rasul terdahulu juga punya mu’jizat kan ya.. dan mereka juga punya pesan yang disampaikan. Nah, kalau kita perhatikan antara pesan dan mu’jizat yang diberikan pada mereka, ternyata keduanya terpisah. Misalnya, mu’jizat Nabi Musa adalah punya tongkat yang bisa berubah jadi ular dan membelah lautan. Tapi apakah itu pesan yang beliau bawa? Nggak kan, pesannya tetap tauhidullah. Terus contoh lainnya, Nabi Saleh kan mu’jizatnya bisa mengeluarkan unta dari batu, tapi apakah itu inti pesan yang beliau bawa? Bukan, pesannya tetap tauhidullah. Jadi pada rasul sebelumnya, antara pesan yang dibawa dan mu’jizat mereka berbeda, terpisah. Tapi pada Rasulullah, pesan yang dibawa dan mu’jizatnya itu jadi satu: Al Quran.

Mu’jizat rasul terdahulu adalah sesuatu yang bisa dilihat dengan mata, sedangkan mu’jizat terbesar Rasulullah adalah sesuatu yang bisa didengar. Kalau mu’jizat yang bisa terlihat, terasa wow bangetnya itu pastinya sama orang2 yang melihat langsung kan.. Bagi generasi selanjutnya, itu hanya cerita aja, hanya pesan turun temurun. Tapi mu’jizat terbesar Rasulullah berbeda.. ia tidak perlu dilihat, tapi bisa didengarkan dan dipikirkan. Dan ‘feel’ yang didapatkan orang yang mendengarnya dahulu, dan orang yang mendengarnya sekarang, bisa aja sama. Tapi ada syaratnya sih, yaitu benar2 paham dan bisa memikirkannya.

Sekarang kita perhatikan apa yang terjadi pada kaum rasul terdahulu setelah mu’jizat ditampakkan dan mereka tidak juga beriman. Apa yang terjadi? Mereka dihancurkan! Setelah dakwah yang terus menerus dari para rasul, kemudian ditunjukkan mu’jizat, tapi tidak juga beriman, itulah saatnya mereka dibinasakan oleh Allah. Di Quran kan banyak ya kisahnya kaum2 yang dihancurkan karena mendustakan para rasul. Di QS Al Qomar juga, Allah menceritakan tentang kaum Tsamud, kaum ‘Aad, kaum nabi Nuh, kaum nabi Luth.. dan setiap selesai cerita tentang kaum tersebut, Allah menyebutkan, “walaqod yassarnal Qur’ana lidzikri fahal min muddakir, Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. Tidakkah kita mengambil pelajaran dari kaum yang dihancurkan karena telah mendustakan para rasul, kaum yang telah membangkang pada Allah, kaum yang tidak mengindahkan pesan yang dibawa rasulNya.

Tapi umat manusia sekarang ini tidak ada yang dihancurkan sebagaimana umat terdahulu. Padahal sekarang pun banyak yang mengabaikan pesan dan mu’jizat terakhir yaitu Al Quran.. Ternyata itu adalah bentuk kasih sayang Allah pada umat Rasulullah. Sebagaimana ayat yang mengawali QS Ar Rahman:

Ar Rahman. ‘Allamal Quran.
(Allah) Yang Maha Pengasih. Yang mengajarkan Al Quran.

Masya Allah.. Allah tidak langsung mengadzab orang2 yang ingkar sekarang juga. Namun Allah juga memberikan peringatan yang berulang2 dalam Quran, menggambarkan kaum2 terdahulu yang mendustakan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah2 kaum terdahulu tersebut, dan juga mengapresiasi pesan dan mu’jizat terakhir dari Allah yang menjadi bukti kasih sayang-Nya, Al Quran.

_quranAllahlove

Tadabbur Quran #10: Watukabbirullaha

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al Baqarah: 185)

Satu-satunya ayat dalam Quran yang menyebutkan bulan Ramadhan, menjelaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran. Setelah itu diberi penjelasan tambahan, bahwa Al Quran adalah “petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. Padahal ayat ini turun di Madinah setelah hijrah. Artinya umat Islam sudah sangat akrab lah dengan Quran. Jadi Al Quran bukan barang baru bagi mereka saat itu. Namun Allah seperti me-refresh kembali tentang Al Quran.. Seperti menyiratkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulannya Al Quran, saatnya reconnect sama Quran.. Baca Quran dari awal sampai akhit, kayak kita belum pernah tau Quran sebelumnya. Perbaiki hubungan kita dengan Quran, mendekatlah pada Allah melalui interaksi kita dengan Quran.

Di ayat yang sama, Allah memerintahkan “watukabbirullaha”, hendaklah kamu mengagungkan Allah. Mengutip dari nakindonesia:

Perhatikan prioritas kita di Ramadhan ini. Apapun yang kita lakukan, prioritasnya adalah mengagungkan Allah. Jangan sampai kita bersosialisasi, ifthar bersama di sana sini, tapi ujung-ujungnya lupa sama Allah, lalai menjalankan shalat.

Mengagungkan Allah bukan sekedar mengucapkan “Allahu akbar” di lisan. Tapi benar2 mengagungkan Allah sejak dalam pikiran ;) Mengagungkan Allah sejak di hati.. menjadikan Allah yang nomor satu di hati. Merasakan Allah lebih besar dari pekerjaan dan kesibukan kita, merasakan Allah lebih besar dari semua masalah2 kita..

~Huhuhuhuhuhu susah ya T_T