The Path of Truly Muslimah

Seminar Salam UI @ Auditorium Djokosoetono FHUI

Sabtu, 3 Mei 2014

Pembicara:

  1. Ledia Hanifa Amaliah, S.Si, M.Psi
  2. Dr. Dinar Dewi Kania
  3. Netty Heryawan, M.Si
para pembicara dan moderator

dari kiri ke kanan: Bu Dinar, Bu Netty, Bu Ledia, moderator, mc

Beberapa hal yang saya catat:

  • Laki2 dan perempuan saling tolong menolong dalam kebaikan. Jadi harus paham peran masing2
  • Untuk perempuan, ketahui: 1) Apa tuntutan Islam terhadap perempuan? 2) Tentukan kita mau berperan di mana 3) Ketika kita mengambil peran itu, jadilah yang terbaik
  • Ada 2 pemikiran ekstrim dalam memandang perempuan:
    1. Perempuan makhluk inferior, bahkan disebut defect male. Pandangan ini gak cuma mempengaruhi peradaban Barat, tapi juga Islam
    2. Perempuan itu setara dalam segala hal dengan laki2. Perbedaan yang signifikan hanya biologis, psikologis dll sama saja. Bahkan menganggap perempuan lebih baik dari laki2. Pernikahan lesbi dianggap pernikahan yang agung
  • Islam memandangnya dengan seimbang. Kita harus paham Islam dengan benar. Tapi harus paham juga dengan paham non Islam yang berkembang
  • Dalam Islam, tidak ada perdebatan tentang betapa besarnya peran perempuan
  • Melihat sejarah, banyak contoh nyata peran besar Muslimah
  • Kita harus melihat realita, perempuan adalah ½ dari masyarakat. Dan mereka adalah subjek, bukan objek pembangunan
  • Perempuan cerdas bukan untuk menjadi kompetitor laki2, tapi untuk menjalankan peran yang diberi oleh Allah, terutama untuk menjadi pendidik anak2nya
  • Meskipun gak mendalami pemikiran Islam, perlu belajar juga pemikiran ulama klasik. Tapi harus ada guru dan teman/komunitas biar gak tersesat.
  • Kalau perempuan memilih untuk lebih banyak berperan di luar rumah (seperti Bu Ledia yang menjadi anggota DPR), ya disiapkan supporting system-nya
  • Perlu juga meminta pendapat orang dekat tentang jalan yang akan kita ambil, apakah kita cocok mengambil jalan itu?
  • Setiap orang itu berbeda, maka kita harus paham diri kita. Ada yang bisa berperan di depan publik, tapi ada juga yang lebih suka di balik layar, dll.
  • Bu Netty dan Pak Ahmad Heryawan memilih untuk melibatkan anak2 sejak kecil untuk memahami aktivitas orang tuanya
  • Membangun komunikasi dengan anak, ada 3 bentuk: otoritas sebagai orang tua, demokratis memberi pilihan, sebagai teman
  • Anak2 harus dididik untuk punya basic skill di rumah, misalnya memasak. Setiap ada aktivitas dibicarakan bersama
  • Bu Ledia pas anaknya yang paling kecil kelas 1 SD (anaknya cowok semua ada 3 apa 4 orang gitu), beliau kuliah S2, gak ada pembantu. Catat bahwa supporting system bukan hanya anak2, tapi juga keluarga besar
  • Harus punya strategi untuk memperkaya pengetahuan, membangun diri (self learning)
  • Pelajari Islam, matangkan pribadi, kembangkan diri jangan stagnan, belajar cepat, kembangkan kemampuan interaksi sosial, berpikir jangka panjang, kemampuan bekerja di bawah tekanan
  • Miliki plurality competence, bisa masuk ke segmen orang yang berbeda2. Toleransi gak selalu harus tentang agama, tapi menerima perbedaan, respek, empati
  • Kalau seorang perempuan belajar tinggi2 sampai S3, gak harus linear dengan kemampuannya mendidik anak (maksudnya, gak mesti harus mengambil jurusan yang nyambung dengan mendidik anak), tapi sekolah tinggi bisa melatih metodologinya, seperti cara berpikir, tradisi ilmu
  • Kata dosennya Bu Ledia, S1 itu gak bikin apa2. S1 itu melatih kalian berpikir sistematis. Dan apapun jurusannya, akan bermanfaat terhadap perannya sebagai ibu

 

IbuProf: Manajemen Waktu

Hari ini sembari kerja di kantor saya kuliah lho..hehe. Mendengarkan kuliah online dari Ibu Septi Peni Wulandari di ibuprofesional.com. Kalau mau tau lebih banyak tentang Ibu Septi dan Ibu Profesional, bisa baca di sini ya. Kalau gak salah saya tau tentang ini pertama kali dari Isti deh.. Makasih ya, Ti :)

Oh ya, kok saya belajar tentang ibu2an sih? Nikah aja belom? Hohoho! Kenapa ya.. Pertama, saya suka belajar tentang ini.. tentang keluarga, tentang menjadi ibu. Yakin deh, setiap perempuan itu fitrahnya pasti pengen jadi ibu. Sebelum benar2 jadi ibu, gak ada salahnya belajar. Urusan kapan jadi ibu, kapan nikah, kapan dikasih anak, itu mah terserah Allah aja. Udah diatur. Nah, urusan saya mah belajar dan mempersiapkan diri sebaik2nya. Apapun yang akan terjadi di masa depan nanti, semoga usaha untuk belajar ini dinilai sebagai ibadah dan amal shalih. Gak ada ruginya sama sekali :)

Kuliah online Ibu Profesional diselenggarakan setiap hari Rabu, dengan pilihan waktu jam 9 dan jam 15. Hari ini udah masuk ke paket “Kuliah Bunda Cekatan” setelah kuliah2 sebelumnya bertema “Kuliah Bunda Sayang”. Nah pas Bunda Sayang itu saya jarang2 buanget ikutnya. Kadang males juga nyimaknya karena suaranya kresek2 banget. Tapi hari ini alhamdulillah suaranya bagus. Tema kuliah hari ini adalah manajemen waktu.

Soal manajemen waktu, pastinya udah tau deh bahwa waktu kita seakan2 gak cukup buat ngerjain seluruh kewajiban kita. Makanya harusnya yang didahulukan adalah hal2 yang penting dan genting. Seperti ilustrasi memasukkan jeruk dan beras ke dalam toples. Kalau kita masukkan beras duluan, maka jeruknya gak bisa masuk semua. Tapi kalau jeruk duluan, maka beras akan tetap bisa masuk seluruhnya, mengisi ruang2 di antara jeruk. Nah jeruk itu ibaratnya hal2 prioritas yang penting dan genting. Sedangkan beras adalah hal2 remeh temeh yang kurang penting dan tidak genting.

manajemen waktu

atau bisa juga diibaratkan batu2 besar, kerikil, dan pasir

Coba tuliskan apa ya kira2 3 hal yang menjadi jeruk dalam hidup kita, dan 3 hal yang menjadi beras. Contohnya jeruk itu: ibadah, mengurus keluarga dan rumah, belajar/berkarya/bekerja. Sedangkan beras contohnya: main game, chatting dan cek socmed sering2, dan nonton TV. Bu Septi membagi hal2 yang harus dikerjakan harian sbb:

  1. Rutinitas: daily routine seperti tidur, masak, mandi, ibadah jg kayaknya masuk sini
  2. Pengembangan Anak & Keluarga: seperti ilmu apa yang mau diajarkan ke anak, mau melatih anak keterampilan apa, dst
  3. Pengembangan diri: belajar, melatih skill, targetkan untuk jadi expert dalam suatu hal (dan berlatih selama 10.000 jam, targetkan misal dalam 4 tahun akan jadi ahli dalam hal apa).

Cara mengatur waktunya:

  • Tentukan waktu gelondongan (maksudnya untuk hal2 prioritas, untuk jeruk2)
  • Buat kandang waktu untuk pekerjaan rutin (set waktu untuk setiap pekerjaan, misal jam 5-7 pagi untuk rutinitas masak, beres2 rumah, siap2)
  • Patuhi cut-off time (waktu henti) untuk tiap pekerjaan. Misal, saya mau beres2 kamar dalam 20 menit. Pasang alarm, dan ketika waktu habis ya berhenti.
  • Untuk facebook, twitter, dll kasih waktu misalnya sejam sehari
  • Say no to “srondolan”, hal2 yang gak masuk jadwal dan termasuk beras kecil. Contoh: diajak ngegosip sama temen. Harus bisa asertif untuk menolak dengan baik
  • Gunakan bonus waktu dengan produktif. Bonus waktu ini misalnya waktu menunggu, waktu di perjalanan. Cara kita mengisi bonus waktu ini menentukan kualitas diri kita. Cek socmed? Baca buku? Dzikir?

Kalau sudah punya jadwal, harus disiplin dan keras pada diri sendiri. Kalau kita keras pada diri sendiri, lingkungan akan lunak pada kita. Begitu pula sebaliknya. Kalau gak disiplin dengan jadwal yang udah dibuat, besok2 susah lagi untuk mematuhi lagi.

Jangan mau menghabiskan waktu untuk sesuatu yang kita gak menjadi ahli dalam hal itu. *ibuu.. krn sering mainan socmed saya jadi ahli stalking lhoo! #plak

Kemudian tentang ibu bekerja, pastinya lebih2 lagi effortnya. Harus ekstra tenaganya. Berangkat kerja penuh semangat, pulang kerja juga harus ttp penuh semangat. Sehingga ketika sampai rumah terus anak minta main, bisa menjawab dengan semangat dan senyum “Yuk, kita main! :)” bukannya lemes, “Ibu capek nih..” *wow, luar biasa!* Tapi kalau benar2 capek, bisa diakalin dengan cara, minta waktu dulu untuk mandi *tapi mandinya yang biasanya 10 menit jadi 30 menit, selesai mandi istirahat bentar, buang capek2 dan sisa kesel2. Kemudian keluar kamar dengan segar dan muka senang. Itulah makanya ibu2 penting untuk ikut teater kata Bu Septi.. hahaha.

Di akhir sesi biasanya Bu Septi ngasih PR untuk para pemirsa. PR kali ini adalah membuat jadwal mingguan, dan lihat apakah seminggu ke depan bisa disiplin dengan jadwal itu. Hihi.. selamat mencoba :D

tradisi ilmu

Lagi kepikiran frase ini deh.. kayaknya gara2 baca tentang Google X. Itu tuh laboratorium rahasianya Google, yang udah menghasilkan produk antara lain sbb:

  1. Kulkas yang tersambung ke internet trus bisa order produk tertentu kalo persediannya di kulkas udah menipis
  2. Mobil tanpa supir yang katanya sekarang udah dapat lisensi untuk jalan di jalan raya di California
  3. Piring yang bisa post tentang apa yang lagi dimakan ke social network
  4. Kacamata kayak kacamatanya Conan, ada komputernya
  5. Bahkan katanya ada lift ke luar angkasa (jadi inget Charlie and The Chocolate Factory)

baca: Google’s Lab of Wildest Dreams

Pertanyaannya adalah, kok bisa segitunya ya mereka.. Di saat gw masih ribet gimana cara mecah isi file jadi kalimat2 pake Perl, eh mereka udah bikin lift ke luar angkasa segala. Lalu muncullah term itu, tradisi ilmu. Mungkin itu ya, yang bikin seseorang bisa unggul. Ya karena mereka mencintai ilmu, tanpa lelah belajar, dan gak gampang nyerah. Waktu yang dimiliki semua manusia sama2 24 jam setiap harinya. Tapi sebagian orang bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar, membaca, diskusi, nulis, berkarya, berkontribusi, bekerja; sedangkan sebagian lainnya masih sering membuang2 waktu untuk hal2 gak berguna.

Jadi serem, kalau sekarang terbiasa males2an, mau kapan membangun tradisi ilmunya? Kapan bisa unggul? Harus dimulai dari diri sendiri kan ya? Sampai nanti, semoga bisa punya keluarga dengan tradisi ilmu yang kuat.  Sampai akhirnya bisa menyebarkan tradisi ilmu ke masyarakat juga. Dan untuk itu diperlukan usaha yang kuat juga untuk mewujudkannya.

Sejarah mencatat, peradaban Islam pada masa lalu tak lepas dari peran ulama, yaitu mereka yang berilmu, mencintai ilmu, dan menebarkan ilmu dengan landasan kalimat thayyibah. Tradisi mencintai ilmu di kalangan para salafus shaleh itu kemudian dikokohkan dengan tradisi mengikat ilmu lewat tulisan-tulisan yang dibukukan dalam kitab-kitab yang ribuan jumlahnya. Konsep pendidikan para salafus shaleh pada masa lalu adalah pendidikan yang berlandaskan pada Al-Qur’an, induk dari segala pengetahuan yang lafazh dan maknanya diturunkan langsung oleh Allah SWT, dijaga kemurniaannya sampai Hari Kiamat. Setelah tauhidnya kokoh, pemahamannya terhadap Al-Qur’an baik, maka ilmu yang digeluti tidak akan menjerumuskannya pada kerusakan berfikir dan keangkuhan intelektual. (Artawijaya)

passion

apa sih? sesuatu yang kita lakukan dengan senang hati? sesuatu yang kita nikmati? yang mau kita kerjakan tanpa dibayar? yang terus kita pikirkan dengan kerelaan?

satu hal yang saya yakini. karena passion itu berkaitan dengan hati, maka iapun, sebagaimana hati yang berbolak-balik, dapat saja berubah, dapat dibentuk, dapat tumbuh, dapat disesuaikan dengan apa yang kita mau. bukan sekedar apa yang kita sukai saat ini. bukan sekedar sesuatu yang dapat dengan mudah kita kerjakan dan nikmati. bukan sesuatu yang ringan untuk dikerjakan…

terkadang, mungkin perlu “mengetuk pintu paksa”. demi sebuah cita2, demi tujuan mulia yang mungkin belum terlalu dinikmati tapi bisa diusahakan jadi passion kita. menyingkirkan pikiran negatif, minder, merasa tidak mampu. meyakinkan diri bahwa harus ada satu posisi yang kita isi di peradaban ini.

Dari Shalahuddin, dari Sang Nabi, kita belajar tentang salah satu jalan untuk meretas keberhasilan. Jalan pemaksaan diri dalam maknanya yang positif. Sunnah kehidupan menegaskan adanya pintu keharusan dan pemaksaan. Bagi mereka yang secara sadar memilihnya, ada lompatan yang mengantar mereka pada mutu diri yang lebih tinggi.

pada akhirnya, dunia memang tempatnya berlelah-lelah…

Ya Allah.. izinkan kami, mendayagunakan segenap potensi yang telah Engkau beri, untuk kejayaan Islam..

 

If You’re Busy, You’re Doing Something Wrong. Really?

Dapet link ke artikel ini dari tweetnya kak @arestoyudo.

Jadi ceritanya diadakan sebuah riset yang meneliti para calon violinist di Berlin (eh tp ini riset taun 1990an, dah lama jg ya). Ada dua kelompok yang diteliti: 1) the elite players, yang bener2 jagoan banget dan diprediksi akan jadi violinist profesional; 2) the average players, yang kemampuannya dibawah kelompok pertama. Para peneliti mengadakan wawancara mendalam dengan 2 kelompok ini, lalu memberi log book, atau buku catatan kegiatan harian yang harus mereka isi dengan aktivitas sehari-hari. Tentunya yang ingin diketahui, apa sih kebiasaan/kegiatan harian yang jadi faktor penyebab the elite players lebih baik dari the average ones.

Ternyata dari waktu latihan biolanya, masing2 menghabiskan waktu rata2 yang sama, yaitu 50 jam setiap minggunya. Bedanya, the average players menyebar waktu latihan ini di sepanjang hari. Sedangkan para elite players punya waktu latihan khusus di mana mereka latihan dengan sungguh2 dan seksama. Waktu latihan ini dibagi dalam 2 waktu per harinya: pagi hari dan sore hari (kayak dzikir al ma’tsurat ye :p). Dengan demikian, mereka lebih punya waktu luang di luar waktu2 tersebut dan hidupnya pun nggak stress.

Jadi, ada perbedaan antara hard work dan hard to do work:

  • Hard work is deliberate practice. It’s not fun while you’re doing it, but you don’t have to do too much of it in any one day (the elite players spent, on average, 3.5 hours per day engaged in deliberate practice, broken into two sessions). It also provides you measurable progress in a skill, which generates a strong sense of contentment and motivation. Therefore, although hard work is hard, it’s not draining and it can fit nicely into a relaxed and enjoyable day.
  • Hard to do work, by contrast, is draining. It has you running around all day in a state of false busyness that leaves you, like the average players from the Berlin study, feeling tired and stressed. It also, as we just learned, has very little to do with real accomplishment.

Kesimpulannya adalah:

Do less. But do what you do with complete and hard focus. Then when you’re done be done, and go enjoy the rest of the day.

Nah, masalahnya adalah, berlakukah ini untuk semua orang? Belum tentu juga ya. Soalnya pengalaman gw waktu kuliah sih, yang namanya tugas itu, gak  bisa selesai hanya dalam 3.5 jam. Mau gak mau ya ngerjain sepanjang hari (kalau libur) atau sepanjang malam alias begadang. Belum lagi kalau punya amanah di tempat2 lain. Ya memang jadi terlihat sibuk. Tapi satu hal yang pasti yang bisa diambil dari penelitian ini adalah pentingnya fokus dan pembagian waktu. Sering banget lah gw ngalamin, kalo di kelas bukannya konsen belajar, malah mikirin organisasi. Di organisasi malah mikirin tugas kuliah. Dengan pembagian waktu dan fokus yang benar, mungkin kesibukan yang berlebihan bisa dihindari^^