[Buku] Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran

“Ngafal Qur’an? Hah, ngapain?!”

Dulu saya mikir gitu loh. Ngerasa gak ada urusan sama sekali dengan Al Qur’an. Apalagi ngafalin! Ngapain juga, i have so many more interesting things in life. Ngek! Sombong bener ye.. Tapi itu dulu. Sekarang semuanya berubah sejak negara api menyerang sejak saya ikutan tahsin😀

Ternyata kalau kita mulai melangkah untuk mendekati Quran, Allah akan bukakan pintu2 kebaikan lainnya. Awalnya cuma belajar tahsin/tajwid, lama2  mau menghafal, mentadabburi, mengajarkan, dan tentu saja mengamalkan..insya Allah.

Dalam perjalanannya, tentu banyak naik turunnya. Karena itu penting bgt untuk selalu tersambung dengan sumber2 inspirasi quran, baik itu halaqah tahsin/tahfizh, video2 ceramah, buku, dll, biar selalu dpt suntikan semangat😀

Nah ini ada satu buku yg baguuus bgt:

“Quran tidak akan mau diduakan, ia sendirilah yang akan menyeleksi siapa yang berhak bersanding dengannya”. -Ratna Puspa Indah

Itulah satu kalimat yang diucapkan oleh mahasiswa yang punya kesibukan luar biasa tapi masih menyempatkan waktu untuk mempelajari surat cinta dari Rabb nya dan memantaskan diri bersanding dengan Al. Qur’an

Kalimat itu ada di salah satu bagian dari buku Mahasiswa Mahasiswa Pencinta Al. Qur’an (MMPQ). MMPQ berisi cerita-cerita dari santri IQF (Indonesia Quran Foundation) yang merupakan mahasiswa/i dari Universitas Indonesia dan kampus lain di Jakarta. Mereka berbagi kisah tentang bagaimana mereka “menemukan” Quran dan kemudian berjuang untuk terus membersamainya.

Yuk beli buku MMPQ ini.. Temukan banyak inspirasi di dalamnya:)

mmpq

Judul Buku: Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran (MMPQ)
Penulis: Tim Penulis IQF
Penerbit: Lembah Kapuk
Spesifikasi: 212 halaman, 13x19cm, ada pembatas buku
Harga: Rp 60.000 (belum termasuk ongkir)

Dengan membeli buku ini, kamu sudah ikut berdonasi untuk RPPI lho! Lihat info tentang RPPI (Rumah Peradaban Pelajar Indonesia) di sini: www.rumahpelajar.com. Kalau mau berdonasi lebih? Boleh banget! :)

Kalau berminat hubungi saya ya.. tapi karena saya gak nyaman membagi no HP di sini, ada sih no HP yang satu lagi tapi HPnya yang ga ada, jadi kalau mau boleh email aja ke heninggar at gmail dot com atau twitter @heninggar:)

Saat Memberi Saat Tidak

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

Children holding heartsymbol

Pagi ini ketika berselancar di linimasa Facebook, saya menemukan sebuah tulisan yang sangat menggugah karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim berikut ini:

“Seorang ibu memasuki minimarket bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Saya tidak memperhatikan dengan baik. Yang satu, kira-kira kelas 4 SD. Satu lagi mungkin TK atau SD kelas 1. Begitu masuk, ibu tersebut segera mengucapkan dua kata, “Nggak… Nggak….” sebagai isyarat larangan beli bagi kedua anaknya yang langsung berbelok ke tempat es krim.

Anaknya yang kecil segera menunjukkan reaksi spontan, hanya sepersekian detik (barangkali tidak sampai satu detik) dari kata “nggak” yang terakhir diucapkan ibunya, dengan menangis keras; melengking, memaksa….

Tak perlu waktu lama bagi anak itu untuk menangis. Ibunya segera memberi reward untuk tindakan anak mempermalukan orangtua. Ia mempersilakan anaknya mengambil es krim. Hampir saja tangisan kedua pecah ketika memilihkan es krim yang lebih murah dibanding pilihan anak. Tetapi tangisan itu segera berubah menjadi perayaan kemenangan yang…

View original post 1,522 more words

Stalking Berujung Iri Hati

Tadi pagi baca postingan ini.. Lucu ih😄 Begitu jujur dan ya.. benar kalau menurut saya. Sebagai orang yang sering berada di depan komputer, terkadang saya menggunakan komputer dan koneksi internetnya untuk melihat2 profil orang2 di socmed, baik itu teman sendiri atau orang terkenal. Dan ya, tak jarang kegiatan itu malah berujung iri dan atau rendah diri karena membandingkan diri dengan orang tersebut yang begitu waah, begitu keren, sedangkan aku mah apa atuh. Duh, penyakit banget ya stalking yang berujung begitu.. wkwk. Di tulisan tadi, menurut si penulis obatnya adalah stalking Aa Gym…hahaha. Maksudnya tentu saja menyimak tausiyah2 Aa Gym yang menenangkan hati.

Kemudian jadi inget artikel yang sangat bagus ini.. Benar juga ya.. bahwa yang banyak orang share di socmed adalah masa2 jayanya. Momen2 di mana mereka berhasil. Gak banyak yang posting tentang hari yang biasa2 aja. Atau gak semua orang mau posting tentang kegagalan2 yang dialami sebelum akhirnya sukses. Dan yang kita lihat ya itu, hanya masa2 jayanya orang. Padahal di balik itu, dia juga pasti pernah mengalami masa2 bosan, masa2 stagnan, masa2 galau, masa2 gagal, dan masa2 lainnya yang mungkin gak menarik untuk dishare di socmed. Membandingkan kehidupan kita (full-view, dari semua sisinya) dengan kehidupan orang (yang hanya kita lihat keberhasilan2nya) akhirnya membuat kita merasa gak banget dibandingin dia.

Gimana cara mengatasinya? Kalau merasa kegiatan stalking itu akhirnya berujung iri dan rendah diri, ya distop aja. Get a life, do something real. Something small but real, other than just clicking facebook. Sesungguhnya, becandaan sama adik, bantuin ibu di rumah, ataupun bersedekah walau kecil itu jauh lebih baik daripada stalking di socmed…wkwk. Sebaliknya ketika berada di pihak yang mau posting di socmed, sebelum posting baiknya kita periksa niat, untuk apakah saya posting ini. Selengkapnya silakan baca tulisan dari Omar Usman ini, sungguh sangat recommended: Jealousy, Attention, and the Social Media Highlight Reel.

 

Semakin tinggi, semakin agung, dan semakin besar tujuan hidup kita, akan semakin ringan pula kita menjalani hidup. Meskipun ujian demi ujian, kepahitan demi kepahitan datang bertubi-tubi.

Maka saudaraku, jadikanlah Allah Azza wa Jalla sebagai tujuan hidup kita. Sungguh, tiada yang lebih agung, lebih mulia, lebih besar dari Dia. Kejarlah ridha dan cinta-Nya. Semakin kita gigih mengejar ridha dan cinta-Nya, niscaya akan semakin ringan hidup kita, semakin mudah dan semakin bahagia. Insya Allah.

-Teh Ninih-

Salim A. Fillah: Mengemudi Hati

Ini tulisan Salim A. Fillah.. baguuus:

Inilah tugas kehambaan kita; mengemudi hati menuju Allah. Alangkah berat & peliknya; sebab ia qalb; bergoyah-gayih, berbolak-balik.

Maka dalam doa teragung nan tercantum di Ummul Kitab & terucap di tiap raka’at; kita memohon jalan yang lurus. Lurus menuju padaNya.

Tapi yang sering lupa diinsyafi; jalan yang lurus ke langit itu, di bumi justru berkelok, curam, terjal, menikung, &bergelombang.

Sebab ia adalah “Shirathalladzina an’amTa ‘alaihim”; jalan orang-orang yang Allah beri nikmat. Al Quran mengisahkannya dengan syahdu.

Kisah-kisah itu; yang mengambil bahagian terbesar dalam Al Quran; membentang dari Adam hingga Muhammad; semua menceritakan lika-liku.

Maka ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yang Kau limpahi cinta; dalam sempit maupun lapangnya, senyum dan juga lukanya.

Maka Ya Allah, walau tak Kau kayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniai kami syukur dan tawadhu’nya, yang hormati semut serta burung Hud-hud.

Maka Ya Allah, walau tak Kau beri kami daya raga dan keajaiban seperkasa Musa, curahi kami keberanian dan keteguhannya memimpin kaum yang sering membuat kecewa.

Maka Ya Allah, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da’wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikan kebenaran dalam aneka cara.

Maka Ya Allah, walau paras tak setampan Yusuf rupawan, kuatkan diri kami menahan semua goda dan derita, tajamkan nuraninya hingga mampu membaikkan negeri.

Maka Ya Allah, walau keajaiban tak selalu sertai perjalanan, penuhi hati kami dengan kasih mesra seperti ‘Isa, hingga tunduklah musuh dalam cinta.

Maka Ya Allah, walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya Kaudengarkan.

Maka Ya Allah, walau tak usah mengalami kehilangan, dicekik sakit, miskin, dan musibah; sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yang tabah.

Maka Ya Allah; walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar, dan Sarah; limpahi keluarga kami dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah, dengan keturunan yang shalih serta shalihah.

Maka Ya Allah, walau ibadah tak seterpelihara Zakaria dan kesucian tak seterjaga Maryam; nikmatkan bagi kami bakti anak mulia seperti Yahya dan ‘Isa.

Maka Ya Allah, walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa surga sebelum surga, terimalah taubat atas segala dosa.

Maka Ya Allah, walau hidup tak sepedas-pedih warna-warni hayat Ya’qub, jadikan kami hanya mengadu padaMu semata, hingga menampilkan kesabaran cantik yang mencahaya.

Maka Ya Allah, walau tak harus lari dan bersembunyi sebagaimana para Ashabul Kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al Haq di depan tirani.

Maka Ya Allah, walau kerajaan tak seluas Dzul Qarnain, curahi kami akhlaq pemimpin; yang senantiasa menyeru pada iman, membebaskan ummat, serta menebar manfaat.

Maka Ya Allah, walau jangan sampai Kau karuniai pasangan yang mirip Fir’aun, teguhkan kami bagai Asiyah yang mukminah, anugerahkan rumah di sisiMu di dalam surga.

Maka Ya Allah, walau persoalan hidup tak sepelik yang dialami Ibunda Musa, bisikkan selalu kejernihanMu di firasat kami saat menghadapi musykilnya hari-hari.

Maka Ya Allah, walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al Hakim; tajamkan fikir dan rasa kami untuk mengambil ‘ibrah di setiap kejadian.

Maka Ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan.

[Ilmfest 2014] Yasmin Mogahed: The Lessons from Tha’if

Rasulullah SAW pergi berdakwah ke Tha’if pada Amul Huzn (tahun kesedihan), yaitu tahun di mana Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia. Yang terjadi di Tha’if adalah beliau ditolak mentah2, bahkan dilempari batu sampai berdarah. Yet he’s not complaining about Allah, but to Allah. Merendah dan merasa gak mampu di hadapan Allah. Concern beliau saat itu bukan derita beliau, tapi asal Allah gak marah pada beliau. His concern is the pleasure of Allah.

Tiga respon terhadap kesulitan:

  1. Rasa marah pada Allah. Semoga kita gak pernah merespon kesulitan dengan ini. Ini adalah respon orang2 yang akhirnya menjauh dari Allah.
  2. Sabar. Bahkan jika kita terluka, kita tidak mengeluh terhadap Allah. Tapi kita boleh mengadu ke Allah, artinya kita menghadap Allah dan meminta pertolonganNya, menyadari bahwa kita ini nothing tanpaNya. Gak ada musibah yang menimpa seorang muslim melainkan musibah itu membersihkan dirinya dari dosa, asal kita meresponnya dengan benar. Salah satu alasan Allah menimpakan kesulitan pada seseorang adalah untuk menyucikannya.
  3. Ridha. Bukan hanya sabar, tapi lebih tinggi dari itu. Ridha apapun yang Allah tetapkan. Inilah responnya Rasulullah. Tahap ini tidak hanya menyucikan diri, tapi juga mengangkat derajat.

Difficulties and hardships push you towards Allah. Karena kalau udah kehabisan pertolongan makhluk dan cara2 dunia, satu2nya cara adalah melihat ke “atas”.

Pasca peristiwa Tha’if, ada malaikat penjaga gunung yang menawarkan untuk menghancurkan masyarakat Tha’if dengan menimpakan gunung ke atas mereka. Tapi Rasulullah menolaknya, karena bisa jadi keturunannya ada yang beriman.

Kapan terakhir kali kita dikecewakan orang? Rasa kecewa itu pasti gak ada apa2nya dibandingkan yang dialami oleh Rasulullah. Tapi kita inginnya membalas.

Hidup ini adalah tentang fokus. Dan fokus kita adalah ridha Allah, bukan ego kita sendiri. Ketika peristiwa haditsul ifki (Aisyah difitnah), Rasulullah tidak mementingkan ego, tapi apakah Aisyah benar/tidak, dan bagaimana hubungan Aisyah dengan Allah.

Amul huzn yang dialami Rasulullah, dibalas dengan yang jauuuuuh lebih baik: isra’ mi’raj. When he was soooo near to Allah. And the gift given to him and his ummah is: shalat. Kita seringkali menganggap shalat itu beban.. padahal shalat itu refuge from the storm. Rasulullah bilang shalat itu coolness of the eyes.

Setan itu fokusnya cuma 1: menyesatkan manusia, sedangkan manusia banyak fokusnya. Pelindung kita terhadap setan: dzikrullah. Hati2 karena setan itu bisa membuat yang hitam terlihat putih, dan sebaliknya. Hijab  dibilang oppresive, alcohol jadi attractive, dsb.

Jika kita berlindung dengan shalat, insya Allah kita akan bisa melihat dengan benar. Mengarungi lautan dunia ini, jika kita berpegang dengan dzikrullah, shalat, Quran, insya Allah kita tidak akan tenggelam.

photo source: Qabeelat Ihsan

photo source: Qabeelat Ihsan