Archive for May, 2008

Ilmu itu ya, dibagi!

Artikel ini disertakan dalam lomba blog IGOS Summit 2, kategori mahasiswa dengan tema “Aku Ingin Sekolahku / Kampusku Aktif Mengajarkan Free/Open Source Software (FOSS)“

Judul di atas bisa dengan mudah kita temukan di blog POSS UI (Pendayagunaan Open Source Software Universitas Indonesia). Jargon POSS UI itu menggambarkan semangat berbagi ilmu melaluipengembangan dan penggunaan Open Source Software (OSS). Hmm.. apaan sih OSS itu? Menurut The Open Source Initiative dalam The Open Source Definition, setidaknya ada sepuluh kriteria OSS.Namun, untuk menyederhanakan, kita artikan saja OSS sebagai software komputer yang menyertakan source code (kode program) dan mengizinkan kita untuk melakukan apa saja dengannya. Bebas digunakan, bebas dimodifikasi, dan bebas disebarluaskan. Berbeda dengan proprietary software yang penggunaan, modifikasi, dan penyebarannya diatur oleh si pembuatnya.

OSS telah menjadi kekuatan dan potensi tersendiri dalam dunia teknologi informasi (TI), terutama pengembangan software. Gimana nggak, kita bisa menggunakan software gratis! Kualitasnya pun nggak kalah sama yang proprietary. Dengan demikian, makin banyak orang yang bisa menggunakan OSS dan mendapatkan ilmu dengannya. Sehingga pada akhirnya nggak ada lagi kesenjangan TI, karena semua orang bisa menikmati kemudahan penggunaan software dan ilmu bisa terus mengalir dan menyebar. Untuk pengembang software sendiri, OSS memberikan kemudahan untuk terus berinovasi dan berkreasi tanpa perlu khawatir biaya pengembangan yang tinggi. Bayangkan kalau orang Indonesia bisa mengembangkan OSS. Kita nggak perlu mengimpor software dari luar negeri. Cukup pakai software buatan dalam negeri, dan dampak positifnya, wah.. banyak! Menghemat devisa negara, memajukan industri software lokal, meningkatkan daya saing bangsa dalam bidang TI, dan lain sebagainya.

Sangat disayangkan, di Indonesia masih sedikit yang menggunakan OSS. Dari voting di Blog Telematika Indonesia, didapatkan hasil bahwa yang menggunakan sistem operasi Linux dan aplikasi open source hanya sebanyak 11% dari total 1028 orang yang ikut voting. Sedangkan yang menggunakan sistem operasi dan aplikasi bajakan masih mendominasi, yaitu sebesar 82%. Padahal pemerintah Indonesia sudah mencanangkan program Indonesia, Go Open Source (IGOS) sejak empat tahun lalu. Namun mungkin sosialisasinya masih kurang. Saya pernah mengadakan survey di kampus saya, Fakultas Ilmu Komputer UI. Ternyata dari 10 orang mahasiswa yang disurvey, 55% tidak tahu apa itu IGOS. Bagaimana dengan masyarakat Indonesia yang lainnya? Mungkin lebih banyak lagi yang tidak tahu IGOS dan OSS.

Karena itu, upaya sosialisasi dan pengajarkan OSS perlu terus dilakukan. Dunia pendidikan merupakan tempat yang tepat untuk memulai, karena di sinilah tempat ilmu mengalir. Saya pernah membaca bahwa OSS sudah masuk ke dalam kurikulum pengajaran TIK di sekolah-sekolah. Hal tersebut merupakan langkah yang sangat baik untuk mengenalkan OSS sedini mungkin. Lalu bagaimana dengan perguruan tinggi? Saat ini di beberapa perguruan tinggi sudah berdiri POSS yang memiliki fungsi untuk mendayagunakan OSS, misalnya dengan mengembangkan produk, menjadi pusat konsultasi, memberikan pelatihan, dan memasyarakatkan OSS. POSS UI sendiri sudah ada sejak tahun lalu, namun saya sendiri menilai kegiatannya masih kurang “terdengar”. Sosialisasi di UI pun masih kurang.

Banyak hal yang bisa dilakukan dalam upaya sosialisasi dan pengajaran OSS di kampus UI. Upaya ini bisa dibagi dalam dua hal, ke dalam UI dan ke luar UI. Untuk ke dalam UI, banyak pihak yang bisa diberdayagunakan selain POSS UI. UI memiliki komunitas studi LINUX (KSL) yang aktif berbagi ilmu lewat mailing list ataupun pertemuan-pertemuan. Kedua komunitas ini, POSS dan KSL, bisa bersinergi untuk mensosialisasikan OSS pada civitas UI. Selama ini yang saya rasakan, heboh-hebohnya produk baru atau kecanggihan OSS baru tersebar di kalangan pecinta OSS saja. Hal ini wajar, karena mereka memang sudah memiliki ketertarikan pada OSS. Namun pada orang lain yang belum akrab dengan OSS, bahkan belum tahu apa itu OSS, perlu pendekatan dan upaya sosialisasi yang lebih friendly. Banyak bentuk publikasi yang bisa digunakan, di antaranya blog atau website, buletin, poster, dan lain sebagainya. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam sosialisasi tersebut, adalah tidak langsung menggunakan bahasa teknis yang masih asing bagi orang yang belum tahu OSS. Untuk strategi sosialisasi, mungkin bisa minta bantuan pada mahasiswa Ilmu Komunikasi yang lebih ahli :) Upaya sosialisasi ini juga bisa dilakukan dengan menggandeng organisasi mahasiswa seperti BEM. Bayangkan jika di setiap edisi BEM Media, buletinnya BEM UI, ada space kecil saja yang memuat tulisan atau logo “BEM UI mendukung IGOS! Ayo pakai Open Source!” :) Tentu dampaknya bisa lebih luas menyentuh mahasiswa.

Selain upaya sosialisasi, pengajaran OSS juga bisa dilakukan di kampus. Misalnya dengan mengadakan training atau pelatihan open source untuk mahasiswa atau untuk pengurus organisasi dan staf/dosen UI. Sebuah langkah yang baik telah dilakukan Fasilkom, yaitu dengan mengajarkan LINUX pada mahasiswa baru saat acara masa bimbingan mahasiswa baru. Selain ke dalam UI, pengajaran OSS juga bisa diberikan pada masyarakat di luar UI, khususnya siswa sekolah. Hal ini juga bisa menjadi bentuk pengabdian civitas UI kepada masyarakat sekitar.

Pasti asik sekali kalau di UI banyak yang belajar dan mengajarkan OSS. Selain menjadi upaya mendukung IGOS, hal itu juga bisa menjadi upaya untuk mengurangi pembajakan software, karena mudah-mudahan banyak orang yang bisa berpindah dari menggunakan software bajakan ke OSS. Dampak jangka panjangnya, seperti yang sudah saya sebutkan di atas juga, ini adalah upaya membangun kekuatan TI Indonesia. Ayo bangkitkan TI Indonesia dengan berbagi ilmu lewat open source software!

Comments (1) »

upcoming events

yeyeyeyeye…

alhamdulillah.. the beasiswa aktivis’ student exchange batch 2 to Thailand is postponed. Before the postponement, we supposed to leave at  may 26th and back to Indonesia at june 15th. I’m glad it is postponed because at the same time i will have my final examination!

So, the next upcoming events for me will be the exams, final assignments, and interview for the KP (I’ve sent application to Bening).

Final exam schedule:

  • May 27th: TK PMPL
  • May 29th: Metode Formal
  • May 31st: Analisis Numerik
  • June 4th: Teknologi Mobile

And the final assignments

  • Tugas Akhir Grafika Komputer (hidup Monas! dukung visit Indonesia 2008!:P) May 23rd
  • Tugas Individu PMPL ttg SQA pada Windows Vista May 30th
  • Laporan Akhir PPL

I also want to attend the ICT Expo, IGOS Summit 2, but i don’t know whether i could or not.

I also want to take part in IGOS Summit 2’s blog writing competition.. the deadline is TODAY! noooo.. hope i could finished it..

Comments (1) »

aksi.. dan mahasiswa

Berjuta kali turun aksi
Bagiku suatu langkah pasti
(sebuah lagu)

Hmm… sampai kapan ya mahasiswa aksi turun ke jalan. Beberapa orang bilang itu udah ga relevan, ketinggalan jaman, gak guna, ngerugiin doang. Banyak yang bilang, cari dong cara yang lebih elegan, misalnya lewat kajian ilmiah tentang kebijakan pemerintah, lalu rekomendasi solusi secara ilmiah, dsb. Tapi gw baru tau aja bahwa aksi ini gak diputusin begitu aja macem tiba2 ngajak “yuk kita aksi besok”, tapi bener2 dipertimbangin dengan matang dan sebelumnya udah banyak kajian dan persiapan.

Aksi kemaren sendiri adalah salah satu bentuk penyikapan dari hasil kajian terhadap kondisi bangsa, khususnya setelah 10 tahun reformasi. Kajian ini dilakukan dalam event KAGUI (Konferensi Aktivis Gerakan se-UI) dan KAGSI (Konferensi Aktivis Gerakan se-Indonesia). Gw sendiri gak ikut konferensinya, tapi gw dikirimin file2 hasilnya sama dedengkot Pusgerak BEM UI :P Wuih, kalo lu liat filenya, salut deh! Gak maen2 tuh pembahasannya, bener2 ngeluarin seluruh kompetensi dan kemampuan. Pembahasannya dibagi per komisi yaitu reformasi birokrasi dan reformasi peradilan, ketahanan energi, pendidikan dan kontrol media, kesehatan dan lingkungan. Jadi kalo lu bilang mahasiswa yang turun aksi cuma bisa teriak2 doang, lu salah besar bro. Mereka itu orang2 yang bener2 mikirin kondisi bangsa ini dan serius mengkaji permasalahan dan mikirin solusinya.

Di aksi kemaren ketemu banyak anak Smansa :) *teuteup..*
Ketemu Thifa, Izzah, Yasni, Risdie.. Ngeliat Tiko, Trie Setiatmoko, Ketua BEM FMIPA 2008.. salut banget.. bangga euy punya temen kaya gitu. Ketemu Pandu, Pandu Utama Manggala, Ketua BEM FISIP 2008.. Subhanallah,, kalian..

Meskipun gw gak di BEM lagi.. tapi semangat gw gak pernah luntur, teman. Gw hanya “pergi” menggarap ladang amal yang lain. Seperti yang gw bilang di sms ke seorang teman kemaren..

…we go through different way, but we have the same purpose, to do beneficial things for ummah, islam, and the nation…

ba’da maghrib di Istiqlal, 12 Mei 2008
Ya Allah, terima kasih karena mengizinkan kami berteduh di rumahmu yang besar dan megah ini
Semoga nanti kami punya rumah seperti ini di surgaMu
Izinkanlah kami, pemuda2 negeri ini, yang mencintai negeri ini sepenuh hati, yang sangat ingin berjuang untuk negeri ini..
Menjadi generasi pemimpin bangsa, menjadi orang2 yang berperan dalam bangkitnya Indonesia..

Comments (2) »

A journey to KL, 4-8 May 2008

Day 1: The Departure
As written before, i got the chance to go to the International Indonesian Students Conference on Strategic Issues that take place in Kuala Lumpur Malaysia, 5th-7th May 2008. So in 4th May i departed from Indonesia to KL by taking Lion Air flight from Soekarno-Hatta airport. Fortunately, i’m not alone in this journey. Together with Zainal C. Airlangga (FIB), M. Faisal Karim (FISIP), and M. Hilmi (FISIP), i left Jakarta at 9.30 in the morning. Actually we were not the only students from Indonesia, because we also met the IPB students who took the same flight. There were 13 students from IPB. Yes, 13. And from UI there were only 4 of us. Well, still, i should admit that in the matter of scientific activities, IPB students are likely have bigger interest to get participated.

Nothing special in the flight, except a strange feeling and a silly question came accross my mind, “are u sure to do this, ning? leaving indonesia and attending a conference whatsoever?”. Still, I hardly believe that i could go abroad and will give a speech in an international forum. Well, Andrea Hirata was right, that we cannot precede destiny by thinking negative and be pessimistic. We can do anything we want to do. And we can be anything we want to be.

Then we arrived in KL International Airport (KLIA) at about 12.30. KL time is an hour ahead of Jakarta. KLIA is awarded “World’s Best Airport in the 15-25 million passengers per annum category” for the last 3 years. The airport was so modern and clean. After leaving the plane, we should go to another part of the airport to take baggage. We got there by aerotrain, a kind of small train. After that we took a pray and continue the journey to International Islamic University Malaysia.

To get there, we took an airport bus, such Damri in Soekarno-Hatta. The bus then stopped at KL Sentral. It only cost 10 ringgit (1 ringgit is about 3000 rupiahs) and took about an hour to go from KLIA to KL Sentral. There also another transportation facilities that we can take, the KLIA express. But it is more expensive, it cost 35 ringgit but only need 28 minutes to go from KLIA to KL Sentral. From the KL Sentral we should take the LRT, a kind of train but there were no crew to drive it. It run automatically, stopped in every station for some seconds, and it was totally comfortable. We bought a ticket to Terminal Putra Gombak. It cost 2,5 ringgit. The ticketing checking system is already electronic. We put the ticket to a machine that have role as a gate, and then we could take the ticket back and enter the platform. The train itself only consist of 3 “gerbong”, but it arrived every 5 or 6 minutes to the station.

Inside the train, there were clean, comfortable and cold with AC, no smoking and no eating or drinking. I wonder when will Indonesia have a transportation system like this :P The train moved from KL Sentral to Pasar Seni, Mesjid Jamek, and etc. We saw many high buildings, including the Petronas’ twin towers. It seemed that we passed the business area. And when we get closer to Terminal Putra, the view were changed into living area, which consist of many apartements and houses that standing orderly. KL didn’t have “angkot” like those we can saw in Indonesia. They only have monorail, LRT, taxi, and bus.

About 45 minutes later, we arrived at Terminal Putra Gombak, and the conference’s committee was already there to take us to the IIUM campus. I went to the girl’s dormitory while Zainal, Faisal, and Hilmi went to the boy’s dormitory. Because i haven’t take lunch, i went to the canteen and buy some food. The seller is Indonesian so he gave cheap price for the food. I took rice, chicken, and potatoes and it only cost 1 ringgit! Baek banget bapaknya :) After that i went to the internet rental (2 ringgit per hour) to send my PPL assignment *sigh* and look for a friend who was online. I went from the rental at 6.45 pm and surprisingly, it was not maghrib yet. I went to my room at the dorm. Every room at the dorm was divided into 4 parts, the smaller rooms but not separated by door. I stayed there with Dita, Mita, and Nutri, the girls from IPB. Fiuh.. time to take a rest..

Day 2: The Conference Opening

We walked to the main hall.


The conference was started at about 9 am in the main hall. There were many people come. We have a special guest from Indonesia, Mr. Hidayat Nur Wahid. There were also The IIUM rector and Mr. Tatang, atache education of Indonesian embassy in Malaysia. Afer the opening, there was a dialog with Mr. Hidayat about “Problematika Indonesia”. Well, once upon a time, Indonesia had been a role model for Malaysia. But now, we can see that Malaysia has more advance development and more prosperous. Mr Hidayat said that a successfull teacher are those who can make their students more successfull than them :D Maybe that’s what happened to Indonesia.

After that, the presentation started. My presentation schedule will be in the next day, May 6th. The first three presenter gave speech about economics. I didn’t really understand that.

After the presentation session finished, me and some friends went outside the campus to see another part of KL. We went by the rapid KL bus to Terminal Putra. We have to pay 1 ringgit right when we enter the bus. The driver then gave us a receipt that can be use as a 24 hours ticket. So when we took the bus again in the same day, we don’t need to pay, just show the receipt. From Terminal Putra, we took LRT to Pasar Seni, and went to the Petaling Street.

Day 3: Time to present..
Because one and another things, the conferece committee decided to tightened the schedule so the presentation were planned to be finished in this day. Ya, so we had presentation, and presentation, and presentation today. My turn was the 5th session that started at about 3 pm. It was the Education and Technology session, so the presentation was so colorful with many things from those subjects. There were 5 presenter: Bu Seli, a lecturer from Padang; Pak Supriyanto, Untirta lecturer who was studying in IIUM; Mbak Pipit, a double major undergrad student (she took Sastra Inggris and Pendidikan apa gitu); Pak … (i forgot the name) a lecturer and also postgraduate student of IIUM; Pak Deni from LIPI, and me.The moderator was Umar Adityawarman, MIT; a Ph.D student of IIUM. Well my presentation went well and i enjoyed it more than when i was present it at the mapres presentation in Fasilkom.

After that, there were one more presentation session. And after that session was over, we took photograph and felt happy because the conference was about to be closed :D

The committee gave “plakat” for all university that take part in the conference.

Oh, and the recommendation from all the presentation will be given to the Indonesian government, that’s what they said.

Day 4: KL Pusing2
Time to see KL..
Places visited:
- KLCC (Kuala Lumpur City Center), around the twin towers. What to do: take pictures, take ticket for visiting the twin towers’ Skybridge


- UM (Universiti Malaya), Zainal supposed to meet the Asian Europe Institute rector but he hasn’t made an appointment

- back to the KLCC, visiting the skybridge
- Pasar Seni
- Titiwangsa
Note: objek wisata di Jakarta atau Indonesia sebenernya lebih banyak dan bagus2, cuma city marketing-nya kurang banget.

Day 5: Dari Malaysia untuk Kebangkitan Nasional
Finally, we have to leave Malaysia to go back to our country. Well, many things are seems better there. The modern transportation, the orderliness, the prosperity of the people, etc. But one thing we should remember, that our coming there is not for just admiring Malaysia and all of its advance development. We have to take the good things we saw there. And we should not forget that it is our obligation to develop Indonesia to be a better country.

We realized that we not only need to have vision about ourselves. But in that vision, we also have to include a part for Indonesia. Our journey is not ended here. We hope this journey can give us new spirit to be a better person, and make a better Indonesia..

Comments (8) »

pamit

pamit ya, mo pergi hari minggu-kamis (5-8 mei)

do’akan supaya selamat sampe di sini lagi

Comments (1) »