karena kita belum tau

so this is how it feels after graduation. what exactly it is?

sucks? haha.. i’m not really want to mention it but sometimes i feel it. moreover, i’m different from u all guys who can just go away and leave campus after graduation. i’m really different. i have to be patient and patient and patient and hope my parents will be patient too. it’s not that i can’t get a good job. it’s just that i intentionally haven’t applied for any good job yet (well, after acn).

life after graduation will be nice if u have already known what to do and what u want. so have i known that? what to do and what i want. yes, i wanted so many things actually. but nothing comes so easily and immediately. i have to wait. and guess what? i think i want to try to apply for the EM scholarship. but i haven’t prepared all the requirements yet. i even haven’t taken the toefl test. so applying for this scholarship is still an absurd thing for me, eh? XD

but because we don’t know.. we have to try. “we’ll never know til we have tried”, someone said.

we don’t know what the future will bring.. that’s why we can dream about anything. and of course we ought to have plans!

Sesungguhnya setiap manusia memang diberi kebebasan memilih. Memilih di persimpangan2 kecil atau besar dalam sebuah ‘Big Master Plan’ yang telah diberikan Tuhan kepada kita semenjak lahir. Jadi, semuanya ke masalah pilihan.

Mimpi juga sesuatu yang nggak pasti. Tapi, kita harus punya mimpi. Apa jadinya kalo orang nggak punya mimpi. Kosong.
Sama aja dengan manusia yang nggak percaya adanya Tuhan. Kosong.

Sesuatu yang tidak pasti di dunia ini adalah ketidakpastian…
Dan Tuhan memelihara ketidakpastian itu pada seluruh umat manusia agar manusia terus belajar, terus bermimpi, dan ujung-ujungnya kita akan kembali pada-Nya.

Kalo segalanya udah pasti, berarti kita nggak punya pilihan, nggak punya kebebasan memilih. Dan manusia nggak akan punya yang namanya iman, cita-cita, keinginan, keyakinan, dan mimpi. Lu nggak akan punya mimpi karena semuanya udah pasti. (5 cm)

Leave a comment »

connection-oriented

dulu… waktu masih kuliah Jarkom (jaringan komputer) suka ngehubungin teori2 jarkom dengan hal2 dalam hidup. Tentang connection-oriented dan connectionless misalnya, bisa dipake buat menggambarkan hubungan kita dengan Allah. Ya, sebenernya ga bs dibilang connection-oriented banget sih. Toh kita berhubungan sama Allah gak seperti teleponan antar 2 orang yang bisa saling kasih feedback. Tapi tetep aja, kl hubungannya dimaintain dengan baik, misalnya dalam shalat kita mencoba mengerahkan seluruh pikiran dan perasaan pada Allah, feedbacknya akan didapat meskipun gak terlihat: ketenangan hati, kemudahan menjalani hidup, keberkahan, dll. Sedangkan kalo connectionless yah meskipun hubungan tersambung, tapi kadang putus di tengah jalan, kl kata teori jarkomnya sih “unreliable data transfer, no flow control, co congestion control“. Cepat, tapi gak berkualitas. Mungkin itulah analogi shalat “the flash“.

dan memang benar adanya hal ini:

bahwa yang namanya masalah cuma ada dua: 1. kalo kita jauh dari Allah, 2. kalo kita lupa sama Allah (Yusuf Mansur)

maka selagi ada kesempatan, mudah2an kita bisa memperbaiki hubungan dengan Allah. Jadi connection-oriented lagi. toh menghubungi Allah gak susah. Gak perlu sms, gak perlu internet, gak perlu telepon. Gak perlu khawatir pula akan adanya starvation karena banyak orang yang ngantri pengen menghubungiNya. Allah Mahahebat! :)

jadi…

berharap pada Allah saja

karena…

berharap pada manusia sungguh melelahkan

Leave a comment »

When your day is long
And the night
The night is yours alone
When you’re sure you’ve had enough of this life
Well hang on

Don’t let yourself go
Cause everybody cries
And everybody hurts
Sometimes

Sometimes everything is wrong
Now it’s time to sing along
(When your day is night alone)
Hold on, hold on
(If you feel like letting go)
Hold on
If you think you’ve had too much of this life
Well hang on

Cause everybody hurts
Take comfort in your friends
Everybody hurts

Don’t throw your hand
Oh, no
Don’t throw your hand
When you feel like you’re alone
No, no, no, you’re not alone

If you’re on your own
In this life
The days and nights are long
When you think you’ve had too much
Of this life
To hang on

Well, everybody hurts
Sometimes, everybody cries
And everybody hurts
Sometimes

And everybody hurts
Sometimes

So, hold on, hold on
Hold on, hold on
Hold on, hold on
Hold on, hold on
(Everybody hurts
You are not alone)

Leave a comment »

Julaibib dan istrinya

Subhanallah! Lagi2 ada kisah yang begitu inspiring. Padahal sih udah baca dari dulu. Tapi baru baca ulang lagi tadi. Sok atuh baca dulu…

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Kata ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya; kerdil. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya jelek terkesan sangar. Pendek. Bunguk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak tangan. Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluq pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi saw. “Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”

“Siapakah orangnya Ya Rasulullah”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, “menikahkan putri kalian.”

“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh.. Ya Rasulullah,ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”

“Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah, “ku pinang putri kalian untuk Julaibib”

“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis

“Ya. Untuk Julaibib.”

“Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”

“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”

Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”. Sang gadis yang shalehah lalu membaca ayat ini :

“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)

Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Doa yang indah.

***

Kita belajar dari Julaibib untuk tidak merutuki diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihi yang kita sanggup memikulnya.

Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita.

Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak!

***

Maka benarlah doa sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar baginya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat padanya.

Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya diakhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak Ya Rasulullah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasulullah!”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para sahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputarannya menjelempan tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau saw menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.

Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya..

dia adalah bagian dari diriku
dan aku adalah bagian dari dirinya

-Rasulullah, tentang Julaibib-

Indah banget… dan kembali menyadarkan saya tentang pentingnya iman di atas yang lainnya: fisik, harta, kedudukan, dan blablabla. Luar biasa. Salut sama Julaibib dan istrinya yang telah berhasil membuat cintanya bersujud di mihrab taat.

Jadikan cintaku padaMu, Ya Allah
Berhenti di titik ketaatan
Meloncati rasa suka dan tak suka

Karena aku tahu,
mentaatimu dalam hal yang tak kusukai
Adalah kepayahan, perjuangan, dan gelimang pahala
Karena seringkali ketidaksukaanku,
hanyalah bagian dari ketidaktahuanku

Tulisan berwarna hitam diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang tulisan Salim A. Fillah *very very recommended to read, guys! b(^-^)d

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Kata ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya; kerdil. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya jelek terkesan sangar. Pendek. Bunguk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak tangan. Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluq pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi saw. “Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”

“Siapakah orangnya Ya Rasulullah”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, “menikahkan putri kalian.”

“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh.. Ya Rasulullah,ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”

“Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah, “ku pinang putri kalian untuk Julaibib”

“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis

“Ya. Untuk Julaibib.”

“Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”

“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”

Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”. Sang gadis yang shalehah lalu membaca ayat ini :

Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata(QS. Al Ahzab : 36)

Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Doa yang indah.

1449634-2-silhouette-of-man-stood-by-tree-overlooking-manchester-city-centre-at-night2

***

Kita belajar dari Julaibib untuk tidak merutuki diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihi yang kita sanggup memikulnya.

Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita.

Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak!

***

Maka benarlah doa sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar baginya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat padanya.

Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya diakhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak Ya Rasulullah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasulullah!”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para sahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputarannya menjelempan tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau saw menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.

Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya..

dia adalah bagian dari diriku

dan aku adalah bagian dari dirinya

-Rasulullah, tentang Julaibib-

Comments (3) »

menyalakan lagi nurani

alhamdulillah.. hari ini bisa merasakan salah satu keuntungan dari ngisi mentoring: mengingatkan diri sendiri untuk membenahi diri! yah begitulah kawan.. mentor itu bukan ustadz yg super duper ahli apalagi orang suci. terkadang mereka hanyalah orang2 yg ilmunya masih sedikit sekali. namun punya keinginan untuk berbagi. bahwa islam yang indah itu selayaknya benar2 dirasakan keindahannya oleh para pemeluknya. menjadi nafas dan tuntunan dalam setiap langkah hidupnya. bukan sekedar penghias ktp di bagian “agama”. atau mereka hanya ingin di negeri ini bertambah orang2 yang takut pada Tuhannya. agar tak perlu lagi ada cerita “cicak vs buaya” di kemudian hari. atau mereka pun ingin mengajak orang2 untuk sama2 memilih dan mengusahakan tempat kesudahan yang baik: surga yang seluas langit dan bumi. dan banyak lagi alasan lainnya. yang jelas pastinya mereka merasa jalan itu indah.. dan ingin orang lain merasakan keindahannya juga. insya Allah.

oh ya. materi hari ini membuat saya browsing2 dan membuka beberapa buku. salah satu tulisan yang paling tajam menikam hati *widih, lebay* adalah tulisan ini. luar biasa ngejlebnya dan membuat saya merenung… bagaimana rupa hati saya sekarang ini? astaghfirullah…

mungkin, hati ini sudah sebegitu hitamnya, gak peka lagi membedakan yang benar dan salah. terlalu terbiasa dalam dosa? mungkin juga. padahal… utsman bin ‘affan ra, begitu bersih hatinya sampai2 bisa tau seseorang telah berbuat dosa.

ada seorang laki-laki bertamu kepada ‘Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya. ‘Utsman berkata kepada laki-laki itu, “Aku melihat ada bekas zina di matamu.” Laki-laki itu bertanya, “Apakah wahyu masih diturunkan setelah Rasulullah Saw wafat?” `Utsman menjawab, “Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin.”

penjelasan selanjutnya..

bila seseorang hatinya jernih, maka ia akan melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah yang dilihatnya itu kotor atau bersih. Artinya, setiap maksiat itu kotor, dan menimbulkan noda hitam di hati sesuai kadar kemaksiatannya sehingga membuatnya kotor. Semakin lama, kemaksiatan yang dilakukan membuat hati semakin kotor dan ternoda, sehingga membuat hati menjadi gelap dan menutup pintu-pintu cahaya, lalu hati menjadi mati. Sekecil apa pun kemaksiatan akan membuat hati kotor sesuai kadar kemaksiatan itu. Kotoran itu bisa dibersihkan dengan memohon ampun (istighfar) atau perbuatan-perbuatan lain yang dapat menghilangkannya. (diambil dari sini)

so.. mulailah saya mendata segala jenis penyakit hati, seperti riya’, ujub, dengki, dan lalalala sampai rasa malas yang berlebihan juga mungkin sumbernya dari penyakit hati. yah, penyakit itu membuat hati kusam, cahayanya meredup. karena itu, mari nyalakan lagi nurani. agar terangnya menyinari diri dan hidup ini! membimbing diri untuk lurus dalam ketaatan. untuk bersegera dalam kebaikan.

Tak ada yang lebih jernih dari suara hati.. Ketika ia menegur kita tanpa suara. Tak ada yang lebih jujur dari nurani.. Saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Tak ada yang lebih tajam dari mata hati.. ketika ia menghentak kita dengan beragam kesalahan dan alpa. Berbahagialah orang-orang yang seluruh waktunya dipenuhi kemampuan untuk jujur pada nurani dan tulus mendengarkan suara hati.

“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya, dan tenteram pula dalam hati. Sedangkan dosa adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati, meskipun orang lain memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (HR Muslim)

“Bertanya Pada Hati”, Salim A. Fillah, dalam Jalan Cinta Para Pejuang

Leave a comment »

Blogwalking

Udah lama saya gak blogwalking. Pas pengen cari tulisan2 yg oke di blog, sasaran pertama tentu blog CSUI05. Atau blog temen2 bukan fasilkom yang sering saya kunjungi. Tapi sayang, kayaknya pada jarang update deh.. Untungnya menemukan blog2 lain yang sangat oke banget: blognya anak2 fasilkom 07 dan 06 *Emm..sementara sih baru baca itu doang* Blognya anak2 08 dan 09 juga pasti oke2. Nantilah kalo ada kesempatan saya blogwalking jg ke sana..hehe.

Seneng deh… nemuin banyak inspirasi, semangat, cerita2… Smg terus semangat nulis dan menyebarkan kebaikan ya! :)

Comments (2) »

gak penting

menulis adalah terapi jiwa. oleh karena itu, ungkapkan saja apapun yang kau rasa. bagaimanapun tidak pentingnya..

Hahaha.

Terkadang saya waras, bisa menulis hal2 berguna. Namun terkadang saya bisa gak waras juga. Kalau gitu mungkin yang saya tulis sampah2 gak penting saja.. Hehehe.. biarlah. Blog saya ini :P

Random thoughts..

Ujian bisa datang dalam bentuk apa aja ya.. Lewat tingkah laku orang lain misalnya. Tentu mereka gak sadar kalo tingkah mereka itu menyebalkan untuk orang seperti saya. Toh yang mereka lakukan pun bukan hal tercela. Mereka boleh saja melakukan itu. Tapi saya jadi sebal. Terutama sama diri saya sendiri.

Kebiasaan deadliner saya belum juga hilang. Paper %*&%($^&* yang diminta dosen pembimbing TA sejak dulu belum juga saya buat. Weekend kemaren malah bermalas2an. Rasakan akibatnya. Orang dah janji mo ngumpulin akhir minggu kemaren. Nah sekarang belom beres jg. Terpaksa bermaaf2an karena belom jg bs ngasih paper deh..

Bertanya2, gimana sih pembagian peran Ristek, BPPT, dan LIPI? Really want to know. Kalo ada yang tau, please kasih tau ya.

Apply S2 sekarang gak ya? Pendaftaran baru dibuka tanggal 30 Oktober sih. Tapi saya blm tes TOEFL. Dan utk Int’l TOEFL belom ada modal nih.. baik intelektual maupun finansial :P

Males ke kampus

Pengen berlibuuuuuur.. *jah, gak ngapa2in udah mo berlibur aja*

Kemaren jg kepikiran pengen nyantri di DT. Asik gak ya?

Comments (2) »

Dieng Trip 2009

Lebaran kemarin tentu saja saya dan keluarga mudik ke Wonosobo, Jawa Tengah. Daaan.. akhirnya kami jadi juga jalan2 ke Dataran Tinggi Dieng (selanjutnya disebut Dieng), sebuah kawasan wisata di sana. Terakhir ke Dieng tuh kalo gak salah waktu saya masih SD atau SMP gitu.

Dieng sebenarnya terletak di 2 kabupaten, yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Tapi selama ini orang taunya Dieng itu milik Wonosobo. Kalo kata buku panduan sih, hal itu mungkin disebabkan karena jarak Wonosobo-Dieng yang lebih dekat, sekitar 26 km. Udah gitu sepanjang jalan itu banyak kawasan wisata jg seperti Kalianget, Telaga Menjer, dan Argowisata Tambi. Jadi mungkin kesannya sepaket gitu ya kawasan wisatanya.

Udah banyak yang berubah sejak terakhir kali saya ke Dieng. Positifnya adalah, kawasan wisata itu bener2 digarap dengan serius. Kalo dulu berkesan seadanya, sekarang pengelolaannya lebih baik dan bener2 menunjukkan Dieng sbg kawasan wisata. Masuk ke sana pake tiket terusan dengan 4 lokasi yang bisa dikunjungi: Telaga Warna, Dieng Theatre, Kawah Sikidang, dan Komplek Candi Arjuna. Harga tiket kl ga salah Rp 16.000 per orang. Terus dikasih buku panduan wisata yang bagus dan sangat informatif. Yang negatif adalah, kawasan Dieng itu sekarang kebanyakan coklat, gundul (meskipun masih ada ijo2nya jg). Pohonnya ditebangin buat dijadiin lahan nanem kentang.

Udara di sana gmn? Hmm.. dingin! Awas kecele, apalagi kalo naik mobil tanpa AC kan di dalem rasanya panas. Udah sotoy2 keluar ga bawa jaket, taunya setelah melangkahkan beberapa langkah aja mulai terasa dinginnya. Katanya sih 15 derajat (celcius) pada siang hari dan 10 derajat kalo malem. Tapi kalo bulan Juni-Agustus, katanya kalo siang jadi 10 derajat dan malem jadi 5 atau bahkan di bawah nol derajat. Jadi kalo pagi2 tampaklah embun2 beku kayak lapisan salju tipis di atas permukaan tanah.

Sekarang liat foto2 dan sedikit cerita aja tentang 4 lokasi yang dikunjungi ya..

Telaga Warna
telaga warna
Konon danau ini berwarna biru muda, hijau, dan merah muda. Tapi warna merahnya gak keliatan ya. Katanya sih telaga ini mengandung bahan mineral yang apabila terkena sinar matahari memantulkan sinar warna warni.

Dieng Plateau Theater
Di sini pengunjung bisa nonton film dokumenter tentang Dieng. Bagus! Dalemnya lumayan bagus, kayak bioskop mini. Kalo mau ke DPT, bisa jalan kaki dari telaga warna atau naik kendaraan lewat jalan raya. Tapi kalo mau jalan siap2 aja gempor.. soalnya jalannya naik. Anak tangganya aja ada seratusan! (udah diitung sama si ina). Sayang saya gak punya foto yg bagus di sini.

Kawah Sikidang

kawah sikidang

kawah sikidang

Konon kawah ini disebut Sikidang (si kidang, kidang=kijang) karena lokasinya suka berpindah2 kayak kijang. susah juga ngambil poto yang bener2 keliatan blubuk2 kawahnya, soalnya ketutupan asap terus. Untuk menuju ke kawah sikidang, perlu jalan dulu lumayan jauh. Mana bau belerangnya menyengat banget..

menuju kawah sikidang

menuju kawah sikidang

Komplek Candi Arjuna

komplek candi arjuna

komplek candi arjuna

candi lainnya di deket2 candi arjuna

candi lainnya di deket2 candi arjuna

Kawasan Dieng dikelilingi banyak gunung dan kawah dengan aktivitas vulkanik. Ada yang ngeluarin gas berbahaya segala. Makanya kawah2 ini terus dipantau oleh PusatVulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (kl ga salah namanya begitu..hehe). Bahkan beberapa hari setelah kunjungan saya ke Dieng, ada salah satu kawah yang “meledak”, menyemburkan isinya ke lahan2 petani sehingga katanya petani kentang harus segera panen sebelum waktunya.

Tapi insya Allah lokasi2 yg dibuka untuk wisata mah aman lah. So, ada yg berminat ke Dieng? ^^

dalam perjalanan dari dieng

diambil dr mobil pas lg jalan, kurang oke memang..hehe

Comments (2) »

Mimpi-mimpi itu

Melihat ke belakang.. gak usah susah2 deh, liat dari postingan2 sebelum ini aja. Satu semester atau beberapa bulan yang lalu mungkin saya hanya bisa memimpikan dan menuliskan “gw pgn lulus semester ini!” atau “gw pgn poto bareng Tahu Logay di Balairung pas wisuda!”. Dan Subhanallah, itu terwujud..

wisuda bareng tahu logay

wisuda bareng bbrp anak2 tahu logay di ui

Kalau liat lebih ke belakang lagi.. beberapa tahun lalu, saat masih semester2 awal di UI, saya pun bermimpi.. Pengen lulus dari Fasilkom dengan predikat cum laude. Pengen membuat ortu seneng dengan prestasi itu. Pengen nunjukkin ke orang2 bahwa seorang anak Fasilkom yang notabene tugas2nya seabrek2 pun masih bisa ttp aktif organisasi sana sini dengan ttp berprestasi. Dan Subhanallah, itu terwujud..

tercapai jg

tercapai jg

Liat lagi ke belakang.. beberapa tahun yang lalu jg, saat masih berseragam putih abu2.. Rasanya hanya mimpi bisa masuk Fasilkom UI. Mengingat saya bukan orang yang prestasi akademisnya menonjol saat SMA. Tapi mimpi itu ternyata adalah modal yang sangat besar. Mimpi itu terus dipupuk. Sampe2 pas ulangan Bahasa Indonesia, nunggu waktu keluar, saya corat coret di kertas soalnya. Nama saya kelak ketika mimpi itu tercapai: Heninggar Septiantri, S.Kom. Dan Subhanallah, itu terwujud…

S.Kom :)

S.Kom :)

Ternyata awalnya adalah mimpi-mimpi. Cuma mimpi. Dan menurut saya itu udah merupakan modal yang sangat besar. Bayangin aja kalo ga berani bermimpi. Selanjutnya, usahe.. dan tentu saja do’a..

So, let’s continue the dreams catching project guys!

Future belongs to those who believe in the beauty of their dreams
Life, at the end, is a huge dreams catching project
(Eleanor Roosevelt)

PS: Meskipun mimpi2 tercapai, tp sampai sekarang merasa belum ngasih kontribusi apa2 dengan gelar dan predikat whatsoever itu. Do’akan aja yaa.. ;)

Comments (12) »

strange days

I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I think to myself, what a wonderful world

I see skies of blue and clouds of white
The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself, what a wonderful world

What a Wonderful World (George Weiss / Bob Thiele)

Today i changed my blog theme into a relaxing-green-landscape-view *i forget the name*

Imagine i was in a vast green field. Looking at the grass, trees, red roses too. Blue sky and beautifully-shaped white clouds. What a wonderful world..

Actually i really want to escape to such place. I think I’ve just had strange days recently. Doing something that I’ve never done before. Something which was very hard to do at the first time. Weird. Tiring. But gave me new experiences and knowledge. And it has ended (temporary) with some results that I really really really hope can be the best for many people.

~sorry for the grammar errors, if any :)

Comments (2) »