Kajian Keluarga 10072014 @ MUI

Kajian Keluarga @ Masjid UI
Kamis, 10 Juli 2014
oleh Ust. Budi Dharmawan

  • Keluarga yg kuat itu punya 2 pilar yaitu tarbiyatul aulad (pendidikan anak) dan robatul bait (kerumahtanggaan). Dua2nya harus ada.
  • Kita punya 3 karir: pendidikan, pekerjaan, keluarga. Keluarga ini yg paling panjang waktunya, sampai tujuh turunan daaan seterusnya.
  • Quu anfusikum wa ahlikum naaro (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka). Karir keluarga sukses kalau bisa mengantarkan anggota keluarga masuk surga.
  • Hubungan antar tiap anggota keluarga harus positif. Kita melihatnya antar anggota keluarga itu seperti buka rekening bank terhadapnya. Tapi ini rekening bank emosional. Suami terhadap istri dan sebaliknya, ayah anak, ibu anak, saudara, dst. Jadi bisa saling mengisi saldo dan mengurangi saldo emosinya. Ketika ingin menasehati, sebaiknya dalam kondisi saldo banyak.

3 landasan penyangga dlm keluarga

  1. Komitmen bersama pada tujuan bersama. Ini adalah kekuatan yg sangat besar utk menjaga keluarga. Jadi keluarga dipertahankan bukan krn alasan cinta, tapi krn sudah terlanjur membuat komitmen, bukan hanya di hadapan manusia, tapi di hadapan Allah juga. Ibaratnya, akad nikah secara islam itu adanya di panggung alam semesta. Kalau akad di catatan sipil itu levelnya panggung dunia. Jadi kalau mau memutuskan utk bercerai, lihat tuh di buku tamu nikahan, segitu banyaknya org yang datang dan mendoakan, harus minta maaf sama mereka, karena ibaratnya, doa mereka mau dibalikin/dikembaliin.
  2. Saling menerima satu sama lain sebagai individu yg tidak sempurna dan dalam proses bertumbuh. Pernikahan adalah pertemuan dua anak manusia, bukan anak malaikat. Jadi tidak mungkin sempurna.
  3. Kesiapan utk saling berbagi, siap utk bersyukur dan bersabar silih berganti.

6 penyangga pilar keluarga yang kuat

1. Ketakwaan
– Ini nomer 1 karena kalau kita mau damai sama orang2 yg ada di bumi, harus damai dulu sama yg ada di langit. Ini landasan yg menentukan apakah suami istri itu akan damai. Kalau salah satu gak damai sama Allah, maka ga akan damai dah.
– Membentuk keluarga bukan dari mencari istri, tp dengan mencari ibu utk anak2nya. Kalau nyari istri, yg dikedepankan adalah subjektifitas pribadi, pengen ini itu, jd terlalu pemilih.
– Sekarang tanya dulu, pengen punya anak kayak gimana? Misalnya pengen anak2 shalih & shalihah, maka ga bisa sembarangan cari ibu buat anak2 seperti itu. Dan bisa jadi akhirnya kriterianya gpp ga cantik fisik, tapi cantik hatinya. Beda kalau nyari istri, bisa2 kriterianya gpp ga jilbaban asal cantik.

2. Kesetiaan
Harus mengartikan kesetiaan dalam arti yg seluas2nya. Kalau istri menyimpan sisa uang belanja tanpa sepengetahuan suami, itu namanya selingkuh. Selingkuh ekonomi. Kecuali di awal istri udah dapat izin prinsip dr suaminya, bahwa kalau ada kelebihan uang boleh disimpan. Ada lagi selingkuh sosial, misal di siang hari suami di kantor nelpon istri nanya masak apa, padahal istrinya ga bs masak, trus jd panik..padahal suaminya ga pulang utk makan siang juga.

3. Kasih sayang
Bilang sayang doang tapi ga ngasih uang belanja, itu namanya gak kasih. Sebaliknya kalau ngasih uang tapi ngebentak2 mulu itu namanya ga sayang.

4. Komunikasi
Bukan yg kita sampaikan, tapi yg diterima lawan bicara. Harus memastikan maksud kita sampai. Contohnya istri sering ngomel2 karena suami sering ngegantung baju, sehingga jadi sarang nyamuk. Tapi suami melakukan itu justru karena sayang sama istri, ga mau istrinya kebanyakan cucian, jadi sekali baju dipake ga langsung cuci tapi digantung di kamar. Daripada ngomel2, harusnya disampaikan baik2.

5. Keterbukaan
Rumusnya:
– Aku tahu yg ku mau.
– Kau tahu apa yg kau tahu.
– Aku tahu apa yg kau mau, kau tahu apa yg aku mau.
– Aku dan kau tahu apa yg aku & kau mau.

6. Kejujuran
Keterbukaan tdk selalu diikuti kejujuran. Jadi perlu ada kejujuran ini.

 

  • Setiap anak memiliki kebutuhan utk bangga pada ortu. Krn itu dasar2 kehidupan mereka.
  • Ketika ortu saling serang d hadapan anak, maka itu sama aja menghancurkan dasar kehidupan anak. Meskipun yg disampaikan ttg ayah/ibu itu benar. Kl hal itu trs terjadi, akan berpengaruh tdk hanya terhadap perasaan anak, tp pd kepribadiannya. Sekolah kepribadian yg sebenarnya adalah keluarga.
  • Kl ada anak korban perceraian, ortu yg bercerai hrs ttp menjaga anak. Ibaratnya rumah utamanya sudah runtuh, tp ada paviliun (anak) yg hrs ttp dijaga agar tdk runtuh

Kampung Halaman

Entahlah.. saat mulai gak waras, hati gak tenang, gak puas dan ada aja yang pengen dikejar di dunia, salah satu obat yang bisa membuat waras lagi adalah mengingat si kampung halaman. Karena katanya, untuk setiap yang kita punya di sini, atau yang gak kita punya, ada yang lebih baik lagi di sana.

Mengingat si kampung halaman, membuat fokus akan hal2 yang lebih penting, lebih hakiki, bukan?

And indeed, the hereafter is better than the present.

Kesenangan yang Menipu

Tentang QS Al-Hadid(57):20, one of my favourite ayah in the Qur’an.

Ada 4 hal dlm kehidupan dunia yg disebutkan di sini:

  1.  la’ibun: permainan
  2. laghwun: hal yg melalaikan (spt hiburan yg bikin lalai)
  3. ziinatun: hal2 yg indah & memperindah; beauty, beautification
  4. tafakhurun bainakum watakaatsurun fil amwali wal auladi: saling berbangga2 di antara kalian dgn berbanyak2 harta dan anak

Seiring perkembangan manusia, keempat hal itu muncul berurutan. Awalnya manusia sbg bayi hanya punya kebutuhan (minum, tidur, buang air, dll). Semakin besar dia punya keinginan untuk bermain. Makin besar lagi pengen hiburan. Saat remaja tertarik dgn hal2 yg indah, lawan jenis, mempercantik diri. Setelah kuliah & lulus bagus2an pekerjaan, rumah, mobil, anak2, dst.

Padahal, itu semua seumpama hujan yg menyuburkan tanaman, sehingga tanaman itu tumbuh subur, dan menyenangkan hati yg menanam. Namun kemudian tanaman itu jadi kering, kekuningan, kemudian jadi hancur sama sekali.

Seperti anak kecil yg sangaaat ingin mainan baru, kemudian dibelikan. Excited sekali bermain dengan mainan itu… seminggu kemudian mainannya dilupakan, rusak, atau hilang.

Seperti remaja yang menunggu film terbaru keluar, pengen banget nonton.. masuk ke antrian panjang demi untuk nonton premier. Selesai nonton… ah ternyata begitu doang.

Seperti anak muda yang jatuh cinta, ngejar2 si idaman hati.. begitu didapat, bersama sekian lama, kemudian bosan, atau bertengkar, atau udah gak cocok lagi.. lalu selesai.

Seperti pemuda yang menabung sekian lama utk beli gadget keren.. setelah beli kemudian disayang2, dipamer2.. Bbrp wkt kemudian keluar gadget seri terbaru.. dan gadgetnya berasa kuno sekali.

Seperti tanaman yang dinanti2 tumbuhnya dengan sabar, senang kala hujan datang dan menyirami supaya tumbuh subur, namun kemudian kering, menguning, dan mati.

Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu

[Ilmfest2014] Muhammad Alshareef: The Call

Suatu hari Rasulullah SAW meminta pada Ibnu Mas’ud untuk membacakan Qur’an untuknya. Sampai di QS An-Nisa ayat 41, Rasulullah berkata, cukup. Dan saat Ibnu Mas’ud melihat beliau, ternyata pipi beliau berlinang air mata. Ayat tersebut mengatakan bahwa setiap umat ada saksinya, yakni Rasul yang diutus pada umat itu. Beliau pun memikirkan bagaimana nantinya di hari pengadilan akan menjadi bagi umatnya, sedangkan umatnya ada yang sudah diseru namun tidak mau taat. Ya, beliau selalu memikirkan kita, umatnya.

Salah satu warisan beliau yang harus kita ikuti adalah jalan dakwah. Qum fa andzir. Bangunlah, dan berilah peringatan! Bangun, dalam energi yang penuh untuk berdakwah, mengajak orang. Dakwah seharusnya menjadi warisan terbesar kita. Dakwah should be your greatest legacy.

Jalan dakwah memang tidak mudah dan penuh ujian. Ujian pertama dalam dakwah: cemoohan orang2. Tapi dakwah adalah perkataan terbaik,

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat: 33)

Dan pahalanya memang sangat besar. Kalau kita bisa mengajak orang pada Islam, itu lebih baik dari dunia dan seisinya,

“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya)”. (HR. Al-Hakim).

Teladan dakwah dari Nabi Ibrahim yang menghadapi Namrud. Ibrahim bilang bahwa Allah bisa menghidupkan dan mematikan, lalu Namrud berkata, dia pun bisa demikian. Padahal yang Namrud maksud dengan menghidupkan adalah membiarkan orang hidup dan mematikan berarti membunuhnya. Lalu Ibrahim bilang bahwa Allah menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkannya di barat. Lalu bungkamlah Namrud. Jadi di sini Nabi Ibrahim memberikan bukti yang nyata. Kalau ucapannya Namrud yang awal tadi ditanggapi, diterusin, bisa jadi debat kosong aja. Tapi kemudian Ibrahim menyampaikan fakta yang tidak bisa dibantah. Perlu bahasa yang jelas dan lugas.

Untuk berdakwah, tidak harus jadi syaikh, atau lulusan sekolah agama. Karena Rasul berkata, sampaikanlah walaupun satu ayat. Caranya pun tidak harus dengan lisan/pidato/ceramah, tapi juga bisa lewat tulisan di blog, sms, dll.

Perlu diingat, bahwa dalam berdakwah, tugas kita bukanlah membuat orang menerima, tetapi hanya menyampaikan. Dan kita melakukannya dengan ihsan, sebaik2nya.

Kalau kita tidak berdakwah, pesan itu berhenti di kita. Kehidupan yang baik itu terjadi ketika kita mengikuti jalan Allah dan Rasul, termasuk berdakwah.

Langkah-langkah dakwah
Peduli terhadap orang dengan tulus dan genuine
Kita bisa meneladani Rasulullah SAW yang peduli pada semua orang, termasuk uang belum pernah beliau temui.
Rasulullah juga memikirkan generasi berikutnya. Sedihnya beliau adalah ketika orang tidak menerima Islam. Beliau juga menggunakan setiap kesempatan untuk berdakwah. Seperti waktu beliau dan Abu Bakar hijrah, orang yang mengejar mereka, Suroqoh, juga beliau dakwahi.

Tips praktis dalam berdakwah

  1.  #shareknowledge: Share konten! Gak perlu bikin, cukup share aja di social media
  2. Mulai dari keluarga, nanti melebar ke masyarakat
  3. Berakhlak baik di kantor, kampus, dll
  4. Menjaga shalat, dan ajak orang2 untuk shalat

Penutup
Ada sebuah peristiwa saat Haji Wada, Rasulullah berkata pada para sahabat, ketika nanti kalian ditanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan? Sahabat menjawab, kami akan bilang bahwa kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, dan kami telah menyaksikan/menjadi saksi.

Tanyakan pada diri kita sendiri, kalau kita bertanya hal yang sama pada keluarga, tetangga, teman, kira2 apa yang akan mereka katakan?

M. Alshareef

source: Qabeelat Ihsan

Tambahan
Muhammad Alshareef memulai Al Maghrib karena keprihatinan akan minimnya acara Islam yang dikemas dengan baik. Masa poster acara Islam seadanya banget, kalah sama poster restoran siap saji. Mereka bisa sebagus itu padahal hanya jual hamburger. Kita jualan surga, kenapa gak bisa sebagus itu? Lalu beliau menginisiasi Al Maghrib yang terbukti memang sampai sekarang, kualitas acara, branding, dan desainnya top banget!

PS: maaf saya banyak paraphrasing untuk menyampaikan inti hadits. Hadits lengkapnya bisa dicari sendiri kali ya :’D