Archive for June 27, 2008

Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku

Tuhanku,
aku masih ingat saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu
lembar demi lembar kitab ku pelajari
untai demi untai kata para ustadz kuresapi
tentang cinta para nabi
kasih para sahabat
tentang mahabbah para sufi
tentang kerinduan para syuhada
lalu kutanam dalam jiwa dalam-dalam
kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan.

Tapi Rabbi,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pecan, bulan, dan kemudian tahun berlalu
Aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang paling utama, namun
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu
Aku masih merasakan gelisahku membadai dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi
Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan.

Wahai Illahi,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pecan, bulan, dan kemudian tahun berlalu
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi
Dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon, dan menghiba-Mu, semampuku
Allahu Rahman, Illahi Rabbi
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku.

Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa, hingga Al-Musthafa
Karena itu ijinkanlah aku mencintai-Mu
Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku.

Rabbi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar
Yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan diri-Mu
Dan Rasul-Mu bagi pribadi dan keluarga
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separoh hartanya demi jihad,
Atau Utsman yang menyerahkan seribu ekor kuda untuk syiar din-Mu
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Melalui seratus dua ratus perak
Yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan
Pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan
Pada makanan-makanan sederhana yang terkirim ke handai tolan.

Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu dengan khusyuknya shalat
Salah seorang sahabat Rasul-Mu, hingga tak hiraukan dia
Pada anak panah musuh yang terhunjam di kakinya
Karena itu ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu
Dalam shalat yang coba ku dirikan terbata-bata
Meski ingatan kadang melayang ke berbagai masalah dunia.

Rabbi,
Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib
Yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu
Maka ijinkanlah aku untuk mencintai-Mu dalam satu dua rakaat Lailku
Dalam satu dua sunnah nafilah-Mu
Dalam desah nafas kepasrahan tidurku.

Yaa Maha Rahman,
Aku tak sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah,
Yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Melalui selembar dua lembar tilawah harianku
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa Rahim,
Aku tak mampu mencintai-Mu semisal Sumayyah
Yang mempersembahkan jiwanya demi tegaknya din-Mu
Seandai para syuhada, yang menjual dirinya demi jihad bagi-Mu
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Dengan sedikit pengajaran demi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Karim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu diatas segalanya,
Bagai Ibrahim yang tinggalkan putra dan zaujahnya
Dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu di dalam segala
Perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku
Dengan mencintai sahabat-sahabatku
Dengan mencintai manusia dan alam semesta

Allahu Rahmanurrahiim, Illahi Rabbi,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Agar cinta itu mengakun dalam jiwaku
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku…

(Azimah Rahayu)

———-

Pertama kali dapet ini dari Ziza :) waktu gw kelas 2 SMA dan dia kelas 1. Dulu gw dan Ziza suka surat2an gitu deh.. hehe.. curhat2an.. Gw masih inget di sebuah surat dia nulis, “gak enak ya Teh, gak punya Allah teh. Pikiran gak tenang, shalat gak khusyu..”

Gak punya Allah, maksudnya tidak ada Allah dalam hati dan digantikan oleh kau-tau-apa. Karena pada Allah dan cinta pada kau-tau-apa tidak bisa bersatu dalam satu hati..

Jadi, jatuh cintalah pada Allah saja, karena kau tak akan kecewa ;)

Comments (6) »