Belajar dari Mereka

Pagi tadi saat saya sedang di angkot menuju stasiun, saya melihat seorang Bapak membonceng motor. Di tangan kanan dan kiri Bapak ini penuh barang bawaan: keranjang berisi sachet minuman seperti kopi dan teh, serta dua termos air besar. Dalam hati saya salut dengan Bapak ini yang tetap berusaha kecil2an, menjadi penjual minuman keliling.

Setelah sampai tujuan, saya turun dari angkot. Tak lama kemudian dari arah belakang saya terdengar bunyi gedubrak orang jatuh. Ya Allah.. ternyata Bapak itu tadi yang jatuh dari motor! Orang2 yang ramai di sekitar sana berusaha membantunya yang tampak kesakitan, jatuh terduduk hampir terlentang di aspal. Dua termos yang dibawanya terlepas, air panasnya tumpah. Saya perhatikan salah satu termosnya lepas bagian pegangannya.

Sedih sekali melihatnya saat itu. Salah satu sarana mencari nafkahnya rusak begitu. Saya hanya bisa mendoakan supaya Bapak itu baik2 aja, dan dapat rezeki yang barokah hari itu dan seterusnya.

Kali lain saya melihat Bapak yang sudah cukup tua duduk tertidur sambil menunggui dagangan tahu Sumedang-nya. Untuk Bapak ini juga saya mendoakan supaya rezekinya barokah, berlipat2.

Melalui orang2 seperti Bapak2 itu, saya belajar untuk bersyukur dan tidak menyerah berusaha. Usaha mereka mungkin kecil2 saja, tapi semoga nilainya amat sangat besar di mata Allah.

Jatuh Cinta

Bagaimanalah ini.. saya jatuh cinta pada mereka :)

Pada adik2 kecil di rumah itu. Saya jatuh cinta pada mata bersinar-penasaran mereka waktu melihat saya, juga pada senyum malu2nya kala mendekati. Pada sapa ramah dan tanya, “uti (ukhti) namanya siapa?”. Pada dengung suara dzikir ba’da shalat mereka dengan nada khasnya. Pada suara cempreng dan lantang mereka meski di pagi buta. Pada tubuh2 mungil berbalut mukena warna warni pada tiap awal waktu shalat. Pada keistiqomahan bertahajjud meski minta roka’at sedikit dan bacaan cepat2 saja ;) Pada wajah segar dengan cemong bedak bahkan sebelum Subuh. Pada peluk hangatnya meski baru sekali bertemu.

Meski saya tau, mereka bisa jadi serupa “monster” kecil sewaktu-waktu, atau bertingkah rempong dan aneh semacam ini:

  • Keluar dari shaf saat shalat jama’ah sudah akan dimulai untuk mengambil mushaf, karena imamnya bilang akan membaca juz 4, jadi dia ingin menyimak dari mushaf. Setelah mushaf di tangan dan kembali ke shaf, malah minta tolong dicarikan juz 4, padahal shalat baru saja dimulai XD
  • Minta izin shalat ba’diyah sambil duduk XD
  • Ada yang lapor ke gurunya: “ustadzaah.. si X shalat ba’diyahnya gak pake ruku! Cepet banget! Langsung sujud!” XD

Sungguh beruntung orang tua yang memiliki anak2 itu. Sungguh beruntung para ustadzah yang setiap hari mengajar dan berinteraksi dengan mereka di rumah itu. Dan sungguh beruntung kita yang memiliki generasi penerus seperti itu *aheey :p

Semoga mereka terus tumbuh sesuai yang Allah mau, dan terus terjaga fitrahnya dalam kebaikan.

Beware of kids.. they can easily make you fall in love ;)

ditulis setelah kunjungan kedua ke sana

NAK in Malaysia

 

Huaaa.. ini event-nya udah lamaaa banget, tp baru cerita sekarang..hehehe.

Tanggal 4-5 September 2013, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri kuliah ustadz Nouman Ali Khan di Malaysia. Ngapaiiin jauh-jauh amat ke Malaysia buat dengerin ceramah doang? Haha.. mungkin pada bertanya gitu ya, termasuk ibu saya juga. Tapi saya pengen aja. Emang kenapa? Buat menuntut ilmu kok. Mumpung ustadz Nouman ke Malaysia, kalo nyamperin ke Amerika kan jauh..haha. Dan sekalian jalan-jalan juga. Udah lama pengen ngerasain lagi sensasi jalan-jalan dan ngebolang. Jadilah setelah menyiapkan ini itu, tanggal 4 September pagi saya berangkat berdua sama Mirna.

Pada tulisan ini saya mau cerita tentang acaranya dan isi kuliahnya ya. Dalam 2 hari itu sebenarnya ustadz Nouman memberikan 3 ceramah, yaitu sebagai berikut:

  1. Tanggal 4 jam 20.00 di Masjid Wilayah Persekutuan, tema: Lessons from Surah Ar Rahman
  2. Tanggal 5 khutbah Jum’at di Masjid kampus IIUM
  3. Tanggal 5 jam 20.00 di PWTC, tema: The Final Miracle

Tapi saya hanya ikutan acara yang malam aja, gak ikutan khutbah Jum’at.

Lessons from Surah Ar-Rahman
Kuliah yang pertama di Masjid Wilayah tentang surat Ar-Rahman. Pertama kali melihat tempat acaranya, waaaaw keren banget masjidnya guede dan bagus! Saat itu dari area luar masjid udah terdengar suara ustadz Nouman, karena dipasang speaker luar juga. Dan saat itu saya dan teman-teman datangnya telat. Oh ya, selama di Malaysia saya numpang di flatnya Putu dan kawan-kawan. Terus, untuk pergi ke tempat acara pun ngikut mobil temennya Putu :p Setelah sampai di pintu masuk, kami langsung registrasi lalu masuk ke dalam masjid. Di dalam masjid tentu saja sudah penuh, jadi cuma bisa lihat dari belakang, kelihatan ustadz Nouman di depan jadi kecil banget hahaha, dan suaranya juga kurang jelas. Jadilah kami pindah ke luar. Di luar ada layar yang menampilkan ustadz Nouman dan suaranya juga lebih jelas.

masjidwilayah

Ini beberapa poin yang saya catat dari kuliah malam itu:

  • Ar-Rahman kalau diartikan ke Bahasa Inggris itu biasanya mercy. Tapi itu kurang tepat juga. Karena mercy bermakna pengampunan. Misalnya gini, saya harusnya menghukum kamu, tapi saya tidak jadi menghukum kamu karena saya punya mercy itu. Tapi Allah bahkan gak bermaksud menghukum, melainkan memang mencurahkan kasih sayang terus.
  • When Allah says Himself Ar-Rahman, He says He is care for you, never abandon you
  • Ar-Rahman is in the form of mubalaghah, superlative, beyond imagination, you can’t be more Rahman than that
  • Ar-Rahman shows present time too: right now. And Allah is showing me His love, right now :’)
  • We think about our problems all the time. But we don’t think of Ar-Rahman all the time :(
  • We don’t appreciate what we have until it’s gone. And now we’re not appreciating Allah
  • Misalnya ada seorang ibu yang ngomel terus soal anaknya, bandel lah, males lah, gak nurut, dll. Kalau nyeritain anaknya ke orang lain pun yang diceritain jelek-jeleknya. Tapi misalnya anak itu suatu saat meninggal. Nah, kalau udah begitu, kalau ditanya tentang anaknya pun yang dia jawab ya anak saya baik sebenarnya..dst.
  • Ayat terakhir di Ar-Rahman: Tabaaraokasmu robbika dziljalaali wal ikroom. Ini menggambarkan nama Allah itu penuh dengan keberkahan
  • Arti berkah/barakah: Bertumbuh, penambahan yang di luar perkiraan. Kalau kita menanam satu benih, maka kita mengharapkan satu pohon akan tumbuh dari benih itu. Tapi dengan barakah, pohon yang tumbuh itu bisa lebih dari itu, dan pertumbuhan itu stabil. Barakah dari satu perbuatan baik, sekecil apapun, kita gak pernah tau sebanyak apa. It’s beyond expectation :’)
  • Salah satu perbedaan manusia dengan hewan: Manusia bisa mempercayai bahkan ketika mereka tidak melihat dengan mata sendiri. Sedangkan hewan hanya bisa percaya jika mereka melihat. Contoh: kita berada di sebuah gedung, kemudian ada alarm kebakaran. Meskipun gak melihat api, kita tetap bisa percaya kemudian keluar gedung untuk menyelamatkan diri. Tapi kalau hewan, harus lihat sendiri apinya. *ya karena hewan gak bisa mikir lah ya* Contoh lain, kalau lagi nyetir di jalan, kemudian ada pengumuman 10 km di depan, jalan ditutup. Mau muter balik apa nekat maju terus? Begitulah dengan Islam, ada hal-hal gaib, Allah yang gak bisa kita lihat.. Kita gak harus melihat untuk percaya, karena kita bisa mikir dengan melihat tanda-tanda yang ada.
  • Orang musyrikin Mekah di zaman Rasulullah dulu itu adalah murid paling bebal. Mereka diajar oleh guru terbaik (Rasulullah), dengan kurikulum terbaik (Qur’an) selama 12 tahun, tapi tetap gak ngerti atau gak mau ngerti. Padahal isi pelajaran itu (isi Qur’an periode Mekah) adalah tentang mengesakan Allah dan tidak menyekutukannya dengan apapun, percaya hari kemudian (dan hal-hal gaib juga).
  • Mulai sekarang, berapapun umurmu, mulai pelajari Qur’an. Sediakan waktu dan mulai belajar Qur’an. Ingat, guru kita dalam belajar Qur’an itu Allah lho (‘allamal Qur’an, QS Ar-Rahman:2), meskipun kita belajarnya lewat perantara manusia.
  • Mulai sekarang karena Allah. Mulai dengan nama Allah Ar-Rahman, kemudian lihat barakahnya. Akan penuh kemudahan, insya Allah.

The Final Miracle
Kuliah hari kedua diadakan di PWTC. Hari itu kami berangkat dari flatnya Putu sebelum Maghrib, kemudian shalat Maghrib di surau PWTC. Alhamdulillah bisa sampai tempat acaranya sebelum acara dimulai. Ruangannya besaaar, dan hampir penuh. Di email pendaftaran sih ditulis kapasitas 4000 dan udah penuh, tapi kemarin masih ada lumayan banyak bangku kosong. Acara dibuka oleh MC emmm Dawud siapa gitu lupa :D

pwtc

Inilah yang sempat saya catat dari kuliah tersebut:

  • Kalau mau memperkenalkan Islam, menjelaskan kenapa Islam benar, adalah bukan dengan debat
  • Apa yang disampaikan ustadz Nouman di sini adalah pemahaman dia tentang kenapa Al Qur’an adalah keajaiban. Tapi itu juga dengan pemahaman yang terbatas. Dan keajaiban Qur’an gak sebatas pemahaman orang tertentu. Ustadz Nouman di sini mempelajari keajaiban Qur’an itu dari aspek linguistik
  • Al Qur’an itu punya pesan, dan kita harus penasaran untuk tau pesan-pesan dalam Al-Qur’an. Karena itu, harus belajar Bahasa Arab
  • I’jazul Qur’an, asal katanya dari ajaz: be on knees, unable to get up. I’jaz: something that make something else incapable, overpower. The Qur’an overpower everything else. Dan kalau kita belajar Qur’an itu kita akan nemu hal2 yang bikin kita overpowered, ngerasa takjub sampai gak bisa ngomong apa2 lagi saking kerennya

Contoh linguistic miracle dalam Qur’an:
- Sumbulah (contohnya buah jagung) pluralnya adalah sumbulaat. Tapi ada juga pluralnya sanaabil. Inilah yang disebut superplural. Contoh lain dari bentuk singular-plural-superplural: kaafir, kaafiruun, kuffaar. Di surat Yusuf disebutkan sumbulaat, dan di Al-Baqarah disebutkan sanaabil. Padahal jumlah yang disebutkan di masing-masing ayat itu sama-sama 7. Bedanya apa? saya lupaaaa -_- coba deh cari ayatnya :p

Selepas acara, kami melihat-lihat booth sponsor yang ada di luar. Di antaranya ada Brotherhood Arts dan Majalah Jom! Brotherhood Arts ini memproduksi dan menjual aksesoris seperti stiker, pin, dan ada juga kaos dan jaket. Majalah Jom! adalah majalah dakwah pemuda di Malaysia. Pertama kali melihat display beberapa edisi majalahnya, langsung tertarik karena desain sampulnya memang menarik sekali.. penuh warna. Isinya pun bagus-bagus. Karena khawatir nggak ngerti isinya, saya cuma beli satu. Eh ternyata mudah dibaca kok meskipun Bahasa Melayu. Mungkin karena bahasanya cukup formal ya. Kalau yang Melayu gaul banyak yang saya nggak ngerti. Sekarang malah pengen baca Majalah Jom! lagi..hihihi. Selain itu kalau gak salah ada stand penyelenggara acaranya. Jadi acara ini diselenggarakan oleh Nur Ala Nur Academy dan Light Upon Light, lembaga pendidikan Islam di Malaysia macem Bayyinah-nya ustadz Nouman gitu kali ya. Pokoknya makasih buanget buat penyelenggara dan panitia for those awesome events! Barakallahu fiikum!

Yak, sekian cerita saya tentang NAK in Malaysia. Makasih banyak buanget buat Mirna yang sudah bareng-bareng sama saya, Putu dan kawan-kawan flatnya yang menampung kami selama di sana: Mbak Putri, Mbak Dewi, Hajar, dan Winwin; serta Umamah yang baik sangat membolehkan kami menumpang mobilnya. Barakallahu fiikunna^^

Pesantren Tahfidz Daarul Quran Depok

Kalau kamu punya rumah segede gini, mau kamu apain?

rumah2

Huehehe.. serius ini rumah guedenyaa masya Allah :D Mupeng saya liatnya juga. Umumnya orang kalau punya rumah begini ya ditinggalin lah ya, atau dijual lagi, tapi sama yang namanya Yusuf Mansur, rumah ini diwakafkan untuk jadi Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an untuk santri SD putri (biasa disebut sighor putri juga. Sighor:kecil). Beliau memang suka mengajarkan begitu, kalau kita berjuang pengen dapat sesuatu (misal rumah), kalau udah dapat jangan terus2an di-keep, tapi di-nol-kan lagi, dikasihin/sedekahin. Saya baru ngerti ternyata logika berpikir seperti ini beliau ambil dari Qur’an. Nanti kapan2 saya tulis di sini :)

Alhamdulillah Kamis-Jum’at lalu saya berkesempatan mengunjungi pesantren sighor putri ini. Teman tahfidz intensif saya ada yang stay di sini, jadi saya sekalian aja main ke sana. Di pesantren ini ada sekitar 60 santri putri kelas 1-6 SD. Mereka hanya belajar pelajaran umum selama kurang lebih tiga jam. Sisanya diisi tahfidz dan pelajaran agama.

pesantren

Anak2 ini udah biasa bangun sekitar jam 3.30 kemudian shalat tahajjud berjamaah dipimpin salah seorang dari mereka (ada jadwal giliran). Setelah itu ada yang tidur2an lagi, ada juga yang mandi sambil menunggu subuh. Kemudian mereka shalat subuh berjamaah dipimpin Ustadz yang sekaligus pemimpin pondok pesantren tersebut, namanya ustadz Agus. Setelah shalat, mereka baca dzikir. Sambil ngantuk2 gitu :D Kalau udah gitu mereka disuruh berdiri sama ustadznya. Setelah itu harusnya mulai belajar, tapi karena saya ke sana Jum’at, jadi mereka libur.

Di hari Jum’at itu, pas banget ada acara pelepasan ustadz Agus yang mau pergi umroh. Anak2nya dan guru2 dikumpulkan di aula. Saya? Nimbrung dong :))

safar

Di Jum’at pagi itu, ustadz Agus mengisi tausiyah tentang umroh dan meninggalkan pesan untuk anak2. Intinya ustadz Agus bilang, untuk umroh itu, bukan dengan uang yang banyak atau dengan badan yang kuat, tapi dengan do’a. Do’a yang seyakin-yakinnya pada Allah. Ustadz nggak pernah minta diberangkatkan sama Daqu, dan kalau pakai uang sendiri mungkin baru bisa berangkat bertahun2 lagi. Tapi karena kehendak Allah alhamdulillah bisa berangkat. Terus kan sambil diputerin lagu Labbaik ya.. Dari awal anak2 udah sesenggukan tuh.

Sejak Isya kemarin juga ustadz udah mengingatkan anak2, pokoknya ada nggak ada ustadz, kalian harus tetap rajin, kamar tetap bersih dan rapi, bukan karena ustadz, tapi karena Allah. Karena apa? Karena Allah! Ini yang saya suka.. Anak2 itu sejak kecil begitu sudah ditanamkan keyakinan pada Allah. Ustadz juga mengajak berdo’a supaya anak2, para ustadzah, dan keluarganya bisa menyusul ke tanah suci semua. Pokoknya mah, minta aja sama Allah :)

Setelah itu semuanya salam2an dan maaf2an. Anak2nya makin sesenggukan deh..hehe. Pun setelah acara usai, mereka masih nangis2 dong, terus ngerubungin ustadznya, kayak yang gak mau ditinggalin. Saking deketnya kali ya :) Alhamdulillah, semoga lancar umrohnya ustadz Agus dan rombongan. Senang sekali bisa berkunjung lagi ke pesantren Daarul Qur’an :)